Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
91. Pergi


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Dirga langsung membawa Mayra kedalam kamar mandi. Dia mengisi bathub dengan air hangat dan menuangkan cairan aromatherapy ke dalamnya.


Mayra hanya berdiri saja memperhatikan apa yang


di lakukan oleh suaminya itu.


Setelah selesai Dirga kembali ke hadapan Mayra, menatapnya sebentar dengan sorot mata yang dingin dan ekspresi muka yang datar. Setelah itu dia berlalu tanpa sepatah katapun.


Mayra terdiam kaku melihat perlakuan dingin Dirga barusan, air mata kembali turun membasahi wajahnya. Namun akhirnya dia bergerak perlahan membuka pakaiannya yang sudah setengah kering dan rapat di tubuhnya. Setelah itu mulai masuk kedalam bathub untuk berendam dan merilekskan tubuh nya.


Malam semakin larut. Setelah menjalankan kewajibannya, Mayra berdoa dengan khusyuk, memohon perlindungan dan pencerahan dari Tuhan untuk semua masalah yang tengah menimpa kehidupannya kini. Hanya Tuhan lah tempat yang paling tepat untuknya saat ini mencurahkan segala


isi hati dan kegelisahannya.


Sejak keluar dari kamar mandi, Mayra tidak


melihat keberadaan Dirga di dalam kamar.


Dia juga enggan mencari tahu dimana suaminya


itu kini berada.


Tina masuk kedalam kamar membawakan nampan berisi makan malam untuk Mayra.


"Nyonya Tuan berpesan anda harus makan dan


minum obat.."


Ucap Tina sambil menyimpan makanan di atas


meja di ruang bersantai. Mayra yang baru selesai melipat semua peralatan sholat nya melihat kearah Tina kemudian berjalan menghampirinya.


"Dimana dia..?"


Tanya Mayra sambil kemudian duduk mengambil gelas susu dan meminumnya perlahan.


"Tuan..Tuan..pergi Nyonya..!"


"Pergi..??!!"


Mayra terlihat terkejut, menatap Tina tajam.


"Benar Nyonya, setelah tadi membersihkan diri di kamar sebelah Tuan langsung pergi lagi..!"


Ucap Tina sambil menunduk. Mayra terdiam, terhenyak, tatapannya kembali terlihat hampa.


"Tuan hanya berpesan agar Nyonya makan malam kemudian minum obat.."


Kembali ucap Tina. Mayra menghela napas berat.


"Baiklah nanti aku makan..Sekarang kau boleh keluar..!"


"Baik Nyonya, saya permisi.."


Tina membungkuk kemudian berlalu keluar kamar.


Mayra melangkah ke dekat tempat tidur, mengambil ponsel di atas nakas kemudian mencoba menghubungi nomor Dirga.


Namun tidak ada respon darinya. Dia mencoba lagi, tapi tetap tidak di angkatnya. Akhirnya Mayra menyerah, dia terduduk di pinggir tempat tidur, menatap layar ponsel yang memperlihatkan fhoto Dirga di sana.


"Kita perlu bicara baik-baik Mas..Kenapa kamu menghindari ku seperti ini.."


Lirih Mayra seraya mengelus gambar Dirga di


layar ponselnya. Air matanya kembali menetes.


Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian memejamkan mata mencoba menahan


air matanya yang terus menetes.


***** *****


Hari ini cuaca cukup cerah. Suasana di kantor Moolay Group seperti biasanya selalu sibuk. Tak ada satu orang pun yang terlihat santai dan berleha-leha.


Perusahaan Moolay Group adalah salah satu perusahaan yang menjadi impian semua orang untuk bisa bekerja dan bergabung di dalamnya. Karena selain memberikan upah yang sangat besar, perusahan ini juga menerapkan sistem kerja yang sangat profesional. Jam kerja yang ketat namun tidak pernah keluar dari peraturan yang telah di tentukan.


Di dalam ruangan kantor CEO, Dirga terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia sedang berkutat dengan segala kesibukan nya.


Seharian kemarin dia tidak bisa bekerja dengan benar karena tubuhnya yang tidak stabil akibat minuman yang dikonsumsinya melebihi batas normal sehingga dia kehilangan kontrol.


Sudah dua malam dia menginap di hotel


pribadinya dengan maksud ingin menenangkan diri dan mencoba mengontrol emosinya.


Kemarahan atas semua kejadian kemarin membuat dia butuh waktu untuk memikirkan semuanya


dengan tenang.


Lee masuk kedalam ruangan, kemudian menyimpan beberapa berkas di atas meja.


"Kau sudah berhasil menghubungi pengkhianat itu Lee ?"


Tanya Dirga masih dengan aktifitasnya.


"Sudah Tuan..Tapi Tuan Aaron sedang pulang ke negaranya. Dia sedang menemui neneknya.!"


