
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Entah apa lagi rencana Tuhan kali ini untuk
Mayra. Mungkin Tuhan tahu benar kalau Mayra
akan mampu melewati semua cobaan
hidupnya ini. Mayra hanyalah wanita biasa yang
di beri kelebihan fisik dan kelembutan hati serta ketegaran bathin. Namun dia tetaplah banyak kekurangan nya.
Mayra keluar dari mobil yang berhenti di loby kantor perusahaan Moolay Group. Dia mulai melangkah masuk ke dalam loby di sambut oleh penjaga dengan membungkuk hormat padanya, kemudian para resepsionis juga langsung menyambut nya dan membungkuk sopan sembari memberi salam.
"Selamat datang Nyonya Mayra..!"
Sambut mereka serempak.
"Terimakasih..saya mau bertemu suami saya."
"Silahkan Nyonya langsung saja naik ke ruangan Tuan..mari saya antar.!"
"Tidak perlu.. saya sendiri saja.."
Tolak Mayra sambil memaksakan tersenyum.
Para resepsionis itu kembali membungkuk kompak.
Mayra berlalu masuk ke dalam lift di iringi tatapan kagum namun segan para karyawan yang ada di tempat itu.
Pintu lift terbuka di lantai teratas, Mayra bergegas keluar dan melangkah cepat menuju ruangan dimana Dirga berada. Hatinya berdebar kencang tak menentu, antara menahan perasaan rindu dan juga rasa gelisah yang sangat menyiksa.
Sampai di ruangan depan dia bertemu dengan
Lee yang terlihat sedang duduk dengan resah di
kursi kerjanya. Lee tampak terkejut sekaligus gugup bukan main melihat kemunculan Mayra yang tiba-tiba di tempat itu.
Mayra menatap tajam wajah Lee yang tampak menundukan mukanya.
"Apa dia ada di dalam sekretaris Lee..? Saya ingin bertemu dengannya.!"
Tanya Mayra. Lee terlihat bingung dan kikuk.
Dia tampak bimbang untuk menjawab.
Mayra melihat botol minuman berserakan di bawah meja kerja Lee di dalam keranjang. Dia menarik napasnya dalam-dalam.
"Saya akan menemuinya.."
"Nyonya..saat ini Tuan tidak dalam kondisi yang baik, sebaiknya anda lain kali saja menemuinya..!"
"Sekretaris Lee..! Saya tidak bisa menunggu untuk mengatakan yang sebenarnya..!"
Sergah Mayra dengan tatapan yang semakin tajam.
Lee terlihat tambah gelisah. Mayra tidak menunggu respon dari Lee selanjutnya dia berjalan melangkah menuju ke ruangan Dirga.
"Nyonya..sebaiknya kali ini anda mendengarkan saya, mari saya antar anda pulang, saya akan pastikan Tuan pulang malam ini untuk menemui Nyonya.!"
Cegah Lee sambil menghadang langkah Mayra.
"Tidak ! dengan caramu yang seperti ini justru membuat ku semakin ingin menemui nya.! saya
akan tanggung resikonya.!"
Debat Mayra dengan suara yang sedikit tinggi membuat Lee tidak bisa lagi mencegahnya.Dia
hanya terdiam menunduk dengan perasaan yang semakin getir.
Tanpa bisa di cegah lagi Mayra melangkah masuk
ke dalam ruangan kantor Dirga. Sampai di dalam langsung mencari Dirga ke meja kerjanya.
Namun dia tidak melihat keberadaan Dirga.
Hanya ada suara yang tidak begitu jelas yang
berasal dari dalam kamar pribadi yang biasa
di pakai beristirahat oleh Dirga.
Penasaran, Mayra melangkah kearah pintu yang
tidak di kunci. Kemudian membuka nya dalam
sekali dorong. Saat melihat apa yang terjadi
di dalam kamar Mayra membelalakan matanya.
Dia melihat Dirga sedang bergumul panas dengan Evelyin di atas tempat tidur, dengan posisi Evelyin
sedang berada di atas tubuh Dirga yang tanpa
busana, Eveliyn juga sama polosnya. Keduanya
terlihat sedang menikmati aksi panasnya.
Evelyin nampak begitu semangat memimpin
permainan.
"Maass...!"
__ADS_1
Lirih Mayra tanpa sadar dengan suara yang bergetar.
Air mata turun dengan derasnya. Kenapa hatinya begitu sakit melihat kenyataan ini. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Dirga yang mendengar suara lirih Mayra terlihat membuka matanya yang tadi sedang terpejam. Dia tampak terkesiap melihat kemunculan Mayra di pintu, lalu melihat pada Evelyin yang sedang menindih nya.
Seakan baru terbangun dari mimpi, dengan sekali gerakan dia menjatuhkan tubuh Evelyin ke samping kemudian bangkit dari tempat tidur, mengambil jubah dan memakai nya, setelah itu berjalan sempoyongan sambil memegangi kepalanya menghampiri Mayra yang mundur perlahan dengan tubuh bergetar menahan tangis yang berusaha di redamnya.
Mereka bertatapan kuat, mata Dirga merah, wajahnya terlihat kusut, rambut berantakan dan mulut berbau alkohol yang sangat menyengat.
Mayra menggeleng lemah melihat keadaan ini.
"Mas..kenapa kamu malah seperti ini.? kenapa tidak datang untuk meminta penjelasan padaku..?!"
Ucap Mayra dengan menatap sedih kearah Dirga yang hanya menyeringai tipis.
"Untuk apa kamu kesini.? Pulang sana.!!"
"Mas..aku bisa menjelaskan semuanya.! Itu semua tidak seperti yang kamu lihat..!"
"Stop..! jangan bicara lagi.!!"
Sentak Dirga dengan wajah memerah, giginya gemeretak, tangannya terkepal.
"Kamu bisa bertanya padaku mas..?!"
"Aku tidak butuh penjelasan mu.!!"
"Kamu bisa menanyakan kebenaran nya pada Aaron..!!"
"Stooopp...!!! jangan menyebut nama penghianat
itu di hadapanku.!!"
Mayra semakin menggeleng lemah. Tangisnya sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Kau bahkan belum bisa mempercayai aku Mas, bagaimana kamu bisa mencintaiku..!!"
Ucap Mayra dengan suara mulai terbata tertahan oleh tangisnya. Dirga semakin menatap tajam wajah Mayra dengan sorot mata yang terlihat begitu terluka.
"Aku tunggu kamu di rumah Mas, kita bicarakan ini baik-baik dengan kondisimu yang lebih baik..!"
Lirih Mayra lemah, setelah itu dia berbalik kemudian berjalan cepat dengan menahan mulutnya supaya tangisnya tidak pecah di sana.
Dirga membeku di tempat. Dia menatap nanar kepergian Mayra dari hadapannya, dadanya terasa begitu sakit. Ada air mata yang turun di sudut
matanya
"Aarrghh...!!"
Dirga membanting semua barang yang ada di dekatnya. Emosinya kembali meluap.
Dia baru saja sadar dari pengaruh alkohol yang semalaman di teguknya. Sampai tadi tidak menyadari bahwa yang sedang bercinta dengannya adalah Eveliyn, bukan lah Mayra seperti yang ada dalam ilusinya.
"Apa yang terjadi honey.? Ayo kita lanjutkan yang tadi, kita bahkan baru memulai nya. Wanita sialan itu hanya bisa menggangu saja kerjaannya. !!"
Dirga dan memeluknya dari belakang. Dia memang sangat merindukan sentuhan hangat dari suaminya ini. Sudah cukup lama mereka tidak bercinta.
"Kau..! pergi dari sini sekarang juga sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak.!!"
Desis Dirga sambil melepaskan pelukan Evelyin.
"Tapi Honey..aku masih ingin bersamamu.! Aku sangat merindukanmu.! Aku membutuhkan sentuhan mu..!"
"Aku tidak akan mengulangi perintah ku..!!
Cepat pergi sekarang juga dan jangan
pernah datang lagi kesini !!"
Geram Dirga seraya masuk kedalam kamar
pribadinya dengan membanting pintu keras.
Evelyin terdiam, wajahnya terlihat memerah.
"Wanita sialan itu benar-benar telah merebut
posisi aku di hatimu. Saat tidak sadar pun kau terus saja memanggil namanya, dasar wanita sialan..!!
Kita lihat saja permainan ini.. sampai dimana
kamu bisa bertahan Mayra..!!"
Gumam Evelyin mengepalkan tangannya. Hatinya penuh dengan kebencian yang seakan sudah mendarah daging hingga membutakan mata hatinya dan menutupi akal sehatnya.
***** *****
Mayra duduk lemas di sebuah bangku dibawah
pohon rindang yang ada di pinggir danau di
pinggiran kota. Saat ini dia butuh waktu untuk menenangkan diri dan menguatkan hatinya.
Jane dengan setia menunggu dan mengawasinya
dari belakang. Dia terlihat sedikit bingung dengan
kondisi majikannya yang keluar dari kantor
Moolay Group lewat jalur khusus dalam
keadaan yang sangat kacau.
__ADS_1
Setelah pulang dari kantor Dirga, Mayra pergi mengunjungi makam ibunya. Entah kenapa dia
perlu tempat untuk mencurahkan segala isi hati dan kekalutan yang sedang di rasakannya. Sampai di sana dia hanya duduk diam, berdoa dan berbicara dalam hati berharap perasaanya bisa sedikit lega.
Mayra meminta Jane untuk tidak pulang dulu ke rumahnya, dia ingin menghabiskan kesedihan dan
rasa kecewanya di tempat yang sepi dan tenang.
Mayra terus menangis dalam diam menumpahkan segala rasa sakit dan kekecewaan dalam hatinya.
Dia kecewa kenapa Dirga tidak langsung meminta konfirmasi dari dirinya atas semua fakta yang ada dalam fhoto tersebut.
Sebenarnya dirinya cukup shock melihat fhoto pertama dimana Aaron terlihat sedang menciumnya.
Namun dia yakin waktu itu Aaron terpaksa melakukan semua itu untuk menyelamatkan nyawa nya.
Lalu siapa orang yang sudah mengambil semua fhoto2 tersebut, apakah mungkin musuhnya Dirga?
Ya..itu mungkin saja. Mereka akan melakukan
apapun untuk menghancurkan suaminya lewat
berbagai cara.
Hari sudah beranjak sore, sebentar lagi matahari
akan terbenam. Entah sudah berapa lama Mayra
duduk terdiam di tepi danau itu.
Cuaca tiba-tiba saja mendung, awan hitam mulai terkumpul di langit dan hembusan angin semakin kencang. Mayra masih sibuk dengan semua rasa galau nya hingga tak menyadari rintik hujan mulai turun membasahi tubuhnya.
"Nyonya..sebaiknya kita pergi sekarang, anda bisa sakit kalau terkena air hujan terlalu lama.!"
Ucap Jane yang sudah berdiri di belakang nya
dengan memegang payung untuk melindungi
Mayra dari guyuran air hujan yang semakin deras.
Mayra bergeming, dia masih terdiam dengan
tatapan kosong kearah danau. Jane semakin bingung.
"Nyonya..saya mohon..! Anda bisa sakit kalau begini terus..!"
Kembali ucap Jane dengan wajah yang semakin resah. Tubuh Mayra mulai menggigil kedinginan.
Namun dia tetap diam tidak beranjak sedikitpun.
"Nyonya..hari sudah mulai gelap, kita harus segera pergi dari tempat ini..!"
Jane mencoba mengingatkan Mayra. Namun Mayra bergeming. Kulit tubuhnya terlihat mulai berubah karena kedinginan. Tidak ada jalan lain Jane harus mengangkat paksa majikannya itu.
Tapi langkahnya terhenti ketika melihat kemunculan seseorang ke tempat itu dengan langkah lebar dan wajah yang sudah sangat dingin.
"Tuan.."
Jane membungkuk ketika orang itu tiba di dekatnya.
Tanpa kata orang itu yang tiada lain adalah Dirga langsung mengangkat tubuh Mayra dan membawanya berjalan kearah mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Mayra tersentak saat tubuhnya terangkat dan
matanya seketika terpaku melihat sosok orang
yang kini sedang berjalan memangku dirinya.
Mayra membelitkan tangannya ke leher Dirga
dengan menatapnya terus meyakinkan diri.
Sementara Dirga terlihat datar dan dingin dengan tatapan lurus ke depan tanpa menoleh atau melihat wajah Mayra.
Sampai ke mobil yang di bawanya sendiri, Dirga mendudukkan Mayra di jok depan di samping kemudi.
Dia mengambil mantel tebal dari jok belakang kemudian menyelimuti tubuh Mayra yang hanya terdiam membiarkan Dirga melakukan semuanya.
Setelah itu Dirga duduk dibalik kemudi dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan danau.
Dirga menyalakan penghangat di dalam mobilnya.
Tubuh mereka sudah sama-sama basah kuyup.
Mayra melirik dan menatap Dirga dengan lembut, tubuhnya masih terlihat menggigil. Tapi dia tidak
bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Tak ada pembicaraan diantara mereka selama di perjalanan. Kedua nya terdiam membisu. Tubuh
Mayra terlihat semakin ringkih, pucat dan lemas.
Saat ini Mayra merasakan kepalanya pusing
dan berat. Dia mencoba menyandarkan kepalanya
ke sandaran jok. Dirga meliriknya sekilas, ada raut kecemasan yang terlihat dari sorot matanya.
Akhirnya mobil tiba di halaman rumah. Hujan masih turun dengan cukup deras.
Tina dan beberapa pelayan datang menyambut membukakan pintu mobil dan membawakan payung.
Mayra terlihat masih memejamkan matanya. Dirga kembali mengangkat tubuh Mayra di bawa masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Tina yang setia memayungi kedua majikannya itu.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....