
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hingga siang menjelang nama Almayra Rasyid semakin populer saja di dunia maya.
Kehebohan yang tercipta satu hari sebelumnya, dengan berita miring yang cukup membuat gempar, seakan hanya hembusan angin saja yang datang sepintas di gantikan dengan kemunculan foto-fotonya yang sangat memukau semua mata yang melihat.
Ratusan ribu komentar terus membanjiri
akun -akun media sosial yang membagikan ulang semua fotonya tersebut.
Bahkan teman-teman satu kampus nya kini menyerbu masuk ke akun pribadi Mayra untuk sekedar memberi dukungan dan juga pujian.
*****
Seusai makan siang, Mayra memutuskan pergi ke rumah sakit yang telah ditunjuk oleh Dirga untuk mengunjungi Dokter Obgyn rekomendasinya.
Saat tiba di rumah sakit tersebut Jane sengaja menyembunyikan identitas Mayra dengan menyuruhnya memakai masker serta kacamata hitam. Sehingga dengan bebas dia bisa melenggang masuk ke tempat dokter itu berada.
Sampai di ruangan Dokter yang di tunjuk, Mayra langsung di sambut oleh seorang perawat dengan sangat ramah. Kemudian perawat tersebut membimbing Mayra memasuki ruang pemeriksaan sang Dokter.
Di ruangan itu ternyata sudah menunggu seorang Dokter cantik dengan mengenakan pakaian muslim yang sangat anggun berbalut jas putih kebanggaan nya.
"Assalamualaikum..nyonya Mayra.. silahkan duduk."
Sambut sang Dokter dengan ramah. Mayra mengangguk sopan tak lupa melempar senyum manisnya.
"Waalaikumsalam Dok, terimakasih.."
Ucapnya seraya duduk di kursi di hadapan sang Dokter.
"Kenalkan saya Lani, bisa dibilang teman kecil tuan Dirga. Kalau dia mengakui hee.."
Kembali ucap Dokter Lani di bumbui candaan kecil.
"Iya Dok, saya Mayra..mungkin Tuan Dirga sudah mengatakan siapa saya.."
"Tentu..Tuan Dirga sudah mengatakan semuanya. Saya juga tahu tujuan kalian kesini."
Mayra mengangguk kecil dan tersenyum tipis seraya menundukan wajahnya. Dokter Lani tampak menatap lembut wajah cantik Mayra, dia begitu terpukau melihat bagaimana cantiknya istri kedua teman kecilnya itu.
"Baiklah..ayo kita mulai saja pemeriksaan nya.!"
Ucapnya kemudian sambil berdiri melangkah ke ruangan sebelah yang tertutup tirai, di ikuti oleh Mayra dengan langkah ragu dan sedikit gugup.
"Jangan tegang begitu, ini hanya pemeriksaan biasa aja kok, santai aja..oke.?!"
Ucap sang Dokter dengan tatapan geli melihat Mayra yang terlihat tegang. Mayra tersipu, kemudian hanya bisa mengangguk dan setelah nya naik ke atas ranjang pemeriksaan.
Setelah itu Dokter Lani mulai menjalankan pemeriksaan keseluruhan untuk tes kesuburan organ reproduksi Mayra melalui prosedur ultrasonografi. Selain itu di lakukan pula tes ovulasi dan sistem hormonal.
Semua prosedur pemeriksaan ini di lakukan untuk mengetahui kesehatan organ reproduksi dan tingkat kesuburan dari rahim Mayra.
Saat Dokter Lani sibuk dengan pemeriksaan terhadap Mayra, Dirga datang ke ruangan itu di temani oleh Lee.
Dia langsung duduk di sofa tunggu yang ada di dalam ruang khusus Dokter Lani.
Lama menunggu membuat Dirga tampak tidak sabar, dia terus saja melihat ke ruang bertirai putih tempat Mayra di periksa.
Tidak sabar, dia akhirnya berdiri dari duduknya dan berjalan mondar mandir melihat ke ruang pemeriksaan. Tidak lama kemudian muncul dokter Lani keluar dari ruangan itu. Dia tampak menatap heran ke arah Dirga yang berjalan mondar mandir di dekat sofa, kemudian menggelengkan kepala seraya tersenyum simpul.
"Kau ini tidak sabaran banget ya tuan..!"
Ucap dokter Lani sambil berjalan ke arah meja kerjanya. Dirga menatapnya tajam sambil melirik ke arah munculnya dokter Lani, mencari keberadaan Mayra yang tidak muncul juga.
"Dimana dia.?"
