Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
113. Kehilangan Kendali


__ADS_3

 


**********


 


Saat ini Rayen sedang menemani Aaron di sebuah


club malam. Laki-laki tampan minim ekspresi itu


tiada henti meneguk minuman di dalam gelas kecil


nya seakan ingin melampiaskan segala keresahan


dan kesakitan yang sedang di rasakannya.


"Tuan yang Mulya.. sudahlah ! hentikan..kau


sudah minum terlalu banyak.! lama-lama dirimu


bisa kehilangan kendali.!"


Rayen merebut botol minuman dari tangan Aaron


yang terlihat akan di teguknya secara langsung.


Aaron mendengus, dia melempar gelasnya ke


sembarang arah menimbulkan bunyi prang yang sangat keras hingga gelas itu hancur berkeping-


keping. Matanya tampak sudah memerah dan dia kelihatan mulai kehilangan kontrol.


"Cinta..membuat hidupku kacau..!! Itulah


sebabnya aku tidak pernah ingin mengenalnya.


Tapi wanita ini telah memaksaku untuk merasakannya..! Dia sudah membuat jiwaku menderita..!!"


Aaron mendesis seraya memijat pelipisnya. Dia


menyandarkan kepalanya di kepala sofa.


"Dia baik-baik saja. Seharusnya sekarang kau bisa


tenang, bahaya itu sudah tidak ada lagi.!"


"Ya..kau benar.! aku bisa pergi dengan tenang. Aku tidak akan pernah lagi mengingatnya..!!"


"Kau sudah banyak membuang waktumu hanya


untuk mengejar sesuatu yang sudah menjadi hak


orang lain..! kau harus move on Tuan Marvell..!"


"Aku tidak ingin melakukannya, tapi dia selalu saja


memaksaku untuk berada di jalannya..!"


Aaron berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan.


Dia melangkah dengan perlahan.


"Hei..kau mau kemana.?"


"Aku ingin mendinginkan kepalaku.!"


"Apa aku perlu mengantarmu.?"


Aaron mengibaskan tangannya sambil kemudian melangkah pergi meninggalkan Rayen yang hanya menatapnya dengan senyum tipis. Ya cinta kadang membuat hidup seseorang ada di ambang ketidakpastian.


.... ....


Aaron membuka pintu kamar hotel dengan keras.


Dengan tubuh yang sudah kehilangan kontrol nya


dia berjalan kearah tempat tidur. Di pinggir tempat


tidur, seorang gadis yang sudah di bawanya dari


tempat persembunyian Jayden tampak menegang


melihat kedatangan Aaron. Dia mundur beringsut


ke dekat ujung tempat tidur dengan tatapan


waspada terhadap Aaron yang semakin mendekat.


Senyum tipis di bibir Aaron seketika terbit tatkala dalam halusinasinya dia melihat Mayra lah yang


kini sedang menatap ketakutan padanya.


"Kenapa..kau sangat menyiksaku baby..?!"


Aaron berucap sambil kemudian mengurung


tubuh gadis cantik itu yang semakin mengkerut ketakutan.


"Tu-Tuan..tolong..biarkan aku pergi..!"


Lirih gadis itu semakin mundur dan akhirnya


tubuhnya membentur ujung ranjang. Aaron


menatap lekat wajah gadis itu, tangannya mulai bergerak mengelus pipinya, merapihkan rambutnya yang jatuh menghalangi wajah cantiknya.


"Aku tahu kau miliknya..tapi cintaku sama besar dengannya..! kau harus tahu itu Mayra.."


Wajah gadis itu tampak terkejut, tapi rasa takut


dan tegang lebih menguasai dirinya saat ini.


Dengan sekali gerakan dia mendorong dada


Aaron dan berusaha untuk menghindar. Namun gerakan Aaron lebih cepat, dia menangkap pinggang gadis itu lalu mengangkat tubuhnya dan


melemparnya ke atas tempat tidur. Gadis itu


berusaha untuk bangkit namun Aaron dengan


cepat mengurung tubuhnya dan mengunci kedua


tangannya diatas kepala dengan satu tangannya.


"Tuan..tolong..jangan..! tolong lepaskan aku..!"


Teriak gadis itu saat Aaron dengan sangat kasar


merenggut semua pakaiannya. Matanya tampak


menyala ketika melihat keindahan tubuh gadis


itu yang kini sudah polos. Tangis gadis itu pecah,


dia berusaha menendang dan memukul, namun


gerakannya terkunci oleh himpitan tubuh Aaron


yang kini mulai menindihnya.


Dengan gerakan cepat Aaron melucuti seluruh


pakaian nya membuat gadis itu semakin tegang


dan ketakutan. Tubuh yang gagah dan perkasa


itu kini sudah benar-benar polos, dia mulai bergerak kembali menguasai tubuh gadis itu yang terus menangis dan memohon untuk di lepaskan.


"Jangan..! Kumohon..!!"


Sekuat tenaga gadis itu berusaha berontak dan


terus melawan, namun apalah arti tenaganya


yang lemah di banding tenaga seorang Aaron


apalagi sekarang ini dia sedang di kuasai oleh


hawa nafsu dibawah pengaruh alkohol.


