Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
109. Penculikan


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Hari demi hari terus berlalu tanpa terasa.


Mayra menjalani kehamilannya tanpa hambatan


yang berarti. Kandungannya tumbuh sehat dan


kuat dengan berat dan ukuran yang normal.


Kehidupannya kini senantiasa di warnai dengan


kebahagiaan dan ketenangan. Dia selalu di banjiri dengan cinta dan kasih sayang yang tercurah dan


meluap luap dari suaminya .


Namun sikap Dirga makin kesini semakin


posesif saja. Dia tidak boleh melakukan inilah,


di larang melakukan itulah dan banyak lagi


aturan lainnya, hingga kadang hal itu membuat


Mayra gerah dan lelah dengan sikap berlebihan


suaminya itu.


Hampir setiap bulan mereka melakukan


pemeriksaan kehamilan dengan prosedur


USG untuk mengetahui perkembangan bayi nya.


Dan kini sudah dapat dipastikan bahwa jenis


kelamin calon bayi mereka adalah laki-laki


sesuai dengan harapan keduanya. Sebenarnya


mau laki-laki ataupun perempuan akan sama


saja bagi mereka, karena itu adalah anugerah


Tuhan atas buah cinta mereka.


Kini kandungan Mayra sudah mencapai usia 7


bulan lebih. Dan perutnya sudah terlihat kian


membesar membuat Mayra sedikit tidak nyaman


dan gerah. Namun di mata Dirga justru malah


membuatnya bertambah sexy dan menarik.


Hingga dia tidak pernah tahan kalau sedang


berduaan selalu ingin menggerayangi dan


menggodanya.


Pagi ini mereka masih berada dibawah selimut


karena cuaca pagi ini terasa lebih dingin dari


biasanya. Sejak semalam tidur Mayra terlihat


gelisah, dia terus saja terbangun karena mimpi


buruk yang terus menghantuinya. Hatinya juga


kini terasa begitu resah dan tidak nyaman.


Setelah sholat subuh dia memanjatkan doa


meminta ketenangan atas segala kegelisahan


tak jelas yang kini di rasakannya.


Semalam Dirga sampai terbangun beberapa


kali untuk menjaga Mayra agar tidurnya kembali tenang, namun tetap saja Mayra merasakan


kegelisahan itu hingga akhirnya adzan subuh


membangunkan nya dari semua mimpi buruk


yang di alaminya.


Mayra menatap wajah Dirga yang sedang


terpejam kelelahan setelah pergumulan pagi


mereka yang cukup membuat tubuh Mayra


terasa lunglai. Walau kini tubuhnya dalam


keadaan hamil besar tapi anehnya hasrat


suaminya itu tidak pernah surut, malah seakan semakin menggila saja.


Perlahan tangan Mayra bergerak mengelus


lembut wajah Dirga. Di pandangnya lekat wajah tampan itu, entah kenapa ada suatu perasaan


aneh yang kini merayapi hatinya. Dia seakan


enggan untuk mengalihkan pandangannya


dari wajah suaminya ini, begitu berat dan


rasanya ada sesuatu yang menggigit di hatinya.


Dia tidak ingin jauh-jauh dari suaminya ini.


"Kenapa sayang..apa kamu mau lagi.?"


Dirga bertanya dengan seringai tipis di bibirnya


dan mata yang masih terpejam.Tangannya masih


setia mengelus lembut permukaan perut Mayra


yang polos dan membuncit.


"Apaan sih Mas..! Aku sampai tak bertenaga


begini, masa masih ingin kamu siksa lagi.!"


"haha aku kira kamu masih mau nambah.."


"Dasar kamu ya, gak ada lelahnya..! Padahal


perutku sudah sebesar ini.."


"Kamu semakin sexy dengan perut seperti itu.


Aku tidak tahan melihatnya..!"


"Mas..sudah ahh..! dasar suami mesum.!"


Kesal Mayra seraya memukul pelan tangan Dirga.


Kemudian dia bangkit ingin segera membersihkan


dirinya yang terasa sudah sangat gerah.


Sementara Dirga hanya terkekeh saja,


dengan gerakan cepat dia bangkit kemudian menggendong tubuh polos Mayra masuk


kedalam kamar mandi.


*******


"Sayang..aku ingin keluar hari ini. Ada beberapa


barang buat Dede bayi yang harus di beli.."


Mayra berkata saat sedang memakaikan dasi.


Dirga menautkan alisnya menatap lembut wajah Mayra yang terlihat semakin bercahaya di usia


kehamilannya sekarang ini.


"Suruh Tina saja kalau ada yang mau di beli..!


Aku tidak mau kamu kelelahan nantinya.."


"Tapi aku bosan di rumah terus sayang. Aku


juga ingin memilihnya sendiri."


Mayra merajuk dengan wajah sedikit memelas.


Dirga menarik pinggang Mayra hingga kini perut

__ADS_1


buncitnya menempel di badannya.


"Aku akan menemanimu kalau begitu.."


"Tidak perlu sayang..Kamu fokus saja pada


pekerjaan mu, aku tidak akan lama kok.."


"Tidak..! Aku akan segera membereskan


pekerjaanku, lalu nanti kita pergi bersama..!"


"Sayang..aku tidak ingin menganggu pekerjaan


mu, bukankah banyak orang yang akan pergi


bersamaku..?!"


"Kubilang tidak ya tidak..!"


"Aku akan baik-baik saja sayang..! Kau tidak


perlu repot-repot, aku tahu hari ini kamu sangat


sibuk dengan pekerjaan mu.! Aku mohon.."


Mayra menolak dengan wajah yakin. Dirga


kembali menatap wajah Mayra dan kemudian


menghela napas, hatinya selalu luluh tatkala


melihat ekspresi wajah Mayra yang memohon


seperti itu.


"Baiklah..! Segera kembali setelah beres. Aku


akan menyusul kalau sempat..!"


Senyum Mayra terbit, satu kecupan mesra


mendarat di bibir Dirga yang malah gemas


sendiri, dia kembali memagut bibir Mayra dan


melumatnya lembut.


***** *****


Siang ini Mayra sedang berada di sebuah Mall


elite di pusat kota. Dia terlihat tengah asik


berbelanja beberapa keperluan untuk calon


bayinya. Mayra mencoba mengalihkan segala keresahan yang tidak hilang dari hatinya dengan menikmati acara shopping nya di temani Tina


dan Jane. Beberapa pengawal dengan setia mengawasinya dari kejauhan.


"Aku rasa sudah cukup. Untuk yang lainnya bisa


menyusul nanti, masih ada cukup waktu.."


Mayra berucap sambil kemudian keluar dari toko


di ikuti Tina dan Jane yang sibuk menenteng


barang belanjaan.


"Sekarang kita kemana Nyonya..?"


Jane bertanya sambil terus mengawal langkah


Mayra menuruni tangga eskalator.


"Kita makan siang dulu. Setelah itu antar aku


ke kantor Mas Dirga.."


Jawab Mayra dengan wajah yang terlihat


berbinar, dia ingin membuat kejutan untuk


suaminya itu.


Jane mengangguk faham. Mereka bertiga


masuk ke sebuah cafe yang cukup ramai.


tidak terlalu menggangu nya mengingat


Mayra sedang berbadan dua yang memerlukan


ruang kebebasan sendiri. Selain itu juga


pengawalan yang ketat dari para bodyguard


Mayra membuat mereka sedikit takut dan tidak


berani mendekatinya.


Setelah acara makan siang selesai Mayra


memutuskan untuk langsung pergi ke kantor


Dirga karena ingin segera memberinya kejutan.


Akhirnya mobil yang di bawa Jane meluncur


menuju ke gedung perusahaan Moolay Group.


Beberapa mobil pengawal mengikuti dari


belakang. Jane menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang mencoba membelah


jalanan yang cukup lancar siang ini.


Mayra duduk bersandar ke jok belakang sambil


memainkan ponselnya melihat fhoto2 Dirga dan


dirinya saat sedang mengadakan resepsi beberapa


bulan yang lalu. Bibirnya tersenyum manis.


Jalan utama menuju ke kantor perusahaan


Moolay Group ternyata sedang terjebak


kemacetan. Mau tidak mau Jane harus memutar mencari jalan alternatif agar bisa cepat sampai.


Dia memilih jalan lain yang harus sedikit lebih


jauh namun cukup sepi karena ini adalah


kawasan perumahan elite.


Saat mobil sudah mulai menyusuri jalanan


yang cukup lengang, tiba-tiba Jane di kejutkan


dengan kedatangan beberapa mobil hitam yang


secara mendadak menghadang jalannya. Tidak


ada jalan lain Jane harus mengerem mendadak mobilnya, membuat Mayra terlonjak kaget ke


depan dan kepalanya hampir membentur jok


depan. Dengan reflek Mayra memegang erat


perutnya untuk melindungi dari benturan.


"Ada apa Jane..?"


Dengan wajah panik Mayra bertanya dan


memegang kuat perutnya yang tadi sempat terguncang. Belum habis rasa kagetnya, kini


matanya langsung terbelalak ketika melihat


ada puluhan orang berpakaian hitam berlari


menyerbu kearah mobilnya.


"Apapun yang terjadi, Nyonya jangan keluar


dari mobil..!"


Jane memberi peringatan sambil kemudian


mengambil senjata dari balik jas hitamnya.


"Jane..siapa mereka.?"


Teriak Mayra mulai panik dan ketakutan.

__ADS_1


Tina juga sama takutnya, dia segera berpindah


ke jok belakang mencoba menenangkan majikannya.


"Sepertinya mereka anggota Black Hunter


nyonya..!"


"Apa..??! mau apalagi mereka.!"


