
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hari demi hari terus berlalu tanpa terasa.
Mayra menjalani kehamilannya tanpa hambatan
yang berarti. Kandungannya tumbuh sehat dan
kuat dengan berat dan ukuran yang normal.
Kehidupannya kini senantiasa di warnai dengan
kebahagiaan dan ketenangan. Dia selalu di banjiri dengan cinta dan kasih sayang yang tercurah dan
meluap luap dari suaminya .
Namun sikap Dirga makin kesini semakin
posesif saja. Dia tidak boleh melakukan inilah,
di larang melakukan itulah dan banyak lagi
aturan lainnya, hingga kadang hal itu membuat
Mayra gerah dan lelah dengan sikap berlebihan
suaminya itu.
Hampir setiap bulan mereka melakukan
pemeriksaan kehamilan dengan prosedur
USG untuk mengetahui perkembangan bayi nya.
Dan kini sudah dapat dipastikan bahwa jenis
kelamin calon bayi mereka adalah laki-laki
sesuai dengan harapan keduanya. Sebenarnya
mau laki-laki ataupun perempuan akan sama
saja bagi mereka, karena itu adalah anugerah
Tuhan atas buah cinta mereka.
Kini kandungan Mayra sudah mencapai usia 7
bulan lebih. Dan perutnya sudah terlihat kian
membesar membuat Mayra sedikit tidak nyaman
dan gerah. Namun di mata Dirga justru malah
membuatnya bertambah sexy dan menarik.
Hingga dia tidak pernah tahan kalau sedang
berduaan selalu ingin menggerayangi dan
menggodanya.
Pagi ini mereka masih berada dibawah selimut
karena cuaca pagi ini terasa lebih dingin dari
biasanya. Sejak semalam tidur Mayra terlihat
gelisah, dia terus saja terbangun karena mimpi
buruk yang terus menghantuinya. Hatinya juga
kini terasa begitu resah dan tidak nyaman.
Setelah sholat subuh dia memanjatkan doa
meminta ketenangan atas segala kegelisahan
tak jelas yang kini di rasakannya.
Semalam Dirga sampai terbangun beberapa
kali untuk menjaga Mayra agar tidurnya kembali tenang, namun tetap saja Mayra merasakan
kegelisahan itu hingga akhirnya adzan subuh
membangunkan nya dari semua mimpi buruk
yang di alaminya.
Mayra menatap wajah Dirga yang sedang
terpejam kelelahan setelah pergumulan pagi
mereka yang cukup membuat tubuh Mayra
terasa lunglai. Walau kini tubuhnya dalam
keadaan hamil besar tapi anehnya hasrat
suaminya itu tidak pernah surut, malah seakan semakin menggila saja.
Perlahan tangan Mayra bergerak mengelus
lembut wajah Dirga. Di pandangnya lekat wajah tampan itu, entah kenapa ada suatu perasaan
aneh yang kini merayapi hatinya. Dia seakan
enggan untuk mengalihkan pandangannya
dari wajah suaminya ini, begitu berat dan
rasanya ada sesuatu yang menggigit di hatinya.
Dia tidak ingin jauh-jauh dari suaminya ini.
"Kenapa sayang..apa kamu mau lagi.?"
Dirga bertanya dengan seringai tipis di bibirnya
dan mata yang masih terpejam.Tangannya masih
setia mengelus lembut permukaan perut Mayra
yang polos dan membuncit.
"Apaan sih Mas..! Aku sampai tak bertenaga
begini, masa masih ingin kamu siksa lagi.!"
"haha aku kira kamu masih mau nambah.."
"Dasar kamu ya, gak ada lelahnya..! Padahal
perutku sudah sebesar ini.."
"Kamu semakin sexy dengan perut seperti itu.
Aku tidak tahan melihatnya..!"
"Mas..sudah ahh..! dasar suami mesum.!"
Kesal Mayra seraya memukul pelan tangan Dirga.
Kemudian dia bangkit ingin segera membersihkan
dirinya yang terasa sudah sangat gerah.
Sementara Dirga hanya terkekeh saja,
dengan gerakan cepat dia bangkit kemudian menggendong tubuh polos Mayra masuk
kedalam kamar mandi.
*******
"Sayang..aku ingin keluar hari ini. Ada beberapa
barang buat Dede bayi yang harus di beli.."
Mayra berkata saat sedang memakaikan dasi.
Dirga menautkan alisnya menatap lembut wajah Mayra yang terlihat semakin bercahaya di usia
kehamilannya sekarang ini.
"Suruh Tina saja kalau ada yang mau di beli..!
Aku tidak mau kamu kelelahan nantinya.."
"Tapi aku bosan di rumah terus sayang. Aku
juga ingin memilihnya sendiri."
Mayra merajuk dengan wajah sedikit memelas.
Dirga menarik pinggang Mayra hingga kini perut
__ADS_1
buncitnya menempel di badannya.
