
**********
Saat ini Rayen sedang menemani Aaron di sebuah
club malam. Laki-laki tampan minim ekspresi itu
tiada henti meneguk minuman di dalam gelas kecil
nya seakan ingin melampiaskan segala keresahan
dan kesakitan yang sedang di rasakannya.
"Tuan yang Mulya.. sudahlah ! hentikan..kau
sudah minum terlalu banyak.! lama-lama dirimu
bisa kehilangan kendali.!"
Rayen merebut botol minuman dari tangan Aaron
yang terlihat akan di teguknya secara langsung.
Aaron mendengus, dia melempar gelasnya ke
sembarang arah menimbulkan bunyi prang yang sangat keras hingga gelas itu hancur berkeping-
keping. Matanya tampak sudah memerah dan dia kelihatan mulai kehilangan kontrol.
"Cinta..membuat hidupku kacau..!! Itulah
sebabnya aku tidak pernah ingin mengenalnya.
Tapi wanita ini telah memaksaku untuk merasakannya..! Dia sudah membuat jiwaku menderita..!!"
Aaron mendesis seraya memijat pelipisnya. Dia
menyandarkan kepalanya di kepala sofa.
"Dia baik-baik saja. Seharusnya sekarang kau bisa
tenang, bahaya itu sudah tidak ada lagi.!"
"Ya..kau benar.! aku bisa pergi dengan tenang. Aku tidak akan pernah lagi mengingatnya..!!"
"Kau sudah banyak membuang waktumu hanya
untuk mengejar sesuatu yang sudah menjadi hak
orang lain..! kau harus move on Tuan Marvell..!"
"Aku tidak ingin melakukannya, tapi dia selalu saja
memaksaku untuk berada di jalannya..!"
Aaron berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan.
Dia melangkah dengan perlahan.
"Hei..kau mau kemana.?"
"Aku ingin mendinginkan kepalaku.!"
"Apa aku perlu mengantarmu.?"
Aaron mengibaskan tangannya sambil kemudian melangkah pergi meninggalkan Rayen yang hanya menatapnya dengan senyum tipis. Ya cinta kadang membuat hidup seseorang ada di ambang ketidakpastian.
.... ....
Aaron membuka pintu kamar hotel dengan keras.
Dengan tubuh yang sudah kehilangan kontrol nya
dia berjalan kearah tempat tidur. Di pinggir tempat
tidur, seorang gadis yang sudah di bawanya dari
tempat persembunyian Jayden tampak menegang
melihat kedatangan Aaron. Dia mundur beringsut
ke dekat ujung tempat tidur dengan tatapan
waspada terhadap Aaron yang semakin mendekat.
Senyum tipis di bibir Aaron seketika terbit tatkala dalam halusinasinya dia melihat Mayra lah yang
kini sedang menatap ketakutan padanya.
"Kenapa..kau sangat menyiksaku baby..?!"
Aaron berucap sambil kemudian mengurung
tubuh gadis cantik itu yang semakin mengkerut ketakutan.
"Tu-Tuan..tolong..biarkan aku pergi..!"
Lirih gadis itu semakin mundur dan akhirnya
tubuhnya membentur ujung ranjang. Aaron
menatap lekat wajah gadis itu, tangannya mulai bergerak mengelus pipinya, merapihkan rambutnya yang jatuh menghalangi wajah cantiknya.
"Aku tahu kau miliknya..tapi cintaku sama besar dengannya..! kau harus tahu itu Mayra.."
Wajah gadis itu tampak terkejut, tapi rasa takut
dan tegang lebih menguasai dirinya saat ini.
Dengan sekali gerakan dia mendorong dada
Aaron dan berusaha untuk menghindar. Namun gerakan Aaron lebih cepat, dia menangkap pinggang gadis itu lalu mengangkat tubuhnya dan
melemparnya ke atas tempat tidur. Gadis itu
berusaha untuk bangkit namun Aaron dengan
cepat mengurung tubuhnya dan mengunci kedua
tangannya diatas kepala dengan satu tangannya.
"Tuan..tolong..jangan..! tolong lepaskan aku..!"
Teriak gadis itu saat Aaron dengan sangat kasar
merenggut semua pakaiannya. Matanya tampak
menyala ketika melihat keindahan tubuh gadis
itu yang kini sudah polos. Tangis gadis itu pecah,
dia berusaha menendang dan memukul, namun
gerakannya terkunci oleh himpitan tubuh Aaron
yang kini mulai menindihnya.
Dengan gerakan cepat Aaron melucuti seluruh
pakaian nya membuat gadis itu semakin tegang
dan ketakutan. Tubuh yang gagah dan perkasa
itu kini sudah benar-benar polos, dia mulai bergerak kembali menguasai tubuh gadis itu yang terus menangis dan memohon untuk di lepaskan.
"Jangan..! Kumohon..!!"
Sekuat tenaga gadis itu berusaha berontak dan
terus melawan, namun apalah arti tenaganya
yang lemah di banding tenaga seorang Aaron
apalagi sekarang ini dia sedang di kuasai oleh
hawa nafsu dibawah pengaruh alkohol.
Tangis pilu gadis itu seakan tidak lagi di pedulikan
oleh Aaron karena kini dia sedang mereguk nikmat
surga dunia dari tubuh murni gadis ini. Aaron
terus menjamah tubuh gadis itu dengan sangat
buas, dia melampiaskan segala hasrat yang
sudah menguasai seluruh aliran darahnya.
..... .....
Hari sudah mulai beranjak pagi saat gadis itu
terbangun. Dia melirik kearah laki-laki yang
__ADS_1
semalam telah merenggut kesuciannya. Kini
pria itu sedang tidur dengan lelap nya tanpa
merasa bersalah. Wajahnya memang sangat
tampan dan menggoda, tapi bukan berarti
dirinya akan begitu saja menyerahkan mahkota
yang selama ini di jaganya.
Tapi kini semua itu telah musnah, di renggut
paksa oleh laki-laki yang tidak di kenalnya.
Semula dia sangat bersyukur bisa lepas dari
Jayden, tapi kini semuanya malah menjadi
bumerang bagi dirinya.
Dia mencoba bangkit, tapi sungguh saat ini
dia merasakan seluruh tubuhnya seakan remuk
redam. Apalagi tubuh bagian bawahnya. Dia
meringis, mencoba melihat ke seluruh
ruangan. Matanya langsung tertuju kearah
pintu yang semalam dibuka dari luar oleh Aaron.
Dengan segera dia memungut semua
pakaiannya, memakainya dengan cepat.
Setelah itu, dia kembali melihat kearah Aaron, ditatapnya wajah laki-laki itu dengan sorot
mata benci dan kecewa, kemudian dengan
menahan rasa sakit dia berjalan kearah
pintu. Dan benar saja, pintu itu tidak terkunci
sama sekali. Dengan tergesa setengah berlari
gadis itu keluar dari kamar kemudian berjalan
dengan cepat meninggalkan Aaron yang
masih terlelap.
Setengah jam kemudian, Aaron terbangun
sekaligus tersadar dari pengaruh alkohol
yang semalam telah membuatnya kehilangan
kendali. Dia melihat keadaan dirinya yang kini
polos juga ke sekeliling kamar, Aaron memijat pelipisnya mencoba mengingat kejadian
semalam.
Dia terkesiap saat melihat ada bercak darah
diatas tempat tidur, kemudian lintasan kejadian semalam dimana dirinya telah memaksakan
kehendak terhadap gadis yang di tolong nya
semua tergambar jelas dalam ingatannya.
"Owhh shit..!!"
Aaron mendengus sambil kemudian melompat
dari tempat tidur dengan keadaan tubuh yang
masih polos. Dia segera mengecek ke kamar
mandi siapa tahu gadis itu ada di sana. Tapi
tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.
Dengan segera Aaron membersihkan dirinya
di kamar mandi dan pikirannya tiada henti
melayang pada gadis yang telah di renggut kesuciannya itu. Setelah selesai dan kembali berpakaian rapi Aaron segera pergi ke balkon,
"Carikan aku identitas gadis yang kemarin..!"
"Baik Tuan..!"
"Jangan lupa suruh orang untuk segera
melacaknya ! satu jam yang lalu dia keluar
dari hotel, aku yakin dia belum jauh..!"
"Siap Tuan..!"
Aaron menutup telponnya, kemudian berdiri
menatap hamparan bangunan yang ada di
depannya dengan tangan berpegangan kuat
setengah mencengkram pilar relling balkon.
..... .....
Aaron menelusuri jalanan ibukota mencoba
mencari jejak gadis asing itu, bahkan dia belum
tahu namanya sama sekali. Benar-benar gila.!!
Dia sudah merusak masa depan seorang gadis
yang bahkan tidak di kenalnya sama sekali.
Hari semakin beranjak siang, tapi Aaron belum
menemukan jejak gadis itu. Dia terlihat sedikit
frustasi, memukul kuat setir mobilnya. Aaron
menghentikan mobilnya mencoba berpikir
jernih dan mengendalikan emosinya. Sampai
akhirnya salah seorang agen nya menelepon.
"Bagaimana..? kau sudah menemukan
identitas gadis itu..?"
"Sudah Tuan.! Dia adalah putri seorang
pengusaha yang telah di jualnya pada ketua
Black Hunter. !"
"Apa yang terjadi.?"
"Ayahnya memiliki banyak hutang pada Ketua
Black Hunter dan mendapat ancaman darinya. !"
"Lacak ke tempat orang tuanya berada.!"
"Anggota yang lain sudah kesana Tuan, tapi dia
tidak ada disana.! Kelihatan nya pergi ke tempat
lain, kami akan mencoba melacak semua koneksi
dan teman-temannya.!"
''Hemm..lakukan dengan baik.!"
"Baik Tuan..!"
Aaron menutup telpon, mencoba menghela napas.
Dia merebahkan kepalanya ke sandaran jok.
Matanya terpejam rapat, bayangan wajah
Mayra terus saja bermain di dalam pikirannya.
