
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hari ini cuaca cukup cerah. Semilir angin sejuk berhembus di sekitar rumah besar bercat putih dengan patung singa yang gagah menyambut di halaman depannya.
Sejak pagi aktifitas di rumah besar ini sudah di mulai, bahkan lebih sibuk dari biasanya. Tina tampak berjalan kesana kemari mengontrol setiap pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya.
Semalam majikan mereka telah kembali, dan tentu saja hari ini semua pekerjaan harus terlihat sempurna tanpa ada kekurangan.
Di kamar utama, Mayra terlihat sudah bangun dan baru keluar dari kamar ganti. Dia memakai gamis rumahan.
Rambutnya yang masih setengah kering di biarkan tergerai. Dia melihat ke atas tempat tidur, Dirga tampak masih terlelap dalam tidurnya dengan tubuh bertelanjang dada . Perlahan Mayra naik ke tempat tidur, kemudian berbaring miring menghadap ke wajah Dirga yang tertidur dengan tenang. Seperti biasa selalu tampan dan mempesona.
Mayra mengelus lembut wajah suaminya itu, tidak bisa di pungkiri, dia sangat bersyukur bisa memiliki laki-laki yang jadi idaman semua wanita ini. Hatinya kini sudah terisi penuh oleh namanya, tak ada celah lagi untuk nama laki-laki lain.
Perlahan Mayra mendekat dan mengecup mesra bibir Dirga, di tatapnya kembali bibir itu, kemudian kembali di kecupnya lama.
"Aku sudah sangat nyaman bersamamu Mas..
tolong jangan tinggalkan aku.."
Ucap Mayra pelan seraya kembali mengelus wajah Dirga. Setiap detail wajah tampan rupawan itu seolah sedang di lukis dalam hatinya agar tersimpan rapi dalam sanubari nya.
Sudah cukup banyak hal yang mereka lalui beberapa waktu terakhir ini. Hingga membuat ikatan bathin antara mereka mulai terjalin cukup kuat. Tapi Mayra tidak tahu, hal apa lagi yang akan dia hadapi ke depan, mengingat suaminya ini bukanlah sosok yang sederhana. Dia harus menyiapkan mental dan jiwanya untuk menghadapi semua rintangan bila ingin terus bersama dengan suaminya ini.
Setelah puas memandangi wajah tampan suaminya, Mayra beranjak turun dari tempat tidur kemudian berjalan ke balkon. Dia berdiri di pinggir balkon merentangkan tangan menikmati semilir angin dan kesejukan udara pagi ini. Dia memandang bentangan taman bunga yang terhubung langsung dengan lapangan golf.
Cukup lama Mayra berdiri di pinggir balkon menikmati udara segar di sekitar bukit ini. Dia tersentak saat Dirga muncul di belakang langsung memeluknya erat dan melingkarkan tangan di perut ratanya. Wajahnya di benamkan di ceruk leher Mayra menghirup dan menikmati aroma wangi segar dari tubuh dan rambut Mayra.
"Sudah bangun Mas.."
Ucap Mayra sambil menoleh tapi terhalang karena Dirga mulai beraksi menciumi leher dan tengkuknya dengan sangat lembut menggoda. Semakin lama semakin panas dan intens.
"Aahh..Maass."
Mayra mendesah pelan saat tangan Dirga mulai nakal membuka kancing bajunya dan menyelusup masuk ke balik baju meremas gunung kembarnya. Mayra membalikan badannya, Dirga langsung menyergap bibirnya dengan serangan ciuman pagi yang panas dan membara serta di penuhi hasrat yang sudah naik dari semalam. Hanya saja mereka terlalu lelah karena perjalanan dan juga kejadian sebelumnya.
Dengan sekali gerakan Dirga mengangkat tubuh
Mayra di bawa masuk ke dalam kamar kemudian membaringkan nya di atas tempat tidur. Tanpa jeda dia langsung menindihnya dan membuka semua pakaian yang di kenakannya. Mayra hanya bisa pasrah dan menuruti semua keinginan suaminya itu.
Olahraga pagi yang menguras tenaga pun terjadi.
Di warnai hasrat dan gairah yang sama-sama membara membakar seluruh aliran darah mereka.
..... .....
Dirga selesai bersiap setelah tadi membersihkan diri terlebih dahulu. Kini dia terlihat segar dan full stamina karena sudah mendapatkan suntikan vitamin barusan.
Dia menyeruput teh hijau yang tadi di bawakan oleh Mayra.Tangannya fokus memainkan ponsel mengecek email yang masuk dan pesan dari Lee.
Tidak lama ponselnya berdering, dan nama Evelyin tertera di layar. Alis Dirga tampak bertaut wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Ada apa meneleponku pagi-pagi.?"
Tanya Dirga ketus.
"Honeyy..aku kangennn..aku ingin bertemu denganmu. Apa kamu tidak akan pulang ke rumah.?"
"Aku banyak pekerjaan hari ini.!"
"Kalau begitu aku akan ke kantormu..Kita bertemu di sana.!"
"Aku ada meeting penting hari ini.!"
"Honeyy..apa yang terjadi dengan hatimu.?
bukankah aku pernah menjadi satu-satunya
yang ada di hatimu.? Lalu kemana semua itu sekarang.?"
Ucap Evelyin dengan nada suara yang terdengar lirih.
Dirga terdiam, dia mencoba untuk tidak perduli pada ucapan Evelyin.
"Aku sudah berdiam di rumah sekarang karena ultimatum yang kamu berikan..! Lalu apa sekarang yang aku dapat, kamu masih tetap mengacuhkan ku.!"
"Aku tidak ada waktu untuk melayani ocehan mu.!
Jangan berulah lagi di depanku.!"
Sentak Dirga sambil kemudian mematikan ponselnya sepihak. Dia melempar ponselnya ke sofa.
Mayra muncul di pintu setelah tadi dia turun
__ADS_1
ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Dia menatap wajah Dirga penuh tanda tanya.
"Sayang..ada apa..?"
Tanya Mayra sambil menghampiri Dirga dan memasangkan dasi. Dirga menatap wajah cantik Mayra mencoba mengendalikan emosinya yang tadi sempat naik saat menerima telpon dari Evelyin.
"Bukan apa-apa, hanya gangguan kecil saja.!"
"Apa itu tadi telpon dari Evelyin.?"
Kembali tanya Mayra, mereka berpandangan. Dirga mengecup mata bulat bening Mayra karena tidak tahan dengan tatapan selidiknya.
"Bukan telpon penting !"
Kilah Dirga sambil kemudian merengkuh
pinggang Mayra dan mengangkat tubuhnya
ke dalam pelukannya.
"Mass..bajumu kusut lagi nanti.! Ayo kita sarapan dulu ini sudah siang..!"
Ucap Mayra tertahan karena Dirga sudah menarik kakinya agar melingkar di pinggang nya.
"Sebenarnya aku malas ke kantor.! Aku ingin bersamamu seharian di rumah."
Ucap Dirga sambil mendekatkan wajah nya
ke wajah Mayra yang mundur dan tersenyum.
"Kau sudah terlalu lama tidak masuk kantor Mas."
"Hemm.. baiklah tapi beri aku ciuman dulu.!"
"Mas dari tadi kita sudah melakukannya. Bibirku
bisa bengkak nanti kalau terus mengulang nya."
Tolak Mayra sambil berusaha turun dari pangkuan Dirga. Tapi Dirga memaksa mencium bibirnya dengan lumatan yang rakus dan dalam, hanya saja dengan durasi yang singkat.
Mayra cemberut mengusap bibirnya yang sudah membengkak, sementara Dirga tersenyum puas.
tangan Mayra kemudian melingkari pinggangnya posesif.
***** *****
Tina menyambut kedua majikannya dengan tersenyum dan membungkukan badan, setelah itu menyiapkan kursi untuk Dirga. Seperti biasa Dirga duduk di kursi utama seraya menarik Mayra agar duduk di pangkuannya. Tapi Mayra menolak kemudian duduk di samping nya.
Tina mulai melayani kedua majikannya dengan telaten. Setelah itu mundur kemudian pergi setelah Dirga mengibaskan tangannya. Dan mereka pun memulai sarapan paginya dengan tenang.
"Sayang..apa aku boleh melakukan sesuatu untuk mengisi waktu ? Aku bosan kalau harus di rumah terus."
Ucap Mayra pelan. Dirga melirik dan menatap intens wajah Mayra yang tiada bosan untuk di pandang itu.
" Memang nya kau mau melakukan apa.?"
Tanya Dirga, Mayra menatap Dirga kemudian tersenyum lembut.
" Ada banyak tawaran pekerjaan seperti kemarin. Tapi aku tidak ingin mengambilnya. Aku hanya ingin sesekali menyalurkan hobiku..!"
"Buat apa kamu bekerja, akan aku berikan apapun yang kau inginkan.!"
"Aku tahu itu..Aku hanya bosan saja di rumah terus."
" Kau bisa jalan-jalan, belanja atau melakukan apapun yang bisa membuang rasa bosanmu.!"
"Aku tidak suka menghabiskan waktu percuma Mas..!"
Sanggah Mayra seraya menatap memohon pada Dirga.
"Hanya sesekali saja kok mas.."
Kembali ucap Mayra. Dirga menatap Mayra malas menanggapi.
"Kau hanya beralasan saja agar bisa selalu bertemu dengan bos mu itu.!"
Ucap Dirga ketus. Mayra melirik dengan cepat dan menatap Dirga tidak suka .
"Kau masih meragukan perasaan ku mas.?"
Tanya Mayra kecewa. Dirga mengakhiri sarapannya kemudian membersihkan mulutnya dengan serbet putih.
__ADS_1
"Tergantung perasaanmu padaku..!"
"Mas..apa maksud mu..?"
Tanya Mayra semakin bingung. Keduanya saling pandang kuat. Ada sedikit keraguan yang tersirat dari sorot mata Dirga.
"Aku harus pergi sekarang.! Lakukan apapun yang kau suka.! "
Ucap Dirga kemudian sambil berdiri dan merapihkan jas nya. Mayra mengikuti Dirga berjalan menuju ke ruang tengah, Lee terlihat sudah menunggunya dan sedang sibuk dengan laptopnya.
"Aku pergi dulu. Kalau bosan pergilah jalan-jalan.!"
"Iya Mas.. hati-hati ya.."
Ucap Mayra sambil kemudian mengambil punggung tangan Dirga dan menciumnya. Sesaat Dirga terdiam, kemudian dia meraih tubuh Mayra mendekapnya erat.
Setelah itu mengecup keningnya lama kemudian beralih mencium lembut bibirnya.
Mayra mengantar Dirga sampai ke halaman depan, setelah itu dia kembali masuk ke dalam rumah bersamaan dengan suara ponselnya yang berdering.
Nama Agam tertera di layar.
" Assalamualaikum Mas.."
"Waalaikumsalam.. Apakabar May ? bagaimana liburanmu ? "
"Alhamdulillah aku baik Mas. Ya gitulah..semuanya berjalan lancar.!"
" Apa kita bisa ketemu May..? Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan, mengenai kontrak kerja mu.."
"Baiklah Mas..nanti siang aku ke kantor.."
"Oke May..aku tunggu ya.."
"Sampai ketemu nanti Mas, Assalamualaikum.."a
"Waalaikumsalam May.."
Mayra menarik napas perlahan, kemudian kembali melangkah masuk langsung menuju lantai atas.
Di dekat tangga dia berpapasan dengan Tina.
"Tina, tolong katakan pada Jane nanti siang saya akan pergi.."
"Baik Nyonya akan saya sampaikan."
Sambut Tina seraya mengangguk. Mayra kembali melangkah menaiki tangga.
Semua rencana hanyalah satu keinginan dan tujuan yang ingin di capai oleh manusia. Namun Tuhan jua lah yang akan menentukan segalanya.
Mayra tidak pernah menyangka bahwa perjalanan hidup dan cinta nya akan sampai pada titik ini.
Dirga menikahinya dengan tujuan ingin segera memperoleh keturunan. Tapi diatas semua keinginan tersebut, ada ketentuan dan ketetapan Tuhan yang pastinya tidak bisa terelakkan. Tuhan punya rencana sendiri untuk setiap perjalanan hidup manusia.
Kini yang bisa dilakukan Mayra hanyalah pasrah dan menyerahkan semua takdir hidupnya pada Tuhan.
Apapun nanti yang terjadi itulah yang terbaik untuk dirinya dan kehidupannya.
Siang nya setelah selesai menjalankan sholat dhuhur, Mayra segera bersiap untuk pergi ke kantor Agam.
Dia memang masih memiliki beberapa urusan kontrak yang harus di bicarakan nya.
Semula Mayra memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan ini, namun memang masih ada beberapa kesepakatan yang dia tandatangani di luar fhoto model atau sebagainya. Mayra pernah menyanggupi menerima tawaran manggung di sebagian acara yang di pilihnya dan hanya untuk mengisi hari-hari nya saja mengingat waktu itu dirinya sudah di nyatakan positif hamil. Tapi inilah kenyataannya sekarang.
Ternyata Tuhan belum berkehendak untuk itu.
Mayra turun dari lantai atas dengan memakai pakaian casual berwarna pastel. Seperti biasa selalu memukau setiap mata yang melihat. Bahkan sekarang aura kecantikannya semakin keluar dan bersinar.
Mungkin karena suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.
" Apa Jane sudah siap.?"
Tanya Mayra pada Tina yang mengikuti langkah nya menyusuri ruang tengah rumahnya.
"Sudah Nyonya, Jane menunggu anda di luar."
Jawab Tina. Mayra menghentikan langkahnya sebentar melihat keberadaan piano di sudut utama ruangan, sekilas dia mengingat malam dimana dirinya mencurahkan segala isi hatinya di hadapan Dirga, dan malam itu juga Dirga menyatakan perasaannya.
Namun entahlah..sampai saat ini, Mayra belum memiliki keyakinan penuh pada perasaan suaminya itu, mengingat dirinya bukanlah istri satu2nya dari Dirga, masih ada wanita lain yang tentunya berhak mendapat perhatian dan kasih sayang darinya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
__ADS_1