
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mobil yang di bawa oleh Lee akhirnya berhenti di sebuah bangunan butik megah berlogo 'AmanDavis'.
Lee memarkir mobilnya di dalam area khusus yang langsung terhubung dengan lift.
Mayra tampak mengernyitkan alis, dia mengenal butik itu sebagai butik milik Amanda. Tapi dia memang tidak pernah tahu dimana bangunan pusat dari butik Amanda itu berada, apakah ini tempat nya ?
Lalu untuk apa Dirga membawanya kesini.?
"Ayo turun.!"
Ucap Dirga sambil menggenggam tangan Mayra di ajak keluar dari mobil setelah Lee terlebih dahulu membukakan pintu untuk mereka.
Mayra menurut saja mengikuti tarikan Dirga di tangannya.
Tanpa melepas genggaman tangannya, Dirga menggandeng Mayra di bawa masuk ke dalam bangunan butik berlantai 10 tersebut.
Mereka masuk melalui lift khusus yang biasa di pakai oleh orang2 dengan akses tertentu saja.
Selama di dalam lift Dirga tampak menelpon seseorang.
"Kau dimana? "
"..."
"Baiklah aku langsung naik.!"
Tutupnya sambil kemudian memasukan kembali ponsel ke dalam saku jas nya.
Dia melirik Mayra yang tampak hanya terdiam saja, menunduk merasa bingung kenapa dia dibawa ke tempat ini.
Tidak lama pintu lift terbuka dan merekapun bergegas keluar dari sana. Terus berjalan menuju sebuah ruangan yang hanya ada satu di lantai 10 itu.
Mereka sampai di pintu ruangan Owner butik tersebut.
Dan tanpa mengetuk terlebih dahulu, Dirga langsung mendorong masuk pintu tersebut. Mayra hanya mengikuti saja dari belakang.
Sampai di dalam terlihat Manda sedang sibuk di meja kerjanya, mengecek beberapa desain baju baru di laptop nya.
Saat melihat pintu terbuka Manda menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah pintu. Dia terkejut melihat kemunculan Mayra yang datang bersama dengan Dirga. Alisnya tampak berkerut, kenapa mereka bisa datang bersama-sama ? Itulah pertanyaan yang bersarang di kepala Amanda saat ini. Namun kemudian dia bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Dirga yang masih berjalan ke arahnya.
" Kakak..? tumben datang kesini ! Apa kamu tahu
kalau aku sangat merindukanmu.!"
Ucap Manda sambil merangkul Dirga dengan erat.
"Gadis tengil..!"
Desis Dirga seraya membalas rangkulan gadis itu.
"Kakak..??"
Gumam Mayra terkejut, dia terus menatap kedua orang yang sedang berpelukan erat di hadapannya itu.
Setelah lama, mereka berdua saling melepaskan rangkulan nya dan kini Manda berpaling pada Mayra.
"Hai May..apa kabar.? senang kau bisa datang kesini.!"
Ucap Manda sambil merangkul Mayra .
"Baik, aku sama sekali tidak menyangka kalau kita bisa bertemu lagi."
Sambut Mayra lembut sambil membalas rangkulan Manda.
Setelah itu mereka bertiga tampak saling pandang dengan isi pikiran masing-masing.
"Kakak, kok bisa datang sama Mayra.? bagaimana bisa? kalau wanita aneh itu tahu bagaimana.?"
"Manda..! jaga ucapan mu, bagaimana pun Ev adalah kakak ipar kamu.!"
"Tapi aku sama sekali tidak pernah menyukainya.!"
"Terserah.! tapi satu hal yang pasti, dia tetap kakak iparmu..!"
"Aku tidak pernah mengakui itu, dan tidak akan pernah.! dia bukan seseorang yang cocok untukmu.!"
"Manda..!!"
"Kalau kau kesini hanya ingin berdebat tentang hal konyol ini, sebaiknya kamu pergi kak..!!"
Sentak Manda dengan wajah kesalnya. Dirga nampak menatapnya tajam. Namun ada sorot mata kerinduan terhadap gadis keras kepala itu.
"Kau tidak pernah berubah Manda..!"
__ADS_1
"Kau juga tidak pernah sadar kak, bahwa wanita aneh itu sama sekali bukan pasangan yang pas untukmu.!"
Mayra hanya berdiri terbengong saja, tidak mengerti dengan isi perdebatan dua orang itu yang seakan melupakan kehadirannya di tempat itu.
"Maaf..sebaiknya aku keluar saja.."
"Jangan..!!"
Hampir bersamaan Dirga dan Manda berteriak. Mayra yang akan melangkah, berdiri di tempat, menatap Dirga dan Manda bergantian.
"Aku rasa..aku hanya akan mengganggu pembicaraan kalian saja.."
"Gak kok May..ayo duduk.."
Sergah Manda sambil kemudian menggandeng Mayra di bawa duduk di atas sofa yang ada di ruangan yang cukup besar itu. Dirga mengikuti mereka, namun dia tidak ikut duduk di sofa, melainkan diatas meja kerja yang tadi di gunakan Amanda.
"Sekarang katakan padaku May, kau perlu sesuatu sampai datang kesini.? atau sedang mencari gaun.?"
"Dia datang kesini bukan untuk itu..!'
Potong Dirga menatap datar kedua wanita yang ada di hadapannya itu. Manda mendelik kearah Dirga.
"Lalu kenapa kalian bisa datang bersama.? Apa ada urusan pekerjaan.?"
"Aku mau kamu menghapus semua foto-fotonya dari akun bisnis mu..!"
Ucap Dirga. Manda dan Mayra melirik tajam kearahnya. Lalu Manda mengernyitkan alis.
"Maksudmu.? foto-foto Mayra yang kemarin aku cetak di majalah mingguan.?"
Tanya Manda meyakinkan. Dirga menggidikan bahu.
"Kenapa.? Apa urusannya denganmu..!"
"Karena dia urusanku..!!"
Potong Dirga sambil menatap lekat wajah Mayra yang hanya bisa menunduk. Manda tertegun, menatap penuh selidik pada Mayra, kemudian kembali menatap Dirga. Wajahnya tampak penuh sekali dengan rasa ingin tahu dan meminta penjelasan.
"Jangan bilang kalau Mayra adalah wanita yang sudah kau pilih untuk memenuhi keinginan momy and dad..!"
Mayra tersentak, mengangkat kepalanya menatap Manda dan Dirga bergantian. Dirga melirik Mayra dan kembali melihat ke arah Manda.
Tidak tahan akhirnya Mayra buka suara.
"Maaf Manda, apakah kalian berdua bersaudara.?"
Debat Dirga dengan wajah kesal. Mayra dan Manda saling pandang. Tatapan Manda tampak menyiratkan seribu emosi. Kemudian dia berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Dirga dan berdiri di hadapannya menopang kedua tangan di dadanya.
Menatap tajam laki-laki yang berstatus sebagai kakak satu-satunya itu.
"Aku tidak rela kalau kakak hanya ingin memanfaatkan dirinya saja.! Dia terlalu berharga untuk itu.!"
Ucapnya tajam sambil menatap kuat saling mengadu kekuatan dengan kakaknya itu yang sama2 berdiri tenang menopang kedua tangan di dada.
"Itu bukan urusanmu..!"
"Jelas itu urusanku, dia wanita baik-baik. Bahkan kamu tahu kalau kak Agam sangat mencintainya..!"
"Manda..!!"
Bentak Dirga tidak suka Manda membawa-bawa nama Agam dalam pembicaraan ini.
"Aku tidak akan membiarkan kakak merusak masa depannya, Kak Agam jauh lebih baik daripada kamu untuk dia.!"
Ucap Manda keras kepala sambil melirik sekilas kearah Mayra yang masih duduk terdiam. Rahang Dirga mengeras, wajahnya tampak memerah menahan desakan amarah yang diakibatkan rasa panas yang membakar dadanya karena adiknya tersebut lebih merasa kalau Agam lebih baik daripada dirinya untuk Mayra.
"Dia milikku..!! dan akan tetap seperti itu..!!"
Ucap Dirga posesif. Manda terdiam, menatap dalam mata kakak nya itu mencoba mencari keyakinan dari ucapannya barusan. Kemudian sesungging senyum tipis tercipta dari bibir indahnya.
Mayra terhenyak melihat perdebatan kedua saudara itu, dia sedang mencoba menarik benang merah dari situasi yang sedang di hadapinya saat ini. Kalau Manda adalah adik kandung dari suaminya itu, berarti Agam adalah sepupunya juga. Jadi mereka semua adalah satu keluarga ?
Mayra mendesah, mencoba memejamkan mata menerima pemahaman ini.
"Kita akan lihat nanti kebenaran dari kata-katamu barusan.!"
Ucap Manda kemudian sambil kembali menghampiri Mayra,duduk di samping nya. Mereka berdua nampak saling pandang lalu tersenyum.
"Selamat datang kakak ipar..Aku tidak menyangka kalau kamu akan jatuh dalam perangkapnya.!"
Ucap Manda seraya merangkul Mayra yang membalas pelukan adik iparnya itu.
Mayra hanya terdiam tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Tapi aku senang kalau kamu mau jadi bagian dari keluarga kami yang kacau ini."
__ADS_1
Kembali ucap Manda setelah mereka saling melepaskan rangkulannya, dan kini saling berpegangan tangan.
Dirga hanya menatap datar kedua wanita yang sedang berinteraksi tersebut. Setelah itu dia berjalan menghampiri mereka dan berdiri dihadapan keduanya.
Memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Rahasia kan dulu semua ini dari yang lain, sampai aku membawanya menemui Mom and Dad.!"
Ucapnya pada Manda. Dia menarik tangan Mayra yang sedang di pegang Manda, kemudian membawanya berdiri dan memeluk pinggangnya erat.
Melihat hal itu Manda tampak tersenyum remeh setengah mengejek.
"Oowhh..sudah mulai bersikap posesif rupanya ya.!
Tapi bagus lah, pastikan kalau dia tidak akan pernah lari darimu kak.!"
Ejek Manda sambil ikut berdiri. Mayra hanya tersenyum kaku di samping Dirga.
"Itu tidak akan pernah terjadi ! Ayo pulang, kita ke kantor ku dulu.!"
Ucap Dirga sambil menarik bahu Mayra.
"Sayang..! biar aku pulang sama Jane saja. Aku ingin segera istirahat, ini sudah sore."
Ucap Mayra sambil memegang tangan Dirga yang seketika menatap pegangan tangan tersebut. Wajahnya nampak bersemu merah.
Manda yang melihat hal itu hanya tersenyum smirk seraya menyebikkan bibirnya merasa geli melihat kakaknya yang seperti orang baru jatuh cinta saja.
Hahh..baru jatuh cinta..? yang benar saja.!
Tapi Manda memang yakin kalau kakaknya itu sedang jatuh cinta, dan baru merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya saat ini.
"Baiklah, aku akan mengantarmu..!"
"Tidak usah sayang.! Kau sudah terlalu lama meninggalkan kantormu..."
Kata-kata Mayra terhenti saat Dirga menatapnya tajam tidak mau di bantah.
" Baiklah.."
Ucapnya mengalah. Dia berpaling pada Manda yang sedang melihat mereka dengan tatapan tidak terbaca.
"Manda..aku pamit dulu ya."
"Baiklah kakak ipar.."
***** *****
Lee kembali menjalankan mobilnya keluar dari area parkir gedung butik 'Amandavis'. Dia mencari jalan yang cukup sepi untuk memperlancar perjalanan.
Tiba-tiba ponsel Lee berdering dan dengan cepat di angkatnya. Itu adalah telpon dari Tomy, kepala pengawal yang biasa menjaga dan mengawal kemanapun Dirga pergi saat di luar kantor.
Beberapa saat berbicara serius, Dirga terlihat memahami situasi.
"Baiklah..awasi terus pergerakan mereka.!"
Perintah Lee sambil menutup telpon.
"Apa yang terjadi.?"
Tanya Dirga cepat. Lee melirik sedikit kearah tuan nya itu yang sedang menatapnya tajam.
"Ada yang mengikuti mobil kita tuan, tapi mereka sedang di awasi oleh Tomy dan Jhon. Tuan tenang saja. !"
" Apa kau sudah menemukan identitas mereka.!"
"Sudah Tuan, mereka orang-orang yang sama yang pernah ingin menculik nyonya waktu itu !"
"Siapa mereka.!"
"Dia adalah putranya tuan Amir yang pernah berurusan dengan tuan waktu pesta Gala Dinner tempo hari.!"
"Si brengsek tua bangka itu.!!"
Dirga menggertakan giginya, tangannya juga terkepal kuat. Dia melihat ke arah Mayra yang untung nya saat ini sedang tertidur nyenyak, bersandar nyaman di dadanya.
"Bawa mereka ke pinggir kota. Bereskan cecunguk itu sana !"
Titah Dirga dengan wajah yang sudah berubah sedingin salju. Lee mengangguk dan mengubah jalur perjalanan nya.
Dirga meraih tubuh Mayra perlahan, di baringkan di atas pangkuannya. Dia mengelus lembut pipi Mayra dan terakhir mengelus mesra bibir indahnya yang saat ini tampak begitu menggoda nya.
Namun dia berusaha menahan keinginan untuk mencicipinya dengan memejamkan mata mengingat situasi yang sedang tidak mendukung.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC.....