Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
39. Hampir Saja


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mayra memutuskan untuk pulang diantar oleh Agam bersama dengan Silvia. Dia tidak ingin Agam curiga kalau dirinya ngotot pulang sendiri bersama para pengawalnya.


Mereka memutuskan untuk makan malam dulu sebelum pulang ke apartemen. Dan Agam mencari kafe yang tidak terlalu rame mengingat sekarang sudah mulai banyak yang mengenali Mayra.


Dia membawa Mayra ke sebuah kafe elite yang hanya di kunjungi oleh orang-orang berduit saja.


Agam mencari tempat duduk yang bisa langsung melihat ke taman sehingga tidak akan terasa bosan.


Kini mereka sudah mulai menikmati hidangan makan malam pesanannya masing-masing.


"Kau tahu May..tadi itu kamu sangat luar biasa. Kau melebihi ekspektasi fotografer Thomas. Aku puas liat muka dia tadi setelah tahu bakat alami kamu.!"


Ucap Silvia mengisi keheningan. Agam tampak menghentikan kegiatan mengunyah makanannya, dia melirik ke arah Silvia.


"Memang apa yang terjadi Sil.?"


Tanya nya penasaran.


"Ya gitu deh pak, awalnya mas Thomas kelihatan meremehkan kemampuan Mayra. Dia tidak melirik sebelah mata pun padanya."


"Sil..tidak baik ahh membicarakan orang lain. Kita jangan berburuk sangka dulu. Siapa tahu dia memang seperti itu orangnya."


"Ya gak lah May..buktinya setelah tahu kemampuan kamu, dia langsung tuh pasang wajah terpesonanya sama kamu.!"


"Isshh..kamu ini.! udah ahh tidak usah ngomongin orang.!"


"Ohh jadi begitu ya.? Dia sempat meragukan kamu rupanya.!"


Sela Agam dengan wajah terlihat kesal.


"Udah mas..itu kan tadi..udah gak usah di bahas lagi ya. Kita ini sedang makan loh."


Ucap Mayra berusaha menenangkan suasana.


"Dia memang fotografer handal sih, model yang menggunakan jasa nya rata-rata model papan atas.


Termasuk deretan Evelyin, Ganis dan sekelasnya.!"


"Ya mas, makanya wajar kalau dia meragukan bakatku yang hanya pendatang ini.!"


"Tapi gak harus bersikap begitu juga kali May..!"


Sergah Silvia ngotot.


"Yang penting dia puas dengan hasil akhirnya kan.?


Udah ahh..habiskan makananmu.!"


Ucap Mayra. Mereka kembali tenang melanjutkan makan malamnya.


"Besok gimana mas.?"


Tanya Mayra sambil memandang Agam yang tampak sedang melihat ponselnya.


"Apa kamu mau langsung ambil kerjaan lagi May.?


Ini ada brand kecantikan yang ingin secepatnya memakai jasa kamu.!"


"Tidak apa mas, mumpung aku masih sehat.


Aku bisa kok."


"Yaudah besok kita ke kantornya dulu untuk membicarakan semuanya. Sepertinya owner nya ingin proses syuting langsung di lakukan.!"


Ucap Agam sambil kemudian mengakhiri makan malamnya dengan meneguk air putih.


Mayra hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Jam 9 kamu langsung saja kesana, nanti aku akan menyusul.!"


"Baik mas."


Mereka menyudahi acara makan malamnya. Karena memang hari sudah semakin malam Mayra ingin segera pulang dan istirahat. Setelah Agam membayar tagihan nya mereka bergegas keluar dari kafe tersebut menuju ke parkiran.


Tak di sangka, di halaman menuju parkiran mereka berpapasan dengan Dirga dan Eveliyn yang sama-sama keluar dari kafe tersebut dengan arah berbeda. Dirga tampak terkejut dan langsung mematung saling menatap dengan Mayra yang juga sama terkejutnya.


Sorot mata Dirga menyiratkan bahasa yang rumit dengan sejuta perasaannya, sementara mata Mayra menyiratkan perasaan senang bisa melihat suaminya itu, namun juga terlihat ada raut kesedihan di baliknya, melihat Evelyin yang tampak begitu bahagia dengan bergelayut manja di lengan Dirga.


"Tuan Moolay.. tidak di sangka kita bisa berjumpa disini.! "


Ucap Agam datar menatap dingin mereka.


Dirga hanya mengangguk kecil dan meliriknya dengan tatapan yang lebih dingin saat melihat Mayra bersama dengan Agam, walau disitu ada Silvia juga.


"Wooww..ada artis baru di sini.! Habis makan malam romantis dengan Bos sepertinya.!"


Sindir Evelyin dengan penekanan di tiap katanya.


Mayra hanya memalingkan muka berusaha untuk tidak peduli.


"Ev..tolong. Jaga sedikit cara bicara kamu..!"


Agam berucap dengan sedikit menekan. Sementara Dirga hanya diam saja, matanya tidak lepas menatap wajah Mayra yang sedang berpaling.


"Jaga katamu..! Wanita mu tuh yang harus kamu jaga.!


Jangan biarkan dia berkeliaran mencari mangsa lain di belakang kamu.!"


"Apa maksud kamu.?"


"Hahh..kau ini lugu sekali ya jadi laki-laki..! perhatikan wanita mu itu agar tidak berusaha merayu bos lain untuk di jadikan batu loncatan nya, cukup Crish saja yang jadi korban.!"


"Ev.. sudah..!!"


Mayra ingin segera menghindar, dia berjalan duluan sedikit berlari ingin menjauh dari tempat itu. Namun baru beberapa meter dia melangkah tiba2 ada sebuah sedan hitam melaju kencang dari kanan kearahnya.


Mayra melotot sempurna dan membeku di tempat saat melihat mobil tersebut akan menabrak nya.


"Aaaaaa...


Jerit Mayra menutup kedua matanya ketakutan.


Agam dan Silvia juga sama berteriak histeris.


Dirga yang melihat hal itu tampak terkesiap, nyawanya seketika seakan terbang, dengan secepat kilat dia berlari dan menarik tubuh Mayra yang hampir terserempet sedan hitam tersebut.


Mobil itu terus melesat pergi dengan kecepatan penuh.


Dirga memeluk erat tubuh rapuh Mayra didalam dekapannya. Tubuh Mayra gemetar ketakutan dan shock. Dia langsung menangis tersedu di dada Dirga yang berusaha menenangkannya dengan membelai kepala belakangnya.


"Tenanglah..jangan takut lagi, aku ada di sini.!"


Bisik Dirga sambil terus mempererat pelukannya.


Orang-orang yang tadi bengong sesaat kini tersadar dengan keadaan. Agam yang tadi hendak melakukan penyelamatan namun keduluan oleh Dirga hanya bisa berdiri mematung melihat Dirga memeluk erat Mayra.


Sementara Silvia segera menghampiri Mayra namun tak berani menegur apa yang dilakukan oleh CEO Moolay Group itu.


"Lepas..!! Kau ini ya.. benar-benar wanita penggoda.!"


Bentak Evelyin tiba2 dengan menarik tubuh Mayra menjauhkannya dari rengkuhan Dirga.


Lalu dia mendorong keras tubuh Mayra hingga hampir saja jatuh kalau tidak di tahan oleh Agam.


"Evelyin..! ada apa denganmu.! kenapa kamu bisa jahat begini hahh..!!"


Sentak Agam habis kesabaran.

__ADS_1


Evelyin tampak berdiri di depan Dirga dan berkacak pinggang kearah Mayra dan Agam yang tampak sedang merengkuh bahu Mayra serta menahan tubuh rapuhnya yang masih gemetar.


"Mana ada wanita berhijab, sok suci sepertinya yang mau dipeluk oleh sembarang laki-laki kalau bukan wanita murahan, dasar ******..!"


Plak.!


Mayra tak sadar langsung menampar pipi mulus Evelyin. Dia benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit hatinya karena penghinaan yang terlontar dari mulut wanita sombong itu.


Semua orang terkejut dengan apa yang dilakukan Mayra. Tapi Dirga tampak biasa saja, dia terlihat masih menatap Mayra intens, memperhatikan setiap gerakannya. Sebenarnya dari tadi dia menahan rasa geram saat melihat Agam merengkuh bahu Mayra dan seakan merangkul tubuh istrinya itu. Namun saat ini dia tidak bisa melakukan apapun selain diam.


"Kau berani menamparku..! kurang ajar kamu ya..!"


Kembali bentak Evelyin sambil maju ingin membalas tamparan Mayra. Namun Dirga sudah menarik tubuhnya untuk menjauh.


"Honey..apa yang kau lakukan..! lepas..! Akan ku balas wanita murahan itu.!"


"Ayo pulang..!"


Ucap Dirga tak peduli, dia menarik bahu Evelyin dibawa pergi dari hadapan Mayra dan Agam.


Sebelum menjauh dia sempat saling menatap dengan Mayra yang terlihat sangat tertekan.


Ada hantaman perasaan cemas dan tidak nyaman yang Dirga rasakan saat ini. Kalau keadaanya tidak seperti ini, dia ingin sekali membawa Mayra pergi dan menenangkan keadaanya. Dia semakin dilema sekarang, kenapa kedua wanita milikinya itu selalu saja di takdirkan untuk bertemu.


"Awas kamu ya.! Akan ku balas nanti..!!"


Teriakan Evelyin masih terdengar. Mayra menghela napas panjang. Dia berusaha menetralkan emosinya dan mengatur napasnya.


Silvia tampak mengusap-usap lembut punggung Mayra berusaha menenangkan.


"Kau baik-baik saja May..? Apa ada yang terluka.?"


Tanya Agam sambil memegang tangan Mayra dan memeriksa keadaanya.


Mayra menepis halus pegangan tangan Agam.


"Alhamdulillah aku gak apa-apa mas..Sebaiknya kita pulang sekarang."


Jawab Mayra pelan dan sedikit bergetar. Dia memang masih merasa shock atas kejadian tadi yang hampir merenggut nyawanya itu.


"Untung saja tadi Tuan Dirga menarikmu May. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganmu.!"


Ucap Silvia sambil kemudian membimbing Mayra berjalan menuju mobil Agam.


Mereka masuk ke dalam mobil , kemudian Agam mulai melajukan mobilnya meninggalkan kafe yang membawa sial bagi Mayra itu.


Mayra merebahkan kepalanya ke sandaran jok mobil. Matanya terpejam. Lagi-lagi.. peristiwa mengerikan yang hampir merenggut nyawanya terjadi lagi.


Tuhan...apa sebenarnya salahnya.? Kenapa hidupnya jadi rumit begini.


Dan kenapa dia harus selalu bertemu dengan istri pertama suaminya itu.??


Seakan takdir memang sengaja mempermainkan mereka berdua. Apa dia bisa bertahan kalau situasinya akan terus seperti ini.


Atau bisakah dia mengakhiri semuanya sekarang??


Tuhan..tolong berikan petunjuk Mu..


Lirih Mayra dalam hati sambil terus menenangkan diri dan perasaannya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* 


.TBC.....


Jangan lupa kasih like, koment and vote nya ya.!


Dukungan kalian sangat berarti bagi author sebagai pemula di sini..!


Thanks all..😘🙏

__ADS_1


__ADS_2