
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dirga memerintahkan Lee dan semua instansi
yang terkait untuk segera mencari persediaan
darah Rhnull Blood di setiap bank darah. Malam
ini semua yang sudah mendapat perintah
bergerak cepat mencari bantuan. Lee juga
langsung memasang iklan di berbagai media
untuk mencari pendonor.
Berita tentang semua rentetan kejadian hari ini
yang dialami Mayra langsung menyebar di media sosial. Di mulai dari kedatangannya yang menghebohkan di Mall, sampai dengan insiden penikaman yang sangat menggemparkan itu.
Semua laman media di penuhi dengan beritanya tersebut. Para wartawan kini berkumpul di halaman depan Rumah Sakit keluarga Moolay. Puluhan fans dan orang-orang yang mengenalnya berdatangan ke rumah sakit tersebut ingin menyampaikan rasa prihatin dengan kondisi Mayra yang saat ini masih dalam keadaan kritis.
Team Dokter rumah sakit yang menangani
Mayra mengatakan kalau sampai pagi nanti
Mayra tidak memperoleh pendonor maka besar kemungkinan nyawanya tidak akan bisa di selamatkan. Atau kalau masih ada keajaiban
juga dia akan mengalami koma. Akibat insiden penusukan kemarin selain Mayra kehabisan
banyak darah, juga menyebabkan luka
yang cukup dalam sehingga arteri koroner
jantung nya terganggu.
Hal ini membuat keadaan Dirga semakin kacau
saja. Dia seperti orang yang sudah kehilangan
harapan hidup. Dia hanya terus menunggui
Mayra di sampingnya yang saat ini sedang
terbaring diantara hidup dan mati. Wajah dan
kulitnya terlihat pucat tanpa rona kehidupan.
Tubuhnya di penuhi oleh alat-alat medis yang menempel di setiap titik vitalnya.
Mata Dirga menatap hampa wajah Mayra yang
begitu pucat tak berdaya.
"Kamu harus bertahan sayang..! Kamu harus
terus berjuang..! Demi aku, demi cinta kita.!
Aku bahkan belum memberimu kebahagiaan
yang sesungguhnya..!"
Lirih Dirga di telinga Mayra. Tangannya tiada
henti mengelus lembut kening dan wajahnya.
"Aku mencintaimu sayang..! Aku sangat
mencintaimu..! Tolong bertahanlah demi aku.!"
Kembali bisik Dirga, air matanya menetes menggambarkan bagaimana hatinya begitu
terluka saat ini. Melihat wanita yang akhir-akhir
ini sudah membuat hidupnya tak karuan terbaring lemah seperti ini, Dirga juga merasa hidupnya kini
hampa dan tidak berdaya.
Waktu terus berjalan, saat ini sudah lewat tengah
malam, keadaan kembali mencekam saat Mayra mengalami kondisi Circling the Drain . Dia kembali
di bawa ruang operasi untuk mendapat penanganan cepat.
Semua orang menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan yang dipenuhi oleh kecemasan.
Pak Bima terlihat duduk lemas tak bertenaga.
Dirga berjalan mondar-mandir sambil terus
menghubungi semua orang yang mendapat
perintah untuk mencari darah yang di butuhkan
Mayra. Tapi sampai lewat tengah malam
seperti ini, belum ada satu orangpun yang
berhasil membawa kabar baik.
Tipe golongan darah Mayra memang
sangat langka, hanya 0,1% di dunia yang
memiliki golongan darah tipe ini.
Dirga semakin kalut, dia menendang dinding dan memukulkan tinjunya kuat. Tuan Leon mencoba
menenangkan nya dengan menepuk bahu nya.
"Kau harus tenang..Kita pasti akan mendapat pendonor untuk nya.."
Ucap Tuan Leon sambil terus menepuk bahu Dirga.
Pintu ruang operasi terbuka, Rayen segera menghampiri Dirga. Semua orang berdiri mendekat dengan harap-harap cemas.
"Keadaanya semakin kritis, harapan hidupnya
sangat tipis. Kalian berdoa lah semoga Tuhan
secepatnya mengirimkan penolong untuknya."
Ucap Rayen lemah. Tubuh Dirga seakan tak
bertulang, dia kembali luruh ke lantai.
Tatapannya terlihat hampa. Semua orang
menjatuhkan diri dengan wajah di rundung
nestapa dan duka yang teramat dalam.
Seorang perawat lari mendekat dan berbisik di
telinga Rayen. Wajah Rayen terlihat sedikit bersemangat, dia dengan cepat membangkitkan
Dirga yang terduduk di lantai.
"Ikut aku..!"
Ucapnya sambil memapah tubuh Dirga yang
sudah kehilangan tenaga. Semua orang menatap
kepergian mereka dengan hampa.
..... ......
__ADS_1
Waktu terus merayap menjelang pagi. Di ruang Emergency VVIP terlihat Mayra terbaring lemah sedang mendapat tindakan transfusi darah. Di
sebelahnya terbaring seorang pria yang sedang menyumbangkan darah berharganya untuk wanita yang kini sedang dalam masa ambang kritis.
Pria itu terlihat menatapnya dengan sorot mata
penuh harapan dan ketulusan. Mata yang penuh dengan cinta dan kerinduan.
Dirga terlihat duduk lemas tidak jauh dari mereka.
Memandang keduanya dengan tatapan tidak rela.
Kenapa harus pria ini yang menjadi penolong
nyawa istrinya. Kenapa harus selalu pria ini yang menyelamatkan nyawa Mayra di saat-saat
genting seperti sekarang ini.
Ya..saat ini Aaron lah yang sedang menyumbangkan darah nya untuk Mayra. Lagi-lagi Aaron datang di
waktu yang tepat saat nyawa Mayra terancam.
Dia sengaja terbang jauh-jauh dari negaranya
setelah mendengar insiden yang menimpa Mayra. Kebetulan golongan darahnya sama dengan Mayra.
Entah ini kebetulan ataukah memang takdir yang
senantiasa mempertemukan mereka. Keduanya
seakan saling terkait satu sama lain.
** flashback On **
Dirga dan Rayen masuk ke ruangan kerja Rayen.
Mereka tampak terkejut saat melihat Aaron
sudah berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat dingin tanpa ekspresi sama sekali. Tapi itu bukanlah tampang muka yang selama ini selalu di perlihatkan olehnya. Sekarang ini dia ada dalam
mode amarah yang melebihi batas.
"Menjaga satu wanita saja kamu tidak bisa.! Bagaimana kamu memutuskan untuk memiliki
dua wanita sekaligus..!!
Ucap Aaron dingin. Dia sungguh berbeda dari biasanya. Aura asli seorang keturunan De Enzo
keluar saat ini. Dirga menghampiri Aaron dan
tanpa basa basi dia langsung memukul Aaron di wajahnya satu kali. Tapi ketika dia ingin memukul
lagi lengannya di cekal oleh Aaron dan di kuncinya
hingga Dirga tidak bisa lagi bertindak.
"Lampiaskan kekesalan mu di lain waktu, sekarang
aku datang untuk menyelamatkan nyawa wanita
yang aku cintai..!"
"Brengsek !! Wanita yang kamu cintai itu istriku.!!"
"Aku tahu.! tapi kamu tidak becus menjaganya..!!
"Dasar pengkhianat kamu !! Kalau aku tidak dalam
kondisi terdesak seperti ini, aku juga tidak sudi
kamu memberikan darahmu untuk istriku.!"
Bentak Dirga dengan menggertakan gigi.
"Mungkin takdir Cinta nya ada bersamamu. Tapi
menolong nya dengan satu syarat..!"
"Cihh ! kau bilang mencintai nya, tapi kenapa masih ada syarat saat kamu mau menyelamatkan nya.!"
"Ini demi kebaikannya..!!"
Debat Aaron dengan mata yang sudah menyala.
Dirga menatap Aaron penuh emosi.
"Katakan.. apa syaratnya.?!"
"Aku akan membawanya bersamaku.! "
"Apa..?? Kau gila..??!!"
"Tidak ada penawaran..!!"
** flashback off **
***** *****
Keadaan Mayra sudah mulai stabil setelah
mendapat transfusi darah beberapa labu, hingga membuat Aaron tampak sedikit pucat dan lemas.
Tak ada penawaran lagi, Dirga terpaksa harus rela melepaskan Mayra pergi bersama dengan Aaron.
Setelah perdebatan panjang dan kesepakatan
bersama, untuk sementara waktu Mayra akan
tinggal dalam pengawasan Aaron.
Rencananya Aaron akan membawa Mayra pergi
nanti malam, dan hari ini adalah kesempatan
terakhir bagi Dirga dan keluarganya untuk bisa
melihat Mayra sebelum masa pengasingannya.
Semua ini demi kebaikan dan keselamatan Mayra sendiri. Dirga sendiri memang menyadari, selama
Mayra hidup bersamanya, hanya ada ketakutan
dan musibah yang terus terjadi dan menimpanya.
Sampai saat ini Mayra belum lah sadar setelah
masa kritis nya lewat. Dia masih dalam masa pemulihan pasca operasi dan transfusi darah.
Dokter ahli yang menangani Mayra mengatakan
karena trauma berat yang di alaminya kemungkinan
kesadaran Mayra untuk pulih akan memakan
waktu hingga beberapa hari.
Seharian ini Dirga tidak pernah jauh dari sisi
Mayra.Dia duduk di kursi di samping Mayra, memegang tangannya, mengelus wajahnya
yang masih pucat seperti kapas. Tatapannya
terlihat hampa dan kosong. Mayra saat ini
bolehlah selamat, tapi sebagai gantinya mereka
akan tinggal berjauhan.
