Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
61. Menjenguk Evelyin


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Tuhan adalah Sang Pemilik segala Rencana. Tidak ada rencana seindah rencana Nya. Baik itu hal buruk maupun hal baik. Semuanya akan berakhir pada satu tujuan, introspeksi diri..Agar hidup kita ke depan bisa lebih baik lagi dari sekarang.


Mayra memang tidak pernah membayangkan kalau dia akan mendapat pengakuan resmi dari suaminya di depan khalayak. Dia tahu walau dirinya diakui secara resmi, namun status sebagai istri kedua, bagi sebagian kalangan tetaplah dianggap sesuatu yang cenderung di remehkan. Orang akan tetap berasumsi kalau dirinya adalah seseorang yang telah memaksa masuk menjadi orang ketiga.


Biarkan saja, biar Tuhan yang mengatur semuanya.


Namun satu hal yang pasti sekarang, setelah Dirga mengakui dirinya sebagai istrinya.. hatinya kini sudah benar-benar jatuh ke dalam pesona suaminya itu. Benteng pertahanan nya runtuh seketika, dia yang semula mencoba membatasi diri untuk tidak menyerahkan hatinya pada laki-laki yang sudah jelas sangat mencintai istri pertamanya itu, kini tidak bisa lagi bertahan. Dia sudah jatuh cinta pada suaminya itu.


Tapi apakah dia salah kalau mencintai suaminya sendiri ?? Entahlah.. Dia yakin..Tuhan tahu dengan jelas kenapa cinta itu tiba-tiba tumbuh dalam hatinya.


Sikap Dirga selama ini, walaupun terkesan arogan, namun laki-laki itu selalu ada di saat dia sedang membutuhkan dirinya. Suaminya itu selalu memberi perhatian lebih walau itu terkesan angkuh. Dan itulah yang membuat hati Mayra lambat laun menjadi terhubung dan merasa terikat padanya.


Mayra mengambil ponsel yang terus berdering saat dia selesai menjalankan ibadah sholat Magrib.


Dan nama 'Tuan Suami' yang tertera di layar.


Dengan wajah cerah Mayra segera mengangkat nya.


"Assalamualaikum.."


"Kau baik-baik saja sekarang.?"


"Iya..aku sudah baik-baik saja sekarang..!"


"Aku tidak bisa pulang malam ini. Jangan


menungguku.. Istirahat lah yang cukup.!"


Ucap Dirga dengan suara terdengar berat dan seperti sangat tertekan. Mayra mengerutkan alisnya.


"Ada apa.? apa terjadi sesuatu.?"


"Tidak..! Aku baik-baik saja ! semua baik-baik saja.!"


"Aku tidak percaya..! apa kau menyembunyikan sesuatu.?"


Tanya Mayra dengan firasat anehnya. Dirga terdiam cukup lama.


"Sayang..apa kau terluka.?"


Kembali tanya Mayra dengan perasaan yang semakin tidak enak.


"Aku tidak apa-apa..Tapi..Ev.."


"Ada apa dengan Evelyin.?"


Tanya Mayra cepat, perasaan nya makin tidak menentu.


"Dia mengalami kecelakaan.Sekarang ada di rumah sakit .!"


"Innalilahi..kok bisa.?! Sekarang ada di rumah sakit mana..? apa aku boleh kesana melihatnya.?"


Pekik Mayra terkejut. Wajahnya langsung pucat. Ada rasa tidak enak dan perasan bersalah dalam dirinya.


"Tidak ! kau tidak perlu kemari..! di sini ada keluarganya..!"


Sergah Dirga. Mayra terdiam.


"Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja.."


Lirih Mayra.


"Baiklah, tunggu Manda datang menjemputmu, kau akan kesini bersamanya.!"


"Baiklah..aku akan menunggunya.."


Ucap Mayra. Telpon akhirnya terputus.


..... .....


Akhirnya Manda datang ke rumah besar itu. Mereka berdua berangkulan hangat. Manda memperhatikan keadaan Mayra dengan seksama. Wajah kakak iparnya itu masih terlihat pucat. Namun kecantikannya tetap tidak bisa di sembunyikan.


"Apa kau yakin akan pergi.? di sana ada keluarga wanita aneh itu.!"


Ucap Manda dengan raut wajah malas.


"Aku sudah baikan kok Man, aku yakin aku kuat."


Ucap Mayra. Manda menatap Mayra.


"Baiklah kalau kau memaksa. Tapi aku tidak yakin dengan keadaanmu.! kau baru mengalami kecelakaan dua hari lalu. Keadaanmu masih lemah.!"


"Aku tidak apa-apa, udah ayo kita pergi..!"

__ADS_1


"Kau kesana bukan semata-mata ingin melihat wanita aneh itu kan.?"


Sergah Manda dengan tatapan usilnya.


"Apa maksudmu Man.?"


Mayra mengerutkan alis.


"Kau kesana karena ingin bertemu kakak ku kan?


Apa kau sangat merindukan nya..?!"


"Mandaa...sudah ahh ayoo..!!"


Sergah Mayra seraya berdiri. Wajahnya sudah semerah tomat sekarang. Manda tersenyum puas sudah berhasil menggoda kakak iparnya itu, akhirnya dia ikut berdiri kemudian melirik kearah Jane.


"Kau yang bawa mobil Jane.!"


Titahnya sambil melempar kunci yang langsung di tangkap oleh Jane sambil mengangguk.


Setelah itu mereka bertiga pergi menuju ke rumah sakit tempat Evelyin di rawat saat ini, seperti biasa di bayangi oleh Jhon dan Darwis. Bahkan sekarang ini ada satu penjaga lagi yang selalu mengikutinya tanpa terlihat.


..... .....


Mereka sampai ke rumah sakit keluarga Moolay tempat kemarin Mayra di rawat.


Dirga dan orang tua Evelyin saat ini masih berada di depan ruang operasi, karena Evelyin masih menjalani operasi akibat pendarahan yang cukup parah di kepalanya. Di sana juga terlihat Gery sang manajer Evelyin dan Siska asisten pribadinya.


Mayra bersama Manda yang di kawal oleh Jane akhirnya tiba di depan ruang operasi. Dalam sesaat Mayra bingung harus bersikap bagaimana terhadap orang-orang yang ada di sana.


Saat melihat kemunculan Mayra, Nyonya Sesilia Mama nya Evelyin terlihat langsung emosi. Dia menghampiri Mayra dan tanpa basa-basi langsung mendorong kencang tubuh Mayra hingga menabrak Jane yang ada di belakangnya.


"Jadi kamu..wanita yang sudah membuat putri kesayanganku mengalami kecelakaan hahh.??"


Bentak nyonya Sesilia dengan mata yang melotot marah dan tangannya kembali meraih tubuh Mayra namun Manda cepat menghalanginya.


"Tante..! Tolong sabar..anda jangan emosi dulu seperti ini.! Kakak ipar tidak ada hubungan dengan kecelakaan anak Tante..!"


Ucap Manda sambil menarik tubuh Mayra ke belakang nya. Nyonya Sesilia terlihat semakin emosi.


"Apa katamu..?! kakak ipar..?! Kamu bahkan sudah mengakuinya..! Padahal terhadap Ev kamu tidak pernah menganggap keberadaan nya..!"


Bentak nyonya Sesilia sambil kembali maju ingin menarik Mayra . Melihat hal itu Dirga yang sedang duduk di kursi dekat pintu ruang operasi cepat-cepat menghampiri mereka di ikuti oleh Tuan Alexander.


Kembali bentak nyonya Sesilia. Mayra hanya bisa menunduk merasa bersalah.


Dirga datang, tanpa kata dia cepat menarik tangan Mayra di bawanya duduk di kursi tempat tunggu.


Dia meraih bahu Mayra mendekap nya erat.


Emosi nyonya Sesilia terlihat semakin menjadi melihat apa yang di lakukan oleh Dirga.


"Papah..kau lihat kan apa yang mereka lakukan..?


Di saat anak kita sedang kritis mereka malah melakukan hal seperti ini, Mama tidak bisa terima semua ini.! Ini adalah penghinaan buat kita.!"


Teriaknya sambil berjingkrak-jingkrak kalap.


"Sudah sudah.! jangan buat keributan di sini.!Mama harus tenang, ayo kita duduk dulu..!"


Ucap Tuan Alex berusaha menenangkan istrinya itu.


Dengan kekesalan yang menggunung, nyonya Sesilia akhirnya mengikuti ucapan suaminya itu kemudian duduk di kursi di sebrang tempat duduk Dirga dan Mayra.


Tidak lama pintu ruang operasi terbuka. Rayen bersama dua orang dokter bedah lainnya terlihat keluar dari ruangan.


Dirga dan orang tua Evelyin cepat menghampiri nya .


"Bagaimana keadaan Ev..?!"


Tanya Dirga cepat.


"Bagaimana kondisi putri kami Dok.?"


Susul Tuan Alex dan Nyonya Sesilia bareng.


"Operasi berhasil, semuanya berjalan lancar. Kalian tunggu saja, setelah siap dia akan di pindahkan ke ruang perawatan.!"


Ucap Rayen. Dirga mengangguk. Kemudian Rayen dan dua rekannya pergi .


"Ohh syukurlah pah semuanya baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ev..aku tidak akan pernah memaafkan perempuan itu..!"


Tunjuk nyonya Sesilia pada Mayra yang sedang duduk bersama Manda.


"Dia tidak ada hubungannya dengan ini.! Di sini akulah yang salah..!"

__ADS_1


Debat Dirga dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.


"Tapi karena wanita itu Ev jadi kecelakaan..!"


Sergah nyonya Sesilia kekeuh.


"Ev dan aku melakukan kesepakatan untuk membawanya ke dalam kehidupan kami. Dia hanyalah korban dari ambisi kami berdua.! Jadi tolong.. nyonya jangan pernah menyalahkan keberadaan nya.!!"


Ucap Dirga penuh penekanan.


Seketika Nyonya Sesilia terdiam. Tapi raut wajahnya tetap menyiratkan kekesalan yang teramat sangat pada Mayra.


"Hahh..kakak ! sepertinya kehadiranku dan kakak ipar tidak dibutuhkan disini.! sebaiknya kita pergi saja.!"


Ucap Manda sambil berdiri melipat tangan di depan dadanya. Mayra melirik kearah Dirga kemudian berdiri. Dengan perlahan dia berjalan mendekati nyonya Sesilia dan Tuan Alex.


"Tuan.. Nyonya..aku minta maaf yang sebesar-besarnya, apabila kehadiranku sudah membuat kehidupan putri kalian jadi terganggu.


Tapi aku tidak pernah punya niatan untuk melakukan hal itu.."


Ucap Mayra lembut sambil menundukan wajahnya.


Melihat hal itu dengan cepat menarik tangan Mayra.


"Kamu tidak perlu melakukan ini.! Tidak ada kesalahan yang telah kamu lakukan..!"


Ucapnya dengan tatapan tidak suka melihat apa yang dilakukan Mayra.


"Tidak..! Walau bagaimanapun aku tetap bersalah."


"Tentu saja..! Dan hal yang seharusnya kamu lakukan sekarang adalah kamu pergi secepatnya dari kehidupan mereka.!"


Ucap Nyonya Sesilia. Dirga melirik tajam pada Nyonya Sesilia.


"Tolong..! Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku..!!"


Ucap Dirga dengan menatap tajam ibu mertuanya itu.


Tuan Alex kembali menenangkan istrinya itu.


Dalam keadaan itu dari ruang operasi keluar beberapa perawat mendorong hospital bed, membawa tubuh Eveliyn yang terlihat di perban di bagian kepala dan tangannya.


"Ev sayang..ini Mama nak.."


Teriak nyonya Sesilia sambil berhambur memeluk tubuh lemah Evelyin yang masih tidak sadarkan diri.


Dirga mendekat dan menggenggam tangan Evelyin kemudian mengelus wajahnya.


Mereka semua mengikuti perawat menuju ke kamar perawatan Evelyin di lantai atas.


Evelyin sudah di tempatkan di ruang perawatan VVIP di lantai atas. Namun bukan ruangan yang kemarin di pakai oleh Mayra.


Nyonya Sesilia tampak duduk di kursi di samping ranjang sambil memegang tangan Evelyin. Wajah Evelyin tampak pucat tak berdarah.


Mayra dan Manda melihatnya sedikit jauh karena takut menggangu nyonya Sesilia. Sementara Gery dan yang lainnya ada di luar ruangan.


Setelah merasa cukup melihat keadaan Evelyin, akhirnya Mayra pamitan kepada Tuan Alex.


Kemudian dia berpaling pada Dirga yang sedang berdiri di samping ranjang.


"Aku pulang dulu..! Tolong jaga Evelyin.."


Ucap Mayra lembut. Nyonya Sesilia hanya menatapnya sinis dan sebal pada Mayra.


Dirga melirik kemudian berjalan menarik tangan Mayra dibawa keluar dari ruangan.


Sampai di luar dengan cepat dia mendekap erat tubuh Mayra, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang sangat di sukai Dirga.


"Kamu istirahat dengan baik. Jaga dirimu..! "


Ucap Dirga pelan. Matanya terpejam. Mayra makin mempererat pelukannya. Saat ini perasaan nya tidak bisa di jabarkan, suaminya bukanlah miliknya seorang. Dia tidak bisa mengharapkan suaminya itu akan selalu ada bersamanya.


"Kau juga jaga kesehatan..Jangan lupa makan dan minum obat nya."


Lirih Mayra bergetar. Ada cairan bening dari kedua sudut matanya yang turun tidak bisa di tahan.


Keduanya bertatapan, Dirga mengusap air mata


Mayra kemudian mengecup keningnya lama.


Hati mereka sangat berat untuk berpisah..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2