Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
51. Kabur


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Walau masih dalam keadaan terluka di bahu kirinya, namun siang ini Dirga tetap melakukan meeting bersama para bawahannya dari perusahaan2 cabang luar kota. Akan sangat disesalkan bagi para pimpinan perusahaan cabang itu kalau sampai dirinya tidak hadir. Karena acara meeting bersama ini hanya di lakukan setiap 6 bulan sekali. Oleh karena itu Dirga memaksakan diri untuk menghadirinya.


Selesai melakukan meeting Dirga bergegas kembali ke kantornya untuk beristirahat sebentar sekalian makan siang. Saat keluar dari lift ponselnya yang sudah kembali aktif tiba-tiba berdering dan nama 'Wanita Kedua' tertera di layar handphone nya. Senyum cerah langsung tersungging di bibirnya.


"Kau merindukanku..?"


"Assalamualaikum.."


"Hemm.."


"Aku hanya ingin mengingatkan jangan lupa di minum obatnya. Seperti yang dokter katakan.!"


"Hanya karena Dokter mata keranjang itu.?"


"Maksud mu.?"


"Kau mengingatkanku bukan atas keinginanmu sendiri kan.? tapi karena dokter brengsek itu..!"


"Sayaang..."


Dirga terdiam mendengar panggilan Sayang Mayra yang terdengar begitu merdu di telinganya.


"Jangan suka berburuk sangka dulu dong..! tentu saja aku mengingatkanmu karena aku khawatir padamu..!"


"Benarkah.?? kau mencemaskan ku..?"


"Tentu saja sayang.."


Hati Dirga seakan di penuhi dengan bunga-bunga bermekaran, bibirnya tersenyum tipis.


"Karena kau terluka karena aku juga..!"


Seketika bunga-bunga yang tadi bermekaran di hati Dirga langsung layu begitu saja. Kecewa. Wajah Dirga kembali terlihat datar.


"Aku tidak butuh obat.!"


Ketusnya kesal. Dia berjalan memasuki lorong khusus menuju ke ruangannya.


"Yasudah aku tutup dulu telponnya, aku harus menyelesaikan pekerjaan hari ini."


"Kau dimana.??"


Sentak Dirga karena pikirannya langsung melayang pada sosok Agam yang pastinya akan selalu menempel di manapun istrinya itu berada.


"Aku ada syuting iklan hari ini, mungkin akan sampai malam, jangan lupa di minum obatnya ya.."


"Hemm..aku akan menjemputmu nanti.."


"Honeeyy...!"


Saat mereka masih melakukan pembicaraan di telpon tiba-tiba Evelyin muncul dari dalam ruangan kantor Dirga dan langsung berlari memeluk erat tubuh Dirga.


"Kapan kau kesini..?"


Tanya Dirga sambil membalas pelukan Eveliyn dengan satu tangan.


"Saat kau meeting honeeyy..kenapa kamu tidak memberi kabar padaku kalau kamu terluka honeyy..!"


Ucap Evelyin dengan manja.


"Aku tidak ingin membuatmu cemas baby..!"


"Apa kau tahu, aku sangat shock mendengar kau terluka, aku takut terjadi sesuatu yang serius sama kamu honey..!"


"Tidak akan terjadi apa-apa padaku baby, percayalah..!"

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu honeyy..!"


"Aku juga baby..tidak ada wanita lain yang aku cintai selain kamu..!"


Ucap Dirga mencoba menenangkan Evelyin.


Kemudian dia membimbing Evelyin berjalan masuk ke dalam ruangan, dan ketika sampai di dalam Evelyin langsung mendorong tubuh Dirga lalu menindihnya di atas sofa.


"Aku sangat merindukanmu honey.."


Ucap Evelyin, dia langsung menyerang Dirga dengan ciuman panas bertubi-tubi hingga Dirga tidak bisa menolaknya. Mereka larut dalam ciuman panas yang menimbulkan decakan erotis yang khas.


Sungguh ! Dirga tidak menyadari kalau semua yang dirinya dan Evelyin katakan serta lakukan terdengar jelas di telinga Mayra karena ponsel mereka masih terhubung dengan baik.


Karena terkejut dengan kemunculan Eveliyn yang tiba-tiba dia sampai lupa tidak mematikan sambungan telponnya dengan Mayra dan langsung memasukan ponselnya begitu saja ke dalam saku jas nya.


..... .....


Mayra terhenyak, tubuhnya seketika menjadi lemas tak bertenaga. Dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas dengan keadaan tangan gemetaran.


Kenapa hatinya rasanya sangat sakit ? seperti tertusuk seribu duri. Sungguh dia tidak bisa menerima semua yang tadi di dengarnya dari pembicaraan suami dan istri pertamanya itu.


Ya..dia memang harus sadar diri. Evelyin adalah istri pertama suaminya, dia mempunyai hak lebih terhadap dirinya. Mereka juga punya hak untuk melakukan kemesraan dimanapun mereka mau.


Tapi, kenapa saat ini dia merasakan hatinya seperti teriris, ketika dengan jelas dia mendengar Dirga mengatakan kalau hanya Evelyin lah satu-satunya wanita yang dia cintai.


Tuhan.. kenapa rasanya sakit sekali saat mendengarnya ?? apa sekarang laki-laki yang telah menikahinya secara paksa itu telah mempunyai tempat istimewa dalam satu ruang di hatinya.?


Apakah dia sudah mulai mencintai suaminya itu.??


"May..apa kau sudah siap.? ayo semangat untuk hari ini..! banyak model yang ingin membintangi iklan produk ini loh.! Kau sangat beruntung.!"


Ucap Silvia yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang ganti dan membuyarkan semua kekalutan pikiran Mayra.


Mayra memejamkan matanya, mencoba menguasai dirinya yang saat ini sedikit terpukul.


Ya..dia memang tidak boleh terlalu berharap lebih pada pernikahan ini. Dia harus bisa menjaga hati dan perasaannya sendiri.


Tanya Silvia seraya menghampiri Mayra dan melihat keadaannya.


"Aku baik-baik saja Sil, ayoo..!"


Ucap Mayra sambil kemudian berdiri dan bersiap kembali merapihkan semua pakaian dan polesan tipis di wajah nya.


Dengan pikiran yang masih terganggu atas apa yang di dengarnya tadi, namun sebisa mungkin Mayra melakukan semua pekerjaan nya dengan baik.


Hari ini dia ada syuting pembuatan iklan untuk sebuah produk dari produsen perhiasan ternama berkelas internasional. Oleh karenanya dia harus mengerahkan segala kemampuannya untuk bermain sebaik mungkin dalam iklan ini, karena hal ini berhubungan dengan segala bentuk keindahan yang harus menjadi satu kesatuan.


Walaupun kemarin malam sempat mengalami kejadian mengerikan yang cukup membuat nya trauma, tapi Mayra adalah Mayra..seseorang yang


bisa mengesampingkan urusan pribadi demi


profesionalisme pekerjaan. Dia berusaha melupakan sejenak segala trauma di hatinya demi menjaga totalitas dalam menjalankan profesi barunya ini.


Menjelang malam Agam datang ke lokasi syuting bersama dengan General Manajer dari Diamond Star .


Orang itu merupakan pemimpin di perusahaan cabang ini. Sebab pusat perusahaan perhiasan ini berada di kota Paris Perancis.


"Bagaimana May..? semua berjalan lancar kan.?"


Tanya Agam saat sudah berada di lokasi syuting dan menghampiri Mayra yang sedang break dari syuting nya. Mayra tampak tersenyum menyambut kedua orang tersebut.


"Alhamdulillah..semuanya berjalan lancar mas. Sekarang hanya tinggal satu produk terakhir."


Jawab Mayra. Sang general manager terlihat begitu terpesona dengan keelokan paras model perhiasannya ini. Walaupun dia berpakaian tertutup dan berhijab namun kecantikannya malah lebih terpancar dari dalam sehingga bisa lebih mudah menyatu dengan semua keindahan yang keluar dari perhiasan yang di pakainya .


Kali ini adalah sesi terakhir dengan mendemo kan sebuah produk berlian edisi terbatas, yang terdiri dari satu paket, yakni sebuah kalung dan juga cincin bermata biru safir. Sangat indah, berkilau dan tak ternilai.

__ADS_1


Mayra sudah mengganti kostumnya di sesuaikan dengan produk yang akan di pakainya.


Seorang asisten perempuan dari pihak Diamond Star tampak membantunya mengenakan perhiasan yang super mewah dan mahal itu.


Setelah terpasang dengan baik terlihat begitu indah menyatu dengan sosok cantik Mayra, memancarkan aura kecantikan yang sangat menyilaukan mata. Semua orang terlihat terpukau menyaksikan segala keindahan yang menjadi satu kesatuan penuh nilai seni tinggi itu.