Belum habis kata-kata Mayra di luar sudah


terjadi baku tembak antara pengawal Mayra


dengan anggota Black Hunter yang tadi


menyerbunya. Tapi kelihatannya kekuatannya


tidak berimbang karena anggota Black Hunter


datang dengan pasukan yang cukup banyak.


Satu per satu pengawal Mayra berjatuhan terkena tembakan.


"Kami di serang.. Nyonya dalam bahaya..!


Cepat kirim bantuan.!"


Jane berteriak di telpon sambil kemudian keluar


dari mobil saat beberapa orang datang menyerang


mobil mereka dengan memecahkan kaca depan


mobil memakai senjata. Mayra dan Tina menjerit


ketakutan melihat semua kejadian mengerikan ini.


Jane bertarung sekuat tenaga untuk melindungi majikannya, namun karena lawannya cukup


banyak dia akhirnya terjatuh dengan mengeluarkan banyak darah dari hidung dan bibirnya.


Dalam keadaan itu dari arah depan datang seorang pria tinggi, dengan rambut sedikit gondrong dan


garis wajah yang sangat tegas serta tatapan mata setajam elang. Sampai di dekat mobil dia berhenti, menatap tajam ke arah Mayra yang berada di dalam mobil dengan tangis ketakutannya.


Jane mencoba berdiri dan mau merangsek maju kearah laki-laki tinggi tadi, namun dengan gerakan cepat nyaris tak terlihat laki-laki itu melancarkan tembakan mengenai lutut Jane membuatnya terhuyung dan terjatuh di aspal.


"Jane..."


Mayra menjerit saat melihat Jane terkapar di jalan.


Laki-laki tadi maju membuka pintu mobil,


kembali dengan gerakan cepat dia memukul


bagian belakang tengkuk leher Tina hingga


membuatnya langsung terduduk lemas tak


sadarkan diri.


Mayra melotot kearah laki-laki tadi, ya..tidak


salah lagi.. ini adalah laki-laki yang dulu pernah menyerangnya di pulau pribadi. Dia adalah


Jayden sang ketua Black Hunter.


"Mau apa lagi kamu.?!"


Mayra berucap dengan terbata karena rasa


takut yang semakin menguasai dirinya. Dia


beringsut ke sudut lain mendekati pintu dan


mencoba membuka handel pintu mobil yang


sialnya terkunci otomatis. Tangan kirinya


tetap kuat memegangi perutnya.


Jayden berdirdi ambang pintu dengan seringai


tipis di bibirnya. Matanya menatap tajam


keseluruhan diri Mayra, dia melihat cukup


lama di satu titik yakni perut Mayra. Seringai


senyum tipis kembali tergurat di bibirnya.


"Kau pikir aku mau apa ?!"


Jayden berkata dengan wajah yang sangat


dingin. Mayra terus berusaha membuka


handel pintu sambil terus berteriak minta tolong.


Namun anehnya tak ada satu kendaraan pun


yang lewat ke tempat itu.


Dengan tenang Jayden memutar tubuhnya


kearah pintu mobil yang satu lagi, dengan


gerakan cepat dia membobol pintu itu


membukanya dengan keras membuat Mayra


menjerit histeris. Kemudian tanpa kata dalam


sekali gerakan cepat laki-laki itu mengangkat


tubuh Mayra kedalam pangkuannya.


Mayra menjerit memukuli laki-laki itu dengan


segala kekuatan yang ada. Namun tubuh kokoh


laki-laki itu bergeming, seakan tak merasakan


apapun atas pukulan yang di lancarkan Mayra.


"Lepas...lepaskan aku..! tolooong...toloong..!"


Mayra terus berontak dan menjerit saat dia


sudah di masukan ke sebuah mobil hitam,


Jayden masuk kemudian duduk di sampingnya.


Seketika mobil yang membawanya melesat


pergi meninggalkan tempat kejadian.


Mayra tiada henti mencoba berontak dan


menjerit memukuli laki-laki penculiknya itu


yang hanya terdiam tak bergerak ataupun


menahan pukulan Mayra, hingga akhirnya


Jayden yang dari tadi terus terdiam saat Mayra memukulinya kehilangan kesabaran. Dia


memukul tengkuk Mayra tepat di titik khusus membuatnya langsung terkulai lemas.


Kepalanya menyandar di bahu laki-laki


yang telah menculiknya itu.


Jayden menoleh, menatap dingin wajah Mayra


yang terlihat sangat pucat dan kacau. Namun


ada seringaian kecil di sudut bibirnya. Tidak


lama dia meraih ponselnya dan menelpon


seseorang memberikan intruksi.


"Siapkan heli menuju Villa biru..!!"


"Baik Tuan.."


Jayden mengakhiri panggilan telponnya.


Dia kembali menoleh dan menatap diam


wajah Mayra yang tersandar lemah di bahunya..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....

__ADS_1


__ADS_2