"Aku akan menemanimu kalau begitu.."
"Tidak perlu sayang..Kamu fokus saja pada
pekerjaan mu, aku tidak akan lama kok.."
"Tidak..! Aku akan segera membereskan
pekerjaanku, lalu nanti kita pergi bersama..!"
"Sayang..aku tidak ingin menganggu pekerjaan
mu, bukankah banyak orang yang akan pergi
bersamaku..?!"
"Kubilang tidak ya tidak..!"
"Aku akan baik-baik saja sayang..! Kau tidak
perlu repot-repot, aku tahu hari ini kamu sangat
sibuk dengan pekerjaan mu.! Aku mohon.."
Mayra menolak dengan wajah yakin. Dirga
kembali menatap wajah Mayra dan kemudian
menghela napas, hatinya selalu luluh tatkala
melihat ekspresi wajah Mayra yang memohon
seperti itu.
"Baiklah..! Segera kembali setelah beres. Aku
akan menyusul kalau sempat..!"
Senyum Mayra terbit, satu kecupan mesra
mendarat di bibir Dirga yang malah gemas
sendiri, dia kembali memagut bibir Mayra dan
melumatnya lembut.
***** *****
Siang ini Mayra sedang berada di sebuah Mall
elite di pusat kota. Dia terlihat tengah asik
berbelanja beberapa keperluan untuk calon
bayinya. Mayra mencoba mengalihkan segala keresahan yang tidak hilang dari hatinya dengan menikmati acara shopping nya di temani Tina
dan Jane. Beberapa pengawal dengan setia mengawasinya dari kejauhan.
"Aku rasa sudah cukup. Untuk yang lainnya bisa
menyusul nanti, masih ada cukup waktu.."
Mayra berucap sambil kemudian keluar dari toko
di ikuti Tina dan Jane yang sibuk menenteng
barang belanjaan.
"Sekarang kita kemana Nyonya..?"
Jane bertanya sambil terus mengawal langkah
Mayra menuruni tangga eskalator.
"Kita makan siang dulu. Setelah itu antar aku
ke kantor Mas Dirga.."
Jawab Mayra dengan wajah yang terlihat
berbinar, dia ingin membuat kejutan untuk
suaminya itu.
Jane mengangguk faham. Mereka bertiga
masuk ke sebuah cafe yang cukup ramai.
tidak terlalu menggangu nya mengingat
Mayra sedang berbadan dua yang memerlukan
ruang kebebasan sendiri. Selain itu juga
pengawalan yang ketat dari para bodyguard
Mayra membuat mereka sedikit takut dan tidak
berani mendekatinya.
Setelah acara makan siang selesai Mayra
memutuskan untuk langsung pergi ke kantor
Dirga karena ingin segera memberinya kejutan.
Akhirnya mobil yang di bawa Jane meluncur
menuju ke gedung perusahaan Moolay Group.
Beberapa mobil pengawal mengikuti dari
belakang. Jane menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang mencoba membelah
jalanan yang cukup lancar siang ini.
Mayra duduk bersandar ke jok belakang sambil
memainkan ponselnya melihat fhoto2 Dirga dan
dirinya saat sedang mengadakan resepsi beberapa
bulan yang lalu. Bibirnya tersenyum manis.
Jalan utama menuju ke kantor perusahaan
Moolay Group ternyata sedang terjebak
kemacetan. Mau tidak mau Jane harus memutar mencari jalan alternatif agar bisa cepat sampai.
Dia memilih jalan lain yang harus sedikit lebih
jauh namun cukup sepi karena ini adalah
kawasan perumahan elite.
Saat mobil sudah mulai menyusuri jalanan
yang cukup lengang, tiba-tiba Jane di kejutkan
dengan kedatangan beberapa mobil hitam yang
secara mendadak menghadang jalannya. Tidak
ada jalan lain Jane harus mengerem mendadak mobilnya, membuat Mayra terlonjak kaget ke
depan dan kepalanya hampir membentur jok
depan. Dengan reflek Mayra memegang erat
perutnya untuk melindungi dari benturan.
"Ada apa Jane..?"
Dengan wajah panik Mayra bertanya dan
memegang kuat perutnya yang tadi sempat terguncang. Belum habis rasa kagetnya, kini
matanya langsung terbelalak ketika melihat
ada puluhan orang berpakaian hitam berlari
menyerbu kearah mobilnya.
"Apapun yang terjadi, Nyonya jangan keluar
dari mobil..!"
Jane memberi peringatan sambil kemudian
mengambil senjata dari balik jas hitamnya.
"Jane..siapa mereka.?"
Teriak Mayra mulai panik dan ketakutan.
__ADS_1
Tina juga sama takutnya, dia segera berpindah
ke jok belakang mencoba menenangkan majikannya.
"Sepertinya mereka anggota Black Hunter
nyonya..!"
"Apa..??! mau apalagi mereka.!"
