Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
79. Di Tinggal Pergi


__ADS_3

**********


Sudah seminggu Mayra menikmati liburannya.


Selama itu pula Dirga selalu memantau pekerjaannya secara online. Aaron dan Rayen sudah kembali di hari ketiga karena urusan mereka masing-masing.


Mayra selalu mengisi liburannya dengan beragam kegiatan yang menarik. Dan Dirga dengan setia


selalu mengikuti apapun yang ingin di lakukan


oleh istrinya itu.


Tapi hari ini sepertinya Dirga mengalami sedikit masalah, dia terlihat berada di ruang kerjanya seharian hanya terfokus saja pada laptop dan ponselnya.


"Apa kau tidak bisa menangani nya sendiri Lee.?!"


Bentak Dirga saat menerima telpon dari sekretaris Lee. Wajahnya terlihat di penuhi emosi.


"Nyonya Evelyin menolak bercerai Tuan. Dia mengajukan banding pada pengadilan dan membawa nama Nyonya Mayra sebagai orang ketiga..!"


"Belum menyerah juga dia.!"


"Nyonya Evelyin beralasan, kalau Tuan menceraikannya maka Tuan juga harus menceraikan Nyonya Mayra..! Karena Nyonya Mayra adalah alasan hancurnya rumah tangga Tuan denganya..!"


Ucap Lee di telpon. Dirga mengurut keningnya.


Dia tampak berpikir keras.


"Apa yang dia inginkan.!"


Tanya nya kemudian.


"Nyonya Evelyin mau bercerai asal Tuan menceraikan Nyonya Mayra terlebih dahulu.!"


"Brengsek..!! dasar wanita licik..!"


Sentak Dirga sambil memukul meja kerjanya. Dia menutup telponnya sepihak. Rahang nya terlihat mengeras, tangannya terkepal dengan kuat.


Evelyin tidak menyerah begitu saja pada


keputusan yang diambilnya. Hal ini membuat Dirga geram. Belum lagi masalah di perusahaan juga semakin bertambah, dia terpaksa harus pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan masalah yang menimpa salah satu perusahaan nya karena memerlukan penanganan langsung dari dirinya.


Dirga kembali menghubungi Lee dan memintanya untuk mengatur segala keperluannya.


Dia terpaksa harus meninggalkan Mayra di pulau ini, karena merasa disini lebih aman baginya daripada kembali ke negaranya tanpa dirinya.


Mayra masuk ke dalam ruang kerja Dirga yang berada di Villa utama ini.


"Sayang..apa kau masih sibuk.?"


Tanya Mayra sambil menghampiri Dirga dan berdiri di sampingnya. Dirga menoleh dan menarik tubuh Mayra kedalam pangkuannya. Dia memeluk pinggang Mayra dan merapatkan tubuh mereka.


"Apa kau merindukanku..?"


Tanya nya menatap lekat bibir ranum Mayra yang berada tepat di hadapannya. Wajah Mayra seketika memerah, dia berusaha menarik wajahnya.


"Bukan begitu..kalau kau masih sibuk aku hanya ingin minta izin untuk pergi ke pantai dengan Hanah.."


Ucap Mayra berkilah sambil berusaha bangkit dari pangkuan Dirga namun tertahan karena Dirga mengunci pinggangnya.


"Aku akan menemanimu..! Tapi sebelum itu.."


Ucap Dirga sambil kemudian mencium bibir Mayra lembut, ********** kuat, menjilatnya dengan rakus dan menerobos masuk menjelajah seluruh isi mulut Mayra. Mereka berciuman panas saling bertukar saliva dan saling mengecap rasa manis lembut dari kenikmatan bibir masing-masing.


..... .....


Keduanya kini berjalan beriringan di pinggir pantai, saling berpegangan tangan dengan erat dan mesra.


Sore ini cuaca cukup cerah namun juga tidak terlalu panas, sehingga sangat cocok untuk bermain air.


Mayra berlari menyongsong ombak yang datang cukup besar, dia terlihat sangat senang dan menarik paksa Dirga untuk menemaninya bermain air.


Mereka berdua menikmati sore itu penuh keceriaan. Walau sebenarnya otak dan pikiran Dirga sedang menyimpan segudang masalah, tapi dia sebisa mungkin bersikap tenang dan santai di depan Mayra.


Mayra berlari lebih ke tengah membuat Dirga terkejut, dengan cepat mengejarnya dan mengangkat tubuhnya agar tidak tersapu ombak yang datang cukup besar.


"Hei..kau bisa terbawa nanti..!"


Sentak Dirga karena tegang sesaat .


Mayra hanya tersenyum manis sambil mengalungkan tangannya di leher Dirga dan melingkarkan kakinya di pinggang kokohnya. Sontak darah Dirga berdesir hebat saat menyadari baju yang di kenakkan Mayra sudah basah semua, membuat lekuk tubuhnya kini terlihat nyata di depan matanya. Bagian dada nya yang sintal dan semakin berisi kini menempel ketat di dadanya.


Keduanya saling pandang lekat. Tubuh bagian bawah Dirga sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Hasratnya sudah naik sampai ke ubun-ubun nya.


"Apa kita bisa melakukannya malam ini..?"


Tanya Dirga serak menahan hantaman gejolak hasrat yang sudah menguasai tubuhnya. Mayra tegang, wajahnya terlihat memerah.


"Seharusnya tidak boleh dulu Mas..Aku masih belum bersih dari nifas..!"


"Tapi aku tidak kuat lagi menahannya..!"


"Apa Mas mau terjadi sesuatu pada rahimku..?"


Potong Mayra sambil menatap tajam wajah Dirga yang seketika kecewa. Mereka terdiam saling pandang.


"Bagaimana kalau kita melakukannya dengan cara lain.?"

__ADS_1


Ucap Dirga dengan seringai senyum smirk nya.


Mayra bergidik dan menggelengkan kepala.


"Tidak mau ahh..!"


"Apa kau tidak kasian padaku..! Selama kita disini aku sudah sangat menderita..!"


Debat Dirga kesal. Mayra terdiam..kemudian meraup wajah tampan suaminya itu dan menatapnya lekat.


"Tapi aku tidak tahu caranya.."


"Aku akan mengajarimu..!"


Tukas Dirga dengan semangat membara. Kemudian dia mengangkat tubuh Mayra di bawanya berjalan menuju ke Villa pribadi tempat mereka menghabiskan malamnya.


..... .....


Malam semakin larut, Mayra yang kelelahan karena aktifitas anehnya bersama Dirga barusan, membuat dia dengan cepat terlelap. Dirga yang masih terjaga terlihat duduk di sisi tempat tidur. Matanya menatap lekat wajah cantik Mayra yang tertidur dengan tenang.


Tangannya bergerak mengelus kening Mayra menyingkirkan anak rambut yang menghalangi


wajah cantiknya.


Saat ini hatinya berat untuk meninggalkan istrinya


itu yang beberapa hari ini sudah menemani nya, memberinya kebahagian dan keceriaan. Selama beberapa hari ini, dia merasa jadi sosok Dirga yang lain, yang hangat dan penuh kelembutan. Wanita ini mampu mengubah dirinya menjadi sosok yang lebih humanis. Tapi dia juga tidak bisa membawa Mayra bersamanya, karena ini urusan yang sangat penting yang akan menguras waktu dan konsentrasinya.


Dengan berat hati akhirnya Dirga harus pergi meninggalkan Mayra dalam tidur nyenyak nya. Dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal, karena dia tahu tidak akan sanggup mengucapkannya.


Dengan penuh perasaan Dirga mengecup lama kening Mayra, dan mencium mesra bibirnya.


"Maafkan aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Baik-baiklah disini..! Aku tidak akan lama.


Aku akan segera menjemputmu..!"


Bisik Dirga seraya kembali mencium kening Mayra.


Tanpa berbalik lagi dia keluar dari dalam kamar.


Halaman Villa tampak sibuk, ada sebuah helikopter terparkir disana dengan mesin yang masih menyala menimbulkan sedikit suara gemuruh.


Di dekat pintu masuk heli sudah terlihat Lee dan Tomy serta Jane. Ada Hanah juga yang sudah di beri intruksi oleh Lee. Mereka semua membungkuk hormat saat melihat kemunculan Dirga dengan langkah sedikit gontai dan tak bersemangat.


"Kalian berdua sudah faham dengan tugas yang sudah di berikan oleh Lee..?!"


Tanya Dirga pada Jane dan Hanah yang menunduk dalam.


"Sudah Tuan.."


Jawab mereka bersamaan.


Titah Dirga sambil kemudian masuk kedalam helikopter dan tidak lama heli itupun mulai terbang menjauh meninggalkan Mayra yang tidak menyadari kepergian suaminya itu .


..... .....


Keesokan paginya Mayra terbangun dengan


kondisi tubuh yang lemas. Dia bergegas masuk


ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dia


belum menyadari sama sekali kalau sosok


suaminya itu sudah tidak ada di kamarnya.


Ketika selesai beribadah barulah dia menyadari


kalau yang tidur di sampingnya hanyalah sebuah guling. Mayra tertegun, firasatnya jadi tidak enak.


"Kemana mas Dirga..?"


Gumam Mayra sambil kemudian memakai hijabnya dan merapihkan pakaiannya, setelah itu membuka pintu Villa dan berjalan keluar menyusuri jembatan kayu yang cukup panjang untuk sampai ke pinggir pantai. Perasaan Mayra semakin tidak enak. Dari kejauhan dia melihat Hanah dan.. Jane..??


Kenapa ada Jane di sini.??


Hanah dan Jane berlari menghampiri Mayra yang berdiri mematung di ujung jembatan. Matanya menatap tajam kearah Jane yang terlihat langsung menunduk. Mayra dengan cepat meraih ponselnya


dan mencoba menghubungi nomor Dirga.


Namun nomornya ternyata tidak bisa di hubungi.


Mayra mencoba lagi, tapi tetap tidak ada respon.


Mencoba sekali lagi, namun hasilnya sama.


Kesal Mayra mengakhiri panggilannya, dia berpaling dengan cepat kearah Jane.


"Kemana dia Jane..?? kenapa tidak memberitahu aku ?"


Tanya Mayra dengan suara sedikit keras karena


panik dan kesal.


"Tuan pergi karena ada urusan mendadak Nyonya.."


"Pergi..?? tanpa pamit.? apa-apaan ini.?!"

__ADS_1


"Tuan tidak mau anda bersedih nyonya."


Sahut Hanah masih menundukan kepala.


"Buktinya sekarang..! Aku lebih sedih.! Aku merasa tidak cukup penting baginya..!"


Ucap Mayra sambil kemudian berbalik dan melangkah kembali ke arah Villa nya.


"Nyonya..."


Jane berteriak mengejar namun Mayra tidak perduli dia terus berjalan setengah berlari dengan derai air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


Sampai di depan pintu dia membukanya dengan


cepat kemudian masuk dan menutup pintu dengan keras hingga membuat Jane dan Hanah membeku seketika. Keduanya berdiri mematung di depan pintu. Mereka belum pernah melihat Mayra bersikap keras seperti itu sebelumnya. Keduanya hanya bisa saling pandang kemudian duduk lemas di depan pintu .


Mayra menangis menumpahkan segala


kegundahan dan kesedihan hatinya.


Kenapa Dirga tiba-tiba pergi tanpa memberitahu dirinya? Tanpa pamit atau sekedar pesan?


Kenapa dia tega meninggalkannya di tempat ini.,?


Tempat yang bahkan tidak di kenalnya. Mayra


terus menangis membuat Jane dan Hanah jadi bingung harus bersikap bagaimana.


"Nyonya..apa saya boleh masuk.?"


Jane mencoba berbicara. Tapi tidak ada jawaban


dari dalam. Mayra masih larut dalam tangisnya.


"Nyonya..sebaiknya anda sarapan dulu, kalau


tidak nanti bisa sakit.."


Kali ini Hanah yang mencoba berbicara. Namun hasilnya sama, tidak ada respon dari Mayra.


Mereka berdua akhirnya kembali duduk di depan


pintu menunggu Mayra menyelesaikan tangisnya.


Sampai siang Mayra belum juga keluar dari


kamarnya. Hanah membawakan makanan dan kembali mencoba menawarkan pada Mayra.


"Aku belum lapar Hanah..bawa kembali..Kalian


saja yang makan tidak usah mencemaskan ku.."


Hanya itu yang Mayra katakan. Namun Hanah


dan Jane tidak menyerah, mereka terus menawarkannya kembali. Tetapi Mayra tidak merespon.Akhirnya mereka kembali hanya bisa


duduk termangu menunggu majikannya keluar


kamar.


Menjelang sore akhirnya Mayra keluar kamar.


Matanya terlihat sembab sedikit bengkak, dia


berjalan tanpa kata menuju ke gazebo yang


biasa dipake nya bersama Dirga untuk menikmati sunset setiap sore.


Mayra duduk lemas diatas bangku yang biasa di gunakan olehnya bersama Dirga, duduk berdua, kadang dia duduk di atas pangkuan Dirga. Bercanda bersama memadu kasih berdua seolah dunia hanya milik mereka berdua. Air matanya kembali


mengalir dengan deras membasahi pipinya


yang putih mulus .


"Kenapa tidak ada kata sedikitpun saat kamu


pergi. Apa aku tidak penting bagimu..? Kau membuangku disini..!"


Gumam Mayra sambil mengusap kasar air matanya.


Dia mengeluarkan ponselnya, mencoba kembali menghubungi Dirga. Namun seakan di telan bumi nomornya tidak bisa di hubungi sama sekali .


Mayra menyandarkan tubuhnya lelah, dia juga


sudah lelah menangis. Dan semuanya memang


tidak ada gunanya. Baiklah..kalau Dirga memang


menginginkan dirinya tinggal disini, maka dia


akan tinggal.


Sampai matahari hampir terbenam Mayra masih terdiam di gazebo. Hanya tempat ini yang sedikit


bisa memberikan dia ketenangan. Akhirnya setelah hari mulai gelap dia bergerak pulang kembali ke Vila tempat tinggalnya di ikuti oleh Jane yang sedari tadi menunggunya pada jarak yang cukup aman.


**********

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2