
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi ini semua orang yang ada di apartemen tempat tinggal Mayra tampak sibuk.
Pagi-pagi pagi sekali Lee sudah datang bersama dengan Dokter Rayen.
Lee langsung sibuk dengan urusan pekerjaan yang dari hari kemarin cukup terbengkalai.
Sementara Dokter Rayen saat ini sedang berada di kamar utama memeriksa kondisi Dirga. Kelihatannya luka yang kemarin dijahitnya sudah mulai mengering. Hal ini karena perawatan cukup baik yang telah dilakukan oleh Mayra semalam hingga membuat dia hampir tidak memejamkan matanya sama sekali.
"Ini sudah lumayan kering, beberapa hari lagi juga sepertinya bisa sembuh. Asal kau jangan terlalu banyak melakukan hal yang berat."
Ucap Dokter Rayen sambil mengganti kain perban di luka Dirga. Kemudian membebatnya kembali dengan kain yang baru.
"Hemm.."
Dirga hanya berdehem saja sambil mencoba menggerakkan tangan kiri yang terluka tersebut.
"Istri mu kelihatannya cukup ahli dalam merawat mu. Kau beruntung memiliki nya.!"
Kembali ucap Dokter Rayen sambil tersenyum tipis.
Dia benar-benar merasa iri pada Dirga yang notabene nya adalah sahabat semasa kuliahnya itu bisa beruntung mendapatkan istri kedua secantik dan seanggun Mayra.
Dia mengetahui semuanya dari sekretaris Lee.
"Jangan berpikiran macam-macam kamu.!"
Ancam Dirga sambil menatap tajam Dokter Rayen setelah melihat reaksinya saat berbicara tentang Mayra. Dokter Rayen kembali tersenyum kecut.
"Mana mungkin aku berani macam-macam terhadap apa yang sudah jadi milikmu.! Kecuali kalau kamu sudah tidak menginginkan nya lagi.!"
"Hehh..! mau mati kamu..!!"
"Bercanda bro..! serius banget.!"
Ucap Dokter Rayen sambil nyengir kemudian berdiri dan membereskan semua peralatan medisnya.
Bersamaan dengan kemunculan Mayra ke dalam kamar membawa nampan berisi bubur panas dan juga segelas air putih serta irisan buah-buahan segar.
Dia menyimpan nampan itu di atas nakas.
"Bagaimana dengan lukanya Dokter.?"
Tanya Mayra sambil kemudian duduk di pinggir tempat tidur dengan membawa serta mangkuk bubur berniat untuk menyuapi Dirga.
Dokter Rayen malah terdiam, terkesima melihat semua yang di lakukan oleh wanita cantik berhijab itu. Semua nampak begitu luwes, santun dan sangat menarik.
"Ehemm..!!"
Dirga kesal setengah mati dengan kelakuan Dokter Rayen yang terang-terangan mengagumi istrinya itu
di depan matanya sendiri.
Dokter Rayen tersentak, lalu tersenyum malu sendiri.
Dia melirik pada Dirga yang sudah mengirimkan tatapan menghunus ke arahnya.
"Ohh.. maaf nyonya, apa yang tadi anda tanyakan..?
maklum saya suka hilang fokus kalau berhadapan dengan raja yang satu ini.!"
Ucap Dokter Rayen sambil melirik sinis ke arah Dirga.
Mayra hanya tersenyum lucu mendengar ucapan Dokter Rayen.
"Bagaimana keadaan luka suami saya Dok.?"
Deg !
Jantung Mayra dan juga Dirga tiba-tiba terguncang oleh kata-kata yang Mayra ucapkan sendiri barusan .
Suami..??
Apa sekarang aku sudah bisa menerimanya.?
Gumam Mayra dalam hati. Begitupun dengan isi hati
Dirga, dia tampak terkesima sebentar saat mendengar Mayra mengucapkan kata suami untuknya.
Apakah dia sudah menerima ku sebagai suaminya?
Tiba-tiba hatinya terasa hangat, mengalirkan suatu perasan bahagia yang tidak bisa di jabarkan.
__ADS_1
"Sepertinya sebentar lagi juga lukanya akan segera sembuh nyonya, apalagi kalau nyonya yang
merawatnya.."
Ucap Dokter Rayen membuyarkan lamunan kedua pasang suami istri itu. Mayra mengangguk dengan wajah memerah namun terlihat lega.
"Syukur lah kalau begitu ."
Ucapnya pelan. Kemudian perlahan dia mulai menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Dirga yang terlihat menatapnya dalam diam, kemudian menerima suapan itu dengan tenang.
"Baik kalau begitu, urusan saya sudah selesai di sini.! Jadi saya mau permisi ! jangan lupa obatnya nyonya, di minumkan.!"
Ucap Dokter Rayen sambil membungkuk sopan dan mengedipkan mata pada Dirga.
"Terimakasih Dokter untuk semuanya.."
Sambut Mayra yang juga mengangguk sopan.
Sementara Dirga hanya melengos sebal sambil menepiskan jarinya mengusir Dokter yang juga sahabatnya itu.
Dokter Rayen mendengus kesal kearah Dirga kemudian dia keluar dari dalam kamar.
Mayra kembali menyuapi Dirga dengan telaten di balas tatapan Dirga yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya itu.
"Maaf..kalau bukan karena aku, kau tidak akan mengalami semua ini."
Lirih Mayra sambil menatap lembut wajah Dirga.
"Aku sudah bilang, ini bukan salahmu.! kenapa kamu terus saja mengatakan kalau ini salahmu.!"
Sergah Dirga kesal. Mayra menunduk.
"Memang ini salahku."
"Kalau begitu kau harus membayarnya.!"
"Hahh..? kok gitu.? bayar bagaimana.?"
"Kau harus memandikan ku..!"
"Apa..?? tapi kau masih terluka.!"
"Aku harus ke kantor sekarang, banyak pekerjaan yang harus aku bereskan..!"
"Tapi keadaanmu masih seperti ini, bagaimana kamu bisa bekerja.!"
"Kau ini..! dasar mesum..!!"
Gerutu Mayra sambil kemudian cepat berdiri dari duduknya karena Dirga sudah mendesak ingin menciumnya.
"Minum obat nya dulu."
Ucap Mayra sambil menyodorkan obat ke mulut Dirga.
"Setelah itu kita mandi bersama.!"
Ucap Dirga sambil tersenyum usil. Mayra mendelik kesal. Dirga cepat menelan obat yang ada di tangan Mayra sampai Mayra terperanjat kaget. Namun kemudian dia menyodorkan air putih dan Dirga meminumnya.
Setelah itu Dirga benar-benar membuktikan ucapannya, seperti orang yang tidak sedang terluka, dalam sekali gerakan dia mengangkat tubuh Mayra di bawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah mereka melakukan olahraga pagi sekaligus mandi bersama hingga menghabiskan waktu sampai satu setengah jam lamanya.
***** *****
Sementara itu di rumah besar tempat tinggal Evelyin dan Dirga tengah terjadi keributan besar saat ini.
Evelyin yang baru pulang pagi setelah kembali dari kesibukan syutingnya sedang meluapkan kemarahannya pada semua pelayan dan juga barang yang ada di ruang tengah rumah nya.
Sudah dua hari dia mendapati kenyataan bahwa Dirga tidak pulang ke rumahnya dan tidak ada kabar darinya.
Telponnya tidak pernah di angkat dan di responnya.
Dia juga sedang terbakar emosi dari kemarin saat melihat foto-foto Mayra yang mengguncang dunia fashion. Yang lebih membuat dia emosi adalah karena produk yang di bawakan oleh Mayra adalah produk fashion mahal dan berkelas keluaran butik adik ipar dan juga ibu mertuanya sendiri.
Bagaimana bisa wanita itu terhubung dengan keluarga dekatnya, dan adik ipar yang sangat tidak di sukainya itu.? Apakah Agam yang melakukan semua ini.?
Apakah saudara sepupu suaminya itu serius ingin menjadikan wanita murahan itu sebagai bagian dari keluarga besar Leonardo Moolay ??
"Kalian semua sampah tidak berguna.! Percuma aku menggaji kalian dengan bayaran besar..Aarrghh.!!"
Teriak Evelyin sambil mendorong guci antik yang ada di dekat tangga hingga hancur berkeping-keping.
Pak Agus dan pelayan yang lain tampak terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Agus sudah mencoba menghubungi sekretaris Lee dan dia mengatakan kalau tuan mudanya sedang tidak ingin di ganggu.
__ADS_1
"Aguuss..!! terus hubungi sekretaris sialan itu.! katakan padanya ! suruh suamiku pulang sekarang juga, kalau tidak aku akan melakukan sesuatu pada diriku sendiri..!!"
Teriak Evelyin dari atas tangga sambil menatap tajam ke arah Pak Agus yang menunduk dan segera mengangguk kemudian kembali melakukan panggilan pada Lee.
"Hallo..Lee..nyonya muda semakin murka, dia mengancam akan melakukan sesuatu pada dirinya."
"Haiss..dasar wanita aneh.!! katakan saja padanya saat ini tuan muda sedang terluka. Dia ada di kantor sekarang jadi tidak bisa pulang.!"
Desis Lee dari ujung telpon.
"Apa yang terjadi dengan tuan muda ?"
Tanya Pak Agus cemas.
"Terjadi penyerangan kemarin malam, tuan muda terkena sabetan pisau di bahunya."
"Bagaimana kondisinya sekarang.?"
"Sudah lebih baik. Istri keduanya merawatnya dengan sangat baik."
"Ohh syukurlah. Aku semakin tidak sabar ingin bertemu dengannya secara langsung."
"Yasudah kau katakan saja seperti apa kataku tadi pada nyonya Evelyin.!"
"Baiklah akan aku sampaikan "
Sahut Pak Agus kemudian menutup telponnya. Pak Agus adalah orang yang tahu tentang pernikahan Mayra dengan Dirga di rumah ini.
Dengan bergegas Pak Agus naik ke lantai atas untuk memberi kabar pada nyonya muda arogan nya itu.
Sampai di depan pintu dia mengetuknya beberapa kali sampai akhirnya Evelyin muncul dengan raut muka yang sudah sangat berantakan.
"Apa katanya.?!"
"Maaf nyonya , sekretaris Lee bilang tuan muda sedang terluka karena terjadi penyerangan tadi malam.."
"Apa ?? kenapa tidak ada yang mengabari ku..?!"
"Sepertinya tuan tidak ingin membuat nyonya khawatir."
"Yasudah..apa sekarang dia di kantor.?"
"Benar nyonya."
"Sudah, kau boleh pergi, siapkan supir untukku.!"
"Baik nyonya, saya permisi."
Ucap Pak Agus sambil kemudian pergi dari hadapan Evelyin yang terlihat sangat kacau setelah tahu kalau Dirga terluka.
Selepas membersihkan diri terlebih dulu, dan memoles wajah serta berpakaian dengan gaya seperti biasanya yang selalu tampil all-out, Evelyin bergegas pergi menuju ke kantor Dirga di antar oleh supir.
Selama di perjalanan dia mencoba terus menghubungi ponsel Dirga, namun sudah tidak aktif sama sekali.
"Kenapa kamu tidak mengabari aku sih honey..apa aku sudah tidak artinya di mata kamu..!"
Gumam Evelyin geram sendiri.
"Apa jangan2 gara-gara wanita semalam nya itu dia jadi berubah.? tidak mungkin dia bisa berpaling begitu saja dariku.! Aku adalah segalanya bagi dia, aku adalah hidupnya..! Apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan ku.!"
Evelyin terus berargumen sendiri dalam hatinya.
Namun kini muncul rasa was-was sendiri dalam hatinya. Dia mencoba menghubungi seseorang.
"Hallo..kau bisa membantu ku menyelidiki sesuatu.?"
"...."
"Aku ingin kamu mencari tahu, siapa wanita yang di nikahi suamiku.!"
"...."
"Baiklah..kalau sudah kau dapatkan identitasnya cepat kirimkan laporannya padaku.!"
Evelyin menutup telponnya dengan raut muka penuh kekesalan dan juga amarah.
"Liat saja honey..sampai sekarang kau masih menyimpan rapat wanita sialan itu.! Aku akan menemukan nya sendiri..!!"
Gumam Evelyin mengeratkan giginya. Dia sekarang sungguh menyesali keputusannya telah menyuruh suaminya itu untuk mencari wanita pendamping baginya.
Semula dia hanya ingin menutupi kelemahan dirinya yang tidak akan bisa memberi keturunan pada Dirga, sebab waktu memulai kariernya dulu, karena gaya hidup dan pergaulan bebasnya, dia memutuskan untuk mengangkat rahimnya karena tidak ingin ada masalah dengan kehidupan bebasnya itu.
Namun akhirnya dia menemukan laki-laki yang bisa memberinya kepuasan lahir bathin. Dia sudah menemukan ladang emasnya yang tidak akan pernah rela untuk di lepaskan nya begitu saja seandainya suaminya itu tahu kalau dirinya sudah tidak bisa di harapkan akan memberinya keturunan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....