
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sepulang dari kantor Agam, Mayra memutuskan
untuk pergi jalan-jalan sebentar ke mall bermaksud menghilangkan suntuk. Dia meminta ijin Agam untuk membawa Silvia menemaninya. Dan tentu saja apa yang tidak bisa di kabulkan Agam untuk Mayra. Ibaratnya nyawa pun akan dia berikan, apalagi hanya meminjam Silvia..
Hahaa lebayy..!!
Tinggallah kini Jane yang harus bersiap diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada majikannya itu.
Mayra mencoba menghubungi nomor Dirga
untuk memberitahukan keberadaan nya, tapi tidak direspon. Dia mencoba menghubunginya lagi,
namun tetap tidak di angkat nya.
Mungkin sedang sangat sibuk..
pikir Mayra sambil kemudian memasukan kembali ponselnya dan mulai berjalan memasuki kawasan mall elite di tengah kota ini.
Tak perlu menunggu lama, dia tampak sudah di serbu oleh para pengunjung di dalam mall tersebut. Mayra seperti biasa selalu berusaha seramah mungkin melayani dan menghadapi para fans nya ini.
Namun di tengah kesibukan melayani pengunjung yang ingin berfhoto dengannya, tentu saja hanya yang berjenis kelamin perempuan saja yang boleh berfhoto dengan nya, ada selentingan dari beberapa orang yang berbicara buruk tentang nya. Seperti yang selama ini ada di dalam berita.
Di tengah aktifitasnya melayani para fans, otak Mayra berputar dan mencoba mencerna pembicaraan segelintir orang tadi. Apa ada sesuatu yang telah dia lewatkan akhir-akhir ini.?
Selama liburan dia memang tidak pernah memiliki keinginan untuk melihat dunia luar.
"Sil..apa ada sesuatu yang aku lewatkan.?"
Tanya Mayra saat mereka beristirahat di sebuah cafe di dalam mall tersebut. Silvia mengerutkan keningnya.
Lalu mengangkat bahunya.
"Tentang apa..?"
"Apa terjadi sesuatu pada karir Evelyin..?
"Ohh itu.. Evelyin di keluarkan dari Royal..dia juga di black list dari dunia hiburan.."
"Apa..?!"
Mayra memekik tertahan, wajahnya terlihat terkejut.
Silvia menatap Mayra dan tersenyum tipis.
"Pak Agam marah saat tahu kamu kehilangan calon anakmu gara-gara wanita jahat itu.!".
Ucap Silvia santai. Mayra terdiam melongo.
"Aku dengar tadi mereka semua menyalahkan aku atas semua yang menimpa karir Evelyin.."
Lirih Mayra dengan wajah tertunduk.
"Mereka hanyalah orang-orang dungu..! tidak tahu apa yang sudah kau alami selama ini gara-gara wanita itu.!"
"Tapi kenapa Mas Agam harus sampai membuat
karir Evelyin berakhir begitu saja."
"Itu hanya sebagian hukuman buat wanita jahat
seperti dia ! harusnya dia mendapatkan yang lebih pedih dari itu..!"
Ucap Silvia geram. Mayra terdiam dia hanya
mengocek minuman nya tanpa meminumnya sama sekali. Pikirannya kini beterbangan kemana-mana.
Dalam keadaan itu tiba-tiba saja datang segerombolan wartawan menyerbunya, mengelilingi Mayra sehingga tidak ada celah lagi bagi Mayra untuk menghindar.
Jane di bantu Jhon dan Darwis dengan cepat mencoba menghalau para wartawan itu yang bergeming dan sudah menempati posisi masing-masing untuk mengambil gambar dan melakukan wawancara dengan Mayra.
Mayra terpaksa mengambil posisi duduk dengan tenang di hadapan para wartawan di dampingi
Silvia dan Jane di sampingnya. Kini dia harus
mulai berani menghadapi para pencari berita ini.
*Mbak Mayra..apa benar hancurnya karier mbak Evelyin ada hubungannya dengan mbak.?*
*Apa benar mbak sengaja masuk ke dalam rumah tangga mbak Evelyin dan merusaknya.?*
*Mbak saya dengar hubungan Tuan Dirga dengan Evelyin sekarang ini sudah tidak harmonis, dan itu semua gara-gara mbak, apa semua itu benar mbak.?*
__ADS_1
Itulah beberapa rentetan pertanyaan yang membuat Mayra sedikit shock karena pertanyaan2 itu benar-benar menohok nya. Dia berusaha menarik napas dan mengontrol dirinya.
"Maaf ya teman-teman semuanya..saya mohon kalian tenang dan jangan mengintimidasi saya dengan pertanyaan yang saya sendiri tidak tahu jawabannya.."
Ucap Mayra dengan suara lembutnya yang khas. Matanya yang indah menatap teduh pada para wartawan yang tadi begitu gaduh dan ribut.
Jleb.!
Semua mendadak terdiam. Sunyi, senyap dan hanya bisa menatap, menurut setengah tersihir dengan suara dan respon dari Mayra. Mata mereka terlihat terpukau dengan pesona kelembutan dan keramahan Mayra.
Apalagi wartawan pria, mereka tampak begitu terpesona dengan aura kecantikan dan keanggunan Mayra yang sangat menentramkan jiwa.
"Pertama..saya tidak tahu menahu berita tentang
Evelyin yang di keluarkan dari dunia hiburan.."
Ucap Mayra menjeda ucapannya. Dia kembali membagi pandanganya pada semua orang yang
ada di hadapannya itu.
"Kedua..tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hati saya untuk masuk kedalam rumah tangga orang lain dan merusaknya..! Allah lah yang sudah membawa langkah saya ke jalan ini.!"
Kembali ucap Mayra dengan suara yang semakin lembut dan pelan namun dengan intonasi yang
kuat membuat semua orang terdiam tak ingin menginterupsi.
"Saya juga tidak tahu pasti bagaimana sekarang hubungan Evelyin dengan suami saya, karena kami menjalani kehidupan pribadi masing-masing, dan
saya tidak ingin mencampuri urusan mereka.."
Mayra menyambung ucapannya. Para wartawan yang tadi sempat terdiam melongo kini saling pandang dengan kawannya memberi isyarat untuk mengajukan pertanyaan lain pada Mayra. Tapi kebanyakan hanya mengangkat bahu bingung.
"Silahkan..apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi.?"
Tantang Mayra dengan tersenyum manis,
membuat beberapa wartawan menelan
ludahnya kasar.
*Kami dengar mbak baru pulang bulan madu dari Maldives.. bagaimana kesan-kesannya mbak ?*
Tanya salah seorang wartawan. Mayra kembali tersenyum manis. Lintasan berbagai peristiwa yang terjadi selama liburannya kini memenuhi otaknya.
"Setiap peristiwa..baik itu berupa kebahagiaan ataupun kesedihan akan ada hikmah di balik semuanya. Alhamdulillah sejauh ini saya bahagia dengan hidup yang saya jalani saat ini.. begitupun dengan liburan saya kemarin.."
Wawancara masih berlangsung dan seterusnya hanya menyangkut soal karir serta rencana masa depan dari Mayra. Dan semua berjalan lancar, para wartawan bersikap sangat sopan dan segan setelah kini bisa berhadapan secara langsung dengan Mayra, si artis fenomenal yang menggemparkan dunia dengan berbagai kejutan dalam hidupnya.
***** *****
Malam semakin beranjak larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Mayra masih belum bisa memejamkan matanya karena belum mendapat kabar dari Dirga.
"Apa dia menemui Evelyin malam ini.?"
Gumam Mayra pelan. Dia menghela napas,
mencoba menerima keadaan walau hatinya
sedikit tidak rela.Tapi inilah kenyataan yang
harus di terimanya.
"Tapi kenapa dari tadi siang dia tidak merespon panggilan ku.."
Mayra kembali bergumam. Dia mengambil ponselnya dari atas nakas dan melihat gambar Dirga yang sedang tertidur tampan di wallpaper layar ponselnya. Dia mengelus gambar itu, rasa rindu dalam hatinya menyeruak membuat dadanya terasa sesak.
"Aku merindukanmu Mas.."
Lirihnya pelan, ada setetes air mata yang jatuh di sudut matanya.
Pikiran liarnya terus membayangkan kebersamaan Dirga dengan Evelyin. Dadanya semakin terasa sesak, dan cairan bening dari matanya berjatuhan begitu saja tanpa di komando.
Mayra terisak sendiri meratapi rasa rindunya. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu. Entah kenapa hatinya saat ini terasa begitu berat, ada perasaan aneh yang membuat dia tidak nyaman.
..... .....
Pagi menyambut dunia kembali. Seperti biasa di rumah besar tempat tinggal Mayra kesibukan
sudah di mulai sejak subuh.
Pagi ini Mayra terbangun dengan tidak bersemangat.
Semalam dia kurang tidur karena selalu terbangun setiap jam nya. Dia masih saja berharap bahwa Dirga akan pulang dan sudah berbaring di sampingnya seperti kebiasaannya selama ini. Memeluknya, menciumnya dan menganggu tidurnya dengan aksi nakal tangannya. Namun sampai adzan subuh berkumandang hal itu tidak terjadi.
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuhnya Mayra kembali berbaring dan membuka ponselnya, siapa tahu ada pesan masuk dari Dirga. Namun dia harus menelan
pil pahit karena harapannya tidak terkabul.
Mayra terdiam, merenung. Bukankah Dirga juga memiliki hak untuk menikmati waktu kebersamaan nya dengan Evelyin tanpa gangguan dari dirinya.?
Ya.. dia pasti sedang menikmati waktunya bersama Evelyin saat ini. Baiklah..dia tidak akan lagi mempertanyakan semua ini. Evelyin jelass memiliki hak lebih atas diri suaminya itu.
Pintu di ketuk dengan keras dari luar membuat Mayra tersentak, kemudian dengan cepat turun dari tempat tidur. Dia segera membuka pintu dan melihat Tina sudah berdiri dengan wajah sedikit tegang.
"Ada apa Tina..?"
"A-anu Nyonya..dibawah ada Nyo-Nyonya Evelyin.."
"Apa ?? Evelyin..?? Buat apa dia kesini ?!"
"Saya tidak tahu Nyonya.."
"Baiklah ayo kita temui dia.."
Ucap Mayra sambil kemudian berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah.
Melihat kemunculan Mayra, Evelyin yang sedang duduk tumpang kaki di sofa tampak menyeringai. Tatapannya jatuh menghujam kearah Mayra yang
kini sudah ada di hadapannya.
"Evelyin..apa kabar.?"
Sapa Mayra sambil duduk dengan tenang di hadapan Evelyin yang memutar bola matanya.
"Tidak perlu sok akrab kamu..! Sudah puas kamu sekarang bisa tinggal di rumah sebesar ini.,?
bahkan dalam mimpi pun aku yakin kamu belum pernah melihatnya..!!"
Ketus Evelyin dengan wajah yang sangat merendahkan. Mayra tersenyum tipis masih
berusaha untuk tenang dan tidak terprovokasi.
"Aku tidak pernah menginginkan semua ini.!
Suamiku yang memaksaku untuk tinggal di sini.!"
"Kalau begitu kau bisa keluar dari sini ! rumah yang aku tinggali bahkan tidak sebesar ini. Aku yang akan tinggal di sini.!"
"Sekarang ini rumahku.! aku tidak akan keluar dari
sini kecuali suamiku yang memintanya.!"
"Apa kau sadar Nyonya murahan..kalau yang kau
sebut sebagai suamimu itu adalah suamiku yang sebenarnya..?? Dan kau hanyalah parasit..!!"
Ucap Evelyin dengan tersenyum sinis. Mayra kembali tersenyum masih berusaha untuk tenang.
"Aku tahu itu, tapi aku juga istrinya yang sah. !"
"Hehh..Aku datang kesini hanya ingin memberimu peringatan, kalau kamu masih punya malu, pergilah secepatnya dari kehidupan kami. Dia hanya mencintaiku dan akan selalu seperti itu.! Dia hanya terobsesi olehmu yang pandai bermuka dua itu..!!"
Sentak Evelyin sambil kemudian berdiri dan bertolak pinggang di hadapan Mayra yang masih duduk dengan tenang. Evelyin mendengus kesal. Dia mengeluarkan beberapa fhoto Mayra dan Aaron dari dalam tas nya.
"Sekali murahan..! akan selamanya murahan..! Kau ****** gatal..!! Semua laki-laki berusaha kamu jerat dengan tingkah sok polosmu itu.!!"
Kembali ucap Evelyin dengan wajah yang benar-benar merendahkan. Mayra mengernyitkan alisnya, menatap Evelyin gerah.
"Evelyin, apa yang ingin kau jelaskan padaku.?
Silahkan kau keluarkan semua kata-kata kotormu itu, tapi yang jelas, aku tidak seperti yang kamu katakan tadi.!"
"Kau mau bukti..? nih aku kasih buktinya..! dan jangan harap suamiku akan percaya lagi sama kamu, karena dia sudah menyadari sekarang kalau kamu hanyalah sampah tak berguna.. !!"
Dengus Evelyin sambil melempar semua fhoto di atas meja yang ada di hadapan Mayra.
"Selamat menikmati hari-hari terakhir mu sebagai nyonya Dirga hahaa...!!"
Ucap Evelyin di akhiri tawa bahagianya. Dia kemudian melenggang pergi dengan tawa yang masih menggema di seluruh ruangan.
Tangan Mayra bergetar mengambil semua fhoto
yang tergeletak di atas meja, matanya terbelalak
tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Air mata langsung saja jatuh meluncur dengan deras.
Mayra meremas fhoto2 itu dengan tubuh yang gemetaran dan tangis yang tertahan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....