
**********
Mayra terkejut melihat kemeja Aaron yang sudah basah oleh darah, dia menatap Aaron dengan sorot mata penuh kecemasan.
"Lukamu harus segera di obati.."
Ucap Mayra sambil kemudian berdiri di bantu oleh Aaron. Tapi Aaron tidak merespon dia malah menyobek kemeja yang di pakainya kemudian di gulung dan di pakai untuk menekan dada yang tadi terkena tembakan untuk menghentikan pendarahannya.
Mayra hanya melihat apa yang di lakukan Aaron dengan perasaan ngeri.
Dari ujung jembatan terlihat Jane dan Hanah baru saja datang dan langsung berlari kearah mereka.
Setelah dekat Jane dengan cepat menyelimutkan mantel yang dibawanya ke tubuh Mayra yang basah kuyup. Sementara Hanah menyelimuti Aaron. Wajahnya terlihat begitu cemas melihat keadaan Aaron yang berlumuran darah.
"Nyonya..maafkan saya tidak bisa menjaga nyonya dengan baik.."
Ucap Jane sambil menunduk.
"Tidak apa Jane, aku yang salah disini..! Sudah memaksa kalian mengikuti kemauanku."
Ucap Mayra sambil menatap Jane yang terlihat memar di bagian wajah dan tangannya.
"Tuan Aaron terimakasih banyak..Anda sudah datang tepat pada waktunya..!"
Ucap Jane berpaling pada Aaron dan membungkuk dalam. Dia sangat bersyukur Aaron datang tepat waktu menyelamatkan majikannya itu.
Aaron hanya terdiam saja masih menekan bagian luka dadanya, tapi kini kulitnya mulai terlihat pucat karena banyak mengeluarkan darah.
" Tuan anda perlu pertolongan secepatnya. Sebaiknya anda ikut ke Villa..saya akan mengobati anda di sana..!"
Ucap Hanah sambil menatap Aaron yang terlihat memejamkan matanya karena rasa sakit mulai terasa menyerangnya. Mayra yang melihat hal itu mencoba melangkah mendekat.
"Kita harus pulang sekarang..! Kau bisa kehabisan darah.."
Ucapnya menatap Aaron khawatir. Aaron melirik sekilas kemudian dia mulai berjalan. Namun sesaat kemudian berhenti kembali menoleh kearah Mayra. Keduanya saling pandang sesaat.
"Aku kuat kok.."
Ucap Mayra seolah mengerti arti tatapan mata Aaron.
Kemudian dia juga mulai melangkah perlahan, tapi ternyata kakinya masih sangat lemas.
"Nyonya.. naiklah..! saya akan menggendong anda.!"
Ucap Jane sambil kemudian dia berdiri setengah berjongkok di hadapan Mayra.
"Tidak perlu Jane..! Aku bisa sendiri.."
Tolak Mayra seraya menggeleng dan kembali melangkah perlahan. Tapi kakinya benar-benar lemas dia berpegangan pada pagar pembatas jembatan.
Melihat hal itu Jane semakin khawatir , dia
mencoba memapah Mayra berjalan perlahan.
Namun tiba-tiba Aaron mendekat dan dalam sekali gerakan dia mengangkat tubuh Mayra.
Mayra tersentak dia berusaha menahan tangan
Aaron ingin turun dari pangkuannya.
"Hei..turunkan aku..! Aku masih bisa berjalan sendiri..!"
Pekik Mayra sambil berontak ingin turun. Tapi Aaron acuh saja terus berjalan dengan wajah datarnya. Kembali pada Aaron semula yang dingin dan kaku.
Mayra merasa ini sungguh tidak patut, dia terus berusaha menekan lengan Aaron yang kokoh itu.
Tapi saat tangannya mengenai luka di dada kanan Aaron dia jadi tertegun saat melihat Aaron sedikit meringis. Akhirnya Mayra diam saja membiarkan dirinya berada dalam pangkuan orang asing ini,
orang yang sudah menyelamatkan nyawanya. Mungkin ini memang tidak selayaknya terjadi, tapi keadaan tidak bisa di abaikan.
Melihat Aaron mengangkat dan berjalan cepat membawa Mayra , Jane hanya terdiam saja tapi kemudian mengikuti langkahnya dari belakang.
Sementara Hanah mematung di tempat, ada rasa panas yang membakar dadanya melihat perlakuan Aaron pada majikannya tersebut, namun
kemudian dia juga melangkah mengikuti mereka.
***** *****
Di dalam Villa utama kini terlihat sibuk.
Aaron tadi tiba di villa dengan kondisi yang mulai sedikit lemah karena banyaknya mengeluarkan darah.
