
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mayra segera naik ke kamarnya, sampai disana
dia membuka ponsel dan mencari nomor Dirga.
Wajah Mayra berbinar tatkala panggilannya
terhubung.Tapi setelah lama tidak di respon.
Dia mencoba lagi, namun tetap tidak di angkat.
Dengan wajah kecewa Mayra meletakkan ponsel.
Dia menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur.
Memandang langit-langit kamar yang berhiaskan
lampu gantung besar.
Dia memejamkan matanya mencoba menahan
desakan kerinduan yang semakin menyiksanya.
Dia kembali meraih ponselnya dan mencoba
menghubungi nomor Lee yang masih di ingatnya .
Tapi sama saja, nomor Lee juga tidak merespon.
Mayra mengerutkan alisnya, kenapa semua
panggilannya tidak ada yang di respon.
Mayra bangkit kemudian turun dari tempat tidur
berjalan ke pinggir jendela, menatap hampa ke
arah hamparan megahnya gedung-gedung yang
memenuhi kota xxx.. Bayangan wajah Aaron
tiba-tiba terlintas dalam pikirannya membuat
Mayra tersentak dan tertegun sendiri.
Dia segera beristighfar dan memohon ampun
kepada Tuhan atas segala kelemahan hatinya ini.
Alea masuk kedalam kamar Mayra sudah siap
dengan pakaian kerja nya. Dia terlihat berhenti
sesaat memperhatikan Mayra yang masih mencoba
menghubungi nomor Dirga walau tidak mendapat
respon. Alea menarik napas, ada rasa bersalah
dalam hatinya saat ini.
Maafkan aku Mayra..aku ngin melihat apakah
kak Aaron masih punya peluang untuk bersama
mu..!!
Gumam Alea dalam hati. Dia mendekat kearah
Mayra kemudian berdiri di hadapannya.
"Mayra..aku akan pergi ke rumah sakit. Aku
sudah menyuruh kepala pelayan untuk datang
menemanimu.."
Ucap Alea sambil menatap memperhatikan
wajah Mayra yang saat ini terlihat begitu murung.
"Baiklah..apa kau sudah sarapan.?"
"Sudah, terimakasih.. masakanmu
benar-benar lezat..! Aku yakin kak Aaron
juga suka dengan masakan mu..!"
Ucap Alea sambil tersenyum manis. Mayra
terdiam dan tersenyum canggung.
"Apa kau sudah menghubungi suamimu.?"
"Sudah..tapi tidak di angkat, mungkin mereka
sedang sibuk saat ini."
"Hemm..kalau begitu coba lagi nanti.!"
"Iya nanti aku coba lagi."
Sahut Mayra. Alea kemudian berlalu pergi dari
hadapan Mayra yang masih berdiri mematung
di sisi jendela menerawang jauh .
..... .....
Setiap hari bahkan setiap ingat Mayra terus
mencoba menghubungi nomor Dirga dan Lee,
namun anehnya tidak pernah mendapat respon. Akhirnya Mayra lelah, dia mencoba meminjam
ponsel Alea untuk menghubungi nomor Dirga,
namun hasilnya sama, tidak diangkat. Terhubung
tapi seakan tidak menyambung.
Hari-hari Mayra kini semakin di warnai oleh
rasa sepi dan kerinduan yang sudah mencapai
batasnya. Air matanya juga sudah berhenti
mengalir seakan sudah habis terkuras. Mayra
pasrah seandainya Dirga memang tidak akan
datang menjemput nya. Harapannya kini hanya
tinggal menunggu kedatangan Aaron, dia akan
meminta laki-laki itu untuk mengantarnya
pulang kembali ke tanah kelahirannya.
Namun semenjak hari terakhir dia bertemu
dengan nya Aaron tidak pernah lagi muncul
di Penthouse nya itu. Alea mengatakan bahwa
Aaron sedang pulang ke negara ayahnya karena
ada banyak hal yang harus di urusnya.
Mayra lelah.. benar-benar lelah dengan kondisi
dirinya kini. Dia jauh dari keluarga, orang-orang
terkasih dan jauh dari suami yang sangat di
rindukannya.
Sudah 3 minggu lebih Mayra berada di tempat
pengasingannya ini. Setiap hari dia hanya berdiam
diri di perpustakaan. Sesekali turun untuk berjalan
santai di taman sekitar apartemen. Atau pergi
berbelanja ke minimarket terdekat dari tempat
tinggalnya. Kepala pelayan dan beberapa
pengawal tidak pernah lepas dari sisinya.
Pagi ini cuaca cukup cerah, Mayra memutuskan
untuk jogging di sekitar taman. Dia turun dengan
setelan baju olahraganya. Kepala pelayan dan
dua orang pengawal ikut menemani.
"Nyonya..sebaiknya anda jangan terlalu cape.
Saya takut kesehatan anda akan terganggu
kembali.."
Ujar kepala pelayan seraya menyodorkan
minuman saat Mayra duduk istirahat di atas
__ADS_1
bangku di bawah pohon rindang.
