
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi kembali menyambut dunia dengan sinar mentari yang masih setia menemani. Kicau burung di pepohonan juga masih bernyanyi dengan riang nya seakan tanpa beban.
Setelah melaksanakan sholat subuh Mayra kembali merebahkan tubuhnya di samping Dirga.
Mereka berdua memang kelelahan, lelah jiwa dan raganya. Rasanya masalah demi masalah tiada henti datang bertubi-tubi menimpa kehidupan mereka, seakan tanpa jeda.
Mayra kembali masuk kedalam dekapan hangat sang suami yang mampu memberinya kedamaian dan kenyamanan. Namun matanya ternyata tidak bisa lagi untuk terpejam.
Dia malah asik memandangi detail wajah Dirga yang begitu sempurna di matanya. Tangannya bergerak lembut mengelus rahang kokoh suaminya itu dan mengukir halus tanda cinta di sekitar pipi sampai ke dagunya. Sementara Dirga masih terlelap dalam tidur nyenyak nya, karena dia tahu kalau obat tidurnya kini ada dalam dekapannya.
...... .....
Mayra turun ke lantai bawah, langsung menuju ke dapur untuk memasak sarapan pagi.
"Selamat pagi nyonya.."
"Pagi nyonya.."
Sapa para pelayan yang berpapasan dengannya.
Mayra menyambut sapaan mereka dengan ramah dan tersenyum manis.
"Apa nyonya menginginkan sesuatu.?"
Tanya Tina sambil mengikuti Mayra ke dapur.
Kitchen set yang sangat modern di rumahnya ini membuat Mayra selalu semangat untuk melakukan perannya sebagai seorang istri.
"Aku mau buat sarapan pagi sendiri Tina, tolong siapkan saja bahan-bahannya.."
"Baik Nyonya.."
Sambut Tina. Dia langsung memberikan instruksi pada 2 pelayan yang mempunyai tugas bagian memasak. Dan merekapun sibuk menyiapkan semua yang dibutuhkan oleh nyonya muda nya itu.
Mayra dengan semangat langsung berkutat dengan kegiatan memasak nya. Ini adalah kegiatan yang sangat di gemari nya melebihi pekerjaannya sebagai sekretaris ataupun selebritis.
Para pelayan di bagian dapur nya dengan senang hati selalu sigap membantu dan menyiapkan apapun yang di butuhkan oleh majikannya itu.
Setelah semua selesai, Mayra akhirnya membuka apron yang dipakainya, kemudian beralih menyeduh teh hijau untuk Dirga, dan segera membawanya ke kamar.
Sampai ke dalam kamar, Dirga tampak masih terlentang di atas tempat tidur.
Mayra menyimpan teh hijau di atas nakas kemudian perlahan dia naik keatas tempat tidur bermaksud membangunkan suaminya itu.
Namun sesaat kemudian dia memekik kaget ketika tiba-tiba Dirga membuka selimut dan dengan gerakan cepat menarik tubuhnya jatuh di atas badannya.
Dia semakin terperanjat kala melihat Dirga sudah dalam keadaan polos tak memakai apapun.
Kemudian dengan cepat Dirga membalikan tubuh Mayra dan langsung menindihnya, mengunci gerakannya.
Dirga membuka hijab yang di pakai Mayra dan melepas ikat rambutnya. Kemudian langsung menciumi rambut Mayra menghirup wangi segar yang menguar dari rambutnya itu
"Sayang..ka-kamu mau apa..?!"
Tanya Mayra terbata berusaha berontak ingin keluar dari kungkungan Dirga.
"Kenapa harus bertanya sayang..? Aku sudah lama menahannya..! Sekarang waktunya..!"
Bisik Dirga sambil mulai mencium daun telinga Mayra dan memberikan seringan laba-laba di sekitar tengkuknya membuat Mayra melenguh dan
mendesah pelan. Bibir Dirga mulai sibuk melancarkan serangannya ke semua bagian kesukaannya.
Tangannya dengan lihai dan cepat sudah melucuti seluruh pakaian Mayra. Dan kini mereka sudah sama-sama polos. Dirga yang sudah tidak bisa lagi mengendalikan hasrat nya yang tertahan cukup lama, langsung saja melancarkan aksinya dengan cukup ganas namun tetap selalu menjaga kelembutan di setiap sentuhannya.
Sekarang dia merasa tubuh yang kini sedang
di reguk seluruh kenikmatannya ini harus
benar-benar di jaga dan di lindungi nya dengan sepenuh hati.
Dirga terus mengeksplor seluruh kenikmatan dari tubuh indah istrinya ini dengan segala keahliannya hingga membuat Mayra mendesah, mengerang hingga menjerit kecil karena kelihaian
permainannya yang benar-benar memabukkan.
Ya..kini Mayra menikmati seluruh percintaan ini dengan segenap jiwa dan raganya, menyerahkan
__ADS_1
lahir dan bathin nya sehingga kenikmatan dan kepuasan yang dirasakannya menjadi berkali-kali
lipat rasanya.
Dirga layaknya kuda jantan yang sangat kuat, dia terus memacu permainannya tiada henti sampai beberapa kali mencapai puncak kenikmatan dan akhirnya dia kelelahan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Mayra yang sudah terkulai lemas.
Keduanya kembali berciuman mesra dan saling menyalurkan kepuasan dari sorot mata masing-masing.
Setelah merasa cukup memulihkan tenaganya, Dirga membopong tubuh Mayra di bawa ke kamar mandi. Dengan telaten dan penuh kelembutan dia membersihkan seluruh tubuh Mayra yang sudah di eksplor nya barusan. Dan Mayra hanya membiarkan saja laki-laki yang sudah memiliki seluruh jiwa raganya itu melakukan semua sesuka hatinya
..... .....
Dirga yang sudah berpakaian kerja lengkap keluar dari kamar, kemudian turun ke lantai bawah dengan terus menggandeng Mayra menuju ke ruang makan. Di ruang makan ini terdapat meja makan dengan ukuran yang sangat besar dan memiliki ukiran yang sangat klasik dan antik. Ini adalah meja makan untuk ukuran sebuah keluarga besar.
Dirga duduk di kursi utama di ikuti Mayra yang duduk di samping nya. Semula Dirga menarik Mayra untuk duduk di pangkuannya, namun Mayra menolak dan menatap horor padanya mengingat di sekitar mereka terdapat banyak pelayan yang sedang bersiap melayani.
Dengan wajah kesal Dirga mengibaskan tangan mengusir para pelayan, dia sangat tidak suka kalau acara makan berdua sama istrinya itu ada yang mengganggu. Dan para pelayan pun pergi dari
ruang makan.
Dirga mulai meneguk air putih. Matanya terlihat semangat melihat menu sarapan pagi kali ini.
Dia tahu pasti bahwa Mayra lah yang sudah menyiapkan semuanya. Mayra mulai menuangkan makanan ke piring Dirga.
"Kau yang memasak semua ini.?"
"Hemm..apa kau tidak menyukainya.?"
Tanya Mayra menatap cemas.
"Asal kamu yang masak, aku akan memakannya.!"
Ucap Dirga. Wajah Mayra langsung bersemu merah.
"Kalau ada yang tidak kau suka, katakan saja biar aku bisa memperbaikinya.."
"Hemm.."
Akhirnya mereka memulai sarapannya.
Dirga memang tidak pernah mengatakan apapun
Seperti biasa acara sarapan Dirga selalu di hiasi dengan kebiasaan memandangi wajah cantik nan elok istrinya keduanya itu. Hal ini membuat dia bisa dengan cepat menghabiskan makanannya.
Saat mereka sedang menikmati sarapannya dengan tenang, di ruang keluarga yang sangat luas tengah terjadi sedikit kegaduhan. Lee datang bersama beberapa orang membawa sebuah piano klasik dengan ukuran cukup besar dan terlihat sangat indah.
Tina dan Lee mencoba mengatur posisi piano itu di tempat yang paling tepat agar bisa terlihat indah saat nyonya rumah ini memainkannya.
Dirga sengaja memesan piano ini dari luar negeri setelah mengetahui istrinya itu seorang pianis handal.Dia ingin membuat Mayra senyaman mungkin berada di rumah ini dan bisa melakukan segala hal yang disukainya.
Selesai sarapan mereka berdua masuk ke ruang keluarga dimana di sana Lee dan Tina baru selesai menempatkan piano yang tadi di bawa oleh Lee.
Mayra tampak tertegun melihat sebuah piano indah sudah berada di ruang keluarga rumahnya.
Dia melirik kearah Dirga yang hanya berdiri dengan wajah datarnya.
"Sayang..kenapa harus repot-repot menyiapkan semua ini.?"
Tanya Mayra sambil kemudian berjalan mendekati piano itu. Dirga mengikuti langkahnya.
"Apa kau menyukainya.?"
Tanya Dirga sambil berdiri di samping Mayra yang sudah duduk di kursi dan membuka tutup piano itu.
"Tentu saja. Ini adalah sesuatu yang sangat aku inginkan selama ini."
Jawab Mayra sambil mencoba mengecek setiap tuts dan sedikit memainkannya.
Dirga hanya berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Raut wajahnya terlihat puas.
Setelah puas mengecek, Mayra berdiri dan berhadapan dengan Dirga.
"Terimakasih banyak untuk semuanya.."
Ucapnya seraya memeluk Dirga yang sontak terkejut sesaat, namun kemudian dia juga membalas pelukan hangat istrinya itu.
"Besok malam aku akan membawamu bertemu orang tuaku, mereka kembali hari ini..!"
__ADS_1
Deg !
Jantung Mayra seperti tersumbat sesuatu. Dia tidak bisa bernapas sesaat. Tubuhnya membeku, ada rasa tegang dan gugup yang tiba-tiba menyergap dirinya.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, rileks saja.!"
Kembali ucap Dirga yang tahu situasi. Mayra melepaskan pelukannya kemudian menatap Dirga dengan ragu.
"Aku merasa tidak pantas bertemu dengan mereka. Aku hanya orang rendahan.."
Ucap Mayra pelan. Dirga mengangkat wajah Mayra dan menatapnya intens.
"Mereka yang ingin bertemu denganmu. Buatlah dirimu layak di hadapan mereka.!"
"Tapi sayang..apa mereka akan menerimaku.?"
Keduanya saling menatap dalam.
"Kita lihat saja nanti . Mereka sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu."
Ucap Dirga sambil kembali meraih tubuh Mayra kedalam dekapannya. Keduanya terdiam sambil memejamkan mata. Mayra masih merasa gugup sendiri membayangkan akan segera bertemu dengan kedua mertuanya yang entah bagaimana sipat dan karakternya. Dan apakah mereka bisa menerima kehadiran dirinya yang hanya seorang wanita biasa.
***** *****
Hari ini Mayra pergi ke sebuah studio untuk melakukan syuting iklan sebuah produk smartphone terbaru yang sedang banyak diminati saat ini.
Lawan mainnya di iklan kali ini adalah seorang aktor film terkenal yang memiliki banyak fans.
Walaupun suasana nya masih terasa canggung, namun Agam tetap setia mengantar dan menemani Mayra menjalani syuting nya.
"Nona Mayra..senang sekali bisa bermain bersama di sini.!"
Ucap sang aktor seraya tersenyum.
"Saya yang merasa beruntung bisa bermain dengan aktor sehebat anda."
Sambut Mayra sambil membungkuk sedikit dan tersenyum ramah.
Keduanya kemudian mulai mempersiapkan diri dan melakukan briefing sebentar bersama sutradara serta beberapa kru yang terlibat.
Proses syuting pun di mulai dengan lancar. Tidak ada kesulitan yang berarti bagi mereka. Adegan demi adegan di lakukan dengan natural.
Ada banyak adegan yang memerlukan chemistry yang cukup kuat dari mereka. Karena di sini mereka di satukan dalam sebuah drama pendek.
Syuting ini dibagi menjadi beberapa squence dan memerlukan pergantian kostum hingga 4 kali.
Mayra mencoba menjalani syuting ini
dengan santai. Walau sebenarnya pikirannya saat ini masih teringat pada perkataan Dirga yang akan mempertemukan dirinya dengan kedua orang tuanya. Namun dia berusaha menjalani semuanya
setenang mungkin.
Hingga malam menjelang syuting akhirnya baru bisa selesai. Agam sudah pergi dari tadi siang karena dia harus kembali ke kantornya.
"Terimakasih kerjasamanya Nyonya Moolay..!"
Ucap sang manajer perusahaan smartphone yang sudah mengontrak nya.
"Sama-sama Pak.."
Sambut Mayra dengan sedikit tersipu mendengar panggilan Nyonya Moolay yang disematkan padanya.
Kemudian mereka saling memberi salam dengan cara masing-masing dan mengakhiri perbincangan.
"May..kapan aku bisa datang ke rumah barumu.?"
Tanya Silvia sambil mengemasi semua barang bawaan Mayra.
"Jaraknya cukup jauh Sil, nanti aku share alamatnya ya, kamu datang aja kesana sendiri.."
Sahut Mayra yang sedang merapihkan hijabnya.
"Okedeh.. yasudah aku pulang duluan kalau begitu.! Ada sedikit urusan..!"
Ucap Silvia sambil nyengir dan memeluk Mayra sebentar yang hanya bisa menatap Silvia dengan senyum kecilnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC.....