Mayra mulai berakting di depan kamera dengan segala keanggunan dan keelokannya. Semua mata terlihat terfokus pada satu sosok di depan kamera tersebut.


Mereka seolah menahan napas saat Mayra dengan gerakan gemulai memperlihatkan setiap detail dari produk iklan nya yang melingkar indah di bagian leher dan juga jari manisnya.


Cut.!


Sutradara mengakhiri sesi ini dengan raut muka penuh kepuasan. Orang-orang yang ada di studio itu serempak bertepuk tangan memberi aplaus atas kerja keras Mayra hari ini.


Agam terlihat tersenyum lebar menyambut Mayra yang sudah melewati pekerjaan hari ini dengan hasil yang memuaskan semua pihak.


Sang General Manajer terlihat menghampiri Mayra dan mengucapkan selamat serta terimakasih atas kerja kerasnya hari ini.


..... .....


Setelah semua selesai Mayra bersama dengan Agam di ikuti Jane dan Silvia bergegas keluar dari studio untuk kembali pulang dan beristirahat.


Namun ketika sampai ke lantai satu mereka melihat di halaman studio sudah berkumpul puluhan wartawan yang seperti biasa selalu menguntit kemanapun Mayra pergi.


Mayra hanya bisa menghela napas panjang, dia sadar sekarang sudah tidak ada lagi kebebasan yang dulu pernah dirasakan nya.


"Bagaimana ini mas, aku tidak siap untuk berhadapan dengan para wartawan itu. Aku masih trauma atas kejadian yang lalu..!"


Desah Mayra sambil duduk di sebuah kursi di pinggir jendela yang bisa langsung melihat ke halaman.


Saat dia berusaha memperhatikan keadaan di sekitar halaman yang di penuhi oleh wartawan, retina matanya menangkap di kejauhan terlihat terparkir sebuah mobil mewah yang dia tahu persis kalau itu adalah mobil Dirga suaminya.


Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, hatinya berdebar tak menentu, saat ini dia tidak siap untuk bertemu dengan suaminya itu. Masih terngiang dengan jelas telinganya isi percakapan tadi siang antara Dirga dan Evelyin.


Rasa sakit itu hingga kini masih terasa.


Agam terlihat berpikir dengan memperhatikan keadaan, dia juga mengerti kalau Mayra masih sangat trauma atas kejadian tempo hari.


"Mas..tolong bawa aku pergi dari sini.!"


Bisik Mayra sambil menatap memohon pada Agam yang langsung tertegun melihat Mayra sampai memohon padanya. Mereka berdua bertatapan lekat.


Akhirnya Agam mengangguk pelan.


Dia berjalan menghampiri Silvia dan Jane , kemudian memberi instruksi. Jane tampak bereaksi dengan tatapan tidak suka atas usul Agam. Tapi Mayra meyakinkannya dengan mengangguk dan memberi isyarat mata. Akhirnya Jane dengan terpaksa setuju.


"Kita akan bertemu di persimpangan jalan menuju apartemen Mayra.!"


Titah Agam pada Jane dan Silvia di balas anggukan mereka. Akhirnya Agam membawa Mayra pergi melalui jalan lain untuk mengelabui para wartawan, sementara Jane dan Silvia setelah menunggu beberapa saat mereka turun ke loby langsung menuju ke parkiran.


Sontak saja para wartawan itu langsung datang menyerbu mereka berdua menanyakan keberadaan Mayra. Namun Jane dan Silvia hanya terdiam tidak memberi tanggapan apapun atas serbuan pertanyaan yang terus-menerus di lontarkan oleh para pencari berita tersebut.


Sementara itu Agam dan Mayra sudah melesat pergi meninggalkan area studio melalui jalur belakang.


Keduanya kini sudah berada di perjalanan. Mayra terdiam merenung melihat ke luar jendela.


Pikirannya saat ini terfokus pada sosok lain yang tadi jelas-jelas sedang menunggu nya di kejauhan.


"May..apa kita langsung ke apartemen mu sekarang.?Atau kita menunggu kedatangan Jane dulu..?"


Tanya Agam sambil melirik dan menatap Mayra sejenak.


"Mas..saat ini aku sedang ingin menenangkan diri dulu. Bisa tolong bawa aku ke tempat yang aman..?"


Agam langsung menghentikan mobilnya . Mereka saling bertatapan, sorot mata Mayra penuh kesungguhan, sementara Agam tampak tidak percaya namun juga sangat bahagia.


Akhirnya Agam mengangguk dengan mantap.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....


__ADS_2