Ini adalah sesuatu yang sangat aneh bagi dirinya. Bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini dia
masih saja mengingatnya. Bagaimana bisa dia
__ADS_1
begitu tergila-gila pada seorang wanita yang
jelas-jelas sudah menjadi milik sahabatnya.
"Aarrghh..!!"
Aaron semakin frustasi, dia meremas kepalanya
dan mengusap kasar wajahnya. Setelah sedikit
tenang, dia kembali meluncurkan mobilnya.
***** *****
Mayra keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya. Kini kesehatannya semakin membaik, jahitan di perut bekas operasi caesar nya pun terlihat semakin kering dan memudar.
Sementara Dirga saat ini tampak sedang sibuk
berkutat dengan laptop di pangkuannya. Mayra
sudah memarahi nya berulangkali karena Dirga
seakan tidak mengingat kondisinya saat ini yang
masih terluka, tapi dia sudah mulai sibuk dengan
segala macam pekerjaan nya.
"Sayang..kenapa kamu tidak mendengarkan aku,
kamu masih belum pulih.! Kau bisa menyerahkan
semua urusan pada sekretaris Lee..!"
Mayra berucap dengan mimik wajah jengkel atas
sikap keras kepala suaminya itu.
"Ini memerlukan penanganan ku sayang..Tidak
akan lama kok.!"
Sahut Dirga, mata dan tangannya masih saja
terfokus pada laptopnya. Tidak lama ponselnya
berdering. Mayra semakin geram melihat Dirga
yang kini sibuk dengan pembicaraan telponnya.
"Aku akan ke ruang NICU..!"
Mayra berucap sedikit ketus sambil kemudian melangkah, tapi pinggangnya di tarik oleh Dirga kemudian didekapnya dengan satu tangan
setelah itu dia mendaratkan satu ciuman
lembut di bibir Mayra yang membuat pipinya
spontan memerah.
Mayra berdiri di luar ruang NICU dengan wajah
di penuhi senyuman. Saat ini putranya itu sedang
tertidur dengan tenang dalam posisi yang sangat
menggemaskan. Dia sedang menungging dengan
satu tangan mungilnya di pakai untuk menyangga
kepala dan satunya lagi terlihat sedang berada
di mulutnya, mengemutnya dengan lucu.
"Sayang..ibu disini nak.."
Lirih Mayra seraya menempelkan telapak
tangan di kaca tebal yang menjadi penghalang. Matanya berkaca-kaca. Kasih sayang dalam
hatinya semakin hari semakin tumbuh besar.
Dia akan selalu merasa terharu saat melihat
putranya itu yang telah lahir dalam keadaan
yang sangat darurat.
"Dia sangat tampan..!"
Ada suara di sampingnya yang membuat
Mayra melirik dengan cepat. Matanya terlihat
menatap terkejut pada sosok tinggi tampan yang sedang berdiri menatap lurus kearah bayi mungil
di dalam sana.
"A-Aaron..."
Mayra berucap lirih masih menatap Aaron
dengan sorot mata tak percaya laki-laki itu
ada di sini. Aaron melirik, keduanya kini saling pandang kuat. Tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata Aaron dan tidak dapat di sembunyikannya membuat Mayra dengan cepat memalingkan mukanya.
"Kau..masih ada disini..?"
"Kenapa.? kamu merasa terganggu.?"
"Ahh.. tidak ! bukan begitu.!"
Mayra dengan cepat menggeleng dan menunduk.
Aaron menatap tajam wajah Mayra, dia berusaha
sekuat tenaga untuk mengendalikan dirinya saat
ini. Ingin rasanya dia memeluk dan mendekap erat
wanita yang ada dihadapannya ini untuk terakhir
kalinya, tapi itu hanya sebatas keinginan saja yang
tidak mungkin terwujud.
"Selamat ! Aku bahagia putramu lahir dengan
selamat. !"
Aaron berucap sambil kembali menatap lurus ke
depan dengan wajah datarnya.
"Semua berkat dirimu.."
Suara Mayra sedikit bergetar, dia mencoba kembali
menatap Aaron yang juga menatapnya.
"Terimakasih atas semua yang sudah kamu
lakukan untuk kebahagiaan kami."
"Itu bukan apa-apa.! Aku kesini ingin melihatmu
untuk terakhir kalinya.! Berbahagialah..karena
kebahagiaan mu, sesuatu yang berharga bagiku.!"
"Kau akan pergi ?"
Mayra bertanya dengan cepat, matanya terlihat
sedikit berair, entah kenapa ada sesuatu yang
membuat hatinya tidak nyaman.
"Hemm..! Aku punya tanggung jawab besar
sekarang.! Semoga aku bisa memulai hidupku
yang baru tanpa bayang-bayang mu..!"
Ucap Aaron, mereka kembali saling pandang.
Dengan sedikit gemetar, Aaron meraih tangan
Mayra dan menciumnya perlahan dengan mata
yang terlihat berat. Mayra berdiri mematung saat kemudian Aaron melangkah pergi dari hadapannya. Ada cairan bening yang tiba-tiba menetes
membasahi wajahnya.
**********
__ADS_1
TBC...