Tanya nya cepat. Tanpa menunggu jawaban dia melangkah masuk ke dalam ruangan kecil yang tadi di pakai untuk memeriksa Mayra.
Tampak di sana Mayra masih berusaha merapihkan kembali pakaian dan hijabnya di bantu oleh seorang perawat. Mereka berdua bertatapan dan saling mengunci, sang perawat segera pergi seraya membungkuk hormat ke arah Dirga.
"Ngapain saja dari tadi ? Kenapa lama sekali.?"
Ketus Dirga sambil menghampiri Mayra dan langsung memeluknya erat. Mayra terdiam heran dengan apa yang di lakukan suaminya itu.
"Semua harus di lakukan dengan benar, tidak boleh terburu-buru sayang..!"
Ucap Mayra masih dalam dekapan erat Dirga.
__ADS_1
Sayang..kenapa rasanya sekarang ini dia suka sekali ya mengucapkan kata tersebut.!
Wajah Mayra bersemu merah, malu sendiri dengan isi pikirannya tersebut.
"Aku pikir terjadi sesuatu.!"
Bisik Dirga dengan suara yang sangat rendah.
Deg !
Hati Mayra seketika bergetar mendengar ucapan Dirga. Apakah laki-laki ini sedang mengkhawatirkan dirinya.? Benarkah begitu.?
Lagi-lagi wajah Mayra memerah. Mereka berdua berpandangan lekat, dan detik berikutnya Dirga sudah mengecup lembut kening Mayra.
Mereka memejamkan mata, berusaha meresapi isi hati masing-masing.
Apa sebenarnya yang tengah mereka rasakan saat ini? rasa yang selalu ingin dekat satu sama lain?
rasa yang selalu ingin melihat keberadaan satu sama lain.? Lantas apakah arti semua ini.?
*****
Mereka berdua duduk berdampingan berhadapan dengan dokter Lani. Sebenarnya Dirga sudah pernah melakukan tes kesuburan setelah menikah dengan Evelyin, dan tidak ada masalah dengan kesehatan organ reproduksi nya.
"Bagaimana hasilnya.? cepat katakan..! aku sedang tidak punya banyak waktu.!"
Ucap Dirga dengan raut muka datar plus dinginnya. Dia menyimpan lengannya di belakang kursi yang di pake oleh Mayra, telapak tangannya menyentuh bahu Mayra, menekannya perlahan, membuat Mayra melirik kearahnya tidak nyaman.
"Kau ini tidak pernah berubah, selalu tidak sabaran.!"
Sergah Dokter Lani sebal.
"Cepat katakan jangan basa basi.!"
Debat Dirga semakin tidak sabar, dia merengkuh bahu Mayra dan menarik tubuhnya agar merapat padanya.
Dokter Lani hanya mendengus melihat kelakuan Dirga itu, Sementara Mayra sudah malu luar biasa.
"Baiklah..! semua hasil pemeriksaan menunjukan bahwa tidak ada masalah dengan organ reproduksi kalian berdua. Semuanya sehat dan subur. Mungkin hanya tinggal menunggu proses pembuahan saja.!"
"Isshh..kau ini ya, semua butuh waktu tidak bisa secepat kilat tuan yang terhormat.! Sudah berapa lama kalian sejak melakukan hubungan intim yang pertama kali.?"
Tanya dokter Lani sambil menatap tajam pasangan yang bikin dia gemas itu.
Mereka berdua saling pandang. Wajah Mayra kembali bersemu merah.
"Kurang lebih dua mingguan dok.."
Sahut Mayra dengan suara pelan. Dokter Lani tersenyum manis.
"Seharusnya sekarang lagi masa pembuahan, tunggu saja..! aku yakin sebentar lagi kalian pasti akan segera mendapat kabar bahagia.!"
Ucap dokter Lani, Mayra mengangguk. Sementara Dirga masih sama seperti tadi, datar.
"Untuk memastikannya nanti kalian datang sekitar 2 minggu lagi ya untuk pemeriksaan hasilnya..!"
"Baik dok, terimakasih banyak untuk hari ini ya."
"Sama-sama nyonya Mayra.."
Sambut sang dokter sambil berdiri berjabat tangan dengan Mayra.
*****
Mereka berdua keluar dari gedung rumah sakit itu melalui jalur khusus untuk orang-orang tertentu saja.
Dirga menyuruh Mayra untuk ikut ke mobilnya, sementara Jane mengikuti mereka dari belakang.
"Kita mau kemana sayang..? aku mau langsung pulang saja.!"
Tanya Mayra saat sudah berada di dalam mobil. Dirga menarik tubuh Mayra agar merapat padanya.
"Kita akan pergi ke kantorku.!"
Jawab Dirga dengan pandangan fokus ke layar ponselnya melihat sesuatu di sana.
Wajahnya tiba-tiba tampak mengeras, tatapannya mendadak dingin.
__ADS_1
Mayra penasaran, dia mencoba mencuri pandang ke arah layar ponsel suaminya itu. Di sana terlihat foto-foto dirinya yang kini tersebar luas di media sosial dan juga akun bisnis.
Mayra mencoba melempar pandangan ke luar, Dirga melirik, menatap kesal wajah Mayra.
"Mulai besok, kau harus berhenti dari pekerjaan mu.!"
Ucap Dirga dingin. Mayra tersentak langsung meliriknya dan menatap nya tajam.
"Loh kenapa.? bukankah kamu memberi aku kebebasan untuk sementara waktu.?"
"Tidak lagi.!"
"Tidak bisa begitu dong.! aku tidak bisa membatalkan kontrak begitu saja.!"
"Kamu suka kalau wajah dan fisik kamu jadi konsumsi publik.?!"
Sentak Dirga dengan tatapan mata yang sudah seperti serigala lapar. Mayra terhenyak. Dia baru menyadari makna dibalik ketidaksukaan suaminya itu.
"Tapi kemarin kau tidak pernah melarangku.!"
"Kau tidak pernah meminta izin ku terlebih dahulu.! Aku tidak tahu kalau hasilnya akan seperti ini.!"
Mayra terdiam. Dia tidak bisa lagi berpikir untuk saat ini. Bagaimana dia harus menghadapi Agam nanti kalau harus tiba-tiba membatalkan kontrak.
"Biarkan aku menyelesaikan beberapa kontrak yang sudah final, tidak banyak kok.!"
Akhirnya ucap Mayra . Dirga masih dengan tatapan dinginnya tampak memalingkan muka ke arah lain.
"Aku mohon, aku tidak bisa merugikan pihak perusahaan yang sudah menandatangani kontrak ini.!"
"Bukan demi perusahaan, kau lebih mengkhawatirkan bos mu itu.!"
Ucap Dirga semakin dingin. Mayra terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Itu tidak benar, aku sudah tidak punya beban perasaan apapun padanya, aku sudah berusaha melupakan segalanya. Aku hanya ingin mencoba menjalani hidupku yang sekarang.."
Lirih Mayra sambil berpaling dan mencoba menahan desakan air mata yang berusaha untuk keluar.
Dirga tertegun sesaat mendengar ucapan Mayra barusan, ada senyum yang sangat tipis tergurat di ujung bibirnya.
"Aku yang akan membatalkan kontrak mu dengan perusahaan2 itu.! Kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi.!"
"Akan ada banyak hal yang timbul kalau kau melakukan itu, biarkan aku menyelesaikan beberapa kontrak yang tersisa, setelah itu aku akan berhenti. Seperti yang kamu mau.."
"Kau sangat keras kepala ! kau lebih suka menjual wajahmu daripada mendengar ucapan ku.!"
"Aku tidak bermaksud menjual wajahku ! kau biarkan Evelyin melakukan hal itu juga, lalu kenapa aku tidak boleh.?!"
"Jangan samakan dirimu dengannya.!! "
Bentak Dirga keras, Mayra tersentak kaget dengan bentakan Dirga, dia membeku di tempat. Lee juga sama, dia hampir mengerem mendadak mobilnya.
Mata Dirga dan mata Mayra beradu panas. Air mata yang Mayra tahan dari tadi akhirnya terjun bebas seperti air hujan. Dia menangis terisak.
Tidak tahan, Dirga meraih tubuh Mayra ke dalam rengkuhannya, di peluknya erat, mencoba menenangkan nya.
"Kamu berbeda dengannya, jauh berbeda..!"
Lirih Dirga sambil mencium kening Mayra beberapa kali dan kembali mempererat pelukannya.
Walaupun tangisnya pecah tersedu-sedu, namun hati Mayra saat ini tiba-tiba menghangat. Dia balik memeluk erat tubuh Dirga menyembunyikan wajahnya dalam rengkuhan dada bidang suaminya itu.
"Jangan ke kantor dulu Lee, bawa aku ke butiknya anak nakal itu.!"
Perintah Dirga pada Lee.
"Baik Tuan." Jawab Lee
Mobil yang tujuan awalnya kembali ke kantor, kini berubah haluan menuju tempat lain..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....
Please kasih koment , like and vote nya ya..
Jangan pelit hee.. thank u all..😃😘🙏
__ADS_1