
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Suasana di dalam sebuah club malam mewah di pusat kota terlihat begitu hingar bingar. Dentuman musik yang menggema serta rentak tarian para manusia malam terlihat mewarnai suasana di dalam ruang bawah club tersebut.
Dirga yang terlanjur emosi dan frustasi saat mengetahui Mayra menghilang dari studio saat dirinya berniat datang menjemput, terlihat melampiaskan segala kemarahannya dengan minum-minum di dalam ruang VVIP club tersebut.
Sebelumnya dia bersama dengan Lee dan Jane serta beberapa anak buahnya terus mencari keberadaan Mayra. Namun tidak lama handphone Mayra sudah tidak bisa di hubungi sama sekali sehingga mereka kesulitan untuk melacak keberadaannya.
Dirga tahu kalau Mayra pergi bersama Agam, namun dia tidak mungkin menanyakan nya langsung pada sepupunya nya itu, sebab akan menimbulkan banyak spekulasi yang tidak benar dari Agam.
Oleh karena itu dia hanya bisa melampiaskan segala kemarahannya kini pada minuman.
Lee terlihat masih setia menemani tuan mudanya dan mengawasi kondisi majikannya tersebut. Dia tidak menyangka kalau tuan nya itu akan bereaksi seperti ini, tidak biasanya sampai tidak bisa mengendalikan diri. Dia juga terus menyuruh semua bawahannya untuk mencari keberadaan Mayra sekarang.
Otak Dirga saat ini di penuhi oleh bayangan wajah Mayra, senyumannya dan segala gerak geriknya.
Dia juga membayangkan hal yang tidak-tidak mengingat kini entah kemana Agam membawa istrinya tersebut, dan dia tahu pasti kalau Agam sangat mencintai dan mengharapkan istrinya itu.
Dirga tidak mengerti kenapa dirinya seakan telah kehilangan nyawanya sendiri saat menyadari kalau istri keduanya itu berada jauh dari jangkauannya.
"Kau sudah dapat kabar Lee.?"
Tanya Dirga sambil meletakkan gelas kecil bekas minumannya di atas meja.
"Belum tuan, saya sudah menghubungi tuan Aaron untuk membantu mencarinya. Dia sebentar lagi datang kesini."
"Hemm.."
Saat mereka tengah berbicara, di pintu muncul Aaron Si Pria tanpa ekspresi. Dia berjalan menghampiri Dirga kemudian duduk di depannya, langsung menuangkan minuman ke gelas kecil dan meneguknya. Matanya yang setajam silet terlihat menatap Dirga yang kacau.
"Apa kau sangat mencintai istri kedua mu itu tuan.?"
Tanya Aaron sambil kembali meneguk minumannya.
Dirga melirik sinis pada Aaron, kemudian dia merebahkan kepalanya ke belakang sofa dan memejamkan matanya.
"Bukan urusanmu.!"
"Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.!"
Kembali ucap Aaron, diapun duduk merebahkan punggungnya dan menyilangkan kedua kakinya.
Kalau dilihat secara detail dan seksama, Aaron adalah sesosok pria dengan potongan wajah yang sangat pas di semua bagiannya, bak pahatan patung dewa yang sangat sempurna. Sangat tampan dan super maskulin.
Namun semua itu seakan tersembunyi dibalik sikapnya yang sangat dingin dan tak pernah menunjukan emosi apapun, selalu datar.
"Jangan banyak tanya, mulai sekarang kau cari keberadaan wanita itu, dan bawa kembali padaku.!"
Sentak Dirga kesal. Mata Aaron hanya menatap lurus saja ke wajah stress Dirga.
"Baiklah..!"
Sahutnya, kemudian berdiri dan tanpa kata lagi dia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Dirga yang masih terlihat memejamkan matanya.
"Mayra..apa yang kamu lakukan..! kenapa kamu menghindari ku.!!"
Bisik Dirga menahan kesal dan juga desakan perasaan kehilangan yang sangat menyiksanya.
Dalam keadaan hati dan pikirannya yang kalut, tiba-tiba Dirga mengingat sesuatu. Dengan cepat dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Mencoba mengecek panggilan Mayra tadi siang, dan meneliti durasi panggilannya.
Matanya tampak terkejut akan satu hal. Dia terdiam terpaku melihat ponselnya. Sekarang dia meyakini sesuatu, dan kini pikirannya semakin merasa frustasi.
Tidak lama dia berdiri dan memutuskan untuk pergi dari club malam tersebut.
***** *****
Pagi menjelang, suara kicauan burung terdengar nyaring dan riang menambah suasana segar di sekitar Villa megah yang terletak di sebuah bukit di pinggiran ibukota.
Setelah menjalankan ibadah sholat subuh terlebih dahulu, Mayra memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur besar berseprai putih itu hingga dia kembali terlelap.
Beberapa hari ini dia memang kurang istirahat, banyak sekali peristiwa dan kejadian aneh yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata dengan tenang.
Semalam Agam memutuskan membawanya ke tempat ini yang diyakini tidak akan terlacak oleh wartawan ataupun orang yang berniat mencari keberadaan Mayra.
__ADS_1
Dengan mengenakan gamis hitam berenda dan hijab instan warna mustard, Mayra turun ke lantai bawah berniat untuk membuat sarapan dan beraktifitas pagi.
Sampai ke lantai bawah dia melihat Agam baru saja kembali dari olahraga lari pagi nya di sekitar bukit.
"Kau sudah bangun May..?"
Tanya Agam yang dengan tatapan lembut penuh cinta dan kebahagiaan. Saat ini Agam memang merasa dirinya bak ketiban durian runtuh, bisa tinggal satu rumah dengan Mayra dan melihat dirinya sesuka hati.
Ini adalah impian yang sudah sekian lama di idamkan nya dan sekarang jadi kenyataan.
"Iya mas..kenapa mas tadi gak bangunin May buat lari bareng.?"
"Aku gak tega May, kamu kelihatan cape banget..!"
"Ohh yaudah, May buatin sarapan dulu ya..Mas mau makan apa.?"
"Kamu gak usah repot-repot May, ada banyak pelayan di sini !"
"Gak apa mas, May lagi pengen buat sarapan sendiri."
"Yasudah kalau begitu. Terserah kamu mau buat apa, pasti mas makan. Sekarang Mas mau mandi dulu ya, gerah..!"
Ucap Agam. Mayra hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian Agam berlalu menuju ke kamarnya , dia memilih kamar yang ada di lantai bawah.
Di Villa ini terdapat banyak pelayan layaknya rumah tinggal biasa meskipun Agam jarang berkunjung.
Saat melihat kehadiran Mayra, para pelayan itu tampak tersenyum ramah dan menunduk hormat.
Mereka terlihat begitu terpesona pada wanita yang telah di bawa oleh tuan nya ini. Mereka berpikir bahwa Mayra adalah calon istri dari majikan mereka.
Keduanya terlihat sangat cocok dan serasi.
"Tolong bantu saya membuat sarapan ya mbak.."
Ucap Mayra ramah pada 2 orang pelayan yang bertugas di bagian dapur.
"Baik nona, dengan senang hati.."
"Maaf nona..kami tidak berani.."
Sahut mereka. Mayra hanya tersenyum menatap kedua pelayan itu. Tiba-tiba dia teringat dengan Tina.
Hatinya seketika resah saat wajah Dirga melintas dan terbayang dalam ingatannya. Ada rasa sakit, namun juga ada rasa lain yang lebih menyiksanya saat ini, yaitu rasa rindu ingin melihat suaminya tersebut.
Apa, rindu..??!!
Ya..kini Mayra meyakini kalau dirinya sudah mulai memiliki perasaan khusus pada suaminya itu, perasaan yang bahkan lebih besar dan lebih kuat dari perasaanya dulu terhadap Agam.
Mayra mencoba mengalihkan segala keresahan dalam hatinya dengan kesibukannya membuat sarapan sambil berbincang kecil dengan dua pelayan yang
membantunya.
Mereka semua ternyata mengenal siapa Mayra dan sangat mengidolakannya. Sehingga di sela-sela kegiatan memasaknya Mayra mengajak mereka untuk berfhoto bersama.
Tapi dia tidak lupa mengingatkan pada mereka agar jangan meng upload fotonya terlebih dahulu ke media sosial mereka karena akan sangat menggangu kenyamanan Mayra nantinya.
Akhirnya sarapan sudah selesai di buat bersamaan dengan kemunculan Agam ke meja makan.
"Ayo mas..kita sarapan dulu..! Setelah ini aku ingin jalan-jalan di sekitar bukit.."
Ucap Mayra sambil menuangkan makanan ke piring Agam yang hanya bisa terdiam terpaku, menatap lembut wajah Mayra yang ada di hadapannya kini, dan sedang melayani dirinya.
Tuhan.. Kalau bisa Agam ingin waktu berhenti sekarang juga, agar dia bisa merasakan kebahagiaan ini lebih lama lagi .
"Mas, kok malah bengong..?"
Tegur Mayra sambil menatap Agam heran. Agam tersadar dan tersipu malu. wajahnya yang sangat tampan dan segar terlihat memerah.
"Ohh iya May..maaf mas melamun tadi."
"Kok melamun sih mas..!"
"Maaf..mas hanya merasa ini bagai sebuah mimpi yang jadi kenyataan.."
__ADS_1
"Maksud mas apaan..?"
"Mas bisa bersama dengan kamu saat ini. Melihat kamu di pagi hari dan sarapan buatan kamu.."
Ucap Agam sambil menatap lekat wajah Mayra yang juga sedang menatapnya. Mayra menunduk.
"Tuhan yang sudah mengatur semuanya mas.
Kita tidak perlu memaksakan sesuatu agar terjadi sesuai keinginan kita. Biarkan Tuhan yang membimbing langkah kita setiap harinya.."
Ucap Mayra lembut. Agam terlihat semakin menatap kagum wanita yang ada di hadapannya ini.
Ya kalau boleh..dia ingin meminta kepada Tuhan agar wanita cantik yang ada di hadapannya ini menjadi miliknya untuk selamanya.
"Ayo kita mulai sarapannya mas."
Ucap Mayra kemudian. Agam mengangguk dan merekapun menyantap sarapan dengan tenang.
..... .....
Selesai sarapan Mayra mengajak Agam untuk berjalan-jalan di sekitar bukit yang sangat asri tersebut. Dia ingin menghirup udara segar pegunungan untuk menghilangkan segala kepenatan yang dirasakan nya saat ini. Agam dengan senang hati menuruti semua keinginan bidadari hatinya tersebut.
Dia juga tidak lupa membawa kamera untuk mengabadikan tiap moment dimana Mayra terlihat begitu lepas dan bahagia bisa berada di alam bebas.
Tawanya yang riang, senyumnya yang cerah merupakan suatu keindahan yang jarang di lihatnya selama ini.
"Ayo kesana mas..!"
Teriak Mayra sambil menunjuk ke puncak bukit.
"Apa kau tidak cape May..? mau aku gendong..?"
"Maass....!"
"Maaf.. bercanda..!!"
Ucap Agam di susul tawa riang keduanya. Mereka kembali berjalan menuju ke puncak bukit.
Setelah sampai keduanya duduk diatas rumput di bawah pohon sambil berusaha mengatur napas.
"Cake juga ya ternyata.."
Ucap Mayra dengan suara yang terpotong-potong karena napasnya yang tersengal dan belum stabil.
"Coba tadi aku bisa menggendong mu May.."
"Mugkin Tuhan tidak mentakdirkan untuk itu mas.."
Sahut Mayra pelan. Agam meliriknya, tatapannya terlihat masih penuh dengan harapan.
"Kalau kamu membuka jalan untuk itu, aku yakin Tuhan akan memberiku kesempatan merasakan bisa menggendong mu May..!"
Ucap Agam sambil menatap lekat wajah Mayra yang ada di samping nya.
"Mas..tolong jangan memaksakan dirimu untuk terus berharap pada perasaanku..! Kamu akan terluka nantinya..!"
Ucap Mayra pelan. Agam mengernyitkan alisnya.
Dia semakin menatap tajam wajah Mayra.
"Apa kau sudah tidak bisa memberiku kesempatan May.? apa benar hatimu saat ini sudah dimiliki oleh orang lain.?"
Tanya Agam dengan raut wajah cemas.
"Saat ini aku belum bisa meyakini apapun mas, tapi aku tidak bisa memberimu harapan palsu..!"
"Aku tidak peduli May..sebelum seseorang mengakui mu sebagai miliknya, aku akan terus menjaga impianku ini. Aku ingin kau bersamaku selamanya May, menjadi pendamping hidupku..!"
Mayra terhenyak, dia hanya bisa menundukan wajahnya, tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini pada Agam. Laki-laki ini telah menyatakan keseriusannya pada nya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
__ADS_1