Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
97. Dibawa pergi


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Dirga memerintahkan Lee dan semua instansi


yang terkait untuk segera mencari persediaan


darah Rhnull Blood di setiap bank darah. Malam


ini semua yang sudah mendapat perintah


bergerak cepat mencari bantuan. Lee juga


langsung memasang iklan di berbagai media


untuk mencari pendonor.


Berita tentang semua rentetan kejadian hari ini


yang dialami Mayra langsung menyebar di media sosial. Di mulai dari kedatangannya yang menghebohkan di Mall, sampai dengan insiden penikaman yang sangat menggemparkan itu.


Semua laman media di penuhi dengan beritanya tersebut. Para wartawan kini berkumpul di halaman depan Rumah Sakit keluarga Moolay. Puluhan fans dan orang-orang yang mengenalnya berdatangan ke rumah sakit tersebut ingin menyampaikan rasa prihatin dengan kondisi Mayra yang saat ini masih dalam keadaan kritis.


Team Dokter rumah sakit yang menangani


Mayra mengatakan kalau sampai pagi nanti


Mayra tidak memperoleh pendonor maka besar kemungkinan nyawanya tidak akan bisa di selamatkan. Atau kalau masih ada keajaiban


juga dia akan mengalami koma. Akibat insiden penusukan kemarin selain Mayra kehabisan


banyak darah, juga menyebabkan luka


yang cukup dalam sehingga arteri koroner


jantung nya terganggu.


Hal ini membuat keadaan Dirga semakin kacau


saja. Dia seperti orang yang sudah kehilangan


harapan hidup. Dia hanya terus menunggui


Mayra di sampingnya yang saat ini sedang


terbaring diantara hidup dan mati. Wajah dan


kulitnya terlihat pucat tanpa rona kehidupan.


Tubuhnya di penuhi oleh alat-alat medis yang menempel di setiap titik vitalnya.


Mata Dirga menatap hampa wajah Mayra yang


begitu pucat tak berdaya.


"Kamu harus bertahan sayang..! Kamu harus


terus berjuang..! Demi aku, demi cinta kita.!


Aku bahkan belum memberimu kebahagiaan


yang sesungguhnya..!"


Lirih Dirga di telinga Mayra. Tangannya tiada


henti mengelus lembut kening dan wajahnya.


"Aku mencintaimu sayang..! Aku sangat


mencintaimu..! Tolong bertahanlah demi aku.!"


Kembali bisik Dirga, air matanya menetes menggambarkan bagaimana hatinya begitu


terluka saat ini. Melihat wanita yang akhir-akhir


ini sudah membuat hidupnya tak karuan terbaring lemah seperti ini, Dirga juga merasa hidupnya kini


hampa dan tidak berdaya.


Waktu terus berjalan, saat ini sudah lewat tengah


malam, keadaan kembali mencekam saat Mayra mengalami kondisi Circling the Drain . Dia kembali


di bawa ruang operasi untuk mendapat penanganan cepat.


Semua orang menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan yang dipenuhi oleh kecemasan.


Pak Bima terlihat duduk lemas tak bertenaga.


Dirga berjalan mondar-mandir sambil terus


menghubungi semua orang yang mendapat


perintah untuk mencari darah yang di butuhkan


Mayra. Tapi sampai lewat tengah malam


seperti ini, belum ada satu orangpun yang


berhasil membawa kabar baik.


Tipe golongan darah Mayra memang


sangat langka, hanya 0,1% di dunia yang


memiliki golongan darah tipe ini.


Dirga semakin kalut, dia menendang dinding dan memukulkan tinjunya kuat. Tuan Leon mencoba


menenangkan nya dengan menepuk bahu nya.


"Kau harus tenang..Kita pasti akan mendapat pendonor untuk nya.."


Ucap Tuan Leon sambil terus menepuk bahu Dirga.


Pintu ruang operasi terbuka, Rayen segera menghampiri Dirga. Semua orang berdiri mendekat dengan harap-harap cemas.


"Keadaanya semakin kritis, harapan hidupnya


sangat tipis. Kalian berdoa lah semoga Tuhan


secepatnya mengirimkan penolong untuknya."


Ucap Rayen lemah. Tubuh Dirga seakan tak


bertulang, dia kembali luruh ke lantai.


Tatapannya terlihat hampa. Semua orang


menjatuhkan diri dengan wajah di rundung


nestapa dan duka yang teramat dalam.


Seorang perawat lari mendekat dan berbisik di


telinga Rayen. Wajah Rayen terlihat sedikit bersemangat, dia dengan cepat membangkitkan


Dirga yang terduduk di lantai.


"Ikut aku..!"


Ucapnya sambil memapah tubuh Dirga yang


sudah kehilangan tenaga. Semua orang menatap


kepergian mereka dengan hampa.


..... ......

__ADS_1


Waktu terus merayap menjelang pagi. Di ruang Emergency VVIP terlihat Mayra terbaring lemah sedang mendapat tindakan transfusi darah. Di


sebelahnya terbaring seorang pria yang sedang menyumbangkan darah berharganya untuk wanita yang kini sedang dalam masa ambang kritis.


Pria itu terlihat menatapnya dengan sorot mata


penuh harapan dan ketulusan. Mata yang penuh dengan cinta dan kerinduan.


Dirga terlihat duduk lemas tidak jauh dari mereka.


Memandang keduanya dengan tatapan tidak rela.


Kenapa harus pria ini yang menjadi penolong


nyawa istrinya. Kenapa harus selalu pria ini yang menyelamatkan nyawa Mayra di saat-saat


genting seperti sekarang ini.


Ya..saat ini Aaron lah yang sedang menyumbangkan darah nya untuk Mayra. Lagi-lagi Aaron datang di


waktu yang tepat saat nyawa Mayra terancam.


Dia sengaja terbang jauh-jauh dari negaranya


setelah mendengar insiden yang menimpa Mayra. Kebetulan golongan darahnya sama dengan Mayra.


Entah ini kebetulan ataukah memang takdir yang


senantiasa mempertemukan mereka. Keduanya


seakan saling terkait satu sama lain.


** flashback On **


Dirga dan Rayen masuk ke ruangan kerja Rayen.


Mereka tampak terkejut saat melihat Aaron


sudah berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat dingin tanpa ekspresi sama sekali. Tapi itu bukanlah tampang muka yang selama ini selalu di perlihatkan olehnya. Sekarang ini dia ada dalam


mode amarah yang melebihi batas.


"Menjaga satu wanita saja kamu tidak bisa.! Bagaimana kamu memutuskan untuk memiliki


dua wanita sekaligus..!!


Ucap Aaron dingin. Dia sungguh berbeda dari biasanya. Aura asli seorang keturunan De Enzo


keluar saat ini. Dirga menghampiri Aaron dan


tanpa basa basi dia langsung memukul Aaron di wajahnya satu kali. Tapi ketika dia ingin memukul


lagi lengannya di cekal oleh Aaron dan di kuncinya


hingga Dirga tidak bisa lagi bertindak.


"Lampiaskan kekesalan mu di lain waktu, sekarang


aku datang untuk menyelamatkan nyawa wanita


yang aku cintai..!"


"Brengsek !! Wanita yang kamu cintai itu istriku.!!"


"Aku tahu.! tapi kamu tidak becus menjaganya..!!


"Dasar pengkhianat kamu !! Kalau aku tidak dalam


kondisi terdesak seperti ini, aku juga tidak sudi


kamu memberikan darahmu untuk istriku.!"


Bentak Dirga dengan menggertakan gigi.


"Mungkin takdir Cinta nya ada bersamamu. Tapi


menolong nya dengan satu syarat..!"


"Cihh ! kau bilang mencintai nya, tapi kenapa masih ada syarat saat kamu mau menyelamatkan nya.!"


"Ini demi kebaikannya..!!"


Debat Aaron dengan mata yang sudah menyala.


Dirga menatap Aaron penuh emosi.


"Katakan.. apa syaratnya.?!"


"Aku akan membawanya bersamaku.! "


"Apa..?? Kau gila..??!!"


"Tidak ada penawaran..!!"


** flashback off **


***** *****


Keadaan Mayra sudah mulai stabil setelah


mendapat transfusi darah beberapa labu, hingga membuat Aaron tampak sedikit pucat dan lemas.


Tak ada penawaran lagi, Dirga terpaksa harus rela melepaskan Mayra pergi bersama dengan Aaron.


Setelah perdebatan panjang dan kesepakatan


bersama, untuk sementara waktu Mayra akan


tinggal dalam pengawasan Aaron.


Rencananya Aaron akan membawa Mayra pergi


nanti malam, dan hari ini adalah kesempatan


terakhir bagi Dirga dan keluarganya untuk bisa


melihat Mayra sebelum masa pengasingannya.


Semua ini demi kebaikan dan keselamatan Mayra sendiri. Dirga sendiri memang menyadari, selama


Mayra hidup bersamanya, hanya ada ketakutan


dan musibah yang terus terjadi dan menimpanya.


Sampai saat ini Mayra belum lah sadar setelah


masa kritis nya lewat. Dia masih dalam masa pemulihan pasca operasi dan transfusi darah.


Dokter ahli yang menangani Mayra mengatakan


karena trauma berat yang di alaminya kemungkinan


kesadaran Mayra untuk pulih akan memakan


waktu hingga beberapa hari.


Seharian ini Dirga tidak pernah jauh dari sisi


Mayra.Dia duduk di kursi di samping Mayra, memegang tangannya, mengelus wajahnya


yang masih pucat seperti kapas. Tatapannya


terlihat hampa dan kosong. Mayra saat ini


bolehlah selamat, tapi sebagai gantinya mereka


akan tinggal berjauhan.

__ADS_1


Syarat yang di ajukan Aaron memang tidaklah


masuk akal, dimana dia meminta istri nya itu


untuk tinggal beberapa waktu bersamanya. Ini sungguh tidak masuk akal. Tapi janji adalah janji,


asal Aaron tidak meminta dirinya untuk


melepaskan Mayra selamanya dari sisinya,


maka Dirga masih bisa menerima syarat ini.


"Pandanglah dia sepuasmu..! Setelah ini aku


yang akan setiap hari melihatnya, bersamanya..!"


Ucap Aaron dengan wajah datar dan gaya yang


santai, berdiri di sisi kiri ranjang tempat Mayra


berbaring dengan memasukan kedua tangan ke


saku celananya. Dirga menatap tajam Aaron dan mengepalkan tangannya kuat .


"Aku peringatkan padamu, jangan pernah berani menyentuhnya selama dia tinggal bersama dengan mu..! Kau akan tahu akibatnya nanti.!"


Gertak Dirga dengan wajah memerah. Aaron


hanya mendengus dan memalingkan mukanya.


"Kau bereskan saja masalahmu dengan wanita pertamamu itu, dia adalah biang kesengsaraan


yang telah Mayra alami.!!"


Dengus Aaron. Dirga terdiam dan tampak merenung.


"Kalau kau tidak bisa membereskannya aku


bisa dengan mudah melenyapkan nya dengan tanganku sendiri..!"


Kembali ucap Aaron sambil kemudian berlalu


pergi keluar ruangan.


Dirga kembali berpaling pada Mayra. Dia


menatap lekat wajah pucat Mayra. Kemudian


perlahan mencium keningnya lama. Ada


setetes air mata yang jatuh dari sudut matanya membasahi pipi Mayra. Hatinya saat ini terasa


sangat berat dan sakit mengingat Mayra akan


pergi darinya.


"Ini semua demi kebaikan mu sayang..Aku akan


segera menjemputmu..! Aku janji tidak akan lama."


Ucap Dirga sambil mencium tangan Mayra.


Ditatapnya kembali wajah pucat itu tiada bosan.


..... .....


Tengah malam di rumah sakit megah keluarga


Moolay di warnai kesibukan dari beberapa orang.


Mayra dibawa keluar dari ruang rawat inap nya


dengan pengawalan khusus beberapa team dokter


masuk ke dalam lift khusus menuju ke parkiran basement. Dirga setia mendampingi berjalan di samping nya dengan tampang yang tidak karuan.


Kalau keadaan Mayra sudah lebih baik dan bisa terlepas dari peralatan medis mungkin Dirga yang akan langsung memangku dan memeluk tubuh


rapuh itu seperti yang biasa dia lakukan.


Tapi saat ini kondisi Mayra masih belum stabil, beberapa alat bantu masih menempel di tubuhnya untuk menjaga kestabilan kondisinya.


Akhirnya sebuah ambulance khusus keluar


dari area parkir khusus rumah sakit di ikuti oleh beberapa mobil pengantar. Dirga berada di dalam ambulance setia menemani Mayra setiap saat.


Selama perjalanan Dirga tak henti memegang


tangan Mayra dan menciuminya. Dia harus rela,


dia harus yakin ini semua demi kebaikan Mayra.


Akhirnya rombongan tiba di bandara dan


langsung masuk jalur khusus menuju landasan pesawat pribadi. Sampai di parkiran semua


team khusus kembali sibuk memasang


peralatan lengkap perawatan tingkat Wahid


di dalam pesawat pribadi milik Aaron di pimpin


oleh Rayen.


"Aaron..! Aku serahkan kesehatan dan keselamatan Mayra padamu.!"


Ucap Dirga sambil menatap Mayra saat dia sudah kembali di baringkan di dalam ranjang khusus di


kabin pesawat.


"Hemm..Aku akan menjaganya dengan nyawaku.!"


Sahut Aaron. Dirga tampak berkaca-kaca


mendengar ucapan Aaron. Dia tidak pernah


menduga bahwa sahabat dinginnya itu akan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada wanita yang


sudah menjadi miliknya.


"Aku rela membiarkan istriku pergi denganmu


semata mata demi kebaikannya. Aku minta


jagalah dia baik-baik..!"


Kembali ucap Dirga sambil kemudian mengecup


kening Mayra dan mencium lembut bibir nya.


Setelah itu kembali menatapnya dalam.


Dirga berdiri goyah hampir kehilangan


keseimbangan saat pesawat yang membawa


Mayra pelan-pelan mulai mengudara kemudian terbang menjauh.


Saat ini dia benar-benar kehilangan tenaga dan semangat hidup. Lee membantu menopang


tubuh Tuannya yang kini goyah, tidak seperti


biasanya yang selalu kuat, tegar dan gagah berani dalam situasi apapun. Tapi kali ini dia telah kalah..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2