Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
84. Kembali


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Malam semakin larut, hujan juga masih turun walau hanya berupa rintik kecil saja.


Dirga naik ke atas tempat tidur langsung menindih


dan mengurung tubuh Mayra yang terlihat sedikit tegang. Keduanya saling pandang kuat.


"Aku sangat merindukanmu.."


Ucap Dirga sambil membelai lembut wajah Mayra dan menyingkirkan anak rambut yang jatuh ke pelipisnya.


Mayra tersenyum lembut, tangannya bergerak mengelus dada bidang suaminya yang polos.


"Maaf karena aku pergi tanpa pamit. Aku tidak sanggup kalau harus melakukannya..!"


Kembali ucap Dirga dengan rasa bersalah


yang besar. Mayra menatap intens wajah Dirga.


"Kenapa pergi tiba-tiba.?"


Tanya Mayra sambil kemudian mengalungkan tangannya di leher Dirga yang otomatis


membuat wajah mereka semakin dekat.


"Ada urusan yang sangat penting..dan harus aku selesaikan sendiri..!"


Jawab Dirga dengan suara yang semakin berat karena desakan hasrat yang semakin menghantamnya.


Tubuh bagian bawahnya kini meronta tidak bisa lagi di kendalikan.


Bibirnya langsung reflek menyergap bibir ranum


Mayra dan melumatnya lembut. Namun semakin lama ciumannya semakin buas, dia menjelajah seluruh kenikmatan bibir Mayra yang sudah sangat di rindukannya itu. Mayra mencoba mengimbangi ciuman panas Dirga dan membalas nya dengan


hasrat yang sama membaranya.


Aksi panas Dirga terus berlanjut ke bagian bawah, dengan gerakan cepat dia melepaskan handuk yang dipakai oleh Mayra dan juga dirinya. Kini keduanya sudah sama-sama polos. Sesaat Dirga menatap intens seluruh keindahan tubuh Mayra yang sudah sangat ingin di milikinya kembali setelah sekian lama dia bebaskan.


"Apa aku bisa memilikimu malam ini.?"


Tanya Dirga dengan suara yang semakin parau dan tatapan mata yang sudah sangat berkabut.


Mayra menatap wajah Dirga dengan mata yang sama berkabut dan napas yang naik turun.


Dengan sedikit tegang, Mayra mengangguk pelan.


Wajah Dirga berbinar seketika, tanpa basa basi lagi dia langsung melancarkan aksinya.


Mereka bergumul panas dan ganas seperti baru pertama kali melakukannya. Untuk permulaan Mayra menjerit kecil karena rasa sakit yang kembali dirasakannya saat Dirga memulai penyatuan tubuh mereka. Dirga sampai harus terdiam beberapa saat menunggu Mayra bisa menyesuaikan diri.


Namun akhirnya kenikmatan itu kembali dirasakan Mayra membuat Dirga melancarkan aksinya dengan sangat ganas karena desakan hasrat yang begitu menggebu dan tertahan cukup lama.


Dirga merasakan kali ini justru kenikmatan itu semakin menjadi dan sangat memabukkan.


Malam ini merupakan malam yang panjang bagi keduanya. Dalam kamar Villa yang selama seminggu ini hanya di warnai oleh isak tangis penantian Mayra, kini yang terdengar adalah desahan dan erangan kenikmatan yang terus berlangsung hampir semalaman.


Dirga hanya memberikan jeda sebentar saja pada Mayra untuk beristirahat, dia kembali melancarkan aksi panasnya tanpa lelah, seperti seekor kuda jantan yang sedang mengamuk. Dia terus mengeksplor seluruh kenikmatan tubuh istrinya itu seperti ingin membalas semua hasrat tertunda nya selama ini.


Dirga baru berhenti saat Mayra sudah terkulai lemas kehabisan tenaga tak sanggup lagi melayani hasrat membara suaminya yang tiada habisnya.


Kini keduanya nampak tertidur kelelahan dengan saling berpelukan erat dan memberikan kenyamanan satu sama lain.


..... ......


Pagi menyambut dunia dengan sinar mentari yang masih setia menemani. Suara debur ombak yang kembali tenang membuat suasana sangat menenangkan. Kedua insan yang semalaman habis bertempur habis-habisan itu masih tertidur lelap dalam kelelahan.


Keadaan mereka berbeda dengan orang-orang yang ada di Villa utama. Sejak subuh Lee tampak sibuk memberi instruksi pada semua orang yang ada di Villa untuk membersihkan segala kerusakan akibat badai semalam. Dan kini kondisi Villa serta pantai sudah kembali ke semula, bersih dan nyaman, indah di pandang mata membuat orang betah berlama-lama tinggal di tempat ini.


Tidak lama setelah selesai acara bersih-bersih terlihat muncul sebuah mobil sport warna hitam. Aaron keluar dari mobil bersama dengan Rayen yang entah kapan datangnya ke negara ini. Keduanya langsung masuk ke dalam Villa di ikuti oleh Lee kemudian duduk di ruang keluarga.