__ADS_1
Syarat yang di ajukan Aaron memang tidaklah
masuk akal, dimana dia meminta istri nya itu
untuk tinggal beberapa waktu bersamanya. Ini sungguh tidak masuk akal. Tapi janji adalah janji,
asal Aaron tidak meminta dirinya untuk
melepaskan Mayra selamanya dari sisinya,
maka Dirga masih bisa menerima syarat ini.
"Pandanglah dia sepuasmu..! Setelah ini aku
yang akan setiap hari melihatnya, bersamanya..!"
Ucap Aaron dengan wajah datar dan gaya yang
santai, berdiri di sisi kiri ranjang tempat Mayra
berbaring dengan memasukan kedua tangan ke
saku celananya. Dirga menatap tajam Aaron dan mengepalkan tangannya kuat .
"Aku peringatkan padamu, jangan pernah berani menyentuhnya selama dia tinggal bersama dengan mu..! Kau akan tahu akibatnya nanti.!"
Gertak Dirga dengan wajah memerah. Aaron
hanya mendengus dan memalingkan mukanya.
"Kau bereskan saja masalahmu dengan wanita pertamamu itu, dia adalah biang kesengsaraan
yang telah Mayra alami.!!"
Dengus Aaron. Dirga terdiam dan tampak merenung.
"Kalau kau tidak bisa membereskannya aku
bisa dengan mudah melenyapkan nya dengan tanganku sendiri..!"
Kembali ucap Aaron sambil kemudian berlalu
pergi keluar ruangan.
Dirga kembali berpaling pada Mayra. Dia
menatap lekat wajah pucat Mayra. Kemudian
perlahan mencium keningnya lama. Ada
setetes air mata yang jatuh dari sudut matanya membasahi pipi Mayra. Hatinya saat ini terasa
sangat berat dan sakit mengingat Mayra akan
pergi darinya.
"Ini semua demi kebaikan mu sayang..Aku akan
segera menjemputmu..! Aku janji tidak akan lama."
Ucap Dirga sambil mencium tangan Mayra.
Ditatapnya kembali wajah pucat itu tiada bosan.
..... .....
Tengah malam di rumah sakit megah keluarga
Moolay di warnai kesibukan dari beberapa orang.
Mayra dibawa keluar dari ruang rawat inap nya
dengan pengawalan khusus beberapa team dokter
masuk ke dalam lift khusus menuju ke parkiran basement. Dirga setia mendampingi berjalan di samping nya dengan tampang yang tidak karuan.
Kalau keadaan Mayra sudah lebih baik dan bisa terlepas dari peralatan medis mungkin Dirga yang akan langsung memangku dan memeluk tubuh
rapuh itu seperti yang biasa dia lakukan.
Tapi saat ini kondisi Mayra masih belum stabil, beberapa alat bantu masih menempel di tubuhnya untuk menjaga kestabilan kondisinya.
Akhirnya sebuah ambulance khusus keluar
dari area parkir khusus rumah sakit di ikuti oleh beberapa mobil pengantar. Dirga berada di dalam ambulance setia menemani Mayra setiap saat.
Selama perjalanan Dirga tak henti memegang
tangan Mayra dan menciuminya. Dia harus rela,
dia harus yakin ini semua demi kebaikan Mayra.
Akhirnya rombongan tiba di bandara dan
langsung masuk jalur khusus menuju landasan pesawat pribadi. Sampai di parkiran semua
team khusus kembali sibuk memasang
peralatan lengkap perawatan tingkat Wahid
di dalam pesawat pribadi milik Aaron di pimpin
oleh Rayen.
"Aaron..! Aku serahkan kesehatan dan keselamatan Mayra padamu.!"
Ucap Dirga sambil menatap Mayra saat dia sudah kembali di baringkan di dalam ranjang khusus di
kabin pesawat.
"Hemm..Aku akan menjaganya dengan nyawaku.!"
Sahut Aaron. Dirga tampak berkaca-kaca
mendengar ucapan Aaron. Dia tidak pernah
menduga bahwa sahabat dinginnya itu akan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada wanita yang
sudah menjadi miliknya.
"Aku rela membiarkan istriku pergi denganmu
semata mata demi kebaikannya. Aku minta
jagalah dia baik-baik..!"
Kembali ucap Dirga sambil kemudian mengecup
kening Mayra dan mencium lembut bibir nya.
Setelah itu kembali menatapnya dalam.
Dirga berdiri goyah hampir kehilangan
keseimbangan saat pesawat yang membawa
Mayra pelan-pelan mulai mengudara kemudian terbang menjauh.
Saat ini dia benar-benar kehilangan tenaga dan semangat hidup. Lee membantu menopang
tubuh Tuannya yang kini goyah, tidak seperti
biasanya yang selalu kuat, tegar dan gagah berani dalam situasi apapun. Tapi kali ini dia telah kalah..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
__ADS_1