"Tidak apa-apa.. Saya sekarang sudah pulih kok."
Sahut Mayra sambil mengelap keringat di dahinya.
Semua orang yang sedang berolahraga pagi
yang lewat di hadapan Mayra tampak
memperhatikan nya dengan tatapan terpesona.
Di negara ini cukup banyak juga wanita yang
berhijab, jadi bukan karena itu yang menjadi
fokus perhatian mereka, tentu saja kecantikan
dan keelokan rupa Mayra lah yang menjadi
pusat perhatian mereka.
Itulah yang di khawatirkan oleh kepala pelayan,
dia tidak mau wanita Tuan nya ini menjadi pusat
perhatian orang-orang di sana. Waktu pertama
kali Mayra mengajak jalan di taman, kepala
pelayan sempat menawarkan Mayra agar
menutupi wajahnya dengan masker, namun
Mayra hanya tersenyum saja, dia berpikir ini
bukanlah di negara asalnya. Tentu saja tidak
akan ada yang mengenalinya. Dia tidak tahu
sama sekali maksud dan tujuan dari kepala
pelayan memintanya memakai masker.
Mayra kembali melanjutkan kegiatan lari paginya.
Kepala pelayan menerima telpon dari Alea yang
menanyakan keberadaan Mayra. Tadi malam
Alea tidak pulang ke Penthouse karena banyak
hal urgent yang terjadi di rumah sakit.
"Kau cepat bawa pulang Mayra, kakak akan
menemuinya..!"
Titah Alea di telpon dengan suara tegas setengah
khawatir.
"Baik Miss.."
Sahut kepala pelayan dengan wajah yang sudah memucat karena ketakutan. Dengan cepat dia
mengejar Mayra yang sudah mulai menjauh.
Mayra masih terus berlari santai tanpa peduli
pada orang-orang yang sedari tadi terus saja
melihat dan mulai banyak yang mengikutinya.
Mayra terhenti saat merasakan kepalanya
tiba-tiba pusing. Dia mencari tempat duduk
dengan memegang kepalanya yang terasa
makin berat..
"Nona..apa kau baik-baik saja.?"
Tanya beberapa orang yang tadi mengikuti nya.
Mayra mencoba tersenyum dan mengangguk
pelan masih memegangi kepalanya.
"Apa anda butuh ke Dokter.? mari kami antar
nona, ada rumah sakit terdekat di sini..!"
Ujar yang lain seraya menghampiri Mayra. Mereka
semakin banyak yang mendekat dengan modus
sebenarnya ingin melihat lebih dekat wajah
cantik nan elok nya Mayra.
Tidak lama muncul kepala pelayan dan dua
pengawal yang tadi sempat berhenti karena
mendapat panggilan dari kepala pengawal
yang menanyakan keberadaan Mayra.
"Nyonya..anda tidak apa-apa..?"
Tanya kepala pelayan dengan wajah yang sudah
sangat cemas sekaligus tegang. Para pengawal
tadi mencoba menghalau orang-orang yang
semakin banyak berkumpul di sekitar Mayra.
"Kepala saya pusing.."
Ucap Mayra. Wajahnya mulai terlihat pucat.
Kepala pelayan memberikan air putih yang
langsung diterima oleh Mayra dan perlahan
meneguknya. Setelah beberapa lama akhirnya
Mayra mencoba berdiri, namun pandangannya tiba-tiba kabur dan pendengarannya melemah.
Kepala pelayan memekik saat melihat tubuh
Mayra terhuyung akan jatuh, dengan cepat dia menangkap tubuh Mayra kedalam rangkulan nya. Orang-orang terlihat ribut saat melihat Mayra
pingsan dalam pangkuan kepala pelayan .
"Nyonya..?! Nyonya sadarlah..!"
Seru kepala pelayan saat melihat Mayra terkulai
lemas di pangkuannya. Wajahnya terlihat pucat
seperti kapas. Dia terus memanggil-manggil
Mayra sambil mengipasi wajahnya.
Dalam keadaan genting seperti itu, dari arah
ujung jalan, terlihat sebuah Limosin berhenti
tepat di pinggir jalan. Orang-orang langsung
gaduh dan hampir semuanya menundukan
kepala saat melihat kemunculan seorang pria
yang keluar dari mobil mewah tersebut. Pria
tinggi tersebut langsung berlari kearah Mayra
berada.
Tiba di tempat, semua orang tampak langsung
membungkuk hormat padanya.
"Lord Marvell.."
Sambut mereka sambil menunduk. Pria tadi
yang ternyata adalah Aaron dengan wajah yang
sangat dingin setengah emosi terlihat langsung mengangkat tubuh Mayra dari pangkuan kepala pelayan dan tanpa basa basi lagi dia berjalan
cepat memangku tubuh Mayra menuju ke
mobil yang telah menunggu.
Saat sudah sampai di dekat mobil, beberapa
pengawal berjas dan berkacamata hitam
dengan sigap membukakan pintu untuk Aaron.
