Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
74. Kehilangan


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Evelyin mendesak maju mencengkram dagu Mayra dan kemudian mendorong nya keras.


"Kamu bermimpi bisa menggantikan posisiku hah.?!


Makan tuh hayalanmu.!!"


Sentak Eveliyn sambil menindih tubuh Mayra dan mengguncang nya keras. Dia mencekik bagian leher Mayra dan menekannya keras.


Dirga terbelalak melihat Evelyin yang tiba-tiba datang dan langsung menyerang Mayra dengan brutal.


"Kamu merebut kebahagiaan ku..! dan sekarang aku pun akan merebut kebahagiaan mu, dasar ****** murahan..!!"


Teriak Evelyin yang kembali ingin menyerang Mayra namun Dirga datang dan segera menariknya.


"Apa yang kamu lakukan hah..?!"


Bentak Dirga dengan mendorong keras tubuh Evelyin sampai terjatuh ke lantai. Mata Evelyin terlihat menyala marah, menatap tajam wajah Dirga, suami yang kini sudah tidak seperti dulu lagi di matanya.


"Dia sudah merebut posisiku di hatimu.! terus apa aku harus diam saja hahh.?! Kamu sudah berubah ! kamu bahkan berani memberiku peringatan.!"


Teriak Evelyin di penuhi amarah yang sudah mencapai ubun-ubun nya. Dirga menatap Evelyin dengan sorot mata yang sama tajamnya.


"Kau yang berubah.! kau tidak bisa menerima kenyataan kalau dia sudah mengandung anakku.! Bukankah itu keinginan kita selama ini.?!"


"Kamu bukan hanya telah membuat dia hamil. Tapi kamu juga membuat dia jatuh cinta sama kamu..!"


"Dia istri sah ku.! tidak ada yang salah dengan itu.!"


"Aku tidak bisa terima karena kamu juga sudah jatuh cinta padanya.! kamu mengkhianati cintaku.?!"


Teriak Evelyin kalap. Tanpa di duga dia bergerak kembali mendorong tubuh Mayra yang berdiri cukup jauh dari Dirga. Evelyin menerjang Mayra menubruk nya keras membuat Mayra menjerit histeris dan seketika terjatuh ke lantai dengan keras.


Melihat hal itu Dirga terkesiap, dia menarik tubuh Evelyin dan reflek menampar wajahnya dengan keras membuat Evelyin terhuyung. Air mata langsung meluncur deras dari sudut matanya. Dia benar-benar tidak menyangka Dirga berani menamparnya.


Mayra meringis menahan sakit di bokong dan punggungnya. Dengan wajah penuh kecemasan Dirga segera memeluk Mayra dan mengangkat tubuhnya.


"Sayang.. perutku sakiit..."


Desis Mayra sambil terus meringis. Wajah Dirga bertambah panik, dia melihat ke area bawah tubuh Mayra terlihat ada noda merah di bagian rok nya.


Wajah Mayra juga terlihat mulai memucat.


Dengan wajah membesi Dirga menatap marah


kearah Evelyin.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada janinnya, aku tidak akan pernah memaafkan mu..!!"


Ancam nya sambil kemudian melangkah membawa Mayra keluar dari ruangan.


Di luar ruangan dia berpapasan dengan Lee yang baru saja muncul dari arah lift.


Lee terkejut melihat keadaan Mayra dan cepat berbalik masuk kembali ke dalam lift untuk mengantar tuan nya.


Sementara Evelyin terlihat masih berdiri di tempat dengan wajah yang terlihat masih di penuhi rasa kecewa dan sakit hati. Dia menggertakan giginya dan mengepalkan tangannya.


"Kamu lebih memilih dia daripada aku honey..!


Baiklah..lakukan apapun yang kalian mau.! Tapi aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang.!!"


Desis Evelyin sambil kemudian berjalan menghentakkan kakinya penuh kemarahan.


*****


Mayra di bawa masuk kedalam ruang IGD rumah sakit keluarga Moolay. Dokter dan perawat segera melakukan pemeriksaan .


Dirga terlihat berjalan mondar mandir di depan ruang pemeriksaan. Wajahnya di penuhi kecemasan dan kekalutan. Pendarahan yang keluar dari **** ***** Mayra sepanjang perjalanan tadi semakin banyak, membuat kecemasannya semakin menjadi.

__ADS_1


Berkali-kali Dirga mengusap kasar wajahnya. Tidak lama terlihat Nyonya Veronica datang bersama dengan Amanda.


"Sayang..apa yang terjadi.?"


