Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
110. Di Sekap


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Bangunan Villa berasitektur Eropa itu berada


di tengah pulau terpencil yang tersembunyi


dikelilingi oleh lautan lepas. Suasananya sedikit mengerikan karena di setiap sudut tempat di jaga ketat oleh orang-orang berpakaian serba hitam


dan berpenampilan menyeramkan.


Mayra membuka matanya perlahan saat sudah


mulai tersadar dari pingsan nya yang cukup lama.


Dengan cepat dia bangkit dan beringsut ke ujung


ranjang seraya mengedarkan pandangan ke


seluruh ruangan, semuanya terasa asing, dia


berada di sebuah ruangan yang bisa di sebut


sebagai kamar. Ruangan ini cukup luas, namun


tidak terdapat perabotan lain selain tempat


tidur yang kini di tempatinya, serta sebuah


nakas dan kursi rotan di dekat jendela.


"Ya Allah..dimana aku.."


Lirih Mayra lemah dengan mata yang masih


mencoba mengawasi keadaan. Suasana di luar


jendela terlihat gelap pekat, menandakan hari


sudah berganti malam. Ketakutan kembali


menguasai Mayra, air mata jatuh begitu saja.


Bayangan wajah Dirga melintas di pikirannya.


"Tolong aku Mas..aku takuut..."


Rintih Mayra memejamkan matanya. Dan


akhirnya dia terisak pilu tak kuasa menahan


rasa takut dan kesedihan.


Mayra terlihat menegang dan waspada saat


handel pintu bergerak, dia semakin menggeser


badannya ke ujung ranjang. Tangannya dengan


kuat mencengkram selimut yang tadi menutupi


tubuhnya dan memegangi perutnya ketakutan.


Pintu terbuka, sosok Jayden muncul di sana.


Tapi tidak sendiri..dia bersama seorang laki-laki


paruh baya yang saat masuk ke kamar sudah


menatap Mayra dengan sorot mata kelaparan.


Mayra menatap tajam kearah dua laki-laki asing


itu, dia mencoba mengingat sesuatu, bukankah


itu laki-laki pemabuk yang pernah ingin melecehkan dirinya waktu pesta Gala Dinner dulu.??


Jayden berdiri tegak dengan wajah sedingin salju


dan sedatar triplek menatap lurus kearah Mayra.


Sementara laki-laki paruh baya yang bermata


jelalatan itu tampak mendekat dengan seringai


senyum jahat mendekati Mayra yang semakin


mundur ketakutan.


"Mau apa kalian..?? kenapa kalian menculikku.?


Apa sebenarnya yang kalian inginkan..?!"


Mayra bertanya dengan suara pelan dan gemetar.


Tubuhnya semakin bergetar karena rasa takut


dan cemas yang kini menguasai dirinya.


"Haha..kau masih ingat denganku nona manis.?


Sampai kapanpun aku akan mengejarmu..! karena


kamu sudah membuat usahaku hancur..!!"


Laki-laki paruh baya itu berkata dengan tak henti


menatap lapar ke arah Mayra.


"A-pa.. maksudmu.? aku tidak mengenalmu


sama sekali..!"


"Haha..karena kamu.! Tuan Dirgantara Moolay


yang sombong itu sudah mengambil alih semua asetku! dan dia sudah menghabisi putraku..!!"


Bentak laki-laki itu dengan mata yang kini


menyala seperti harimau buas yang siap


memangsa. Mayra terbelalak..dia sungguh tidak mengerti maksud ucapan laki-laki berperut buncit itu.


"Aku tidak mengerti maksudmu..! Tolong..biarkan


aku pergi dari tempat ini.."


Mayra mencoba beringsut ingin turun dari tempat


tidur dan matanya melirik sekilas kearah pintu


yang terbuka lebar.


"Kau jangan berpikiran bisa kabur dari tempat ini.


Tidak ada yang bisa lolos dari pulau ini..!!"


Jayden berucap dengan menatap tajam Mayra


yang seketika terdiam mendengar kata pulau.


Laki-laki paruh baya tadi naik keatas tempat tidur


dan mendekati Mayra yang semakin ketakutan.


"Mau apa kamu..! tolong..jangan ganggu aku..!"


Mayra berucap gemetar, matanya semakin


waspada saat melihat laki-laki itu mencoba memerangkap dirinya dengan mengurungnya.


"Jangan mendekat, pergi..!!"


Mayra semakin ketakutan saat tangan laki-laki


itu bergerak ingin menyentuh wajahnya.


"Pergi..!! jangan menyentuhku..!!"


Jerit Mayra saat wajah laki-laki tua itu semakin mendekat kearah wajahnya, dengan reflek Mayra menampar keras muka laki-laki itu sampai


kepalanya berpaling kencang. Seketika mata


laki-laki tua itu berkilat murka, tangannya dengan cepat mencengkram dagu Mayra menekannya


kuat hingga Mayra meringis, air mata sudah


membanjiri pipinya yang bening mulus.


"Aku sudah lama sekali ingin mencicipi..dirimu..!


Walaupun sekarang kamu sedang hamil besar

__ADS_1


tapi dirimu tetap saja sangat menggiurkan..!!"


Desis laki-laki itu semakin merangsek maju.


Matanya tampak merah, napasnya memburu.


"Jangan menyentuhku..!!"


Jerit Mayra mencoba melawan dengan mendorong


dada laki-laki itu yang tak bergeser sedikit pun,


justru semakin maju dan tangan yang satunya


mulai bergerak ingin merenggut hijab Mayra.


"Haha..justru aku sangat ingin menyentuhmu..!


menikmati tubuhmu ini sesuka hatiku..!!"


"Jangan..!! tolong jangan ganggu aku..!!"


Rintih Mayra setengah putus asa. Jayden yang dari


tadi berdiri saja tanpa reaksi , matanya terlihat


berkilat saat melihat laki-laki tua itu memaksa


ingin menjamah tubuh Mayra.


"Amir..! lepaskan dia..!!"


Bentaknya membuat gerakan laki-laki itu terhenti.


Dengan cepat dia menoleh kearah Jayden yang


masih berdiri dengan tatapan dinginnya.


"Apa maksudmu Tuan Jayden.? Wanita ini


sekarang sudah menjadi milikku ! Aku bebas melakukan apapun padanya..!!"


"Kubilang lepaskan..!!"


Kembali Jayden membentak dengan suara


yanglebih dingin dari tadi. Laki-laki paruh baya


yang di panggil Amir itu mendengus geram, dia terpaksa melepaskan cengkraman tangannya


di dagu Mayra yang langsung terisak.


"Aku pastikan akan memiliki tubuhmu ini nona


manis..! tunggu saja waktunya..!"


Dengan seringai kejam dia akhirnya turun dari


tempat tidur membuat Mayra bisa sedikit


bernapas lega, walau tetap saja ini bukanlah


apa-apa. Jayden berbalik kemudian pergi dari


dalam kamar di ikuti oleh Tuan Amir yang masih terlihat menahan amarahnya karena keinginannya untuk menjamah Mayra tidak terlaksana.


"Hiks..hiks..hiks..Ya Allah..tolong hamba Mu ini..


jangan biarkan apapun terjadi padaku dan bayiku.."


Mayra menutup wajahnya dengan tangis yang


semakin tidak bisa di tahan.


"Mas..tolong aku.."


Lirih Mayra semakin tersedu karena hatinya


terasa pedih mengingat entah dimana kini


dirinya berada.


Semalaman Mayra tidak pernah memejamkan


matanya, dia terus menangis meratapi nasibnya.


Ketakutan dan kecemasan membuat dirinya terus waspada. Ada suara sedikit saja dari luar pintu


yang tertutup rapat itu membuat dirinya langsung tegang dan waspada.


lelah, tubuhnya juga lemas tak bertenaga. Tidak


sadar akhirnya mata Mayra terpejam karena tidak


kuat menahan rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya.


*******


Byurrrr....!!


Mayra tersentak dan terbangun seketika saat merasakan tubuhnya tersiram air dingin. Dia


melihat keadaan dirinya kini basah kuyup.


Hawa dingin langsung menyergap tubuhnya


membuat dia menggigil kedinginan. Dia mencoba


mengangkat muka dan matanya langsung tertuju


pada satu sosok wanita yang tengah berdiri


berkacak pinggang di hadapannya, sedang


menatap tajam kearahnya dengan sorot mata


penuh kebencian yang teramat sangat.


Mata Mayra terbelalak tak percaya dengan apa


yang dilihatnya saat ini. Dia mencoba mengerjap


beberapa kali untuk meyakinkan penglihatannya.


"E- Ev..Evelyin..?!"


Gemetar Mayra menyebut nama wanita yang


kini sedang berdiri di hadapannya itu dengan


seringai kejam dan tatapan kebenciannya.


"Hahaa..masih waras rupanya penglihatan mu..!


Iya ini aku..!! Wanita yang sudah kau rebut posisi


nya.! dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah


bisa menerima kekalahan dari wanita hina


sepertimu ! ****** murahan..!!"


Wanita itu yang ternyata Eveliyn berkata dengan


di selingi tawa menakutkan. Mayra menggeleng


tak percaya dengan kenyataan ini.


"Ke-kenapa..kamu ada disini..? bagaimana kau.."


"Haha..apapun bisa aku lakukan nyonya sok


polos.! Lagipula aku memiliki kekasih yang bisa


melakukan apapun..!! apalagi hanya keluar dari penjara..!!"


Mayra menatap Evelyin penuh rasa tak percaya.


Evelyin maju mendekat , kemudian naik ke atas


tempat tidur yang sudah basah oleh siraman air.


Mayra mundur ke ujung ranjang hingga


membentur tepiannya, Evelyin merangsek


maju dan tanpa ampun menarik tengkuk


Mayra yang sontak meringis. tangannya bergerak mencoba menahan cekalan tangan Evelyin.


Namun tangan Eveliyn sebelah lagi kini

__ADS_1


mencengkram dagunya.


"Aku sangat membencimu..! Kau sudah berhasil menghancurkan kehidupan rumah tanggaku


yang bahagia..! Dan sekarang aku hidup dalam


dunia yang tidak jelas.!"


Evelyin berucap sambil kemudian menampar


wajah Mayra dua kali yang langsung memerah.


Mayra meringis menahan rasa panas dan perih di pipinya, dia kemudian terisak dan menatap tajam wajah Evelyin.


"Aku tidak pernah menghancurkan hidupmu..!


kau sendiri yang menjadi penyebabnya..!"


"Diam kamu..!!Di sini kau tidak punya hak untuk


berbicara ! aku yang akan menentukan nasibmu.!


Akan ku pastikan hidupmu berakhir di tempat ini.!


Dan bayi sialanmu ini...!"


Evelyin menyeringai sadis kearah perut Mayra


yang langsung memegang perutnya ketakutan.


"Kau..jangan macam-macam dengan bayiku..!"


Ancam Mayra sambil menggelengkan kepala


dan semakin menatap tajam Evelyin yang


tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau tajam


berkilau.


"Tidak..!! jangan Eveliyn..! sadarlah..! kau juga


seorang wanita.!"


"Diam..!! berisik kamu..!! gara-gara mahluk kecil


ini hidupku hancur.!! iya gara-gara dia..!!"


Tunjuk Eveliyn pada perut Mayra dengan ujung


pisaunya. Mayra semakin ketakutan, Eveliyn


mengusap ujung pisau dengan seringai iblis nya.


"Aku akan mengeluarkan bayi sialanmu ini.!


Akan ku buang ke laut sebagai santapan hiu..


hahaa..aku akan sangat puas sekali..!!"


"Tidak..! jangan Eveliyn.. kumohon jangan lukai


bayi ini, dia tak tidak berdosa..!"


Mayra menjerit dengan tubuh menggigil ketakutan melihat Eveliyn semakin mendekatkan ujung


pisau tajam itu ke tengah perutnya. Dengan


kekuatan penuh dia menendang perut Eveliyn


yang langsung terjungkal kearah belakang.


Dan dengan segera Mayra turun dari tempat


tidur berlari ke arah pintu.


"Mau kemana kamu hahh..! kau pikir kau bisa


kabur dari tempat ini hahh..! tidak semudah itu.!"


Evelyin muncul di belakang dan menarik hijabnya


serta menyeret tubuh Mayra yang kembali


mencoba berontak dengan menampar keras


wajah Evelyin. Tubuhnya terlepas dari cengkraman Evelyin, dia mundur kearah jendela. Evelyin


semakin murka berteriak pada anak buah


Jayden yang berada di luar pintu. Dua laki-laki bertubuh besar muncul ke dalam kamar.


"Ikat wanita itu..!"


Dengan mata yang sudah berkilat murka dia memberi perintah pada dua orang laki-laki bertubuh besar itu. Mereka serentak maju mencekal kedua lengan


Mayra yang sontak menjerit histeris berontak


sekuat tenaga. Namun kekuatan dua laki-laki


besar itu bukanlah tandingannya. Mayra melemah


saat kemudian tubuhnya di ikat di kursi rotan


yang ada di dekat jendela.


"Evelyin..tolong lepaskan aku..! Pakailah hatimu.


Kenapa kamu bisa sejahat ini..! Aku tidak pernah


ingin merusak hidupmu sama sekali..!"


Mayra berucap lemah di sela Isak tangisnya.


Evelyin mendekat kemudian dia menempelkan


pisau nya di dagu Mayra, sedikit saja bergerak


maka pisau itu akan melukai kulitnya.


"Sebelum kamu lenyap, aku tidak akan pernah


bisa hidup dengan tenang..!"


Desis Evelyin di telinga Mayra sambil kemudian


menarik hijab Mayra dan menempelkan pisaunya


di leher Mayra yang langsung terpejam ketakutan.


Tubuhnya gemetar hebat.


"Evelyin..!!"


Jayden berdiri di pintu menatap marah kearah


Eveliyn melihat kondisi Mayra kini. Eveliyn


menoleh cepat menyebabkan pisaunya


menggores bagian kulit leher Mayra dan mengeluarkan darah.


"Apa yang kamu lakukan..!"


Bentak Jayden sambil kemudian dia menarik


paksa Eveliyn keluar kamar.


"Lepaskan aku Jay..akan aku lenyapkan wanita


itu sekarang juga.!"


"Dia adalah bagianku..!!"


Itu adalah perdebatan mereka yang masih bisa


tertangkap oleh telinga Mayra yang kini hanya


bisa menangis pilu menahan segala rasa sakit


yang menderanya. Tubuhnya kini semakin


menggigil, darah yang keluar akibat goresan


pisau Evelyin semakin banyak membuat Mayra lama-lama semakin lemah.


Pandangannya mulai kabur, pendengaran pun


semakin samar, keadaan sekelilingnya seakan berputar, semakin lama keadaan sekitar semakin gelap, sebelum akhirnya dia jatuh kedalam


pelukan kegelapan tangannya masih sempat memegang kuat perutnya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....


__ADS_2