
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Rumah besar bercat putih yang ada di tengah bukit indah itu sejak subuh sudah terlihat sangat sibuk.
Tina yang bertindak sebagai kepala pelayan, semalam sudah memberitahu tugas masing-masing untuk setiap pelayan di rumah ini yang berjumlah sekitar 20 orang. Tiap pelayan memiliki tugas dan pekerjaan yang berbeda dan bertanggungjawab terhadap pekerjaan nya masing-masing.
Di dalam kamar utama, kamar yang begitu besar, dengan segala fasilitas mewah yang ada di dalamnya, terlihat sepasang suami istri masih terlelap dalam tidurnya. Mayra memang masih dalam pengaruh obat penenang yang semalam di suntikan oleh Rayen.
Sehingga dia bisa tidur dengan tenang dan pulas.
Namun Dirga pun terlihat tertidur dengan sangat nyenyak karena Mayra ada dalam dekapannya semalam, seolah istrinya itu adalah obat penenang yang bisa membuat dia terlelap dan melepaskan segala beban kelelahan fisiknya.
Burung berkicau dengan riang di luar jendela kamar besar yang terhubung langsung dengan taman di belakang rumah yang sangat luas menyambung ke sebuah lapangan golf di sebrang rumah besar ini.
Matahari sudah mulai menampakkan diri di ufuk timur, menambah keindahan cuaca pagi ini yang cerah.
Mayra perlahan membuka matanya, menyipit sedikit menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retina matanya dari celah jendela kamar yang terbuka.
Dia tampak terdiam mencoba mengumpulkan segala kesadarannya. Kemudian menoleh ke samping.
Terlihat sosok gagah dan tampan suaminya yang bertelanjang dada ternyata tengah mengurung tubuhnya. Tangannya yang kekar melingkari badannya dengan posesif.
Mata Mayra terlihat sedikit terkejut saat menyadari dirinya ada di dalam sebuah ruangan yang asing. Bukan di dalam ruang perawatan yang semalam di tinggali nya.
Mayra terus mengelilingi seluruh ruangan dengan sudut matanya, ya..benar ini tempat yang berbeda.
Dia mencoba bangkit dengan mengangkat lengan kokoh Dirga yang memeluknya erat.
"Kau sudah bangun..?"
Terdengar suara Dirga, tapi matanya masih terpejam.
Mayra melirik dan memperhatikan wajah Dirga.
"Kita ada dimana.? kenapa rasanya tempat ini sangat asing bagiku.."
"Tentu saja, ini tempat yang berbeda, ini bukan di rumah sakit.!"
"Ahh..kok bisa? Kenapa aku tidak ingat kalau kita pergi ke tempat ini.?"
"Semalam kau tidur dengan nyenyak..!"
"Oyaa..? rasanya aku benar-benar tidak ingat.."
Bisik Mayra. Dirga kembali menarik tubuh Mayra dengan hati-hati.
"Aww..aduhh..."
Mayra mengeluh sembari meringis. Seluruh tubuh nya sekarang baru terasa sakit-sakit dan linu di beberapa bagian, terutama di bagian punggung dan juga bokongnya.
Dirga terkejut, dia cepat melepaskan pelukannya kemudian terduduk.
"Apa yang kau rasakan..?"
Tanyanya cepat sambil berusaha memeriksa bagian tubuh Mayra.
"Seluruh tubuhku sekarang rasanya linu semua.!"
Lirih Mayra sambil bangkit dan berusaha menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Dirga cepat membantunya membuat posisi Mayra senyaman mungkin.
"Kita akan minta obat yang paling bagus pada Rayen agar kamu tidak kesakitan lagi."
Ucap Dirga sambil mengelus rambut Mayra.
"Hemm.. sebenarnya kita ada dimana.?"
Tanya Mayra masih mencoba memperhatikan sekeliling kamar.
"Kita ada di tempat baru. Rumah baru kita..!"
Deg !
Jantung Mayra berdetak kencang.
Rumah baru kita.?? Apa dia tidak salah dengar.?
Dia menatap lembut wajah Dirga yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Rumah baru kita.?"
Mayra mengulang kata itu. Dirga mengangguk yakin.
"Kenapa harus pindah ? bukankah tempat yang kemarin juga sudah sangat bagus.?"
"Tempat itu sudah tidak aman lagi untukmu.!"
Mayra terdiam. Dan mereka kembali bertatapan.
"Cepatlah sembuh agar kamu bisa melihat semua bagian di rumah ini.."
Ucap Dirga lembut. Mayra menggeleng.
"Aku rasa ini terlalu berlebihan untukku. Aku tidak ingin pindah dari tempat yang kemarin.."
"Sayang..ini adalah tempat yang tepat untuk kita tinggali, apartemen terlalu kecil. Anak-anak kita memerlukan tempat yang layak untuk tumbuh kembang mereka..!"
"Hahhh... anak-anak..??"
Mayra tercengang mendengar ucapan Dirga. Dan suaminya itu terlihat sedang tersenyum kecil sambil mengangguk. Mayra menunduk malu, wajahnya langsung nge blush..!
"Aku akan pergi ke kantor untuk menyelesaikan semua masalah. Jadi sekarang..ayo aku akan membantumu membersihkan badan..!"
Ucap Dirga sambil kemudian dalam gerakan cepat mengangkat tubuh Mayra di bawa turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
..... .....
Mayra terlihat bengong melihat fasilitas di dalam kamar mandi tersebut. Luasnya lebih besar dari kamar tidur di apartemen yang kemarin di tinggali nya. Dalam kamar mandi ini ada beberapa fasilitas berbeda dalam satu ruangan. Ada sebuah whirpool di bagian kanan, kemudian bathub di sebelah kiri dan sebuah ruang shower tertutup yang menyatu dengan tempat shauna di ujung ruangan. Semuanya komplit dalam satu ruang kamar mandi tersebut.
"Ayo.. kau harus merilekskan tubuhmu..aku akan menemanimu.."
Ucap Dirga sambil menurunkan tubuh Mayra di dekat bak Whirpool, kemudian dia menyalakan mesin jet nya dan mengatur suhu air.
Setelah semua siap, Dirga kembali menghampiri Mayra dan menatapnya lekat.
"Biarkan aku membantumu.."
Ucapnya pelan dengan suara yang sedikit berat. Ada beban hasrat yang mendesak dan menguasai seluruh tubuhnya saat ini, tapi dia menyadari kondisi Mayra saat ini yang sangat lemah.
Mayra tampak ragu dan malu, tapi Dirga terlihat menatap nya dengan memohon. Dan akhirnya Mayra mengangguk pasrah.
Napas Dirga semakin memburu, menahan gejolak hasrat yang semakin membara, Mayra pun merasakan hal yang sama. Namun mereka masih bisa menguasai diri mengingat kondisi yang tidak memungkinkan.
Akhirnya dengan perlahan dan hati-hati Dirga kembali mengangkat tubuh Mayra di bawa masuk kedalam bak dan mereka mulai berendam.Tubuh Mayra di letakkan di atas pangkuan Dirga. Mayra merebahkan kepalanya di atas dada bidang Dirga dengan nyaman sambil memejamkan mata menahan gejolak perasaan yang hampir tak tertahan.
Dengan susah payah dan perjuangan yang keras mereka terus berendam, mencoba menikmati sensasi relaksasi dari tekanan air yang berasal dari mesin jet whirpool yang semakin lama semakin memberikan kenyamanan dan pijatan halus di tubuh mereka.
Setelah merasa cukup dengan acara berendam bersama nya, Dirga kembali mengangkat tubuh Mayra yang sudah terbungkus kimono tebal dan panjang, kemudian mendudukkan nya di pinggir ranjang yang super besar berseprai putih. Dia berjongkok di depan Mayra, menatapnya dalam dan meraih tangannya, kemudian menciumnya lama.
Mayra meraup wajah Dirga dan menatap nya lekat.
"Terimakasih..Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Aku tidak mungkin bisa membalasnya.."
Ucapnya lembut, kemudian perlahan dan sedikit malu dia mengecup lembut bibir Dirga yang terkejut sesaat dengan apa yang di lakukan Mayra. Namun kemudian justru Dirga yang tidak bisa menahan diri. Dia langsung menyergap bibir ranum Mayra yang sudah sangat di rindukannya itu.
Mereka hanyut dalam ciuman panas yang lembut dan memabukkan.
Bibir Dirga sudah mulai turun menyusuri leher jenjang Mayra, menggigit nya kecil meninggalkan jejak di sana, kemudian turun lagi ke bagian dada, bermain panas dengan kedua gunung kembar Mayra yang sangat menggodanya. Lenguhan kecil keluar dari mulut Mayra membuat Dirga semakin tidak bisa mengontrol hasrat nya. Dia terus menyusuri tubuh bagian atas Mayra dengan ciuman liar nya.
Namun tidak lama terdengar rintihan kesakitan Mayra yang memaksa dirinya untuk segera mengakhiri aksi panasnya tersebut.
Mereka saling pandang lekat dengan mata sedikit berkabut, mengatur napas masing2, kemudian Dirga meraih tubuh Mayra ke dalam pelukannya berusaha mengontrol dirinya.
...... .....
Dirga memanggil Tina lewat sambungan telpon yang ada di dalam kamar, telpon khusus untuk memanggil pelayan apabila ada keperluan dan tidak ingin keluar dari kamar.
"Bawakan sarapan untuk kami..!"
"Baik Tuan.."
Dirga meletakkan kembali gagang telepon. Dia berpaling pada Mayra yang sudah berpakaian lengkap dengan hijabnya. Duduk santai di atas sofa.
"Apa Tina juga ada di sini.?"
Tanya Mayra sambil membantu memasangkan dasi.
__ADS_1
"Hemm..dia kepala pelayan di sini. Kalau kau perlu sesuatu panggil saja dia lewat telepon. Jangan banyak bergerak dulu.."
"Hemm..baiklah.."
Sahut Mayra sambil menepuk halus bahu Dirga dan merapihkan sedikit jas nya.
Tidak lama pintu terbuka. Tina muncul bersama seorang pelayan membawa troli yang berisi hidangan lengkap untuk sarapan pagi.
Mayra tersenyum menyambut Tina.
"Nyonya.. bagaimana kabarnya hari ini.? Sudah lebih baik..?"
Tanya Tina sambil membungkuk.
"Alhamdulillah Tina..sekarang aku merasa lebih baik dari kemarin.."
Sambut Mayra dengan senyum manisnya.
"Syukurlah Nyonya.."
Sahut Tina sambil kemudian menyiapkan makanan di bantu oleh pelayan.
"Silahkan Tuan.. Nyonya.."
Kembali ucap Tina seraya membungkuk di ikuti pelayan yang tadi bersamanya, kemudian mundur lalu pergi dari dalam kamar.
Mereka berdua mulai menikmati sarapannya. Dirga beberapa kali terlihat menyuapkan makanan ke mulut Mayra yang diterimanya dengan sedikit malu.
"Aku akan ke kantor untuk urusan penting. Kau harus istirahat dengan baik. Tina akan menemanimu di sini.
Dan Jane ada di luar pintu."
Ucap Dirga setelah mengakhiri sarapannya. Mayra hanya mengangguk dan mencoba berdiri, tapi Dirga dengan cepat malah mengangkat nya ala bridal style.
"Hei..apa yang kau lakukan..? Aku bisa sendiri..!"
Pekik Mayra, namun tak urung dia melingkarkan tangan nya di leher Dirga.
Dirga meletakkan Mayra di atas tempat tidur, mengganjal punggung nya dengan bantal dan menggeser posisi nya agar merasa nyaman.
"Kau tidak boleh berjalan dulu..! harus bedrest, mintalah bantuan Tina kalau mau ke kamar mandi."
"Sayaang..aku sudah tidak apa-apa, aku bisa berjalan dan melakukan apapun.."
"No..! Kamu belum stabil. Nanti siang Rayen akan kesini memeriksa kondisimu. Ingat..! jangan biarkan Dokter itu bersikap kurang ajar..!"
"Apa maksudmu.?"
Tanya Mayra kesal. Dirga menatapnya tajam.
"Jangan biarkan matanya melihatmu kemana-mana..!"
"Kau ini..bukankah Tina akan mengawasinya..?!"
"Pastikan saja dia datang seperlunya..!!"
Debat Dirga. Mayra hanya memutar bola matanya.
"Baiklah..sekarang pergilah.."
"Kau mengusirku..?"
"Bukan begitu, ini sudah siang..!"
Keduanya saling pandang, Dirga mendekat kemudian mengecup kening Mayra lembut.
"Jaga dirimu.! "
Ucapnya kemudian. Mayra menarik tangan kanan Dirga, kemudian mencium punggung tangannya.
Dirga kembali tertegun, dia mengingat awal-awal pertemuannya dengan Mayra.
"Hati-hati.."
Ucap Mayra lembut. Dirga mengangguk, namun sebelum melangkah dia kembali mengecup lembut bibir Mayra..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC.....