Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
102. Kabar Mengejutkan


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mayra segera naik ke kamarnya, sampai disana


dia membuka ponsel dan mencari nomor Dirga.


Wajah Mayra berbinar tatkala panggilannya


terhubung.Tapi setelah lama tidak di respon.


Dia mencoba lagi, namun tetap tidak di angkat.


Dengan wajah kecewa Mayra meletakkan ponsel.


Dia menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur.


Memandang langit-langit kamar yang berhiaskan


lampu gantung besar.


Dia memejamkan matanya mencoba menahan


desakan kerinduan yang semakin menyiksanya.


Dia kembali meraih ponselnya dan mencoba


menghubungi nomor Lee yang masih di ingatnya .


Tapi sama saja, nomor Lee juga tidak merespon.


Mayra mengerutkan alisnya, kenapa semua


panggilannya tidak ada yang di respon.


Mayra bangkit kemudian turun dari tempat tidur


berjalan ke pinggir jendela, menatap hampa ke


arah hamparan megahnya gedung-gedung yang


memenuhi kota xxx.. Bayangan wajah Aaron


tiba-tiba terlintas dalam pikirannya membuat


Mayra tersentak dan tertegun sendiri.


Dia segera beristighfar dan memohon ampun


kepada Tuhan atas segala kelemahan hatinya ini.


Alea masuk kedalam kamar Mayra sudah siap


dengan pakaian kerja nya. Dia terlihat berhenti


sesaat memperhatikan Mayra yang masih mencoba


menghubungi nomor Dirga walau tidak mendapat


respon. Alea menarik napas, ada rasa bersalah


dalam hatinya saat ini.


Maafkan aku Mayra..aku ngin melihat apakah


kak Aaron masih punya peluang untuk bersama


mu..!!


Gumam Alea dalam hati. Dia mendekat kearah


Mayra kemudian berdiri di hadapannya.


"Mayra..aku akan pergi ke rumah sakit. Aku


sudah menyuruh kepala pelayan untuk datang


menemanimu.."


Ucap Alea sambil menatap memperhatikan


wajah Mayra yang saat ini terlihat begitu murung.


"Baiklah..apa kau sudah sarapan.?"


"Sudah, terimakasih.. masakanmu


benar-benar lezat..! Aku yakin kak Aaron


juga suka dengan masakan mu..!"


Ucap Alea sambil tersenyum manis. Mayra


terdiam dan tersenyum canggung.


"Apa kau sudah menghubungi suamimu.?"


"Sudah..tapi tidak di angkat, mungkin mereka


sedang sibuk saat ini."


"Hemm..kalau begitu coba lagi nanti.!"


"Iya nanti aku coba lagi."


Sahut Mayra. Alea kemudian berlalu pergi dari


hadapan Mayra yang masih berdiri mematung


di sisi jendela menerawang jauh .


..... .....


Setiap hari bahkan setiap ingat Mayra terus


mencoba menghubungi nomor Dirga dan Lee,


namun anehnya tidak pernah mendapat respon. Akhirnya Mayra lelah, dia mencoba meminjam


ponsel Alea untuk menghubungi nomor Dirga,


namun hasilnya sama, tidak diangkat. Terhubung


tapi seakan tidak menyambung.


Hari-hari Mayra kini semakin di warnai oleh


rasa sepi dan kerinduan yang sudah mencapai


batasnya. Air matanya juga sudah berhenti


mengalir seakan sudah habis terkuras. Mayra


pasrah seandainya Dirga memang tidak akan


datang menjemput nya. Harapannya kini hanya


tinggal menunggu kedatangan Aaron, dia akan


meminta laki-laki itu untuk mengantarnya


pulang kembali ke tanah kelahirannya.


Namun semenjak hari terakhir dia bertemu


dengan nya Aaron tidak pernah lagi muncul


di Penthouse nya itu. Alea mengatakan bahwa


Aaron sedang pulang ke negara ayahnya karena


ada banyak hal yang harus di urusnya.


Mayra lelah.. benar-benar lelah dengan kondisi


dirinya kini. Dia jauh dari keluarga, orang-orang


terkasih dan jauh dari suami yang sangat di


rindukannya.


Sudah 3 minggu lebih Mayra berada di tempat


pengasingannya ini. Setiap hari dia hanya berdiam


diri di perpustakaan. Sesekali turun untuk berjalan


santai di taman sekitar apartemen. Atau pergi


berbelanja ke minimarket terdekat dari tempat


tinggalnya. Kepala pelayan dan beberapa


pengawal tidak pernah lepas dari sisinya.


Pagi ini cuaca cukup cerah, Mayra memutuskan


untuk jogging di sekitar taman. Dia turun dengan


setelan baju olahraganya. Kepala pelayan dan


dua orang pengawal ikut menemani.


"Nyonya..sebaiknya anda jangan terlalu cape.


Saya takut kesehatan anda akan terganggu


kembali.."


Ujar kepala pelayan seraya menyodorkan


minuman saat Mayra duduk istirahat di atas

__ADS_1


bangku di bawah pohon rindang.