__ADS_1
Kini dia terbaring lemas di tempat tidur kamar utama di Villa itu.
Ada satu kejutan besar, Hanah ternyata ahli pengobatan alternatif. Setelah tadi dia mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Aaron, dia kemudian mengobati luka robek di dada Aaron dengan obat racikannya sendiri. Setelah itu memberi perban dan kini sedang membebat luka itu dengan kain putih.
Aaron menatap gadis cantik berkulit eksotis itu dengan tatapan datar.
"Seharusnya kau tidak perlu repot begini, aku bisa mengobatinya sendiri..!"
Ucap Aaron sambil mengencangkan bebatan kain di lukanya. Hanah memberanikan diri menatap wajah Aaron yang sangat tampan itu. Hatinya bergemuruh, jantungnya berdetak kencang. Harus bagaimana dia mencoba mengendalikan perasaannya terhadap laki-laki ini yang mampu membangkitkan hasratnya dalam sekejap dan membuat aliran darahnya langsung memanas hanya dalam sekali pandang saja. Laki-laki ini mempunyai daya tarik seksual yang sangat kuat.
"Saya hanya ingin berterimakasih pada anda karena telah menyelamatkan nyawa Nyonya kami.."
Ucap Hanah sambil kemudian berdiri dan membereskan semua peralatan yang tadi di bawanya.
Dia hendak beranjak ketika Aaron memegang tangannya, tubuh Hanah menegang, desiran halus langsung merambat ke seluruh tubuh nya.
Dia melirik dan bertatapan dengan mata Aaron yang setajam silet itu.
"Aku akan membayar semua ini..!"
Ucap Aaron. Hanah mengernyitkan alisnya kemudian menatap Aaron lekat.
"Saya iklhas melakukannya Tuan.."
"Apa yang kau inginkan.?"
Tanya Aaron sambil melepaskan pegangan
tangannya. Wajah Hanah memerah.
Aku menginginkan dirimu Tuan..
Gumam Hanah dalam hati, dengan wajah yang malu sendiri saat menyadari pikiran liarnya tersebut.
"Saya tidak menginginkan apapun Tuan.."
"Jangan bohong..!"
Debat Aaron, keduanya saling pandang lekat.
Hanah menggeleng gugup.
"Aku tahu kamu menginginkan diriku..!!"
"Tuan..maaf ! saya tidak selancang itu..!"
"Aku akan membuatkan klinik pengobatan yang selama ini kamu inginkan.!"
"Tuan.. bagaimana anda tahu..?!"
Hanah tercengang dia menatap Aaron tak percaya.
"Itu tidak penting. Sekarang aku ingin istirahat, kau boleh keluar..!"
Ucap Aaron sambil merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya. Hanah sedikit kecewa, tapi kemudian dia mengangguk dan berlalu pergi keluar dari dalam kamar.
..... .....
Hari semakin merambat malam, setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, Mayra mengajak Jane kembali ke villa untuk makan malam.
Selama ini Jane tidur di kamar villa diatas
laut sebelahnya kamar yang di gunakan oleh Mayra.
"Hanah..apakah Aaron sudah makan..?"
Tanya Mayra saat dia mulai duduk untuk makan malam.
"Belum Nyonya, sejak tadi sore Tuan Aaron belum keluar dari kamar.."
Jawab Hanah. Mayra terdiam belum memulai
makan nya sama sekali.
"Tolong siapkan sekarang.."
"Apa Nyonya akan mengantarkan nya ke kamar.?"
Tanya Hanah sambil menatap wajah Mayra sekilas.
"Iya.. siapkan sekarang.."
"Sebaiknya Nyonya makan dulu..biar saya saja yang mengantarkan makanan untuk Tuan Aaron."
__ADS_1
"Saya ingin melihat keadaan nya..!"
Potong Mayra. Hanah terdiam, dan kemudian dia menyiapkan makanan yang di minta Mayra.
Mayra mengetuk pintu kamar tempat Aaron
beristirahat, namun tidak ada sahutan dari dalam.
Mayra mengerutkan alisnya dan mengetuk kembali, tetap tidak ada jawaban. Akhirnya karena cemas dengan keadaan Aaron, Mayra membuka pintu yang tidak terkunci.
Dia masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan, namun saat sampai di dalam dia tidak melihat sosok Aaron di tempat tidur. Mayra menyimpan nampan makanan di atas nakas di samping tempat tidur. Kemudian dia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Aaron.
Tiba-tiba Aaron muncul dari arah kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk tipis saja yang menutupi area intimnya. Otomatis seluruh tubuhnya yang gagah dan sexy terekspos nyata di depan mata Mayra yang terkejut dan langsung berteriak membalikan badannya seraya menutup muka.
