
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Aaron melirik ke arah Mayra, menatap wajah cantik nan elok itu dalam diam, Mayra juga sedang memandang nya dengan tatapan penuh ketegangan, entah kenapa Mayra merasa tempat ini bukanlah rumah biasa.
"Tolong..jangan pergi.!"
Lirih Mayra. Aaron menghela napas, kemudian kembali duduk di sebrang Mayra.
Saat ini dia berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Mayra, karena hal itu akan membuat dirinya berada dalam pusaran perasaan aneh.
"Apa anda temannya Tuan Dirga.?"
Kembali tanya Mayra mencoba mencairkan suasana yang sangat canggung ini.
Mau tidak mau Aaron melirik dan kembali bertatapan dengan mata bening nan bulat milik Mayra. Ada pertanyaan yang mengganjal di sorot mata Aaron saat mendengar pertanyaan Mayra.
"Kami memang belum terlalu dekat. Aku belum terbiasa memanggil namanya dengan sebutan lain.."
Ucap Mayra seakan mengerti sorot mata Aaron. Dia menunduk dengan wajah memerah.
Aaron berpaling, melihat semburat merah di wajah Mayra gejolak dalam hatinya semakin timbul.
Kemudian dia kembali berdiri, berjalan ke arah lain, dan kembali ke posisi semula.
Mayra tidak tahan dengan situasi yang menurut nya aneh ini, dia ikut berdiri mendekati Aaron, tepat di saat Aaron berbalik, membuat mereka terkejut sendiri dan saling berdiri mematung di tempat.
Mata mereka kembali bertemu dalam kekagetan.
Wajah Aaron yang biasanya tak pernah bereaksi kini terlihat memerah, membuat ketampanan nya yang bak dewa Yunani itu terlihat dalam sesaat. Mayra tertegun sebentar melihat reaksi Aaron.
"Maaf..! aku tidak suka ada di sini. Apa anda bisa membawaku pada suamiku.?"
Tanya Mayra. Aaron menatapnya tajam membuat Mayra sedikit bergetar takut.
Aaron kembali berjalan meninggalkan Mayra
yang hanya bisa bengong dengan reaksi laki-laki
aneh itu. Mayra akhirnya kembali ke tempat duduknya semula.
Baru saja dia kembali duduk terdengar suara gemuruh tembakan ke arah kaca jendela. Denting peluru yang mengenai kaca dan suara hancurnya kaca-kaca jendela itu terdengar mengerikan.
Mayra menjerit histeris menutupi telinganya. Dengan gerakan cepat, Aaron menarik tangan Mayra di bawanya berlari menuju ke sebuah pintu kemudian masuk ke dalam sebuah lorong kecil.
"Ada apa ini..? dimana suamiku..? Aku ingin menemuinya..!"
Teriak Mayra sambil terus berlari panik mengikuti langkah Aaron yang memegang tangannya erat.
Aaron mengeluarkan ponsel dan menghubungi bawahannya.
"Bereskan semuanya..! Dirga masih di bawah..!!"
Perintahnya sambil mengeluarkan senjata dari balik jas dan mengokang nya dengan sekali hentakan.
Mayra bergetar melihat hal itu, trauma atas kejadian penyerangan tempo hari kembali menguasai dirinya.
"Tuan..kita mau kemana..? bawa aku pada suamiku..! aku takut terjadi sesuatu padanya..!!"
Ucap Mayra dalam keadaan setengah berlari mengikuti kemana langkah Aaron.
Aaron hanya diam dan terus waspada. Mereka sampai ke ujung lorong tersebut dan akhirnya keluar lewat sebuah pintu kecil di bagian belakang rumah itu.
Tapi baru saja keluar sudah ada tembakan yang terdengar dan kini semakin mendekat ke arah mereka yang terus berlari.
"Aku ingin menemui Mas Dirga.. tolong..!"
Ucap Mayra dengan napas tersengal, kakinya mulai lemas. Aaron menarik Mayra untuk bersembunyi di balik sebuah pohon besar.
Mayra terduduk lemas bersandar pada pohon itu.
Sementara Aaron sibuk membalas tembakan lawan dengan sangat lihainya. Semua tembakan yang dia arahkan tampaknya mengenai sasaran.
Aaron kembali mengisi peluru dalam satu gerakan cepat kemudian melancarkan tembakan ke arah lawan.
__ADS_1
"Siapkan mobil di ujung jalan..!!"
Perintah Aaron saat kembali menghubungi anak buahnya. Dia melirik sekilas pada Mayra yang duduk meringkuk memeluk lututnya.
Wajah Aaron terlihat semakin dingin.
Dia bergerak kembali menarik tangan Mayra, namun Mayra bergeming dia tetap terduduk. Badannya lemas tak bertenaga dan pandangannya juga mulai kabur.
Melihat hal itu, Aaron tampak ragu sebentar, namun kemudian dengan gerakan cepat dia mengangkat tubuh Mayra ke dalam pangkuan nya. Menempatkan kepala Mayra di atas bahunya dan sebelah tangan kirinya menahan lutut Mayra.
Bagai seekor macan, Aaron berlari cepat menyusuri hutan lebat menjauhi area rumah yang sudah hancur berantakan. Tidak lama dia sampai ke ujung jalan, terlihat ada sebuah mobil yang sudah menunggunya.
beberapa anak buahnya terlihat menyambutnya dengan membukakan pintu.
Sedikit terkejut mereka melihat bos nya membawa sesosok wanita yang mereka tahu itu adalah wanitanya sang raja bisnis.
Aaron mendudukkan Mayra di jok belakang dengan hati-hati. Mayra sudah tidak sadarkan diri saat ini.
Dia menatap lekat wajah pucat Mayra. Matanya terlihat berkilat sesaat menahan luapan amarah yang menguasai jiwanya. Akan dia habisi semua manusia yang tadi telah berani menyerang nya.
Aaron membuka jas yang di pakainya kemudian menyelimuti tubuh bagian depan Mayra.
"Ayo.! kita bereskan cacing-cacing itu.!!"
Ucapnya kemudian dia duduk di samping Mayra dan anak buahnya melajukan mobil kembali ke arah rumah berkaca tadi.
..... .....
Sementara Dirga saat ini sedang bertempur melawan serangan dadakan yang terjadi di luar perkiraannya itu. Dia benar-benar menyesal telah membawa Mayra ke tempat ini, karena tidak menyangka akan mendapat serangan dadakan seperti ini.
"Dimana Mayra..? Kemana Aaron membawanya..?!"
Teriak Dirga di tengah-tengah membalas serangan lawan. Dia masih berada di bawah tanah saat ini karena para penyerang itu sudah masuk ke dalam rumah dan merangsek masuk ke ruangan bawah tanah.
"Tuan jangan khawatir..Aaron pasti melindungi nyonya dengan baik..!"
Ucap Lee sambil mengisi kembali peluru ke dalam senjatanya.
"Tua bangka itu rupanya meminta bantuan aliran dari timur, belum jera juga si brengsek itu.!!"
"Iya tuan, tapi Aaron akan dengan mudah membereskan nya..!"
"Yang aku khawatirkan sekarang adalah keselamatan Mayra. Bagaimana kondisi nya sekarang..! ini akan membuat dia semakin trauma..!"
Ucap Dirga sambil menggertakan gigi dan meninju tembok yang di pakai nya untuk berlindung.
Namun tidak lama suara tembakan berhenti.
Suasana senyap. Dirga bergerak keluar dari balik dinding dan kemudian setelah memastikan keadaan sudah aman dia kembali berjalan menuju ke sebuah sel tahanan. Dimana disana terlihat sosok laki-laki yang tempo hari memimpin penyerangan di jalan.
"Rencana ayahmu gagal tuan Will..Aku tidak akan mengampuni kalian berdua.!"
Ucap Dirga dengan tatapan mata yang sangat tajam dipenuhi amarah.
Laki-laki itu hanya menyeringai dan menyipitkan matanya, tubuhnya terlihat sudah babak belur tak berbentuk lagi.
"Ciihh..! ayahku masih punya banyak koneksi.!
Kau tidak akan tahu apa yang bisa di lakukannya.! Terutama pada wanitamu itu..!! Ini semua gara-gara wanita itu..!!"
"Bereskan dia..!!"
Teriak Dirga murka. Kemudian dia berlalu pergi dari ruangan itu karena ingin segera mencari keberadaan Mayra.
..... .....
Aaron dan anak buahnya sudah bisa menghabisi semua penyusup itu. Mereka tampak membereskan jasad-jasad para penyerang itu dengan gerakan cepat sebelum Mayra tersadar kembali.
Aaron kembali masuk ke dalam mobil, dia mencoba memijit titik khusus di ujung jari kiri Mayra untuk memulihkan kesadarannya.
Dan tidak lama Mayra membuka matanya perlahan. Aaron menatapnya kembali tanpa ekspresi. Namun sesungguhnya dia sangat mengkhawatirkan wanita yang ada di hadapannya ini. Mereka bertatapan lama, Mayra memijat keningnya yang masih terasa sedikit pusing.
"Tuan..kita ada dimana..? aku ingin bertemu suamiku ! tolong bawa aku padanya..!"
__ADS_1
Lirih Mayra sambil bangkit dari sandaran kursi mobil dan melihat keluar jendela.
"Apa semuanya sudah aman.? dimana suamiku.? Dia baik-baik saja kan..?!"
Tanya Mayra kembali sedikit panik mengingat keberadaan Dirga yang masih berada di dalam rumah berkaca itu. Aaron hanya terdiam tak bereaksi. Mayra menatap jengah pada Aaron yang tidak meresponnya sama sekali. tidak lama Aaron keluar dari mobil di ikuti Mayra yang masih terlihat lemas.
"Aku ada di dekat gerbang..! dia bersamaku..!!"
Ucap Aaron saat mengangkat telpon dari Dirga.
Kemudian dia kembali berdiri bersandar di badan mobil.
"Apa dia baik-baik saja Tuan..?"
Tanya Mayra sambil menatap Aaron yang hanya meliriknya sekilas. Mayra mengeluh melihat reaksi Aaron yang sangat aneh itu. Kenapa sepertinya dia sangat anti untuk berbicara padanya.
"Maaf kalau aku terlalu banyak bicara. Baiklah..aku tahu anda tidak ingin berbicara denganku..!"
Ucap Mayra sambil kemudian duduk kembali di dalam mobil, menyandarkan kepalanya yang masih terasa sangat pusing.
Tiba-tiba Aaron sudah menyodorkan sebuah
botol air mineral padanya. Mayra melirik nya dan mengambil botol itu dengan raut wajah kesal pada Aaron.
Aaron memalingkan muka kearah lain, ada segurat senyum tipis nyaris tak terlihat yang terukir di sudut bibirnya.
"Aku tidak akan mengucapkan terimakasih kali ini.! Anda juga tidak akan merespon nya.!"
Ucap Mayra sedikit ketus sambil kemudian mulai meneguk air minum nya.
Wajah Aaron terlihat berbeda, senyum tipis di sudut bibirnya kembali terukir. Kemudian dia berjalan mondar mandir di depan mobil.
Mayra meliriknya dengan tatapan kesal namun dia masih penasaran ingin kembali bertanya pada laki-laki aneh itu.
"Tuan..apa aku boleh pergi mencari suamiku kesana.?"
Tanya Mayra dengan ragu. Aaron menghentikan langkah mondar mandir nya dan dengan cepat berpaling menatap tajam wajah Mayra.
Terlihat Mayra ciut dengan wajah pasrah dia kembali merebahkan kepalanya kemudian memejamkan mata.
Aaron kembali memalingkan mukanya, kenapa wanita ini malah bertingkah menggemaskan seperti itu di hadapannya ? membuat hati Aaron seakan ingin melompat keluar saat ini. Benar-benar membuat Aaron seperti orang yang hilang akal saat ini.
Namun Aaron tetaplah manusia yang sulit berekspresi, meskipun hatinya saat ini seperti tengah tertembak panah asmara yang menancap langsung kedalam sanubarinya.
Tidak lama terlihat mobil Dirga datang mendekat ke tempat Mayra berada. Dan benar saja Dirga datang di susul oleh Lee dan juga Tomy.
Mayra yang melihat kedatangan Dirga langsung keluar dari mobil kemudian berlari kearah Dirga dan berhambur kedalam pelukannya.
Mereka berdua berpelukan erat di penuhi rasa cemas.
"Kau baik-baik saja.? apa ada yang luka.?"
Bisik Dirga sambil berulang kali mencium kening Mayra. Hatinya lega melihat wanita yang di khawatirnya itu ternyata baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa.! tapi kenapa kita harus datang kesini? aku benar-benar takut tadi. !"
"Maaf..aku selalu membawamu dalam masalah.!
Seharusnya tadi aku mengantar mu pulang dulu.!"
"Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu padamu.!"
Sergah Mayra. Keduanya saling pandang. Dirga mengelus lembut wajah Mayra.
"Sebaiknya kita pulang sekarang.!"
Ucapnya sambil kemudian menarik Mayra di bawa masuk kedalam mobilnya. Setelah memastikan
Mayra duduk dengan aman di dalam mobil, dia kembali ke tempat Aaron yang dari tadi melihat interaksi antara Mayra dan rekan bisnisnya itu.
"Aku minta bereskan mereka tanpa jejak, jangan biarkan ada masalah lagi dan mengancam keselamatan istriku..!!"
Ucap nya pada Aaron yang hanya melihatnya tanpa ekspresi. Datar dan sangat dingin..
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....