Hanah muncul membawakan 3 cangkir kopi racikan asli negara ini. Rayen menatap intens wajah cantik Hanah yang sedang menyimpan cangkir kopi di hadapan mereka .


"Kenapa tidak bilang kalau kamu punya keahlian di bidang pengobatan..!"


Ucap Rayen pada Hanah yang terdiam menunduk.


"Itu bukan apa-apa Tuan..Hanya bakat turun temurun saja.!"


Ucap Hanah masih tetap menunduk. Aaron melihat sekilas wajah Hanah kebetulan Hanah juga sedang meliriknya. Mereka beradu pandang sesaat.


"Coba kau periksa lagi luka nya tuh..!"


Titah Rayen dengan menunjuk kearah Aaron dengan dagunya. Hanah terdiam bingung.


"Tuan..anda lebih ahli dalam hal ini..!


"Tapi dia maunya di obati sama kamu..!"


Sanggah Rayen dengan senyum smirk melirik ke arah Aaron yang hanya diam saja duduk santai menyeruput kopi nya. Hanah kembali melirik Aaron.


"Baiklah kalau begitu, saya akan mengambil obat nya dulu."

__ADS_1


Ucap Hanah sambil kemudian berlalu pergi kearah kamar tempat tinggalnya.


"Tuan Aaron..terimakasih karena sudah menyelamatkan nyonya Mayra..!"


Ucap Lee menatap Aaron yang hanya meliriknya sekilas. Mereka menikmati kopi di cangkir masing-masing.


"Apa anggota Black Hunter sudah melacak tempat ini.? sepertinya ini bukan tempat yang aman lagi .!"


Ucap Rayen. Lee membuka laptop nya dan mencoba mengecek sistem keamanan di pulau itu.


"Mereka sudah mengendusnya.! Kami akan pulang malam ini juga..!"


Ucap Lee gerah. Aaron menyimpan cangkir kopi di meja dan membuka ponselnya.


"Tenang saja, anak buahku sudah melapis pertahanan di tempat ini, tidak akan bisa mereka tembus.!"


Ucapnya nya kemudian. Hanah muncul membawa kotak obat, kemudian dia duduk di samping Aaron .


"Maaf Tuan, saya akan memeriksa luka anda."


Ucap Hanah sambil kemudian membuka kancing kemeja Aaron. Setelah kemeja terlepas Hanah mulai membuka bebatan kain putih yang membalut luka di dada Aaron. Wajah Hanah tiba-tiba memerah saat Aaron menatap dirinya dari jarak sedekat itu.


"Kau cukup berbakat.!"


Ucap Aaron dengan suara beratnya. Darah Hanah sontak saja berdesir merambat halus ke seluruh tubuhnya saat napas beraroma mint dari mulut Aaron menerpa wajahnya.


"Terimakasih Tuan.."


Ucap Hanah pelan menundukan wajahnya.


Rayen menatap tajam interaksi antara dua orang itu. Dia bisa melihat Hanah begitu tersipu berada di dekat Aaron.


"Hemm..masuk perangkap lagi nih kayaknya..!"


Gumam Rayen sambil kemudian meraih ponselnya.


"Lee..apa Tuanmu belum bangun, bukankah ada yang ingin dia bahas dengan kita.?"


Tanya Rayen pada Lee yang masih terfokus pada layar laptopnya.


"Kami datang larut malam kesini..! Sepertinya Tuan kelelahan..!"


"Pasti mereka bertempur semalaman..!"


Potong Rayen dengan senyum smirk nya.


Aaron terlihat menarik tangannya dan meringis


mukanya berubah keras dan dingin. Tangannya terkepal kemudian menahan hantaman rasa panas yang membakar di dadanya. Hanah terdiam melihat Aaron dengan reaksi anehnya. Dia terlihat kecewa dengan reaksi Aaron yang terbaca oleh Hanah. Namun kemudian kembali meraih dada Aaron untuk melakukan pembebatan di atas lukanya.


"Cepatlah sedikit.!"


Titah Aaron dengan wajah yang semakin dingin. Hanah mengangguk segera melakukan perintah Aaron. Setelah selesai dia kemudian cepat berlalu meninggalkan Aaron yang kembali mengencangkan bebatan kainnya dengan kasar.


Jane muncul dari arah dapur membawakan segelas ramuan obat berwarna hijau pekat.


"Apa itu Jane.?"


Tanya Lee menatap Jane penasaran.


"Ramuan obat herbal untuk Nyonya buatan Hanah.


Sepertinya Nyonya masuk angin karena semalam..!"


Jawab Jane sambil berlalu keluar Villa.


Aaron dan Rayen terlihat bereaksi.


"Apa yang terjadi semalam ?"


Tanya Rayen penasaran.


"Saat kami tiba, Nyonya Mayra sudah menunggu dengan kondisi kehujanan.."


"Apa dia tahu kalau kalian akan datang.?"


"Tidak sama sekali.!"


"Benar-benar ajaib..!!"


Geleng Rayen tidak percaya. Sementara wajah Aaron saat ini makin terlihat dingin dan super datar.


..... .....


Mayra terus bersin-bersin saat selesai


membersihkan badannya. Hidungnya terlihat sedikit memerah. Dirga meraih tubuh Mayra kedalam pelukannya dan memijat pelipisnya perlahan.


"Aku bilang apa semalam..? Lagipula untuk apa


kamu keluar malam-malam di tengah badai


seperti itu..!"

__ADS_1


Gerutu Dirga dengan wajah yang terlihat cemas campur kesal melihat keadaan Mayra sekarang.


Mayra menatap wajah Dirga dengan tersenyum


lembut dan mengelus rahang kokoh suaminya


yang kini berada di hadapannya.


"Apa kamu tahu, langkahku telah menuntun diriku untuk menemuimu.. menyambut kedatanganmu."


Ucap Mayra, mereka berpandangan lekat.


"Cintaku yang telah membawamu ke hadapanku.!"


Bisik Dirga di telinga Mayra. Dia kembali mendekap erat tubuh Mayra. Keduanya terdiam saling meresapi isi hati masing-masing. Hati yang kini kembali terasa damai dan tentram karena merasa pemiliknya sudah kembali berada di dekatnya.


"Hari ini adalah hari terakhir kita di sini. Nanti malam kita akan pulang..Apa kamu kuat.?"


Tanya Dirga, Mayra terlihat berat mengingat akan meninggalkan tempat indah ini. Namun akhir nya mengangguk juga.


"Tentu saja aku kuat. Aku sudah minum obat buatan Hanah, sekarang juga sudah mulai terasa lebih baik."


Ucap Mayra sambil kemudian bangkit dan keluar dari dekapan Dirga.


"Ayo kita ke pantai sekarang..aku ingin menikmati saat-saat terakhir ada di sini.."


Mayra terlihat semangat, dia membuka lemari mencari pakaian ganti untuk bermain di pantai.


Dirga turun dari tempat tidur dan melangkah kembali memeluk tubuh Mayra dari belakang.


"Tapi aku masih ingin berdua sana kamu.! Aku ingin mengulang yang semalam.."


Bisiknya menggoda sambil menggerayangi leher Mayra yang sudah di penuhi oleh tanda kepemilikan yang dia berikan semalam.


"Maass..apa kamu tidak merasa lelah.?"


"Aku tidak akan merasa lelah kalau melakukannya sama kamu.!"


"Jadi kalau sama orang lain beda.? Kamu suka melakukannya dengan orang lain? "


Tanya Mayra cepat, dia menatap tajam wajah Dirga dengan wajah memerah .


"Mana mungkin aku berselera dengan orang lain. Sejak aku memilikimu, aku juga tidak pernah melakukannya lagi dengan wanita itu.!"


"Maksudmu dengan Evelyin.?"


Tanya Mayra dengan mengernyitkan alisnya.


"Hemm.."


"Tapi dia juga istrimu mas. Jangan berbuat dosa , dia berhak mendapatkan nafkah bathin darimu.!"


"Memangnya kau tidak keberatan.?"


Tanya Dirga cepat, Mayra membalikan badan dan kini berhadapan dengan Dirga. Kemudian tangan Mayra meraup wajah tampan Dirga, menatapnya lembut.


"Aku mungkin mencintaimu Mas..Tapi aku sadar dengan posisiku, aku tidak ingin egois. Kau bukan hanya milikku saja.Tapi milik orang lain juga..!"


"Tapi aku sudah tidak ingin melakukannya dengannya..!"


"Mas tidak boleh begitu.."


"Aku hanya ingin memiliki dirimu saja. Aku akan segera menceraikan Evelyin..!"


"Mas...jangan main-main..!"


"Aku serius..!!"


Keduanya saling pandang lekat. Dirga menarik tubuh Mayra kedalam dekapannya.


"Aku hanya mencintaimu sekarang..!"


Mayra melongo, dia tidak percaya dengan ucapan


yang sudah Dirga katakan barusan .


Dirga malah menyergap bibir Mayra dan melumatnya rakus membuat Mayra kaget. Dia berusaha melepaskan ciuman Dirga dengan mendorong dadanya. Dirga terpaksa melepaskan ciumannya.


"Kau jangan main-main dengan ucapanmu Mas.."


Kilah Mayra seolah masih tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Dirga barusan.


"Aku tidak pernah main-main..!! Aku serius..!!"


Debat Dirga dengan tatapan tajam, keduanya kembali saling berpandangan.


"Sudahlah..ayo kita ke pantai sekarang."


Ucap Mayra sambil kemudian mengambil topi lebar dan kacamata nya. Dirga menatap kepergian Mayra dengan mengernyitkan alisnya. Ada perasaan tidak yakin yang dia tangkap dari nada suaranya Mayra.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC...

__ADS_1


__ADS_2