
**********
Sejak kejadian keguguran yang menimpa Mayra,
sikap Dirga jadi semakin dingin dan kejam. Semua pekerjaan harus berjalan dengan sangat sempurna tanpa cela. Lee sendiri sering terkena imbas dari
sikap dingin Tuan mudanya tersebut.
Hari ini dunia hiburan di hebohkan oleh berita tentang Eveliyn yang di keluarkan dari Royal Entertainment.
Dia juga langsung di black list dalam dunia hiburan, sehingga jalan untuk kariernya sudah tertutup.
Hal ini membuat Evelyin murka, dia langsung mengamuk di kantor Agam. Namun Agam hanya memperlihatkan surat sakti yang sudah di turunkan oleh pemilik asli Royal Entertainment.
Evelyin terlihat membelalakan matanya, kenapa dia baru tahu kalau suaminya adalah pemilik dari agensi hiburan tempat nya bernaung selama ini.
Lalu kenapa dia mengeluarkan dirinya sekaligus memberikan daftar hitam untuk dirinya.
"Kalau kau mau tahu alasannya, tanyakan saja langsung pada orang nya.!"
Ucap Agam dengan wajah datar dan sikap yang acuh.
Wajah Evelyin terlihat memerah menahan emosi.
"Kalian sudah menutup jalanku.! Tapi aku akan menemukan jalan lain.!"
Sentak Evelyin sambil mendengus menahan rasa geram dan marah di dadanya. Kemudian dia pergi
dari ruangan Agam.
Agam menghela napas panjang, dia tahu tentang kenyataan pahit yang sudah menimpa wanita yang di cintainya. Hatinya ikut merasa sakit. Coba saja kalau Dirga tidak melakukan pemaksaan ini pada Mayra, mungkin hidup Mayra masih baik-baik saja sampai saat ini, dan dia masih berpeluang besar untuk mendapatkannya.
*****
Evelyin langsung mendatangi kantor Dirga. Saat tiba
di dalam ruangan, Dirga terlihat sedang sangat sibuk. Di samping nya Lee berdiri dengan sigap melayani Tuan nya.
Evelyin menghampiri Dirga dan melempar surat pemutusan kontrak nya ke hadapan Dirga. Wajahnya terlihat sangat emosi, berdiri bertolak pinggang di depan Dirga yang hanya melihat nya sekilas.
"Apa maksudmu dengan semua ini.? Kamu mau membalas ku dengan cara seperti ini.?"
Sentak Evelyin dengan berapi-api. Wajahnya memerah.
Dirga acuh saja, dia tetap melanjutkan pekerjaan.
Evelyin geram, dia maju menyingkirkan Lee yang sedang berdiri di samping Dirga.
"Hanya demi wanita murahan dan anaknya yang sudah hilang itu kamu memperlakukan aku seperti ini..! Aku ini istri sah mu, istri yang sangat mencintaimu.!"
Kembali sentak Evelyin, dia meraih lengan Dirga yang langsung di tepisnya . Evelyin menggeleng makin geram dengan sikap Dirga.
"Sekarang jelaskan padaku, apa maksud semua ini.?!"
"Itu hanya peringatan kecil untukmu.! dan sangat pantas untukmu.!! Aku masih berbaik hati tidak memberimu hukuman yang setimpal atas apa yang telah kamu perbuat.!"
Ucap Dirga dengan nada yang sangat dingin. Wajahnya tak kalah dingin. Evelyin terhenyak melihat sikap Dirga yang benar-benar dingin.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi.? Apa aku sudah tidak ada lagi di hatimu.??"
Tanya Evelyin bergetar dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dirga menatap tajam wajah Evelyin.
"Sikapmu sudah membuatku melupakan cintaku padamu.! Kau sudah memusnahkan rasa peduliku padamu saat kamu mengambil nyawa anakku..!!"
Ucap Dirga tajam. Evelyin terkejut, dia mundur beberapa langkah dengan tubuh yang tiba-tiba lemas mendengar ucapan Dirga.
"Ti-tidak mungkin kau bisa melupakan aku begitu saja. Kita saling mencintai..Kamu tidak bisa hidup tanpaku.!Aku adalah segalanya bagimu..!"
"Dan itu hanyalah semu..! Kau yang menciptakan
cinta itu, tapi kau juga yang sudah menghilangkan nya..!"
__ADS_1
Debat Dirga. Evelyin menggeleng, dia masih tidak percaya dengan semua yang di dengarnya.
"Honey..lupakan semua yang terjadi.! lupakan wanita itu.! Aku akan memberimu keturunan yang pastinya lebih pantas untukmu..!"
"Aku tahu kamu tidak akan pernah bisa memberiku keturunan, jadi lupakan saja semua.! Lee akan mengurus perceraian kita..! surat nya akan datang secepatnya..!!"
Ucap Dirga bagai petir di siang bolong. Mata Evelyin terbelalak terkejut setengah mati.
Dirga berjalan menghampiri Evelyin yang masih mematung di tempat dengan wajah yang kini
berubah pucat.
"Kamu yang memaksaku mengambil keputusan ini.!
Andai saja kamu bisa berdamai dengan keadaan, mungkin tidak akan berakhir seperti ini.!"
Ucap Dirga sambil kemudian melangkah pergi meninggalkan Evelyin yang masih membeku di tempat. Tubuhnya bergetar menahan rasa tidak
terima dengan semua keputusan Dirga.
*****
Mayra bersiap diri untuk datang ke pameran lukisan nya Vanessa. Dia memakai gaun yang tidak terlalu ribet, simpel namun tetap terkesan elegan dan sangat personal. Kesan dewasa dan anggun nampak jelas, dipadukan dengan riasan natural namun hangat sesuai dengan gaun yang dipakainya, membuat dia terlihat bagai seorang Dewi yang baru keluar dari peraduannya.
Mayra berangkat di antar oleh Jane dengan pengawalan ketat Jhon dan Darwis. Mayra memang pernah bilang tidak ingin lagi di kawal atau di jaga
oleh Jane, namun Dirga seakan tidak mendengarnya.
Keselamatan Mayra adalah prioritas nya kini walau sekarang mereka tidak saling bertemu.
Standar keamanan dan pengawalan terhadap Mayra tidak pernah berubah, malah sekarang semakin ketat tanpa sepengetahuan Mayra. Musuh bisa menyerangnya kapan saja, apalagi sekarang Mayra tinggal di tempat yang tingkat keamanannya tidak terjamin sama sekali.
Mobil yang membawa Mayra mulai memasuki kawasan galeri tempat pameran berlangsung, kemudian Jane memasuki area parkir khusus tamu VVIP dan memarkir mobilnya di sana.
Mayra keluar dari mobil di bantu oleh Jane.
"Terimakasih ya Jane..,"
Ucap Jane sambil mengikuti Mayra sampai ke loby.
"Memang ada siapa di dalam Jane..?"
Tanya Mayra setelah sampai di loby.
"Nanti Nyonya tahu sendiri orang nya !"
Ucap Jane sambil menunduk dan Mayra pun akhirnya melangkah masuk ke dalam loby Galeri yang sangat besar dan mewah itu.
Vanessa memang merupakan salah seorang pelukis muda berbakat yang cukup handal di kancah internasional.
Saat sampai di pintu utama terdapat penjaga khusus yang memeriksa kartu undangan setiap tamu yang datang. Kedua penjaga itu tampak begitu terpesona pada Mayra yang hanya memasang wajah datar saja.
Sejak kejadian kemarin, sikap Mayra banyak berubah, dia tidak sehangat dan seramah seperti biasanya. Dia lebih banyak memasang wajah datar cenderung diam tak bereaksi berlebihan.
Namun dengan sikap dinginnya itu, pesonanya malah tambah kuat, ada kesan misterius yang kini terpancar dari aura kecantikannya. Membuat orang yang baru mengenalnya akan merasa penasaran padanya dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Mayra mulai berjalan masuk ke dalam galery yang sejak di lorong masuk sudah mulai dipenuhi dengan berbagai lukisan indah hasil goresan tangan ajaib Vanessa Measure sang pelukis.
Sudah banyak sekali tamu yang hadir di dalam Galery, semua rata-rata berasal dari kalangan atas dan dunia seni. Terlihat dari gaya pakaian mereka yang tampak mahal dan berkelas.
Para tamu yang hadir terlihat langsung mematung di tempat saat melihat kehadiran Mayra. Tidak ada yang tidak terpesona, baik itu wanita apalagi pria.
Seakan keindahan lukisan-lukisan yang ada di dinding tidak ada apa-apanya bila di bandingkan dengan sosok cantik nan elok itu, yang kini sedang berjalan anggun mulai terfokus pada setiap lukisan yang di lihatnya.
Sebagian besar dari para tamu sudah mengenal Mayra sebagai istri kedua sang raja bisnis, sehingga tidak ada yang berani menganggu kehadirannya. Hanya bisa secara diam-diam menikmati keindahan pesonanya.
