
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mayra memoles wajahnya seperlunya saja. Sebenarnya tanpa polesan pun wajahnya sudah sangat cantik, namun demi kesopanan dan menyesuaikan dengan gaun yang di pakainya, akhirnya Mayra merias sedikit wajahnya.
Perpect..!! Cantik dan tidak berlebihan.
Sangat berkelas dan elegan.
Mayra diantar Jane dan Silvia menuju ke loby studio untuk menemui orang yang akan mengantar nya.
Tepat di depan loby, sebuah mobil sport mewah merk Porche Macan 2.0 warna hitam telah terparkir dengan gagah dan mendominasi . Sejenak Mayra tertegun melihat mobil itu, karena dia tidak pernah melihatnya.
Silvia dari tadi hanya bisa menganga saja terpukau melihat keberadaan mobil mewah itu.
"Pergilah Nyonya, kali ini saya tidak perlu mengawal anda..!"
Ucap Jane sambil membimbing Mayra menuju ke dekat mobil itu. Mayra hanya mengikuti saja langkah Jane dengan perasaan yang di penuhi rasa penasaran.
Setelah dekat, pintu mobil secara otomatis terbuka. Dan sosok laki-laki yang menurut Mayra aneh berada di balik kemudi. Mayra terkejut sesaat melihat Aaron lah yang menjemput nya. Apa Dirga tidak salah, kenapa dia membiarkan dirinya di jemput dan satu mobil dengan orang asing seperti ini.??
"Masuklah Nyonya..!"
Ucap Jane menyadarkan Mayra dari keterkejutannya.
Mayra berpaling pada Jane dan menatapnya ragu.
"Aku pergi sama kamu saja Jane.."
"Tuan muda sudah menyuruh Tuan Aaron untuk mengantar anda nyonya, saya bersama yang lain akan mengikuti dari belakang.!"
Sergah Jane meyakinkan. Mayra kembali berpaling pada Aaron yang masih dengan posisi sama, tanpa ekspresi, menatap lurus ke depan, datar dan dingin.
Dengan terpaksa dan sedikit ragu akhirnya Mayra masuk kedalam mobil, kemudian memasang sabuk pengaman dan seketika pintu mobil pun menutup kembali. Mayra menghela napas nya perlahan, melirik pada Aaron yang sudah mulai melajukan mobilnya keluar dari area loby studio.
Mereka kini berada di perjalanan. Suasana terasa sangat canggung, hening tidak ada pembicaraan diantara mereka. Namun lama-lama Mayra tidak tahan juga dengan suasana yang tidak mengenakkan ini.
"Maaf Tuan..kalau boleh tahu, nama anda siapa.?"
Akhirnya Mayra buka suara. Aaron melambatkan laju mobilnya dan melirik sekilas ke arah Mayra. Namun dia tidak menjawab pertanyaan Mayra.
"Bukankah tidak sopan Tuan, tidak menjawab pertanyaan seseorang.!"
Ucap Mayra kembali sedikit kesal. Aaron acuh saja membuat Mayra merasa kesal sendiri. Kenapa dia harus kembali bertemu dengan mahluk
satu ini sih.! Benar-benar menyebalkan.!!
"Baiklah saya akan memanggil anda dengan sebutan Tuan aneh saja..!"
Lanjut Mayra sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela. Aaron tetap diam tanpa ekspresi nya.
Namun sesaat kemudian dia mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi karena ada sesuatu yang sedang di tangkap oleh sudut matanya yang tajam, ada penguntit di belakang mobilnya.
Mayra langsung bereaksi tegang dan panik.
"Hei Tuan Aneh..! tolong lambatkan sedikit mobilnya..! Saya takut terjadi sesuatu..!"
Pekik Mayra sambil memegang erat sabuk pengamannya. Namun Aaron seakan tidak mendengarnya dia tetap melajukan mobilnya dengan cepat dan sedikit memakai keahliannya meliukkan mobilnya mengecoh satu bayangan mobil penguntit yang ada di belakangnya.
Mayra langsung tahu situasi, dia memejamkan matanya panik dan mencoba mengendalikan diri.
"Apa lagi ini ya Tuhan..kenapa sekarang hidupku rasanya selalu dalam ketakutan, tidak ada lagi ketenangan..!!"
Gumam Mayra sambil terus berdoa dalam hati.
Tuhan..apa salahnya..??
Kenapa sekarang hidupnya harus selalu berurusan dengan hal-hal yang bahkan tidak pernah di bayangkan nya sama sekali. Kenapa dia harus berurusan dengan orang-orang aneh yang terlibat dalam dunia kekerasan.
__ADS_1
Sebenarnya siapa suaminya sampai harus berurusan dengan dunia yang penuh dengan kejanggalan ini.
Dan kenapa sekarang dia selalu terlibat di dalamnya.?
Aaron meliriknya dan menatapnya sekilas dengan sorot mata yang sangat kompleks.
Pikiran Mayra kini melayang pada sosok lain yang tidak ada di samping nya. Dirga..kemana suaminya itu hingga membiarkannya bersama orang lain.
Aaron melajukan mobilnya dengan sangat lihai dan akhirnya si penguntit kehilangan jejak hingga tidak bisa lagi menyusulnya. Setelah aman Aaron memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Namun kini dia menangkap sesuatu yang aneh terjadi pada Mayra. Wajah wanita itu terlihat pucat, tangan kirinya memegang perut dan tangan kanan nya menutup mulut.
Aaron seketika menepikan mobilnya kemudian menghentikan nya. Dengan gerakan cepat dia keluar dari mobil dan berlari memutar kemudian dengan cepat mengangkat tubuh Mayra di bawa keluar dari mobil. Saat sudah di luar Mayra tidak bisa lagi menahan gejolak yang terjadi dalam perutnya dan langsung menyemburkan nya tanpa aba-aba hingga sebagian mengenai jas yang di pakai Aaron, membuat pria itu tertegun dan mematung tak bergerak.
Mayra terus mengeluarkan seluruh isi perutnya tanpa bisa di tahan. Tubuhnya lemas dan kulitnya memucat seketika. Aaron cepat mengambil air minum di dalam mobil dan memberikan nya pada Mayra yang masih berjongkok di pinggir jalan.
Mayra mengambil botol minum itu kemudian membersihkan mulutnya serta meneguk sisanya. Dengan tubuh yang lemas dia berdiri dan berniat berjalan kembali ke dalam mobil. Namun kakinya ternyata benar-benar lemas. Tubuhnya hampir terjatuh kalau Aaron tidak menahan tangannya.
Akhirnya dengan di bantu Aaron Mayra kembali ke dalam mobil dan langsung bersandar lemas ke jok mobil. Aaron yang sudah kembali duduk di balik kemudi mengatur otomatis jok yang di pakai Mayra agar lebih ke belakang dan dapat bersandar dengan nyaman.
Mayra melirik Aaron yang kini sedang membuka jas yang di pakainya. Dia baru ingat kalau laki-laki itu terkena semburan lava yang di keluarkannya.
"Maaf..saya tidak sengaja..!"
Lirih Mayra dengan menatap Aaron penuh rasa bersalah. Laki-laki tanpa ekspresi itu hanya membalas tatapannya sebentar, kemudian dia kembali melajukan mobilnya. Mayra memejamkan matanya karena rasa pening masih menguasai kepalanya.
Aaron mengangkat telpon yang dari tadi bergetar.
"Aku sudah dekat, ya dia baik-baik saja.!"
Ucapnya seraya melirik sekilas memperhatikan keadaan Mayra. Kemudian dia menutup telponnya .
***** *****
Suasana di dalam Mansion keluarga Moolay terlihat hangat. Beberapa tamu yang di undang oleh Nyonya Veronica sudah terlihat hadir, yakni Tuan Alan Pramudya beserta Nyonya Cynthia. Mereka adalah orang tua dari Agam dan merupakan adik Nyonya Veronica.
Setelahnya terlihat Dokter Rayen muncul bersama dengan Dokter Lani. Mereka berdua adalah sahabat dekat dari Dirga. Keakraban langsung terjalin diantara semua yang hadir dengan obrolan hangat.
"Oya..Dirga mana ya Kakak kenapa belum terlihat.?"
Tanya Nyonya Chintya ibunya Agam.
"Mungkin sebentar lagi muncul.."
Jawab Nyonya Veronica. Belum selesai bicara di pintu terlihat kemunculan Evelyin bersama sekretaris Lee.
Nyonya Veronica langsung menyambut kemunculan menantunya itu dengan senyum lebar.
"Bagaimana kabarmu sayang.?"
Sapa Nyonya Veronica seraya memeluk Evelyin.
"Cukup baik Mom..!"
Sambut Evelyin manja sambil mencium kedua pipi mertuanya itu. Setelah nya dia berpaling pada Tuan Leonardo dan merangkulnya hangat.
"Evelyin.. Tante dengar kamu mengalami kecelakaan.. Bagaimana keadaanmu sekarang..?"
Tanya Nyonya Chintya sambil merangkul Evelyin.
"Sudah baikan kok Tan..!"
Sahut Evelyin. Kemudian dia menghampiri Manda dan berangkulan sewajarnya.
"Kenapa tidak datang bersama suamimu nak.?"
Tanya Tuan Alan. Mereka semua melirik pada Evelyin yang terlihat wajahnya sedikit murung.
__ADS_1
"Tuan barusan masih di kantornya..!"
Kali ini Lee yang buka suara. Semua mengangguk tapi masih ada sedikit ragu. Agam terlihat gelisah melihat kearah pintu masuk. Dan Manda mengerti kegelisahan saudara sepupunya.
"Kakak..cobalah untuk melepaskannya..!"
Bisiknya. Agam melirik dan menatap Manda kemudian menggeleng lemah.
Tidak lama Dirga muncul di kawal oleh Tomy dan dua orang bodyguard. Semua terlihat berdiri menyambut kedatangan Dirga kecuali Tuan Leon.
Evelyin langsung menyambut Dirga dengan memeluknya dan mencium lembut bibirnya.
"Honey..kenapa kamu biarkan aku berangkat bersama sekretaris mu itu..?!"
Rengek Eveliyn dan langsung bergelayut manja di lengan Dirga.
"Ada urusan penting yang harus aku bereskan..!"
Ucap Dirga sambil kemudian melangkah menghampiri Nyonya Veronica dan merangkulnya hangat.
"Apa kabar Mom.."
"Baik sayang..Kelihatannya kamu semakin sibuk..!"
Ucap Nyonya Veronica sambil menepuk halus bahu Dirga dan menatap lembut wajah putra sulungnya itu.
"Lumayan Mom.!"
Sahut Dirga tersenyum tipis.
Dia berpaling pada Sang Ayah yang kini sudah berdiri. Untuk sesaat keduanya hanya saling berhadapan, saling menatap kuat, tapi kemudian Tuan Leon merangkul putranya itu dan menepuk punggungnya beberapa kali.
Semua kembali pada pembicaraan semula yang tadi sempat tertunda. Evelyin terlihat terus menempel ketat Dirga dan memeluknya erat membuat Manda jengah.
"Mana istrimu yang mau kau perkenalkan itu nak..?"
Tanya Tuan Alan seakan tidak sabar. Yang lain juga terlihat sama tidak sabarnya.
"Sebentar lagi..Lee sedang menjemputnya.!"
Ucap Dirga, sebenarnya diapun sudah tidak sabar menanti kedatangan Mayra. Perasaannya dari tadi khawatir dan tidak nyaman. Sungguh urusan pekerjaannya hari ini membuat dia tidak bisa berkutik dan mengambil semua waktunya.
Lee sudah tidak nampak di ruangan itu. Dia sedang keluar untuk menjemput Mayra di gerbang rumah yang cukup jauh dari halaman depan. Aaron memang hanya di utus mengantar nya sampai gerbang saja. Karena dia adalah orang yang tidak pernah menampakkan diri pada dunia luar kecuali untuk urusan tertentu.
Mayra melirik pada Aaron saat Lee sudah muncul mendatanginya.
"Terimakasih Tuan Aneh..maaf atas kejadian tadi, biar saya membawa jas anda untuk di bersihkan..!"
Ucap Mayra sambil kemudian meraih jas Aaron yang tergeletak di dashboard belakang jok. Namun Aaron mencegahnya, dan kini tangan mereka tarik tarikan jas tersebut. Keduanya bertatapan tajam.
"Saya harus bertanggung jawab.!"
Ucap Mayra ngotot mencoba menarik jas nya, tapi Aaron tetap menahannya. Mata mereka semakin panas. Dengan sedikit menghentak Aaron mengambil jas nya membuat tubuh Mayra tertarik dan hampir menabrak dada Aaron kalau saja Mayra tidak menahannya dengan tangan.
Keduanya kembali bertatapan canggung. Wajah Aaron terlihat memerah dan sorot matanya yang setajam elang mengerjap mendapati wajah cantik Mayra berada cukup dekat di hadapannya. Perubahan ekspresi wajah Aaron tersebut membuat ketampanannya kini nampak jelas di depan mata Mayra. Dan Mayra hanya bisa beristighfar di dalam hati karena dia sudah beberapa kali kontak fisik dengan laki-laki aneh ini.
"Nyonya..mari ikut saya..!"
Suara Lee membuat mereka berdua kembali pada keadaan. Mayra mengangguk kemudian dengan perlahan dia keluar dari mobil.
"Terimakasih Tuan Aaron..!"
Ucap Lee seraya membungkuk sedikit kearah Aaron yang hanya terdiam. Setelah itu tanpa basa basi lagi dia melajukan mobilnya dengan kecepatan Cheetah.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....
__ADS_1