Dengan hati-hati Aaron masuk masih memangku
tubuh Mayra yang semakin lemas dan dingin.
Mobil mulai melaju dengan cepat menuju ke
__ADS_1
rumah sakit terbaik yang ada di kota tersebut.
"Hubungi Alea..minta siapkan jalur
emergency private secepatnya..!"
Perintah Aaron pada seorang laki-laki yang
duduk di barisan jok kedua.
"Baik Tuan..!"
Ucap laki-laki tadi, kemudian dia sibuk menelpon
Alea memberi instruksi.
Aaron menatap cemas wajah Mayra yang kini
ada di dalam pangkuannya. Begitu dekat di hadapannya. Ditatapnya lekat wajah pucat itu. Perlahan dan sedikit gemetar, Aaron mengelus
lembut wajah Mayra dengan perasaan yang
sudah tidak karuan.
"Apa yang terjadi padamu..? Apa kamu tahu
aku tidak bisa tenang selama jauh darimu..!"
Gumam Aaron dengan tatapan yang tidak
lepas dari wajah cantik Mayra.
"Lebih cepat sedikit..!!"
Bentak Aaron pada supir pribadinya.
"Baik Tuan..!"
Ucap sang Sopir sambil kemudian mempercepat
laju mobilnya.
Tidak lama mobil sudah masuk ke dalam
kawasan sebuah rumah sakit megah
bertuliskan 'Rolls Marvello's hospital'.
Tiba di sana mobil langsung masuk melalui
jalur khusus menuju ke emergency private.
Ketika tiba di parkiran disana sudah menunggu
dua orang dokter dan beberapa perawat yang
sudah siap siaga dengan segala peralatan
pertolongan pertama. Namun Aaron tidak
melepaskan Mayra dia langsung membawa
Mayra masuk ke dalam lift khusus menuju
ruang Emergency.
Sampai di ruang Emergency dia di sambut
langsung oleh Alea yang segera membimbing
nya masuk kedalam ruangan pemeriksaan
khusus. Aaron membaringkan tubuh lemah
Mayra dengan hati-hati, kemudian ditatapnya
kembali wajah pucat itu .
"Sebaiknya kakak keluar, aku akan menanganinya
langsung, tenanglah..!"
Ujar Alea sambil kemudian bergerak cepat
mengecek kondisi Mayra.
Aaron keluar dari ruang pemeriksaan. Dia
terduduk lemas diatas bangku. Wajahnya
di tutup oleh kedua tangannya. Tidak lama
dia berdiri berjalan mondar mandir.
Perasaanya sungguh tidak nyaman saat ini.
Ada sesuatu yang serasa mengganjal di hatinya.
Setelah cukup lama Alea keluar dari ruang
pemeriksaan. Aaron dengan cepat menghampiri
Alea yang langsung menarik tangannya menuju ruangan lain.
"Lea..bagaimana keadaan Mayra.? tidak ada
yang serius dengannya kan..??"
Tanya Aaron sambil menepis tangan Alea dan menatapnya tajam.
"Justru ini serius kak, bahkan sangat serius.!"
Jawab Alea dengan wajah yang terlihat seolah
sangat urgent. Aaron mengetatkan rahangnya.
Wajahnya terlihat sudah sedingin kutub Utara.
"Apa maksudmu.? apa yang terjadi padanya.?
Cepat katakan..!!"
Bentak Aaron. tangannya terkepal kuat.
"Kakak harus segera menghubungi suaminya..!"
Aaron terhenyak, wajahnya semakin dingin.
Dia semakin menatap Alea dengan sorot mata
yang penuh dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa kamu berbelit-belit, katakan saja
padaku.! Aku juga bertanggung jawab
atas dirinya..!"
"Tapi suaminya harus tahu soal ini kak..!"
"Aleaaa...!!"
"Mayra hamil kak..."
Aaron membeku di tempat. Matanya terlihat
menatap Alea tak percaya.
"Hamil...???"
"Iya Kak..sudah masuk minggu ke lima..!"
Aaron menjatuhkan dirinya di sofa. Dia terdiam
lama dengan tatapan mata yang hampa. Wanita
yang sangat di cintainya itu kini tengah
mengandung anak sahabatnya.
"Kau harus segera memberitahu suaminya..!
Dia memerlukan kehadiran nya..!!"
Ucap Alea kemudian sambil duduk di samping
Aaron yang terlihat masih tak percaya dengan kenyataan ini. Alea menepuk-nepuk lembut
bahu Aaron.
"Kau telah jatuh cinta pada istri orang lain kak.
Bahkan kau jatuh cinta pada seorang wanita
hamil..! ck ck ck..! kasian sekali nasib cintamu..!"
"Berisik..!!"
Sentak Aaron sambil menepis tangan Alea yang
hanya nyengir saja. Aaron meremas kepalanya.
Apakah ini artinya dia harus benar-benar rela
melepaskan cinta pertama nya begitu saja ??
Ya..tidak ada pilihan lain lagi bagi Aaron.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
__ADS_1