Aura kecantikan yang terpancar dari wajah Mayra benar-benar mengalihkan perhatian sebagian besar para tamu yang datang ke pameran ini.
Hanya saja timbul banyak pertanyaan dari mereka. membuat mereka berbisik-bisik dan sedikit bergosip.
*Kenapa dia datang sendiri.?
*Kenapa tidak ada yang menemani.?
__ADS_1
Itulah beberapa hal yang mereka bisikkan. Namun yang digosipkan nampak cuek saja, malah asik menikmati kesenangannya melihat keindahan setiap lukisan yang terpasang di dinding.
Lukisan-lukisan karya Vanessa rata-rata beraliran
Romantisme, Realisme dan Ekspresionisme.
Semuanya terlihat mengandung nilai seni berestetika tinggi dan sangat kuat dalam penyampaian pesan yang terkandung dalam setiap lukisannya.
Mayra terus berjalan tenang menikmati setiap lukisan yang di lihatnya. Hingga dia berdiri di depan sebuah lukisan yang sangat menarik. Mayra terdiam menatapnya terpukau pada lukisan itu.
"Bagaimana menurutmu tentang lukisan ini May..?"
Sebuah suara merdu membuyarkan konsentrasi Mayra pada lukisan yang sedang di lihatnya. Dia membalikan badan dan sedikit melempar senyum pada Vanessa yang sudah berdiri di belakangnya bersama dengan Agam.
"Hai..apakabar..? senang sekali kamu bisa datang.
Terimakasih ya..!"
Ucap Vanessa sambil merangkul Mayra yang juga membalas rangkulannya.
"Alhamdulillah kabarku baik..Aku senang kok datang kesini.! terimakasih juga atas undangannya ya.."
Balas Mayra. Mereka melepaskan rangkulannya.
Dan kembali saling melempar senyum.
Agam menatap wajah Mayra intens, ingin meyakinkan dirinya bahwa wanita ini baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja May..?"
Tanya Agam setelah Mayra berpaling dan tersenyum lembut padanya.
"Aku baik-baik saja mas.."
Jawab Mayra. Mereka saling pandang sebentar.
"Baiklah May.. selamat menikmati waktumu ya..Aku harus ke tempat lain, masih ada tamu yang harus aku sapa..! Enjoy ya May..!"
Ucap Vanessa sambil menepuk tangan Mayra yang hanya mengangguk dan tersenyum.
Agam berjalan mengikuti Mayra yang terus mengamati setiap lukisan yang ada di dinding.
"Aku turut berduka atas semua yang telah terjadi padamu May.."
"Semua terjadi atas kehendakNya mas. Allah telah menegurku agar aku bisa memperbaiki diri.."
"Tidak ada yang salah denganmu May..! Semua terjadi karena keegoisan orang lain.!"
"Allah pasti punya rencana yang lebih indah untukku, jadi tidak ada yang perlu disesali."
Sahut Mayra sambil berhenti dan menatap kembali sebuah lukisan di hadapannya. Agam juga ikut berhenti dan menatap lukisan yang sama.
Orang-orang yang berdiri di sekitar mereka terlihat sedikit gaduh, Mayra acuh saja dia tetap terfokus pada lukisan yang sedang di nikmati keindahannya.
Agam terlihat berdiri dengan wajah datar melihat kemunculan orang yang menjadi sumber kegaduhan.
"May..aku harus menemui Vanes dulu, nikmatilah waktumu..!"
Ucap Agam, Mayra hanya melirik sebentar dan mengangguk. Agam berlalu pergi dengan raut wajah dingin. Semua orang terlihat mencoba kembali fokus pada lukisannya dan tidak ada yang berani mengeluarkan suara berisik.
Mayra beranjak berniat berpindah tempat ke dinding yang ada di sebrang nya. Namun tiba-tiba langkah nya terhenti dan mematung di tempat. Matanya yang indah bulat bening dan sendu terkunci pada satu sosok di hadapannya. Keduanya saling berpandangan kuat, ada kerinduan yang sangat dalam yang tersirat dari sorot mata mereka. Tapi bibir mereka seakan membisu tidak mampu mengeluarkan kata-kata.
Dirga berdiri gagah dengan aura kehadiran yang sangat kuat mengintimidasi semua orang yang ada di dekatnya. Dia menatap lekat wanita yang ada di depannya yang beberapa hari ini sangat di rindukannya, sampai hari-hari nya terasa mati
karena tidak bisa menemuinya.
**********
TBC.....
__ADS_1