Tanya Nyonya Veronica penuh kecemasan. Dirga hanya bisa menggeleng lemah tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya.


"Bagaimana keadaan menantuku..? Apa yang terjadi padanya.?"


Teriak Nyonya Veronica panik sendiri.


"Tenang dulu Mom..! Tidak akan terjadi apa-apa


pada kakak ipar.! Ayo sekarang mending kita


duduk dulu..!"


Ajak Manda sambil membimbing Nyonya Veronica diajak duduk di kursi tunggu.


Semua orang menunggu dengan perasaan yang tidak menentu. Dirga semakin tidak tenang, dia berulangkali meninju dinding ruang pemeriksaan.


Setelah menunggu cukup lama, pintu ruang pemeriksaan terbuka , dokter Lani dan beberapa dokter wanita lainnya muncul di pintu dan langsung di serbu oleh Dirga di ikuti Nyonya Veronica dan Manda.


"Bagaimana..?? dia baik-baik saja kan ? tidak terjadi apa-apa padanya.??"


Serbu Dirga tidak sabar. Dokter Lani dan rekan dokternya terlihat menunduk, menggeleng lemah.


"Apa yang terjadi..?? cepat katakan..!!"


Bentak Dirga menggelegar. Wajahnya berubah kelam.


"Kami sudah melakukan segala prosedur penyelamatan, tapi maaf janinnya tidak bisa di selamatkan karena usia nya yang masih sangat rentan.."


"Apa..??? Jadi cucuku tidak bisa di selamatkan..?!"


Pekik Nyonya Veronica histeris. Dokter Lani mengangguk lemah.


Seketika tubuh Dirga luruh ke lantai. Dia tidak punya tenaga sama sekali. Nyawanya seakan melayang tercabut dari tubuhnya. Dia sangat terpukul, tidak bisa menerima kenyataan yang ada.


Sementara Nyonya Veronica terlihat menangis tersedu ditenangkan oleh Manda yang sama sedihnya.


..... .....


Mayra masih terbaring lemah diatas ranjang perawatan. Kulit dan bibir nya terlihat pucat. Tak ada rona kehidupan yang terlihat dari dirinya sekarang ini.


Dia kehilangan semangat hidupnya. Kebahagiaan yang baru saja di reguknya harus musnah begitu saja di hempas oleh rasa kehilangan yang mendalam .


Walau Mayra baru merasakan sehari saja bersama dengan calon anaknya, tapi dia sudah menghadirkan begitu banyak kejutan indah dan limpahan kebahagian yang tidak terduga sebelumnya.


Dan kini semua lenyap dalam sekejap. Apa ini hukuman karena jalan yang sudah mereka tempuh bukanlah jalan yang seharusnya.??


Anak itu telah dipaksa hadir untuk memenuhi ambisi dari orang tuanya. bukanlah hadir dari cinta yang berdasar atas ketulusan dan keikhlasan hati.


Mayra menyadari satu hal, segala sesuatu yang di paksakan memang tidak akan menghadirkan akhir yang baik. Walaupun tidak ada yang salah dengan pernikahan nya dengan Dirga , tapi alasan di balik pernikahan ini mungkin tidak di restui oleh Sang Pemilik rencana.


Dirga duduk di samping ranjang dengan wajah terpukul dan tidak bersemangat. Dia menggengam erat tangan Mayra lalu di ciumnya berulangkali.


Mayra hanya terdiam dengan pandangan kosong.


Hanya air mata yang bisa mewakili ekspresi yang ada dalam dirinya saat ini.


"Tidak apa sayang..mungkin Tuhan belum mengijinkan kita untuk bersamanya..!"


Ucap Dirga pelan. Mata Mayra mengerjap sesaat, baru kali ini dia mendengar suaminya itu menyebut nama Tuhan dalam ucapannya.


Dirga merengkuh tubuh rapuh Mayra , memeluknya erat mencoba menguatkan nya. Cinta dalam hatinya semakin kuat dan dalam pada wanita ini. Dia tidak akan membiarkan istrinya itu terpuruk lebih lama.


"Tuhan tidak suka dengan jalan yang sudah kita lewati.


Oleh karena itu dia belum ikhlas memberi apa yang kita mau.."

__ADS_1


Lirih Mayra lemah. Dirga melepaskan pelukannya.


Dia menatap dalam wajah pucat Mayra.


"Kita akan memulai semuanya dengan benar. Kita akan mulai dari awal lagi..!"


Ucap Dirga sambil mengelus wajah Mayra.


"Kalau begitu, biarkan aku sendiri dulu..lepaskan aku untuk sementara waktu.."


Ucap Mayra sambil menghapus air matanya. Dirga menatap wajah Mayra bingung.


"Apa maksudmu sayang..?"


"Aku ingin kita berpisah..! Aku tidak mau lagi berada di jalan ini. Aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga mu dengan Evelyin."


Ucap Mayra yakin. Mata Dirga tampak terbelalak.


Dia shock mendengar kata-kata yang Mayra ucapkan.


"Kau..ingin..kita berpisah.??"


Tanya Dirga bergetar.


Mata mereka bertatapan kuat.


Ada tetesan air mata yang baru kali ini keluar dari sudut mata Dirga yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mayra menarik napas panjang. Air mata turun dengan deras membasahi wajah nya. Hatinya sakit melihat laki-laki yang di cintainya itu meneteskan air mata. Tapi dia tidak ingin terus berada di dalam jalan yang salah ini. Kebersamaan mereka hanya berujung pada saling menyakiti satu sama lain.


"Iya..aku ingin kita mengakhiri drama ini..Kalau kau benar-benar mencintaiku..tolong lepaskan aku..!"


"Tidak..!! Aku tidak akan melakukannya.! Aku sangat mencintaimu..mana mungkin aku bisa hidup tanpa mu..!!"


"Aku ingin kita memulai semuanya dengan jalan yang benar. Kalau Tuhan masih merestui kita untuk bersama, maka kita akan kembali bersama..tapi dengan jalan yang baik..!"


Ucap Mayra tegas. Tatapan Dirga berubah tajam dan sangat menusuk. Dia tidak bisa terima permintaan Mayra yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Kalau kau ingin sendiri dulu, mungkin aku bisa memenuhi permintaanmu..! Kita akan sama- sama memperbaiki keadaan. Tapi kalau kamu meminta berpisah dariku, aku tidak akan pernah mengabulkannya..!!"


Tegas Dirga dengan tatapan mata yang berubah dingin. Mayra menatap Dirga dengan sorot mata tidak bisa menerima keputusan Dirga.


Keduanya kembali bertatapan kuat, namun kini mereka sama-sama keras dengan keinginannya. Ya..mereka butuh waktu untuk mendamaikan hati mereka masing-masing.


Kehilangan ini seolah menjadi bahan teguran untuk mereka berdua ,mengingatkan semuanya. Bahwa jalan mereka selama ini adalah salah..


Dirga meninggalkan Mayra yang masih keukeh


dengan keinginannya. Hatinya sungguh tidak bisa menerima semua keinginan Mayra, sekarang ini dia tidak akan bisa hidup tanpa nya. Dia memang menyadari, semua yang kini dia dapatkan adalah buah dari perbuatannya sendiri. Tapi semua bisa di perbaiki. Rasa cintanya pada Mayra bukanlah main-main. Dia akan memperbaiki semuanya.


...... ......


Akhirnya yang harus terjadi maka akan terjadi.


Mayra kembali dari rumah sakit setelah sehari mendapat perawatan intensif. Dia kembali tanpa membawa nyawa yang kemarin sempat bersemayam selama satu bulan di dalam rahimnya.


Nyonya Veronica dan Manda tidak henti-hentinya memberi dukungan dan support agar Mayra mampu bangkit dan tidak terus terpuruk dengan keadaan.


Mayra memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Ayahnya untuk menenangkan diri. Dirga membiarkan Mayra melakukan apapun yang diinginkannya agar keadaanya menjadi lebih baik.


Pak Bima yang semula tidak tahu menahu tentang tragedi yang menimpa buah hatinya, hanya bisa menguatkan dan memberi dukungan agar Mayra tetap kuat menjalani hidupnya.


Dua hari sudah Mayra menginap di rumah Ayahnya.


Hatinya sedikit demi sedikit lebih tenang dan sudah bisa menerima keadaan. Dia memang tidak bisa terus membiarkan dirinya terpuruk. Dia harus bangkit dan terus menjalani hidupnya lebih baik lagi. Dia harus memperbaiki semuanya.


Hari ini Mayra mendapat telpon dari Vanessa yang mengingatkan dia untuk hadir di pameran lukisannya yang sempat di undur karena masalah teknis.


Mau tidak mau Mayra harus datang untuk menghormati undangan Vanessa yang secara pribadi mengharapkan kehadirannya. Meskipun Mayra tidak begitu paham tentang dunia lukis, namun setidaknya dia bisa menikmati keindahan nya secara kasat mata.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2