"Apa katanya.?"


"Dia akan menemui Tuan kalau sudah waktunya..!"


"Dasar pengkhianat.! Enak banget dia bicara


seperti itu !"

__ADS_1


"Tuan Aaron mengatakan..kalau Tuan tidak percaya pada Nyonya Mayra lebih baik melepaskannya..!"


Brakk !!


Dirga memukul meja dengan keras. Wajahnya terlihat semakin dingin cenderung mengerikan.


"Brengsek..!!"


Desis Dirga geram menggertakan giginya.


"Kelihatannya Tuan Aaron telah benar-benar jatuh cinta pada Nyonya Mayra..!"


Ucap Lee pelan sedikit takut. Dirga terdiam. Tangannya masih terkepal kuat.


"Suruh si brengsek itu untuk cepat datang menemuiku.! Jangan hanya bicara di telpon.!"


"Baik Tuan..Saya akan menghubungi nya lagi.!"


Ucap Lee, Dirga mengibaskan tangan dan


Lee pun segara berlalu dari hadapannya.


Dirga menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kemudian memejamkan matanya.


Bayangan wajah Mayra bermain di pelupuk matanya, tapi lintasan fhoto-fhoto nya bersama Aaron kembali mengganggu pikirannya.


Dirga meremas kepalanya frustasi. Dia menyimpan kedua tangannya di belakang kepalanya dengan masih memejamkan mata.


"Maass.."


Ada suara lembut yang terdengar di telinga Dirga.


"Mayra.."


Bisik Dirga masih terpejam mencoba meyakini pendengarannya. Setelah beberapa saat dia membuka matanya perlahan dan melihat sosok Mayra telah berdiri di hadapannya. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan lelah, namun tidak mengurangi pesona kecantikannya yang selalu membuat hatinya bergetar.


Dirga menatap dingin ke arah Mayra.


"Aku membawakan makan siang untukmu.."


Ucap Mayra kemudian sambil menyimpan kotak makan di atas meja kerja Dirga.


Dirga hanya meliriknya sekilas, masih dengan wajah datarnya dan tatapan yang super dingin.


"Kita harus bicara Mas..Semalam kau pergi begitu saja. Kau sengaja menghindariku.."


"Apa kau memiliki perasaan padanya.?"


Potong Dirga dengan nada suara yang sangat dingin.


Dia juga menatap tajam wajah Mayra yang terhenyak sesaat mendengar ucapan Dirga.


"Kamu menyukainya..?!"


"Mas..apa kau tidak percaya padaku.?"


"Jangan mencari alasan, jawab saja pertanyaan ku.!"


Debat Dirga sambil kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah ke hadapan Mayra.


"Kau berkhianat di belakangku..!"


"Cukup Mas..!"


Sergah Mayra sambil kemudian menatap nanar wajah Dirga yang kini berada di hadapannya. Dia sungguh kecewa Dirga terus saja menyudutkannya.


Tapi air matanya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama, jatuh meluncur begitu saja.


"Aku baru saja menempatkan mu di dalam hatiku.!


Apa kamu pikir aku bisa dengan mudah membagi hati untuk yang lain.?"


Ucap Mayra dengan suara sedikit bergetar


menahan desakan kekecewaan yang membumbung


di dalam hatinya.


Dirga terdiam, hanya bisa menatap Mayra yang terus saja menjatuhkan air matanya.


"Aku tidak percaya pada kalian berdua.! Kau wanita yang pandai memanipulasi perasaan laki-laki..!"


"Astagfirullah Mas..! Aku ini istrimu..! Aku tahu aku harus berada dimana.!"


"Buktinya ada dalam fhoto2 itu.!"


"Terserah.!! Aku hanya ingin mengatakan semua yang ada di fhoto itu hanyalah gambar biasa, tidak ada yang lebih dari itu..!"


Ucap Mayra sambil menghapus kasar air matanya.Dia benci dengan air mata ini yang terus saja turun. Dia harus mengakhiri semua ini. Dirga terlihat berpaling dan berjalan kearah jendela.


"Pergilah..! aku masih banyak urusan..!!"


Ucap Dirga kemudian. Mayra melangkah menghampirinya dan berdiri di belakangnya.


"Kau teruslah pelihara rasa cemburu butamu


itu Mas..! Tapi ingat itu hanya akan merugikan


diri kamu sendiri. Karena aku tidak seperti yang


ada dalam pikiranmu.!"


Ucap Mayra sambil kemudian berbalik melangkah keluar. Tapi kemudian dia berhenti sesaat.


"Sebaiknya kau pikirkan baik-baik. Sekarang aku

__ADS_1


ingin sendiri dulu, aku akan pulang ke rumah Ayah..!"


Ucap Mayra tegas, setelah itu dia berlalu pergi dengan menyapu semua air matanya.


Dirga terhenyak, tubuhnya tiba-tiba lemas. Tangannya terkepal, rahang nya mengeras.


"Mayraa.."


Desisnya dengan suara yang berat. Tubuhnya


luruh ke lantai. Dia duduk bersandar ke dinding ruangan. kepalanya di tekan-tekan ke tembok, matanya terpejam. Dadanya terasa sangat sesak.


Baru kali ini dalam hidupnya Dirga merasakan yang namanya kecewa hanya karena urusan hati.


Dan hanya Mayra lah yang bisa mengubah jati dirinya dari laki-laki dingin dan bengis, menjadi seorang yang rapuh dan kacau seperti ini.


Rasa Cinta yang begitu dalam padanya telah


membuat Dirga termakan api cemburu dan


rasa takut kehilangan yang berlebihan.


..... ...


Mayra tiba di rumah besarnya. Tidak menunggu waktu lagi dia langsung berkemas, mengambil tas dan beberapa pakaian serta perlengkapan nya.


Sebelum pergi, sejenak Mayra memandang sekeliling kamar yang sudah di tempatinya beberapa waktu terakhir ini. Air matanya kembali menetes, mengingat kebersamaan nya dengan Dirga yang selalu di warnai dengan kehangatan dan kemesraan.


Mayra menghela napas, dia harus menguatkan


hatinya untuk melakukan semua ini. Ini adalah


yang terbaik untuk dirinya dan juga Dirga. Mereka butuh waktu untuk saling introspeksi diri.


Setelah semua siap Mayra turun ke lantai bawah membawa koper kecil dan sebuah tas.


Tina tampak menatap berat kearah Mayra. Dia sangat prihatin pada nasib pernikahan kedua Tuan mudanya ini yang selalu saja di rundung masalah.


Tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan olehnya yang hanya seorang kepala pelayan.


Mayra berjalan melangkah keluar dari dalam


rumah di ikuti oleh Tina yang membawakan kopernya.


Namun ketika sampai di teras utama, langkahnya terhenti ketika melihat kedatangan Evelyin yang


baru tiba di halaman.


Mayra berdiri di atas tangga melihat kearah Evelyin yang melangkah dengan gaya elegannya di ikuti oleh Siska asistennya.


"Hahaa.. akhirnya kamu keluar juga dari rumah ini.


Baguslah kalau tahu diri.! Jadi aku tidak perlu susah payah menyeretmu keluar..!"


Ucap Evelyin sambil tertawa renyah. Mayra terdiam, dengan tenang dia menuruni anak tangga dan mendekati Evelyin. Kini keduanya sudah saling berhadapan dan saling menatap tajam.


"Silahkan nikmati kesenanganmu Evelyin..Tapi Tuhan tidak akan pernah tidur..!"


Ucap Mayra tenang. Evelyin menyeringai dan memutar bola matanya jengah.


"Sudah takdirmu untuk kembali terbuang..! Karena


kau sudah salah masuk ke rumah orang..!!"


"Aku tidak pernah ingin masuk ke rumah kalian,


tapi kalianlah yang menarikku untuk masuk..!


Kita lihat saja, sampai dimana Tuhan akan mempertemukan kita..!"


Sergah Mayra. Evelyin menatap kesal pada Mayra dan tangannya bergerak menekan bahu Mayra.


"Aku tidak akan membiarkan kamu menggantikan posisi ku di sisi suamiku..!!"


"Kau menggunakan segala cara untuk menyingkirkan aku, tapi aku berdiri di sisi Tuhan, aku yakin..keadilan itu akan tiba pada saat nya nanti..!!"


Debat Mayra tajam, Evelyin hanya bisa melotot,


dia kehabisan kata-kata. Dia mendorong Mayra dengan keras tapi untunglah Jane dan Tina


sigap menahan tubuh Mayra di belakang hingga


tidak sampai terjatuh.


"Pergi kamu, kembalilah ke tempat asalmu..!!"


Teriak Evelyin saat Mayra sudah melangkah menjauh dan mendekat ke arah mobil.


"Tina..aku pergi..! Semoga Tuhan mempertemukan kembali kita semua dalam keadaan yang lebih baik.


Jaga diri kalian baik-baik.."


Ucap Mayra sambil menepuk bahu Tina yang menatapnya berat.


"Tuan pasti tidak akan suka dengan semua ini


Nyonya, sebaiknya anda pikirkan lagi..!"


"Aku sudah bilang padanya.! Aku pergi ya..!"


Sergah Mayra, setelah itu dia kembali menepuk bahu Tina kemudian masuk kedalam mobil. Tina hanya terdiam termenung melihat mobil yang membawa Mayra semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik gerbang rumah.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2