"Hei..kenapa tidak pakai baju dulu sebelum keluar.?"
Teriak Mayra kesal. Aaron juga sama terkejutnya saat melihat keberadaan Mayra di kamarnya. Dengan cepat dia mengambil pakaiannya di dalam lemari dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah lama akhirnya Aaron keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap warna putih.
Dia menatap kearah Mayra yang kini sedang membereskan tempat tidur dan mengganti seprei nya karena tadi ada noda darah di sana, mungkin terkena cipratan darah saat Hanah mengobati luka di dada Aaron tadi.
Setelah selesai Mayra membalikan badan, namun
dia terkejut setengah mati saat dirinya hampir saja menabrak Aaron yang berdiri mematung di belakangnya dari tadi. Badannya terhuyung ke belakang karena hilang keseimbangan dan hampir saja jatuh ke atas tempat tidur kalau Aaron tidak
sigap menangkap pinggangnya.
Keduanya berpandangan lekat beberapa saat hingga akhirnya Mayra tersadar dan dengan cepat beristighfar lalu menegakkan badannya dan cepat2 menjauh dari hadapan Aaron yang masih mematung di tempatnya dengan wajah sedikit memerah.
Dengan bereaksi seperti itu, wajah Aaron terlihat jelas pesona ketampanannya dan hal itu membuat Mayra tadi tertegun sesaat. Ternyata Tuan Aneh ini bisa juga bereaksi seperti itu..?? pikir Mayra.
Keduanya terlihat canggung sesaat, namun kemudian Mayra berusaha bersikap normal setelahnya.
"Kau harus makan..Aku sudah membawakan nya."
Ucap Mayra sambil berjalan kearah jendela dan menutupnya karena angin berhembus dengan kencang. Sepertinya cuaca malam ini tidak terlalu bagus. Ada suara gemuruh dari arah laut dan hal itu menciutkan nyali Mayra yang memiliki fobia terhadap hujan dan petir.
Aaron duduk di sofa yang ada di kamar tersebut, menyeruput teh hijau yang tadi dibawa Mayra.
Matanya tidak henti melihat semua gerak gerik
Mayra. Kenapa wanita ini tidak bisa diam saja di hadapannya agar dirinya bisa melihat dan menikmati keindahan rupa nya dengan tenang.
Gumam Aaron dalam hati.
Dia duduk tumpang kaki sambil mengecek
ponselnya karena ada pesan masuk dari Dirga.
Wajah Aaron tampak berubah datar dan dingin. Matanya kembali melihat kearah Mayra yang menghampirinya membawakan makanan kemudian di simpan di atas meja di depan sofa yang di duduki oleh Aaron. Mayra duduk di depan Aaron, menatapnya dengan teliti melihat ke arah luka di dada kanannya yang tertutup kemeja.
"Bagaimana lukamu..? apa sekarang sudah lebih baik.?"
Tanya Mayra sambil memperhatikan Aaron yang bersikap acuh saja tetap pada ponselnya. Mayra menghela napas mencoba bersabar.
"Tuan Aaron, apa kamu tidak akan berbicara padaku ? kamu anggap aku ini patung.?!"
Kembali ucap Mayra dengan sedikit keras.
Tapi Aaron masih terlihat acuh. Mayra jengah dia akhirnya berdiri dihadapan Aaron.
"Aku harap lukamu cepat sembuh, makanlah..! Aku permisi, selamat malam..!"
Ucap Mayra kemudian sambil beranjak.
"Bawa kembali makanannya..!!"
Tiba-tiba ucap Aaron membuat Mayra berhenti. Dengan cepat membalikan badannya dan menatap tajam kearah Aaron yang masih dengan sikap nya yang sama, datar dan dingin.
"Kau harus makan..! Jangan membuatku merasa bersalah karena telah berhutang nyawa padamu.!"
Ucap Mayra dengan suara yang sedikit keras namun juga bergetar karena menahan perasaan yang entah kenapa ada rasa jengkel tapi juga kecewa terhadap sikap acuhnya Aaron.
Aaron menatap tajam wajah Mayra hampir menembus jantungnya membuat Mayra memalingkan mukanya seketika.
"Aku tidak lapar..! Aku harus pergi sekarang..!!"
Ucap Aaron sambil kemudian berdiri dan tanpa basa basi melangkah pergi tanpa menoleh lagi kearah Mayra yang terlihat terpaku di tempat karena sikap acuhnya Aaron yang sudah sangat kelewat batas.
Mayra menjatuhkan dirinya di atas sofa dan terdiam melihat kearah kepergian Aaron, dia meremas jemarinya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC...