
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bangunan Villa berasitektur Eropa itu berada
di tengah pulau terpencil yang tersembunyi
dikelilingi oleh lautan lepas. Suasananya sedikit mengerikan karena di setiap sudut tempat di jaga ketat oleh orang-orang berpakaian serba hitam
dan berpenampilan menyeramkan.
Mayra membuka matanya perlahan saat sudah
mulai tersadar dari pingsan nya yang cukup lama.
Dengan cepat dia bangkit dan beringsut ke ujung
ranjang seraya mengedarkan pandangan ke
seluruh ruangan, semuanya terasa asing, dia
berada di sebuah ruangan yang bisa di sebut
sebagai kamar. Ruangan ini cukup luas, namun
tidak terdapat perabotan lain selain tempat
tidur yang kini di tempatinya, serta sebuah
nakas dan kursi rotan di dekat jendela.
"Ya Allah..dimana aku.."
Lirih Mayra lemah dengan mata yang masih
mencoba mengawasi keadaan. Suasana di luar
jendela terlihat gelap pekat, menandakan hari
sudah berganti malam. Ketakutan kembali
menguasai Mayra, air mata jatuh begitu saja.
Bayangan wajah Dirga melintas di pikirannya.
"Tolong aku Mas..aku takuut..."
Rintih Mayra memejamkan matanya. Dan
akhirnya dia terisak pilu tak kuasa menahan
rasa takut dan kesedihan.
Mayra terlihat menegang dan waspada saat
handel pintu bergerak, dia semakin menggeser
badannya ke ujung ranjang. Tangannya dengan
kuat mencengkram selimut yang tadi menutupi
tubuhnya dan memegangi perutnya ketakutan.
Pintu terbuka, sosok Jayden muncul di sana.
Tapi tidak sendiri..dia bersama seorang laki-laki
paruh baya yang saat masuk ke kamar sudah
menatap Mayra dengan sorot mata kelaparan.
Mayra menatap tajam kearah dua laki-laki asing
itu, dia mencoba mengingat sesuatu, bukankah
itu laki-laki pemabuk yang pernah ingin melecehkan dirinya waktu pesta Gala Dinner dulu.??
Jayden berdiri tegak dengan wajah sedingin salju
dan sedatar triplek menatap lurus kearah Mayra.
Sementara laki-laki paruh baya yang bermata
jelalatan itu tampak mendekat dengan seringai
senyum jahat mendekati Mayra yang semakin
mundur ketakutan.
"Mau apa kalian..?? kenapa kalian menculikku.?
Apa sebenarnya yang kalian inginkan..?!"
Mayra bertanya dengan suara pelan dan gemetar.
Tubuhnya semakin bergetar karena rasa takut
dan cemas yang kini menguasai dirinya.
"Haha..kau masih ingat denganku nona manis.?
Sampai kapanpun aku akan mengejarmu..! karena
kamu sudah membuat usahaku hancur..!!"
Laki-laki paruh baya itu berkata dengan tak henti
menatap lapar ke arah Mayra.
"A-pa.. maksudmu.? aku tidak mengenalmu
sama sekali..!"
"Haha..karena kamu.! Tuan Dirgantara Moolay
yang sombong itu sudah mengambil alih semua asetku! dan dia sudah menghabisi putraku..!!"
Bentak laki-laki itu dengan mata yang kini
menyala seperti harimau buas yang siap
memangsa. Mayra terbelalak..dia sungguh tidak mengerti maksud ucapan laki-laki berperut buncit itu.
"Aku tidak mengerti maksudmu..! Tolong..biarkan
aku pergi dari tempat ini.."
Mayra mencoba beringsut ingin turun dari tempat
tidur dan matanya melirik sekilas kearah pintu
yang terbuka lebar.
"Kau jangan berpikiran bisa kabur dari tempat ini.
Tidak ada yang bisa lolos dari pulau ini..!!"
Jayden berucap dengan menatap tajam Mayra
yang seketika terdiam mendengar kata pulau.
Laki-laki paruh baya tadi naik keatas tempat tidur
dan mendekati Mayra yang semakin ketakutan.
"Mau apa kamu..! tolong..jangan ganggu aku..!"
Mayra berucap gemetar, matanya semakin
waspada saat melihat laki-laki itu mencoba memerangkap dirinya dengan mengurungnya.
"Jangan mendekat, pergi..!!"
Mayra semakin ketakutan saat tangan laki-laki
itu bergerak ingin menyentuh wajahnya.
"Pergi..!! jangan menyentuhku..!!"
Jerit Mayra saat wajah laki-laki tua itu semakin mendekat kearah wajahnya, dengan reflek Mayra menampar keras muka laki-laki itu sampai
kepalanya berpaling kencang. Seketika mata
laki-laki tua itu berkilat murka, tangannya dengan cepat mencengkram dagu Mayra menekannya
kuat hingga Mayra meringis, air mata sudah
membanjiri pipinya yang bening mulus.
"Aku sudah lama sekali ingin mencicipi..dirimu..!
Walaupun sekarang kamu sedang hamil besar
__ADS_1
tapi dirimu tetap saja sangat menggiurkan..!!"
Desis laki-laki itu semakin merangsek maju.
Matanya tampak merah, napasnya memburu.
"Jangan menyentuhku..!!"
Jerit Mayra mencoba melawan dengan mendorong
dada laki-laki itu yang tak bergeser sedikit pun,
justru semakin maju dan tangan yang satunya
mulai bergerak ingin merenggut hijab Mayra.
"Haha..justru aku sangat ingin menyentuhmu..!
menikmati tubuhmu ini sesuka hatiku..!!"
"Jangan..!! tolong jangan ganggu aku..!!"
Rintih Mayra setengah putus asa. Jayden yang dari
tadi berdiri saja tanpa reaksi , matanya terlihat
berkilat saat melihat laki-laki tua itu memaksa
ingin menjamah tubuh Mayra.
"Amir..! lepaskan dia..!!"
Bentaknya membuat gerakan laki-laki itu terhenti.
Dengan cepat dia menoleh kearah Jayden yang
masih berdiri dengan tatapan dinginnya.
"Apa maksudmu Tuan Jayden.? Wanita ini
sekarang sudah menjadi milikku ! Aku bebas melakukan apapun padanya..!!"
"Kubilang lepaskan..!!"
Kembali Jayden membentak dengan suara
yanglebih dingin dari tadi. Laki-laki paruh baya
yang di panggil Amir itu mendengus geram, dia terpaksa melepaskan cengkraman tangannya
di dagu Mayra yang langsung terisak.
"Aku pastikan akan memiliki tubuhmu ini nona
manis..! tunggu saja waktunya..!"
Dengan seringai kejam dia akhirnya turun dari
tempat tidur membuat Mayra bisa sedikit
bernapas lega, walau tetap saja ini bukanlah
apa-apa. Jayden berbalik kemudian pergi dari
dalam kamar di ikuti oleh Tuan Amir yang masih terlihat menahan amarahnya karena keinginannya untuk menjamah Mayra tidak terlaksana.
"Hiks..hiks..hiks..Ya Allah..tolong hamba Mu ini..
jangan biarkan apapun terjadi padaku dan bayiku.."
Mayra menutup wajahnya dengan tangis yang
semakin tidak bisa di tahan.
"Mas..tolong aku.."
Lirih Mayra semakin tersedu karena hatinya
terasa pedih mengingat entah dimana kini
dirinya berada.
Semalaman Mayra tidak pernah memejamkan
matanya, dia terus menangis meratapi nasibnya.
Ketakutan dan kecemasan membuat dirinya terus waspada. Ada suara sedikit saja dari luar pintu
yang tertutup rapat itu membuat dirinya langsung tegang dan waspada.
lelah, tubuhnya juga lemas tak bertenaga. Tidak
sadar akhirnya mata Mayra terpejam karena tidak
kuat menahan rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya.
*******
Byurrrr....!!
Mayra tersentak dan terbangun seketika saat merasakan tubuhnya tersiram air dingin. Dia
melihat keadaan dirinya kini basah kuyup.
Hawa dingin langsung menyergap tubuhnya
membuat dia menggigil kedinginan. Dia mencoba
mengangkat muka dan matanya langsung tertuju
pada satu sosok wanita yang tengah berdiri
berkacak pinggang di hadapannya, sedang
menatap tajam kearahnya dengan sorot mata
penuh kebencian yang teramat sangat.
Mata Mayra terbelalak tak percaya dengan apa
yang dilihatnya saat ini. Dia mencoba mengerjap
beberapa kali untuk meyakinkan penglihatannya.
"E- Ev..Evelyin..?!"
Gemetar Mayra menyebut nama wanita yang
kini sedang berdiri di hadapannya itu dengan
seringai kejam dan tatapan kebenciannya.
"Hahaa..masih waras rupanya penglihatan mu..!
Iya ini aku..!! Wanita yang sudah kau rebut posisi
nya.! dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah
bisa menerima kekalahan dari wanita hina
sepertimu ! ****** murahan..!!"
Wanita itu yang ternyata Eveliyn berkata dengan
di selingi tawa menakutkan. Mayra menggeleng
tak percaya dengan kenyataan ini.
"Ke-kenapa..kamu ada disini..? bagaimana kau.."
"Haha..apapun bisa aku lakukan nyonya sok
polos.! Lagipula aku memiliki kekasih yang bisa
melakukan apapun..!! apalagi hanya keluar dari penjara..!!"
Mayra menatap Evelyin penuh rasa tak percaya.
Evelyin maju mendekat , kemudian naik ke atas
tempat tidur yang sudah basah oleh siraman air.
Mayra mundur ke ujung ranjang hingga
membentur tepiannya, Evelyin merangsek
maju dan tanpa ampun menarik tengkuk
Mayra yang sontak meringis. tangannya bergerak mencoba menahan cekalan tangan Evelyin.
Namun tangan Eveliyn sebelah lagi kini
__ADS_1
mencengkram dagunya.
"Aku sangat membencimu..! Kau sudah berhasil menghancurkan kehidupan rumah tanggaku
yang bahagia..! Dan sekarang aku hidup dalam
dunia yang tidak jelas.!"
Evelyin berucap sambil kemudian menampar
wajah Mayra dua kali yang langsung memerah.
Mayra meringis menahan rasa panas dan perih di pipinya, dia kemudian terisak dan menatap tajam wajah Evelyin.
"Aku tidak pernah menghancurkan hidupmu..!
kau sendiri yang menjadi penyebabnya..!"
"Diam kamu..!!Di sini kau tidak punya hak untuk
berbicara ! aku yang akan menentukan nasibmu.!
Akan ku pastikan hidupmu berakhir di tempat ini.!
Dan bayi sialanmu ini...!"
Evelyin menyeringai sadis kearah perut Mayra
yang langsung memegang perutnya ketakutan.
"Kau..jangan macam-macam dengan bayiku..!"
Ancam Mayra sambil menggelengkan kepala
dan semakin menatap tajam Evelyin yang
tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau tajam
berkilau.
"Tidak..!! jangan Eveliyn..! sadarlah..! kau juga
seorang wanita.!"
"Diam..!! berisik kamu..!! gara-gara mahluk kecil
ini hidupku hancur.!! iya gara-gara dia..!!"
Tunjuk Eveliyn pada perut Mayra dengan ujung
pisaunya. Mayra semakin ketakutan, Eveliyn
mengusap ujung pisau dengan seringai iblis nya.
"Aku akan mengeluarkan bayi sialanmu ini.!
Akan ku buang ke laut sebagai santapan hiu..
hahaa..aku akan sangat puas sekali..!!"
"Tidak..! jangan Eveliyn.. kumohon jangan lukai
bayi ini, dia tak tidak berdosa..!"
Mayra menjerit dengan tubuh menggigil ketakutan melihat Eveliyn semakin mendekatkan ujung
pisau tajam itu ke tengah perutnya. Dengan
kekuatan penuh dia menendang perut Eveliyn
yang langsung terjungkal kearah belakang.
Dan dengan segera Mayra turun dari tempat
tidur berlari ke arah pintu.
"Mau kemana kamu hahh..! kau pikir kau bisa
kabur dari tempat ini hahh..! tidak semudah itu.!"
Evelyin muncul di belakang dan menarik hijabnya
serta menyeret tubuh Mayra yang kembali
mencoba berontak dengan menampar keras
wajah Evelyin. Tubuhnya terlepas dari cengkraman Evelyin, dia mundur kearah jendela. Evelyin
semakin murka berteriak pada anak buah
Jayden yang berada di luar pintu. Dua laki-laki bertubuh besar muncul ke dalam kamar.
"Ikat wanita itu..!"
Dengan mata yang sudah berkilat murka dia memberi perintah pada dua orang laki-laki bertubuh besar itu. Mereka serentak maju mencekal kedua lengan
Mayra yang sontak menjerit histeris berontak
sekuat tenaga. Namun kekuatan dua laki-laki
besar itu bukanlah tandingannya. Mayra melemah
saat kemudian tubuhnya di ikat di kursi rotan
yang ada di dekat jendela.
"Evelyin..tolong lepaskan aku..! Pakailah hatimu.
Kenapa kamu bisa sejahat ini..! Aku tidak pernah
ingin merusak hidupmu sama sekali..!"
Mayra berucap lemah di sela Isak tangisnya.
Evelyin mendekat kemudian dia menempelkan
pisau nya di dagu Mayra, sedikit saja bergerak
maka pisau itu akan melukai kulitnya.
"Sebelum kamu lenyap, aku tidak akan pernah
bisa hidup dengan tenang..!"
Desis Evelyin di telinga Mayra sambil kemudian
menarik hijab Mayra dan menempelkan pisaunya
di leher Mayra yang langsung terpejam ketakutan.
Tubuhnya gemetar hebat.
"Evelyin..!!"
Jayden berdiri di pintu menatap marah kearah
Eveliyn melihat kondisi Mayra kini. Eveliyn
menoleh cepat menyebabkan pisaunya
menggores bagian kulit leher Mayra dan mengeluarkan darah.
"Apa yang kamu lakukan..!"
Bentak Jayden sambil kemudian dia menarik
paksa Eveliyn keluar kamar.
"Lepaskan aku Jay..akan aku lenyapkan wanita
itu sekarang juga.!"
"Dia adalah bagianku..!!"
Itu adalah perdebatan mereka yang masih bisa
tertangkap oleh telinga Mayra yang kini hanya
bisa menangis pilu menahan segala rasa sakit
yang menderanya. Tubuhnya kini semakin
menggigil, darah yang keluar akibat goresan
pisau Evelyin semakin banyak membuat Mayra lama-lama semakin lemah.
Pandangannya mulai kabur, pendengaran pun
semakin samar, keadaan sekelilingnya seakan berputar, semakin lama keadaan sekitar semakin gelap, sebelum akhirnya dia jatuh kedalam
pelukan kegelapan tangannya masih sempat memegang kuat perutnya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....