"Tidak apa-apa.. Saya sekarang sudah pulih kok."


Sahut Mayra sambil mengelap keringat di dahinya.


Semua orang yang sedang berolahraga pagi


yang lewat di hadapan Mayra tampak


memperhatikan nya dengan tatapan terpesona.


Di negara ini cukup banyak juga wanita yang


berhijab, jadi bukan karena itu yang menjadi


fokus perhatian mereka, tentu saja kecantikan


dan keelokan rupa Mayra lah yang menjadi


pusat perhatian mereka.


Itulah yang di khawatirkan oleh kepala pelayan,


dia tidak mau wanita Tuan nya ini menjadi pusat


perhatian orang-orang di sana. Waktu pertama


kali Mayra mengajak jalan di taman, kepala


pelayan sempat menawarkan Mayra agar


menutupi wajahnya dengan masker, namun


Mayra hanya tersenyum saja, dia berpikir ini


bukanlah di negara asalnya. Tentu saja tidak


akan ada yang mengenalinya. Dia tidak tahu


sama sekali maksud dan tujuan dari kepala


pelayan memintanya memakai masker.


Mayra kembali melanjutkan kegiatan lari paginya.


Kepala pelayan menerima telpon dari Alea yang


menanyakan keberadaan Mayra. Tadi malam


Alea tidak pulang ke Penthouse karena banyak


hal urgent yang terjadi di rumah sakit.


"Kau cepat bawa pulang Mayra, kakak akan


menemuinya..!"


Titah Alea di telpon dengan suara tegas setengah


khawatir.


"Baik Miss.."


Sahut kepala pelayan dengan wajah yang sudah memucat karena ketakutan. Dengan cepat dia


mengejar Mayra yang sudah mulai menjauh.


Mayra masih terus berlari santai tanpa peduli


pada orang-orang yang sedari tadi terus saja


melihat dan mulai banyak yang mengikutinya.


Mayra terhenti saat merasakan kepalanya


tiba-tiba pusing. Dia mencari tempat duduk


dengan memegang kepalanya yang terasa


makin berat..


"Nona..apa kau baik-baik saja.?"


Tanya beberapa orang yang tadi mengikuti nya.


Mayra mencoba tersenyum dan mengangguk


pelan masih memegangi kepalanya.


"Apa anda butuh ke Dokter.? mari kami antar


nona, ada rumah sakit terdekat di sini..!"


Ujar yang lain seraya menghampiri Mayra. Mereka


semakin banyak yang mendekat dengan modus


sebenarnya ingin melihat lebih dekat wajah


cantik nan elok nya Mayra.


Tidak lama muncul kepala pelayan dan dua


pengawal yang tadi sempat berhenti karena


mendapat panggilan dari kepala pengawal


yang menanyakan keberadaan Mayra.


"Nyonya..anda tidak apa-apa..?"


Tanya kepala pelayan dengan wajah yang sudah


sangat cemas sekaligus tegang. Para pengawal


tadi mencoba menghalau orang-orang yang


semakin banyak berkumpul di sekitar Mayra.


"Kepala saya pusing.."


Ucap Mayra. Wajahnya mulai terlihat pucat.


Kepala pelayan memberikan air putih yang


langsung diterima oleh Mayra dan perlahan


meneguknya. Setelah beberapa lama akhirnya


Mayra mencoba berdiri, namun pandangannya tiba-tiba kabur dan pendengarannya melemah.


Kepala pelayan memekik saat melihat tubuh


Mayra terhuyung akan jatuh, dengan cepat dia menangkap tubuh Mayra kedalam rangkulan nya. Orang-orang terlihat ribut saat melihat Mayra


pingsan dalam pangkuan kepala pelayan .


"Nyonya..?! Nyonya sadarlah..!"


Seru kepala pelayan saat melihat Mayra terkulai


lemas di pangkuannya. Wajahnya terlihat pucat


seperti kapas. Dia terus memanggil-manggil


Mayra sambil mengipasi wajahnya.


Dalam keadaan genting seperti itu, dari arah


ujung jalan, terlihat sebuah Limosin berhenti


tepat di pinggir jalan. Orang-orang langsung


gaduh dan hampir semuanya menundukan


kepala saat melihat kemunculan seorang pria


yang keluar dari mobil mewah tersebut. Pria


tinggi tersebut langsung berlari kearah Mayra


berada.


Tiba di tempat, semua orang tampak langsung


membungkuk hormat padanya.


"Lord Marvell.."


Sambut mereka sambil menunduk. Pria tadi


yang ternyata adalah Aaron dengan wajah yang


sangat dingin setengah emosi terlihat langsung mengangkat tubuh Mayra dari pangkuan kepala pelayan dan tanpa basa basi lagi dia berjalan


cepat memangku tubuh Mayra menuju ke


mobil yang telah menunggu.


Saat sudah sampai di dekat mobil, beberapa


pengawal berjas dan berkacamata hitam


dengan sigap membukakan pintu untuk Aaron.


Dengan hati-hati Aaron masuk masih memangku


tubuh Mayra yang semakin lemas dan dingin.


Mobil mulai melaju dengan cepat menuju ke

__ADS_1


rumah sakit terbaik yang ada di kota tersebut.


"Hubungi Alea..minta siapkan jalur


emergency private secepatnya..!"


Perintah Aaron pada seorang laki-laki yang


duduk di barisan jok kedua.


"Baik Tuan..!"


Ucap laki-laki tadi, kemudian dia sibuk menelpon


Alea memberi instruksi.


Aaron menatap cemas wajah Mayra yang kini


ada di dalam pangkuannya. Begitu dekat di hadapannya. Ditatapnya lekat wajah pucat itu. Perlahan dan sedikit gemetar, Aaron mengelus


lembut wajah Mayra dengan perasaan yang


sudah tidak karuan.


"Apa yang terjadi padamu..? Apa kamu tahu


aku tidak bisa tenang selama jauh darimu..!"


Gumam Aaron dengan tatapan yang tidak


lepas dari wajah cantik Mayra.


"Lebih cepat sedikit..!!"


Bentak Aaron pada supir pribadinya.


"Baik Tuan..!"


Ucap sang Sopir sambil kemudian mempercepat


laju mobilnya.


Tidak lama mobil sudah masuk ke dalam


kawasan sebuah rumah sakit megah


bertuliskan 'Rolls Marvello's hospital'.


Tiba di sana mobil langsung masuk melalui


jalur khusus menuju ke emergency private.


Ketika tiba di parkiran disana sudah menunggu


dua orang dokter dan beberapa perawat yang


sudah siap siaga dengan segala peralatan


pertolongan pertama. Namun Aaron tidak


melepaskan Mayra dia langsung membawa


Mayra masuk ke dalam lift khusus menuju


ruang Emergency.


Sampai di ruang Emergency dia di sambut


langsung oleh Alea yang segera membimbing


nya masuk kedalam ruangan pemeriksaan


khusus. Aaron membaringkan tubuh lemah


Mayra dengan hati-hati, kemudian ditatapnya


kembali wajah pucat itu .


"Sebaiknya kakak keluar, aku akan menanganinya


langsung, tenanglah..!"


Ujar Alea sambil kemudian bergerak cepat


mengecek kondisi Mayra.


Aaron keluar dari ruang pemeriksaan. Dia


terduduk lemas diatas bangku. Wajahnya


di tutup oleh kedua tangannya. Tidak lama


dia berdiri berjalan mondar mandir.


Perasaanya sungguh tidak nyaman saat ini.


Ada sesuatu yang serasa mengganjal di hatinya.


Setelah cukup lama Alea keluar dari ruang


pemeriksaan. Aaron dengan cepat menghampiri


Alea yang langsung menarik tangannya menuju ruangan lain.


"Lea..bagaimana keadaan Mayra.? tidak ada


yang serius dengannya kan..??"


Tanya Aaron sambil menepis tangan Alea dan menatapnya tajam.


"Justru ini serius kak, bahkan sangat serius.!"


Jawab Alea dengan wajah yang terlihat seolah


sangat urgent. Aaron mengetatkan rahangnya.


Wajahnya terlihat sudah sedingin kutub Utara.


"Apa maksudmu.? apa yang terjadi padanya.?


Cepat katakan..!!"


Bentak Aaron. tangannya terkepal kuat.


"Kakak harus segera menghubungi suaminya..!"


Aaron terhenyak, wajahnya semakin dingin.


Dia semakin menatap Alea dengan sorot mata


yang penuh dengan berbagai pertanyaan.


"Kenapa kamu berbelit-belit, katakan saja


padaku.! Aku juga bertanggung jawab


atas dirinya..!"


"Tapi suaminya harus tahu soal ini kak..!"


"Aleaaa...!!"


"Mayra hamil kak..."


Aaron membeku di tempat. Matanya terlihat


menatap Alea tak percaya.


"Hamil...???"


"Iya Kak..sudah masuk minggu ke lima..!"


Aaron menjatuhkan dirinya di sofa. Dia terdiam


lama dengan tatapan mata yang hampa. Wanita


yang sangat di cintainya itu kini tengah


mengandung anak sahabatnya.


"Kau harus segera memberitahu suaminya..!


Dia memerlukan kehadiran nya..!!"


Ucap Alea kemudian sambil duduk di samping


Aaron yang terlihat masih tak percaya dengan kenyataan ini. Alea menepuk-nepuk lembut


bahu Aaron.


"Kau telah jatuh cinta pada istri orang lain kak.


Bahkan kau jatuh cinta pada seorang wanita


hamil..! ck ck ck..! kasian sekali nasib cintamu..!"


"Berisik..!!"


Sentak Aaron sambil menepis tangan Alea yang


hanya nyengir saja. Aaron meremas kepalanya.


Apakah ini artinya dia harus benar-benar rela


melepaskan cinta pertama nya begitu saja ??


Ya..tidak ada pilihan lain lagi bagi Aaron.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2