Belum habis kata-kata Mayra di luar sudah
terjadi baku tembak antara pengawal Mayra
dengan anggota Black Hunter yang tadi
menyerbunya. Tapi kelihatannya kekuatannya
tidak berimbang karena anggota Black Hunter
datang dengan pasukan yang cukup banyak.
Satu per satu pengawal Mayra berjatuhan terkena tembakan.
"Kami di serang.. Nyonya dalam bahaya..!
Cepat kirim bantuan.!"
Jane berteriak di telpon sambil kemudian keluar
dari mobil saat beberapa orang datang menyerang
mobil mereka dengan memecahkan kaca depan
mobil memakai senjata. Mayra dan Tina menjerit
ketakutan melihat semua kejadian mengerikan ini.
Jane bertarung sekuat tenaga untuk melindungi majikannya, namun karena lawannya cukup
banyak dia akhirnya terjatuh dengan mengeluarkan banyak darah dari hidung dan bibirnya.
Dalam keadaan itu dari arah depan datang seorang pria tinggi, dengan rambut sedikit gondrong dan
garis wajah yang sangat tegas serta tatapan mata setajam elang. Sampai di dekat mobil dia berhenti, menatap tajam ke arah Mayra yang berada di dalam mobil dengan tangis ketakutannya.
Jane mencoba berdiri dan mau merangsek maju kearah laki-laki tinggi tadi, namun dengan gerakan cepat nyaris tak terlihat laki-laki itu melancarkan tembakan mengenai lutut Jane membuatnya terhuyung dan terjatuh di aspal.
"Jane..."
Mayra menjerit saat melihat Jane terkapar di jalan.
Laki-laki tadi maju membuka pintu mobil,
kembali dengan gerakan cepat dia memukul
bagian belakang tengkuk leher Tina hingga
membuatnya langsung terduduk lemas tak
sadarkan diri.
Mayra melotot kearah laki-laki tadi, ya..tidak
salah lagi.. ini adalah laki-laki yang dulu pernah menyerangnya di pulau pribadi. Dia adalah
Jayden sang ketua Black Hunter.
"Mau apa lagi kamu.?!"
Mayra berucap dengan terbata karena rasa
takut yang semakin menguasai dirinya. Dia
beringsut ke sudut lain mendekati pintu dan
mencoba membuka handel pintu mobil yang
sialnya terkunci otomatis. Tangan kirinya
tetap kuat memegangi perutnya.
Jayden berdirdi ambang pintu dengan seringai
tipis di bibirnya. Matanya menatap tajam
keseluruhan diri Mayra, dia melihat cukup
lama di satu titik yakni perut Mayra. Seringai
senyum tipis kembali tergurat di bibirnya.
"Kau pikir aku mau apa ?!"
Jayden berkata dengan wajah yang sangat
dingin. Mayra terus berusaha membuka
handel pintu sambil terus berteriak minta tolong.
Namun anehnya tak ada satu kendaraan pun
yang lewat ke tempat itu.
Dengan tenang Jayden memutar tubuhnya
kearah pintu mobil yang satu lagi, dengan
gerakan cepat dia membobol pintu itu
membukanya dengan keras membuat Mayra
menjerit histeris. Kemudian tanpa kata dalam
sekali gerakan cepat laki-laki itu mengangkat
tubuh Mayra kedalam pangkuannya.
Mayra menjerit memukuli laki-laki itu dengan
segala kekuatan yang ada. Namun tubuh kokoh
laki-laki itu bergeming, seakan tak merasakan
apapun atas pukulan yang di lancarkan Mayra.
"Lepas...lepaskan aku..! tolooong...toloong..!"
Mayra terus berontak dan menjerit saat dia
sudah di masukan ke sebuah mobil hitam,
Jayden masuk kemudian duduk di sampingnya.
Seketika mobil yang membawanya melesat
pergi meninggalkan tempat kejadian.
Mayra tiada henti mencoba berontak dan
menjerit memukuli laki-laki penculiknya itu
yang hanya terdiam tak bergerak ataupun
menahan pukulan Mayra, hingga akhirnya
Jayden yang dari tadi terus terdiam saat Mayra memukulinya kehilangan kesabaran. Dia
memukul tengkuk Mayra tepat di titik khusus membuatnya langsung terkulai lemas.
Kepalanya menyandar di bahu laki-laki
yang telah menculiknya itu.
Jayden menoleh, menatap dingin wajah Mayra
yang terlihat sangat pucat dan kacau. Namun
ada seringaian kecil di sudut bibirnya. Tidak
lama dia meraih ponselnya dan menelpon
seseorang memberikan intruksi.
"Siapkan heli menuju Villa biru..!!"
"Baik Tuan.."
Jayden mengakhiri panggilan telponnya.
Dia kembali menoleh dan menatap diam
wajah Mayra yang tersandar lemah di bahunya..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....
__ADS_1