Tangis pilu gadis itu seakan tidak lagi di pedulikan


oleh Aaron karena kini dia sedang mereguk nikmat


surga dunia dari tubuh murni gadis ini. Aaron


terus menjamah tubuh gadis itu dengan sangat


buas, dia melampiaskan segala hasrat yang


sudah menguasai seluruh aliran darahnya.


..... .....


Hari sudah mulai beranjak pagi saat gadis itu


terbangun. Dia melirik kearah laki-laki yang

__ADS_1


semalam telah merenggut kesuciannya. Kini


pria itu sedang tidur dengan lelap nya tanpa


merasa bersalah. Wajahnya memang sangat


tampan dan menggoda, tapi bukan berarti


dirinya akan begitu saja menyerahkan mahkota


yang selama ini di jaganya.


Tapi kini semua itu telah musnah, di renggut


paksa oleh laki-laki yang tidak di kenalnya.


Semula dia sangat bersyukur bisa lepas dari


Jayden, tapi kini semuanya malah menjadi


bumerang bagi dirinya.


Dia mencoba bangkit, tapi sungguh saat ini


dia merasakan seluruh tubuhnya seakan remuk


redam. Apalagi tubuh bagian bawahnya. Dia


meringis, mencoba melihat ke seluruh


ruangan. Matanya langsung tertuju kearah


pintu yang semalam dibuka dari luar oleh Aaron.


Dengan segera dia memungut semua


pakaiannya, memakainya dengan cepat.


Setelah itu, dia kembali melihat kearah Aaron, ditatapnya wajah laki-laki itu dengan sorot


mata benci dan kecewa, kemudian dengan


menahan rasa sakit dia berjalan kearah


pintu. Dan benar saja, pintu itu tidak terkunci


sama sekali. Dengan tergesa setengah berlari


gadis itu keluar dari kamar kemudian berjalan


dengan cepat meninggalkan Aaron yang


masih terlelap.


Setengah jam kemudian, Aaron terbangun


sekaligus tersadar dari pengaruh alkohol


yang semalam telah membuatnya kehilangan


kendali. Dia melihat keadaan dirinya yang kini


polos juga ke sekeliling kamar, Aaron memijat pelipisnya mencoba mengingat kejadian


semalam.


Dia terkesiap saat melihat ada bercak darah


diatas tempat tidur, kemudian lintasan kejadian semalam dimana dirinya telah memaksakan


kehendak terhadap gadis yang di tolong nya


semua tergambar jelas dalam ingatannya.


"Owhh shit..!!"


Aaron mendengus sambil kemudian melompat


dari tempat tidur dengan keadaan tubuh yang


masih polos. Dia segera mengecek ke kamar


mandi siapa tahu gadis itu ada di sana. Tapi


tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.


Dengan segera Aaron membersihkan dirinya


di kamar mandi dan pikirannya tiada henti


melayang pada gadis yang telah di renggut kesuciannya itu. Setelah selesai dan kembali berpakaian rapi Aaron segera pergi ke balkon,


"Carikan aku identitas gadis yang kemarin..!"


"Baik Tuan..!"


"Jangan lupa suruh orang untuk segera


melacaknya ! satu jam yang lalu dia keluar


dari hotel, aku yakin dia belum jauh..!"


"Siap Tuan..!"


Aaron menutup telponnya, kemudian berdiri


menatap hamparan bangunan yang ada di


depannya dengan tangan berpegangan kuat


setengah mencengkram pilar relling balkon.


..... .....


Aaron menelusuri jalanan ibukota mencoba


mencari jejak gadis asing itu, bahkan dia belum


tahu namanya sama sekali. Benar-benar gila.!!


Dia sudah merusak masa depan seorang gadis


yang bahkan tidak di kenalnya sama sekali.


Hari semakin beranjak siang, tapi Aaron belum


menemukan jejak gadis itu. Dia terlihat sedikit


frustasi, memukul kuat setir mobilnya. Aaron


menghentikan mobilnya mencoba berpikir


jernih dan mengendalikan emosinya. Sampai


akhirnya salah seorang agen nya menelepon.


"Bagaimana..? kau sudah menemukan


identitas gadis itu..?"


"Sudah Tuan.! Dia adalah putri seorang


pengusaha yang telah di jualnya pada ketua


Black Hunter. !"


"Apa yang terjadi.?"


"Ayahnya memiliki banyak hutang pada Ketua


Black Hunter dan mendapat ancaman darinya. !"


"Lacak ke tempat orang tuanya berada.!"


"Anggota yang lain sudah kesana Tuan, tapi dia


tidak ada disana.! Kelihatan nya pergi ke tempat


lain, kami akan mencoba melacak semua koneksi


dan teman-temannya.!"


''Hemm..lakukan dengan baik.!"


"Baik Tuan..!"


Aaron menutup telpon, mencoba menghela napas.


Dia merebahkan kepalanya ke sandaran jok.


Matanya terpejam rapat, bayangan wajah


Mayra terus saja bermain di dalam pikirannya.


Ini adalah sesuatu yang sangat aneh bagi dirinya. Bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini dia


masih saja mengingatnya. Bagaimana bisa dia

__ADS_1


begitu tergila-gila pada seorang wanita yang


jelas-jelas sudah menjadi milik sahabatnya.


"Aarrghh..!!"


Aaron semakin frustasi, dia meremas kepalanya


dan mengusap kasar wajahnya. Setelah sedikit


tenang, dia kembali meluncurkan mobilnya.


***** *****


Mayra keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya. Kini kesehatannya semakin membaik, jahitan di perut bekas operasi caesar nya pun terlihat semakin kering dan memudar.


Sementara Dirga saat ini tampak sedang sibuk


berkutat dengan laptop di pangkuannya. Mayra


sudah memarahi nya berulangkali karena Dirga


seakan tidak mengingat kondisinya saat ini yang


masih terluka, tapi dia sudah mulai sibuk dengan


segala macam pekerjaan nya.


"Sayang..kenapa kamu tidak mendengarkan aku,


kamu masih belum pulih.! Kau bisa menyerahkan


semua urusan pada sekretaris Lee..!"


Mayra berucap dengan mimik wajah jengkel atas


sikap keras kepala suaminya itu.


"Ini memerlukan penanganan ku sayang..Tidak


akan lama kok.!"


Sahut Dirga, mata dan tangannya masih saja


terfokus pada laptopnya. Tidak lama ponselnya


berdering. Mayra semakin geram melihat Dirga


yang kini sibuk dengan pembicaraan telponnya.


"Aku akan ke ruang NICU..!"


Mayra berucap sedikit ketus sambil kemudian melangkah, tapi pinggangnya di tarik oleh Dirga kemudian didekapnya dengan satu tangan


setelah itu dia mendaratkan satu ciuman


lembut di bibir Mayra yang membuat pipinya


spontan memerah.


Mayra berdiri di luar ruang NICU dengan wajah


di penuhi senyuman. Saat ini putranya itu sedang


tertidur dengan tenang dalam posisi yang sangat


menggemaskan. Dia sedang menungging dengan


satu tangan mungilnya di pakai untuk menyangga


kepala dan satunya lagi terlihat sedang berada


di mulutnya, mengemutnya dengan lucu.


"Sayang..ibu disini nak.."


Lirih Mayra seraya menempelkan telapak


tangan di kaca tebal yang menjadi penghalang. Matanya berkaca-kaca. Kasih sayang dalam


hatinya semakin hari semakin tumbuh besar.


Dia akan selalu merasa terharu saat melihat


putranya itu yang telah lahir dalam keadaan


yang sangat darurat.


"Dia sangat tampan..!"


Ada suara di sampingnya yang membuat


Mayra melirik dengan cepat. Matanya terlihat


menatap terkejut pada sosok tinggi tampan yang sedang berdiri menatap lurus kearah bayi mungil


di dalam sana.


"A-Aaron..."


Mayra berucap lirih masih menatap Aaron


dengan sorot mata tak percaya laki-laki itu


ada di sini. Aaron melirik, keduanya kini saling pandang kuat. Tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata Aaron dan tidak dapat di sembunyikannya membuat Mayra dengan cepat memalingkan mukanya.


"Kau..masih ada disini..?"


"Kenapa.? kamu merasa terganggu.?"


"Ahh.. tidak ! bukan begitu.!"


Mayra dengan cepat menggeleng dan menunduk.


Aaron menatap tajam wajah Mayra, dia berusaha


sekuat tenaga untuk mengendalikan dirinya saat


ini. Ingin rasanya dia memeluk dan mendekap erat


wanita yang ada dihadapannya ini untuk terakhir


kalinya, tapi itu hanya sebatas keinginan saja yang


tidak mungkin terwujud.


"Selamat ! Aku bahagia putramu lahir dengan


selamat. !"


Aaron berucap sambil kembali menatap lurus ke


depan dengan wajah datarnya.


"Semua berkat dirimu.."


Suara Mayra sedikit bergetar, dia mencoba kembali


menatap Aaron yang juga menatapnya.


"Terimakasih atas semua yang sudah kamu


lakukan untuk kebahagiaan kami."


"Itu bukan apa-apa.! Aku kesini ingin melihatmu


untuk terakhir kalinya.! Berbahagialah..karena


kebahagiaan mu, sesuatu yang berharga bagiku.!"


"Kau akan pergi ?"


Mayra bertanya dengan cepat, matanya terlihat


sedikit berair, entah kenapa ada sesuatu yang


membuat hatinya tidak nyaman.


"Hemm..! Aku punya tanggung jawab besar


sekarang.! Semoga aku bisa memulai hidupku


yang baru tanpa bayang-bayang mu..!"


Ucap Aaron, mereka kembali saling pandang.


Dengan sedikit gemetar, Aaron meraih tangan


Mayra dan menciumnya perlahan dengan mata


yang terlihat berat. Mayra berdiri mematung saat kemudian Aaron melangkah pergi dari hadapannya. Ada cairan bening yang tiba-tiba menetes


membasahi wajahnya.


 


**********

__ADS_1


 


TBC...


__ADS_2