
**********
Mayra dan Dirga berjalan bergandengan tangan dengan perasaan bahagia, menyusuri pinggiran pantai menikmati keindahan dan kesejukan udara pagi ini yang sangat menenangkan.
Air laut dengan warna biru tosca terlihat indah bak hamparan permadani tak berujung.
Hari ini Mayra mengenakkan setelan rok tutu warna deep purple di kombinasikan dengan atasan warna abu cerah sedikit pas di tubuhnya serta hijab senada dengan rok nya. Membuat tampilannya sangat segar dan menggemaskan. Di tambah kacamata hitam plus topi lebar berpita warna soft pink.
Sementara Dirga seperti biasa senantiasa menawan dan fashionable dengan setelan celana pendek warna abu dan kemeja putih nya yang ketat memperlihatkan bagaimana sempurna bentuk tubuhnya. Kacamata hitam mahal bertengger manis di hidung mancungnya.
Mereka berdua adalah pasangan yang sangat sempurna dan saling melengkapi satu sama lain.
Tiba-tiba Dirga berjongkok di hadapan Mayra membuat Mayra menghentikan langkahnya dan menatap Dirga dengan senyum tipis mengembang di bibir indah nya. Tanpa di suruh Mayra naik ke punggung Dirga melingkarkan tangan di lehernya.
Kemudian Dirga mulai berjalan dengan wajah penuh kepuasan.
Mayra merebahkan kepalanya di pundak kokoh Dirga dengan terus tersenyum. Hatinya terasa begitu nyaman berada dalam gendongan suaminya ini. Dia berharap waktu bisa berhenti saat ini juga, agar kebahagiaan dan kebersamaan ini tidak akan pergi kemudian hilang hanya sebatas mimpi.
"Mas..aku sangat bahagia saat ini. Terimakasih kamu sudah memberiku kebahagiaan ini..!"
Ucap Mayra sambil mempererat dekapannya di punggung Dirga.
"Aku senang kalau kamu bahagia..!"
Sahut Dirga sambil mencium tangan kanan Mayra yang melingkar di lehernya.Mereka terus menikmati suasana pantai yang eksotis dan tiada bosan untuk di pandang. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.
Setelah merasa cukup lelah, Dirga menurunkan Mayra dan mereka kembali berjalan saling menautkan jari.
Dari kejauhan terlihat Aaron, Lee dan Rayen juga sedang berjalan menyisir pantai, melihat situasi dan mengontrol sistem keamanan baru yang sengaja di pasang oleh Lee tadi malam. Mereka bertiga terlihat sangat serius cenderung waspada.
"Sepertinya ada beberapa titik yang mencurigakan di sekitar pulau.!"
Ucap Lee seraya menunjuk titik merah di sistem navigasi yang terdapat dalam tabletnya. Aaron
melihat titik koordinat nya, tidak lama dia mencoba menghubungi seseorang untuk mengecek keamanan di luar area pulau dan memastikan sesuatu.
"Mereka sudah menemukan pulau ini, dan sepertinya mengirim peretas baru. Perintahkan semua anak buahmu untuk bersiap.!"
Ucap Aaron setelah mendapat kepastian dari orang yang barusan di telponnya. Lee mengangguk kemudian menjauh untuk menghubungi Tomy dan memberikan instruksi.
Karena merasa lelah akhirnya Mayra mengajak Dirga untuk berhenti kemudian duduk di atas pasir putih yang bertekstur sangat halus dan bersih.
Dirga merengkuh pundak Mayra membawa setengah badannya bersandar di dadanya.
"Apa kau tidak bosan disini selama aku pergi.?"
Tanya Dirga sambil mengelus pipi Mayra yang sangat halus dan lembut bagai kapas itu.
"Tentu saja aku bosan Mas, aku menunggumu setiap saat, sampai lelah rasanya.."
Jawab Mayra. Dirga menarik tubuh Mayra untuk rebahan di atas pasir putih. Tangan kirinya di jadikan bantalan untuk kepala Mayra. Mereka terdiam memandang langit yang membiru cerah di hiasi sedikit guratan awan yang bergaris-garis. Sangat indah.
"Kau tahu, aku sangat tersiksa meninggalkanmu di sini.! Aku tidak pernah tidur dengan nyenyak.!"
Ucap Dirga, Mayra melirik, mereka berdua kini saling memandang lekat, cinta dan asmara yang ada dalam diri mereka tertuang jelas dalam sorot mata yang begitu teduh sekaligus mendamba.
Perlahan Dirga mendekatkan bibirnya, tidak lama mereka sudah terhanyut dalam ciuman lembut dan mesra. Ciuman yang begitu manis dan membuai.
Semakin lama semakin panas dan membara.
Hasrat dan gairah bercinta seketika membakar aliran darah mereka. Tangan Dirga sudah beraksi nakal dari tadi, masuk kebalik atasan yang di pakai oleh Mayra.
__ADS_1
Langsung menuju benda sintal kesukaannya. Meremas kuat dan memilin titik sensitifnya membuat Mayra mendesah tak kuasa menahan godaan nakal suaminya itu.
Mereka tidak menyadari di kejauhan ada sepasang mata yang sedang melihat aksi panas keduanya dengan sorot mata yang teramat dingin. Tapi tidak dengan hatinya yang saat ini seakan sedang terbakar api cemburu yang teramat dahsyat. Rahangnya seketika mengeras, tinjunya terkepal sempurna.
Aaron berdiri mematung dengan tubuh sedikit bergetar, walau dari jarak yang lumayan jauh tapi matanya yang tajam bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan oleh pasangan suami istri itu.
Lee datang dengan wajah yang terlihat sangat keras cenderung emosi. Dia melihat kearah Aaron yang masih mematung di tempat. Sementara Rayen terlihat sedang menelpon seseorang.
"Tuan Aaron mereka berhasil mendekat, sepertinya kali ini tidak main-main. Ada bantuan tambahan yang lebih baik dari kemarin..!"
Ucap Lee dengan rahang mengeras. Aaron berpaling pada Lee kemudian merebut tablet dari tangannya dan setelah melihat sebentar melempar kembali padanya.
"Kita akan bereskan mereka semua di sini.!"
Ucapnya dingin sambil melangkah kearah Dirga di ikuti oleh Lee dan Rayen.
Mayra yang tersadar duluan dengan cepat melepaskan ciuman panas mereka kemudian duduk merapihkan kembali pakaiannya. Wajahnya benar-benar memerah saat menyadari kelakuan liarnya barusan. Bisa-bisanya mereka berciuman panas seperti tadi di alam terbuka seperti ini, sangat memalukan.! Mayra menutup mukanya saking merasa malu sendiri.
Dirga bangkit ketika melihat kedatangan Aaron dan yang lainnya kearahnya. Sepertinya dia tahu situasi, dengan cepat berdiri menarik tangan Mayra.
Kemudian di genggamnya erat dan setelah itu melangkah kearah kedatangan Aaron.
Saat sudah sampai, mata Aaron terlihat menatap tajam wajah Mayra dalam sekilas, membuat hati Mayra seakan tertumbuk sesuatu ketika mendapat tatapan tajam dari Aaron barusan.
"Ada apa.?!"
Tanya Dirga cepat dengan wajah yang sudah mengeras.
"Mereka berhasil masuk Tuan, mereka tahu lokasi pulau ini.!"
Jawab Lee sambil menunduk. Rahang Dirga langsung mengeras. Genggaman di tangan Mayra semakin kuat membuat Mayra meringis kesakitan.
"Kita bereskan mereka di sini.! Aaron kau sudah siapkan semua nya.??"
"Hemm..!"
"Ada apa Mas..?"
Tanya Mayra sambil mengikuti langkah Dirga yang tidak lepas memegang kuat tangannya.
"Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja.! dan ingat kau harus tenang, oke..?!"
Jawab Dirga berhenti sebentar sambil menatap Mayra meyakinkan. Mayra tertegun, ketakutan langsung menyergap dirinya, trauma atas setiap kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya langsung membuat tubuhnya gemetaran.
Mereka terus berjalan cepat hingga langkah kaki Mayra hampir terseok-seok dan akhirnya tersandung sesuatu kemudian terjatuh. Mayra meringis kesakitan memegang kakinya yang berdarah di bagian tumitnya. Semua orang menghentikan langkahnya, Dirga baru tersadar dia sudah menyeret paksa Mayra karena emosi nya yang mulai naik. Sementara Aaron terlihat menatap dingin kearah Mayra dengan sorot mata tak terbaca.
Dengan gerakan cepat Dirga mengangkat tubuh Mayra ke dalam pangkuannya kemudian berjalan cepat di ikuti yang lainnya. Tangan Aaron semakin terkepal.
"Kita pergi ke perbatasan, di sana ada markas kecil.!"
Titah Dirga saat sudah sampai di halaman, kemudian mengambil kotak obat dan segera membersihkan luka di kaki Mayra dan memberinya perban kecil.
"Mas..apa sekarang kita dalam bahaya lagi.?"
Tanya Mayra bergetar sambil memegang kuat tangan Dirga yang menatapnya rumit.
"Tidak akan terjadi apa-apa..! Tenanglah..!!"
Jawab Dirga sambil kemudian mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman Villa. Dia tidak mungkin meninggalkan Mayra di Villa walau di jaga oleh Jane, dia tidak akan mengambil resiko, apapun yang terjadi Mayra harus bersamanya.
***** *****
Tiba di perbatasan mereka masuk ke sebuah bangunan kecil semacam mercucuar. Aaron langsung memantau keadaan lewat perangkat kecil canggih yang ada di tempat itu.
__ADS_1
"Mereka sudah masuk..! bersiaplah..!"
Perintah Aaron sambil kemudian mengambil senjata dari dalam tas yang tadi di bawanya. Dia memberikan satu-satu senjata itu pada Dirga, Lee dan Rayen.
Mayra yang menunggu di ruang khusus bersama Jane dan Hanah terlihat gelisah. Ketakutan dan rasa trauma semakin menguasai dirinya. Jane sudah terlihat waspada dengan mengeluarkan senjata dan mengokang nya.
"Jane..dimana Mas Dirga, aku ingin menemuinya.!
Aku ingin bersamanya..?!"
Ucap Mayra sambil berdiri melangkah kearah pintu.
Tapi Jane mencegahnya dengan menarik tangan Mayra dibawa kembali untuk duduk di kursi.
"Tuan akan baik-baik saja Nyonya. Tenanglah..!
Tunggulah di sini..!"
Ucap Jane sambil melihat ke luar jendela, ada beberapa mobil hitam yang mulai memasuki
wilayah bangunan markas itu.
Tidak lama terdengar gemuruh suara baku tembak yang sengit di kejauhan.
Mayra gemetar, dia menutup telinganya.
Baku tembak terus berlangsung antara para anggota black Hunter dan anak buah Aaron serta Tomy. Tapi sepertinya saat ini Black Hunter mengirimkan pasukan yang lebih banyak. Beberapa dari anggota berlevel ninja nya terlihat berpencar ke berbagai arah mengepung markas yang di pakai Dirga bertahan.
Dirga dan yang lain mulai melancarkan tembakan kearah lawan hingga musuh jatuh bertumbangan.
"Sepertinya ketua Black Hunter langsung datang dalam penyerangan ini Tuan.!"
Teriak Lee sambil kembali mengisi peluru kedalam senjatanya. Dirga terlihat tersenyum sinis.
" Itu akan lebih baik..!!"
Ucapnya sambil kemudian kembali melancarkan tembakkannya.
Beberapa anggota Black Hunter berhasil merangsek maju dan menyerang markas dengan membabi buta.
"Kalian tangani mereka, aku akan mengamankan Mayra.!"
Perintah Dirga sambil berjalan perlahan keluar dari ruang pertahanan.
Sementara itu di ruang rahasia tempat Mayra berada, kini dia sedang di hadapkan dengan bahaya nyata di depan mata, Ada tiga orang penyerang yang berhasil membobol cermin tebal tempat mereka berlindung .
Dan ketiga orang itu langsung melumpuhkan Jane hingga kini dia terkapar, sementara Hanah di sekap dan di ikat di sebuah kursi.
Mayra mundur ketakutan, tiga orang tadi belum ada yang berani menyentuh nya hanya mengurung nya saja. Sayang nya ruangan itu kedap suara hingga suara jeritan Mayra tadi tidak keluar dan tertutup oleh suara gemuruh tembakan.
Kedalam ruangan masuk seorang laki-laki bertubuh tinggi berambut sedikit gondrong, dengan garis wajah yang sangat tegas, matanya yang setajam elang terlihat menatap terpaku kearah Mayra tak berkedip untuk beberapa saat.
Anggota Black Hunter bergerak ingin mencengkram Mayra namun kibasan tangan laki-laki tadi menghentikan gerakannya, dan orang itu hanya membungkuk lalu mundur.
"Si-siapa kalian..! Tolooong...Maas...tolong aku..!!"
Teriak Mayra sambil terus mepet kearah jendela.
Laki-laki berambut gondrong tadi dalam sekali gerakan kilat langsung menyambar tubuh Mayra dan mengangkat ke pundaknya kemudian dia melompati jendela membawa lari Mayra. Tepat saat Dirga masuk dan dia melihat Mayra sudah dibawa lari oleh laki-laki tadi.
Mayra menjerit sambil memukuli punggung laki-laki yang menculiknya. Tapi kecepatan lari orang ini bagai seekor harimau buas. Jerit tangis Mayra tidak dia pedulikan, dia membawa Mayra menuju ke ujung perbatasan. Hingga akhirnya berhenti dan memasukan Mayra kedalam sebuah mobil sedan hitam.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC....