
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Jane melajukan mobilnya dengan kecepatan
sedang membelah jalanan ibukota yang tidak
pernah lengang.
Mayra duduk dengan tenang di jok belakang
sambil memainkan ponselnya berbalas chat
dengan Dirga yang menanyakan posisinya
saat ini. Setelah puas dia menyimpan kembali
benda pipih itu ke dalam tasnya.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Mayra
berpaling ke arah jendela, dia melihat sebuah
mobil yang sangat di kenalnya berhenti di sisi
kanan mobil yang di tumpanginya.
Ya itu adalah mobil Agam. Pria yang pernah ada
di dalam hatinya itu terlihat duduk berdampingan dengan seorang perempuan yang di yakini Mayra
itu adalah Vanessa.
Syukurlah.. sepertinya Mas Agam sudah mulai
membuka hatinya untuk wanita lain.
Lirih Mayra dalam hati dengan raut muka senang .
Jane melajukan mobilnya setelah lampu kembali
hijau dan terus meluncur menuju ke Moolay
Hospital yang menjadi tujuan Mayra.
Tidak lama akhirnya mobil yang di bawa Jane
tiba di privat parking rumah sakit.
Mayra masuk ke dalam lift khusus yang akan
langsung terhubung ke ruangan praktek Dokter
Lani di lantai atas.
Tiba di sana dia sudah di sambut oleh dua orang perawat yang langsung membimbingnya masuk
ke ruangan Lani.
"Selamat datang Nyonya Dirga..bagaimana kabar
mu? cukup lama juga ya kita tidak bertemu."
Sambut Lani seraya merangkul Mayra.
"Alhamdulillah baik Dokter.."
Mayra tersenyum sambil kemudian duduk di
kursi setelah mereka melepaskan rangkulannya.
Lani menatap Mayra memperhatikan nya dengan
seksama kemudian tersenyum.
"Semakin cantik saja ya bumil yang satu ini.."
Puji Lani yang membuat Mayra tersipu.
"Terimakasih..kau terlalu berlebihan.."
Lani beranjak duduk di dekat Mayra dan mulai melakukan pengecekan dasar terhadap nya
untuk mengetahui kondisi fisiknya.
"Semuanya normal, sepertinya kau cukup sehat
sekarang ini."
"Alhamdulillah kalau begitu.."
"Kita tunggu Tuan Dirga datang ya.."
"Aku sudah di sini..!"
Tiba-tiba Dirga muncul ke ruangan itu langsung
duduk di samping Mayra merangkul bahunya erat. Mayra melirik, tersenyum manis kearah suaminya
itu yang juga sedang memandangnya tenang.
"Baiklah..kalau begitu kita mulai saja sekarang
pemeriksaanya.."
Ujar Lani sambil kemudian melangkah menuju
ruang pemeriksaan yang berada di sebelah di
ikuti oleh Dirga dan Mayra. Di sana sudah ada
dua orang perawat yang sudah siap membantu
Dokter Lani.
Mayra membaringkan tubuhnya dengan posisi
senyaman mungkin di bantu oleh Dirga.
Setelah itu Dirga duduk di samping Mayra dengan
tak lepas menggengam tangannya.
Hari ini Mayra akan mencoba mengecek kandungannya dengan melakukan prosedur
USG 4D untuk melihat kondisi perkembangan
bayi di dalam kandungannya yang kini sudah menginjak usia 3 bln lebih, karena di usia ini
biasanya janin sudah terbentuk dengan sempurna.
Lani mulai mengoleskan gel dingin di atas perut
Mayra yang mulai terlihat sedikit membuncit dan
berisi. Kemudian dia menempelkan alat tranduser
di atas perut Mayra dan mulai menggerakkannya memutar di atas permukaan perut Mayra yang tadi sudah di olesi gel.
Tidak lama di layar sudah mulai nampak sesosok
bayi mungil dengan bentuk yang sudah tercipta
dengan sempurna. Semua bagian tubuhnya
seperti mata, mulut dan hidung sudah terbentuk
dengan baik. Bahkan dia sudah terlihat mampu
menggeliat dan menguap serta menghisap jarinya.
Genggaman tangan Dirga semakin kuat di tangan
Mayra, mata mereka berdua nampak terfokus
pada keajaiban Tuhan yang ada di layar monitor.
Dan keduanya terlihat berkaca-kaca tak kuasa menahan luapan rasa bahagia yang membuncah
di dada.
Bayi mereka kini hidup di dalam rahim Mayra,
dia bergerak pelan, terlihat begitu kecil, mungil,
dan masih sangat rapuh bahkan nyaris terlihat
samar. Namun dengan kecanggihan teknologi
sudah terlihat jelas bagaimana bentuknya.
"Mas..itu anak kita.."
Lirih Mayra takjub luar biasa dengan apa yang
di lihatnya sekarang.
"Iya sayang..itu anak kita. Dia begitu rapuh.
Kita harus menjaganya dengan sangat baik.."
Sahut Dirga seraya mencium kuat jemari Mayra sedangkan matanya tidak lepas dari layar monitor.
"Perkembangan nya sejauh ini sangat bagus.
Bayi kalian dalam keadaan sehat, hanya saja
untuk jenis kelamin sebaiknya menunggu usia
4 bulan supaya lebih jelas.."
Ujar Lani sambil kembali menggerakkan alatnya
memutari perut Mayra.
"Alhamdulillah.. apapun jenis kelaminnya nanti
bagiku sama saja, yang penting bayinya sehat
__ADS_1
dan kuat.."
Ucap Mayra masih dengan mata yang berair
karena tidak kuasa menahan rasa harunya.
Dirga terlihat mengangguk setuju.
Mayra kembali duduk di kursi setelah selesai
pemeriksaan.
"Aku akan memberikan beberapa obat dan
vitamin untuk menjaga kesehatan dan
kestabilan sistem kekebalan tubuh.. Jangan
lupa di minum susu hamilnya ya.."
Ucap Lani seraya kemudian menyodorkan
plastik berisi obat dan vitamin untuk Mayra.
"Baiklah.. terimakasih banyak Dokter.."
Mayra berdiri dan berjabat tangan dengan
Dokter Lani di ikuti oleh Dirga.
"Bagaimana dengan hubungan setiap hari.?
itu tidak masalah kan..?"
"Maaass.. apaan sih..?"
Mayra mendelik kesal kearah Dirga yang cuek
saja. Lani hanya tersenyum simpul.
"Tidak masalah karena kandungan istrimu kuat.
Hanya saja harus lebih lembut melakukannya."
"Tentu saja..Aku akan lebih lembut.."
"Udah Mas..bikin malu saja."
Mayra menarik tangan Dirga keluar dari ruangan
Dokter Lani dengan wajah yang sudah semerah
tomat menahan malu. Dirga tersenyum puas
seraya mengikuti tarikan tangan Mayra.
Ketika tiba di depan pintu lift, tiba-tiba Dirga
mengangkat tubuh Mayra kedalam pangkuannya
membuat Mayra memekik dan meronta namun
tangannya tetap melilit di leher kokoh Dirga.
"Mas..turunin.! ada Jane dan Sekretaris Lee
di sini.! Cepat turunkan aku..!"
"Memangnya kenapa.?!"
"Malu Mas.."
"Anggap saja mereka tidak ada di sini..!"
"Tidak bisa begitu.."
"Bicara lagi aku cium kamu sekarang juga..!"
Mayra langsung mengatupkan mulutnya.
Akhirnya dia terpaksa diam, menurut dan
hanya bisa menatap kesal Dirga dengan mengkerucutkan bibirnya.
"Dengan posisi bibirmu yang seperti itu,
justru malah menantang ku..!"
Cup !
"Mas..!!"
Mayra kesal memukul dada bidang Dirga karena
dia benar-benar malu dengan dua orang yang
berdiri di belakang mereka . Lee dan Jane
menundukkan muka mereka sedalam dalamnya
tidak sanggup melihat kemesraan yang di pertontonkan oleh Tuan muda mereka yang kini
Sementara Dirga hanya tersenyum senang
melihat kekesalan Mayra, dia malah sengaja
kembali mencium mesra bibir Mayra.
***** *****
Dirga membawa Mayra untuk makan siang di
sebuah restoran yang cukup privat karena
biasanya hanya di kunjungi oleh orang-orang
kalangan atas saja.
"Kau mau makan apa sayang..?"
Tawar Dirga seraya merangkul pinggang Mayra
yang spontan menjauh, di depan mereka ada
manajer restoran dan dua orang pelayan.
"Aku hanya ingin makan salad saja sayang..
sama jus alpukat."
"Itu tidak akan cukup..!"
"Tapi aku tidak ingin yang lain. Hanya itu saja."
Tegas Mayra sambil duduk tenang menyandarkan
tubuhnya ke sandaran sofa. Dirga menatap
Mayra sebentar kemudian berpaling pada
manajer restoran.
"Bawakan semua makanan yang paling enak di
sini..! Biar nanti dia pilih sendiri.!"
Titahnya sambil mengibaskan tangannya.
"Baik Tuan..kami akan segera menyiapkannya."
"Cepatlah..!!"
Sang manajer langsung membungkuk setelah
itu berlalu di ikuti oleh dua pelayan nya.
Dirga ikut menyandarkan tubuhnya sambil
menarik tubuh Mayra agar bersandar di dadanya.
Tapi Mayra mengelak menjauh, Dirga menautkan
kedua alisnya. Lalu dia kembali menarik Mayra
agar mendekat, namun Mayra kembali menepis
tangan Dirga. Dirga menegakkan badannya
menatap heran kearah Mayra yang tengah asik
dengan ponselnya.
"Mas..buka jas nya..!"
Pinta Mayra sambil melirik sekilas. Alis Dirga
semakin terangkat.
"Kenapa memang nya.?"
"Aku tidak suka bau nya.!"
Dirga mencoba mencium jas nya, masih seperti
saat pagi dia memakainya, wangi dengan aroma
yang sangat membuai dan parfum ini adalah
parfum kesukaan Mayra.
"Tapi ini masih wangi sayang..Lagipula tubuhku
ini selalu wangi walau tidak mandi sekalipun.!"
"Kalau tidak mau buka jangan dekat-dekat, aku
mual mencium aromanya.!"
__ADS_1
Sergah Mayra cemberut. Dirga menghela napas
kemudian membuka jas nya.
"Lee...!!"
"Iya Tuan.."
Lee langsung menerobos masuk dari arah pintu.
Dia berdiri menatap heran pada kedua majikannya
yang kini duduk berjauhan, biasanya kan selalu
menempel dimanapun berada..
"Buang jas ini. Ganti semua parfum yang biasa
aku pakai..!"
"Baik Tuan.."
Walau tidak mengerti Lee menerima jas yang
di sodorkan oleh Tuan nya.
"Sudah..! Ayo sini jangan jauh-jauh..!"
Mayra melirik kemudian menatap Dirga lalu
tersenyum manis. Dia bergeser mendekat dan
kemudian Dirga merangkul nya .
"Bagaimana sekarang.? lebih baik..?"
"Hemm..kau jangan memakai apapun..! Aku
lebih suka Mas tanpa memakai wewangian.."
"Apa kau takut perempuan lain akan melirikku.?
Bukankan itu sudah biasa..?!"
"Mas..Aku tidak suka ya kamu ngomongin
wanita lain di depanku..!"
Rengek Mayra dengan wajah yang benar-benar
kesal. Dia kembali menjauhi Dirga membuat
Dirga tergelak dan kembali meraih tubuh Mayra
di bawa ke dalam rangkulannya.
"Aku senang kamu cemburu..!"
"Aku tidak cemburu ya.."
"Terus apa kalau bukan cemburu.?"
"Aku hanya tidak suka..! Sekarang kau itu hanya milikku Mas..!"
"Baiklah.. aku memang hanya milikmu..!
sama seperti mu yang hanya milikku..!!"
Dirga mencium puncak kepala Mayra, bibirnya
tak henti menyunggingkan senyum manis.
Manajer restoran datang dengan beberapa
pelayan membawakan banyak hidangan
spesial yang menjadi menu andalan di restoran
tersebut. Para pelayan kemudian menata semua
hidangan tersebut dengan sangat apik.
"Silahkan Tuan.. Nyonya..selamat menikmati."
Sang manajer membungkuk kemudian undur
diri di ikuti oleh para pelayan nya.
Dirga dan Mayra tampak terdiam melihat
hidangan begitu banyaknya telah tersedia
diatas meja.
Tiba-tiba saja perut Mayra terasa penuh,
kepalanya juga jadi pening. Dia memegangi
perutnya yang semakin tidak nyaman.
Sampai akhirnya..
"Aku ke toilet dulu Mas.."
Kemudian berdiri dan setengah berlari menuju
ke toilet. Dirga tampak terkesiap ketika melihat
Mayra berlari, dengan cepat dia ikut berlari
menyusul Mayra. Saat sudah dekat dia langsung mengangkat tubuh Mayra di bawanya masuk
ke toilet wanita.
Sampai di dalam toilet Mayra langsung
mengeluarkan semua isi perutnya dengan
durasi yang cukup lama hingga membuatnya
terlihat kelelahan dan sedikit pucat. Dirga
dengan sabar membantu memijat dan mengelus lembut pundak nya.
..... .....
Mayra bersandar lemas di dada Dirga yang kini
sedang menatap tajam para pelayan dengan
tatapan yang sangat dingin. Saat ini mereka
sedang membereskan kembali semua hidangan
yang tadi di sajikan. Benar-benar aneh pikir
mereka..
"Kalian bagikan semua makanan itu pada
orang-orang yang ada di pinggir jalan..!"
Titah Dirga dengan wajah yang terlihat semakin
dingin sedikit emosi.
"Baik Tuan..akan segera kami laksanakan."
Sahut sang manajer ketakutan. Dia melirik
takut kearah Mayra merasa sangat bersalah.
Saat ini Mayra terlihat sedikit pucat, dia sedang
memejamkan matanya merasakan perutnya
yang masih sedikit tidak nyaman.
"Maafkan saya Tuan.. Nyonya jadi seperti ini.."
"Apa yang kamu lihat.! sudah sana pergi..!"
"Baik Tuan."
Sang manajer langsung membungkuk kemudian
berlalu keluar ruangan.
"Sepertinya sekarang ini Nyonya tidak cocok
makan makanan di luar rumah Tuan.."
Ujar Lee yang berdiri tidak jauh dari Tuannya.
Dirga mengangguk menatap Mayra yang kini
sudah membuka matanya.
"Bagaimana.? masih mual.?"
Mayra menggeleng seraya menatap Dirga.
"Kita pulang saja ya Mas.."
"Hemm..kita pulang sekarang.! kau sudah urus
pembayarannya Lee..?"
"Sudah Tuan.!"
"Ayo kita pulang..!"
Mereka akhirnya memilih pulang. Dan acara
makan siang pun berakhir gagal.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC....