Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
69. Tidur Di Rumah Mertua


__ADS_3

 


  **********


Akhirnya Mayra tidur di kamar yang sudah di sediakan dengan ditemani oleh Manda. Saat ini mereka sudah siap untuk tidur, Mayra sempat bingung saat akan membuka hijabnya.


"Bukalah kakak ipar, kita ini saudara kan, lagipula sesama perempuan juga..!"


Ucap Manda sambil mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memainkan ponsel untuk mengecek sisa pekerjaan nya.


"Baiklah, tapi kamu aja yang tahu ya.."


Ucap Mayra sambil melepas hijabnya dan menyimpan nya di sandaran kursi meja rias. Kemudian dia duduk di depan cermin menyisir pelan rambut indahnya.


"Oke kakak..!"


Sahut Manda sambil melirik kearah Mayra, namun dia jadi tertegun dan terpaku melihat sosok kakak iparnya itu yang kini tengah terduduk dengan rambut tergerai indah. Manda seakan melihat sesosok peri cantik bergaun putih, rupanya begitu elok, cantik natural tanpa polesan, sungguh sangat mempesona.


Manda menggeleng pelan dan mendesah.


"Kakakku beruntung bisa mendapatkan mu kakak ipar..! Pantas Kak Agam tidak bisa melepaskan mu begitu saja..!"


Gumam Manda sambil kembali memainkan ponselnya. Mayra melirik pada Manda karena tidak jelas mendengar gumaman Manda.


"Kau mengatakan sesuatu..?"


"Ahh..Ohh tidak.! Aku hanya sedang mengecek pekerjaanku..! Ayo kita tidur sekarang.!"


Kilah Manda sambil kemudian menyimpan


ponselnya diatas nakas, setelah itu dia menarik selimut dan mulai membaringkan tubuhnya.


Mayra masih duduk di depan cermin. Saat ini hati


dan pikirannya sedang melayang pada sosok suaminya yang sedang tidur di kamar lain bersama dengan istri pertamanya. Ada rasa perih di dalam hatinya, tapi dia memang harus menerima semua ini.


Tidak sadar cairan bening tiba-tiba mengalir begitu saja membasahi wajahnya. Duhh air mata ini kenapa juga tidak bisa diajak kompromi sih..!!


Gerutu Mayra dalam hati seraya menghapus pelan deraian air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Tidurlah kakak ipar, agar tidak kepikiran terus..!"


Ucap Manda membuat Mayra terperanjat. Dia cepat-cepat membersikan sisa air matanya,


kemudian berdiri dan melangkah naik keatas tempat tidur. Setelah itu merebahkan tubuhnya di sebelah Manda dan berdoa sebentar.


"Selamat malam kakak..tidurlah yang nyenyak.!"


Lirih Manda dengan suara semakin pelan.


"Malam Manda..mimpi indah ya.."


Sahut Mayra sambil kemudian menarik selimut dan mencoba memejamkan mata.


Sampai tengah malam menjelang, Mayra masih saja terlihat gelisah dalam tidurnya. Dia terus saja bergerak dan membolak balikan tubuhnya. Manda beberapa kali terbangun karena gerakan tak beraturan dari Mayra yang terus saja menggulingkan badannya.


..... ......


Lewat tengah malam, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan pelan. Kemudian sosok Dirga muncul, masuk kedalam kamar dan berjalan menuju tempat tidur. Lalu berdiri di pinggir ranjang, matanya menatap intens wajah istrinya yang sedang tertidur dengan gelisah. Bibirnya tersenyum tipis, dia berjalan ke arah lain.


Kemudian menggoyang pelan pundak Manda.


"Hei bocah nakal..bangun..! "


Ucapnya pelan sedikit tertahan. Manda menggeliat sebentar, namun kemudian tertidur lagi.


Dirga geram sendiri.


"Hei..bangun pindah sana ke kamarmu.!"


Kembali ucap Dirga sambil menggoyang pundak Manda lebih keras kali ini. Manda terbangun dan menatap tajam sosok yang ada di hadapannya. Setelah melihat jelas siapa orang itu, dia mendengus kesal.


"Ada apa.? menggangu orang tidur saja.!"


Ketus Manda. Dia mencoba untuk duduk .


"Pindah ke kamarmu.!"


"Kakak..! Apa tidak bisa membiarkan aku tidur sekali ini saja dengan kakak ipar.!"


"Tidak.! dia tidak boleh tidur dengan siapapun.!"

__ADS_1


"Aku ini adik iparnya kak.!"


"Tidak ada pengecualian..! Kau bahkan sudah melihat dia dalam keadaan polos begitu !"


"Kakak..! Kau ini posesif banget.!"


"Sudah cepat pergi sana.! Aku tidak bisa tidur.!"


"Bukankah tadi kamu tidur sama istri tercinta mu itu. Kenapa tidak bisa tidur.?!"


"Bawel kamu, cepat sana pergi.!!"


Sentak Dirga kesal, dia menarik tubuh Manda turun dari atas tempat tidur. Manda menghentakkan kakinya kesal dengan tingkah arogan kakak nya itu.


"Dasar anehh.!!"


Gerutu Manda sambil kemudian berjalan setengah mengantuk dengan terus menghentakkan kakinya. Dirga hanya menatap kepergian adiknya itu dengan seringai kecil di bibirnya.


Dia menekan remote untuk mengunci kembali pintu kamar nya.


Dirga membuka jubah tidur yang tadi dipakainya, melemparnya ke ujung ranjang. Kemudian membuka celananya dan kini hanya menyisakan boxer saja.


Setelah itu dia naik keatas tempat tidur menyelusup masuk kedalam selimut, kemudian menarik tubuh Mayra kedalam pelukannya. Menghadapkan wajahnya agar berada tepat di dadanya.


Seperti tahu pasti siapa yang ada di dekatnya, tangan Mayra bergerak melingkar di punggung Dirga dan memeluknya erat. Dirga mencium puncak kepala Mayra dan menghirup aroma wangi rambutnya.


Hati dan pikiran Dirga langsung terasa tentram.


Beberapa saat kemudian Mayra tersadar dan terbangun dari tidurnya. Mereka berdua bertatapan kuat, sorot mata Mayra masih berusaha meyakinkan kalau sosok suaminya ini benar dan nyata ada di dekatnya, sedang memeluknya erat.


"Kenapa ada disini..? mana Manda..?"


Tanya Mayra kemudian terkejut sendiri dan berusaha bergerak ingin melihat keberadaan Manda. Tapi setengah tubuh Dirga menahan dan menekannya.


"Dia sudah aku usir..!"


Ucap Dirga sambil tersenyum usil. Mayra melotot kesal, dia terus berusaha berontak ingin keluar dari tindihan badan Dirga yang kokoh.


"Lalu kenapa kau kesini..? bukankah tadi tidur sama Evelyin.?"


"Aku tidak bisa tidur..!"


Bisik Dirga di telinga Mayra membuat Mayra langsung terdiam merasakan desiran halus yang merambat keseluruh nadinya karena sentuhan Dirga.


Ucap Dirga dengan suara yang sudah berat.


"Apa kau sudah melakukannya dengan Evelyin.?"


Tanya Mayra dengan suara pelan bergetar. Dirga menggeleng dan mengelus lembut wajah Mayra.


"Aku tidak bisa lagi melakukannya dengannya..!


Apalagi kamu ada di dekatku.!"


Ucap Dirga, suaranya semakin parau.


Mayra menatap intens wajah Dirga dengan sorot


mata di penuhi rasa tak percaya namun juga bahagia.


Dirga mengecup lembut kening Mayra, membuat semburat merah muncul di wajah cantik natural istrinya tersebut. Dan anehnya..kini aliran darah


Mayra mulai dipenuhi gejolak hasrat ingin bercinta yang langsung saja mendesaknya ingin segera di salurkan.


Keduanya kembali saling pandang lekat, wajah mereka semakin dekat , tidak lama Bibir Dirga sudah menyambar rakus bibir Mayra. Keduanya terpagut dalam sebuah ciuman panas dan membara.


Ada dorongan hasrat menggebu yang kini menguasai diri Mayra. Tidak biasanya dia menginginkan sendiri sentuhan suaminya ini. Dengan perlahan dan sedikit malu, Mayra naik menindih tubuh Dirga yang tertegun sejenak melihat Mayra yang tiba-tiba bertindak agresif


seperti ini. Tapi kemudian Dirga tersenyum bahagia, dengan gerakan lihai dia menarik gaun malam putih yang di pakai Mayra.


Mayra mulai menciumi dan mencumbu seluruh


tubuh gagah suaminya itu dengan sangat panas di penuhi hasrat yang menggelora, meninggalkan banyak jejak di beberapa bagian tubuhnya. Dirga seakan di buat menggila dengan tindakan liar istrinya itu.


Tidak lama mereka sudah terhanyut dalam pergumulan panas yang benar-benar berbeda, karena kini Mayra juga bermain aktif dan sangat agresif.


Dirga merasakan kenikmatan dan kepuasaan yang berkali-kali lipat dari biasanya karena permainan memabukan dari istri keduanya itu. Mereka terus bercinta hingga hampir menjelang pagi.


***** *****


Saat adzan subuh berkumandang Mayra bangun dan merasakan seluruh tubuhnya seakan tak bertenaga.

__ADS_1


Namun dia harus tetap bangun dan menjalankan kewajibannya. Saat akan bangkit dari tempat tidur,


Mayra memekik pelan melihat ada tetesan darah di pahanya turun sampai ke kaki, wajahnya seketika memucat.


Dia melihat kearah Dirga yang masih terlelap dalam kelelahan akibat pergumulannya semalam.


Dengan susah payah Mayra berhasil masuk ke kamar mandi, kemudian membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air shower bertemperatur sedikit lebih hangat karena dia merasakan tubuhnya sedikit kedinginan.


Setelah merasa tubuhnya sedikit lebih segar Mayra cepat keluar dari kamar mandi dan berpakaian lengkap gamis hitam kesukaannya, kemudian segera menjalankan kewajibannya ibadah sholat subuh, tak lupa berdoa untuk keselamatan dunia akhiratnya serta kebahagiaan hidupnya.


Hari semakin terang, matahari sudah menampakkan dirinya dengan jelas di ufuk timur.


Mayra turun ke lantai bawah dan langsung menuju ke dapur seperti kebiasaan dia sehari-harinya.


Sampai di sana dia melihat semua pelayan sudah bergerak pada tugas masing-masing.


Bu Sandra menyambut kedatangan Mayra dengan membungkuk sopan di hadapannya.


"Nyonya muda ada yang bisa saya bantu..?!"


Tanya nya. Dia melihat sekilas nyonya mudanya ini terlihat sangat pucat. Mayra hanya tersenyum lembut dan mengangguk.


"Maaf dengan siapa saya berbicara..?"


"Sandra nyonya muda.."


"Iya Bu Sandra apa saya bisa membuat sarapan sendiri di sini..?"


Tanya Mayra sambil memperhatikan suasana di dalam dapur luas tersebut. Bu Sandra nampak ragu sedikit


"Tapi nyonya muda saya takut nanti Tuan muda tidak akan setuju..!"


"Saya sudah biasa kok Bu Sandra..!"


Potong Mayra sambil kemudian melangkah ke dekat lemari pendingin.


"Nyonya tinggal bilang saja apa yang diinginkan, nanti saya akan menyuruh koki membuatnya..!"


"Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan..!"


Tiba-tiba terdengar suara Nyonya Veronica yang muncul dari arah pintu.


"Ibu.. selamat pagi.."


Sapa Mayra sambil tersenyum lembut menunduk sedikit. Bu Sandra mengangguk pada Nyonya Veronica yang berjalan menghampiri Mayra dan berdiri di hadapannya, menatap datar wajah menantunya itu yang terlihat pucat namun tetap mempesona.


"Memang nya kau mau buat sarapan apa.? "


Tanya nya sambil mengambil minum dan meneguknya perlahan.


"Hanya menu sarapan sederhana saja Bu.."


"Apa kamu sudah terbiasa melakukannya.?"


"Iya Ibu.."


"Dirga tahu.? atau mungkin pernah mencicipi sarapan pagi buatan mu..?!"


"Kalau dia berkunjung selalu mencoba nya sedikit Bu.."


"Dia protes..?!"


Potong Nyonya Veronica. Mayra mengeleng. Ibu mertuanya itu tampak terkejut namun berusaha menyamarkan nya. Dia menatap tak percaya pada menantunya ini.


"Benarkah..?? baiklah kalau begitu buatlah sarapan seperti yang biasa kamu buat.!"


Ucap Nyonya Veronica. Mayra mengangguk pelan kemudian dia meminta Bu Sandra membantunya menyiapkan bahan yang di perlukan. Sementara Nyonya Veronica tampak duduk santai bertumpang kaki di pantry, menikmati jus sayuran yang biasa dia konsumsi di pagi hari.


Mayra mulai berkutat dengan kegiatan pavoritnya di pagi hari. Semua berjalan lancar seperti biasanya, namun Mayra mulai merasakan kepalanya pusing dan perutnya seperti ada yang menekan. Semakin lama rasa tak nyaman di dalam perutnya semakin menjadi. Keringat dingin mulai terasa meremang di permukaan kulitnya membuat dia semakin tidak nyaman.


Mayra menghentikan kegiatannya, rasa pusing dan mual yang di rasakan semakin menekan sistem pertahanannya, dia memegang kepalanya, dan detik berikutnya menghampiri wastafel kemudian


mengeluarkan seluruh isi perutnya. Mayra muntah-muntah dengan hebat membuat Nyonya Veronica langsung kaget dan berlari menghampiri menantunya itu. Bu Sandra dan para pelayan terlihat panik, seorang pelayan langsung berlari ke lantai atas untuk memberitahu tuan mudanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


 


TBC.....


Jangan lupa like, koment & vote nya ya..

__ADS_1


Biar author tambah semangat nulisnya..


thank u so much..👍😘🙏


__ADS_2