
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mayra perlahan kembali pada kesadarannya, dia
mengerjap dan menyipit ketika retina matanya menangkap cahaya matahari masuk melewati
jendela kaca yang menjulang tinggi menyilaukan pandangannya.
Saat tersadar dengan apa yang terjadi pada dirinya
Mayra segera bangkit dari tempat tidur, seketika
tubuhnya menegang dan waspada dengan keadaan sekeliling. Sesaat dia mengamati keadaan dirinya
yang kini sudah berganti pakaian. Tubuhnya
semakin tegang, pikiran liarnya sudah kemana-
mana. Siapa yang mengganti pakaiannya.?
Mungkinkah Evelyin.? Itu sangat mustahil.!
Saat dia sedang berputar dengan isi kepalanya
dengan berbagai kemungkinan yang bisa saja
terjadi pada dirinya saat tidak sadarkan diri,
tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Di pintu muncul
seorang gadis membawakan nampan berisi nasi
dan segelas air putih. Mata Mayra dan mata gadis
itu bertemu, saling tatap lekat. Keduanya terlihat
sama-sama terpaku dalam diam.
Tatapan sendu yang terpancar dari mata gadis itu
menyiratkan sesuatu yang rumit tengah dia alami.
Wajahnya terlihat sangatlah cantik, dengan
rambut yang indah tergerai asal. Kulitnya putih berkilau sebening porselen. Dan kelihatannya
gadis itu bukanlah gadis biasa.
"Si-siapa kamu..?"
Mayra bertanya dengan suara gemetar dan masih
dalam keadaan tegang serta mulai ketakutan.
Bayangan tentang kekejaman Evelyin membuat
dia menjadi lebih sensitif dan selalu bersikap
waspada terhadap semua orang.
Gadis itu perlahan mendekat kemudian berdiri
di depan Mayra, menatap sebentar kearahnya,
setelah itu menyimpan nampan makanan di
hadapan Mayra. Dia melirik was-was ke arah
pintu.
"Makanlah..! jangan biarkan bayimu kelaparan."
Gadis itu berucap dengan suara yang sangat
lembut nyaris tak terdengar, namun ada sedikit
nada gusar dan ketakutan. Mayra menatap
diam gadis itu yang terlihat semakin gusar.
"Apa kau bisa membantuku keluar dari tempat
ini.?"
Mayra bertanya dengan sedikit harapan. Gadis
itu terlihat memandang Mayra dengan tatapan bingung dan tertekan.
Ke dalam kamar muncul Jayden dengan wajah
yang sudah sangat dingin. Dengan kasar dia
menarik tangan gadis itu, namun gadis itu
berusaha menepisnya kasar. Kini keduanya
saling bertatapan tajam.
"Siapa yang menyuruhmu kembali ke kamar ini ?
Kau sudah berani membantahku hahh..?"
Jayden membentak dengan wajah yang terlihat
sangar namun masih berusaha di tekannya.
Lengan gadis itu di cengkraman nya kuat
membuat dia meringis kesakitan.
"Lepaskan aku..! Apa kau tidak lihat wanita itu
sedang mengandung..!?"
"Itu bukan urusanmu..! urus saja dirimu sendiri.!
Kembali ke kamarmu..!"
Sentak Jayden dengan tatapan perintah yang
yang cukup mengintimidasi.
"Aku tidak mau..!"
Tanpa kata lagi, Jayden menyeret gadis itu di
bawa keluar dari kamar yang dipakai untuk
menyekap Mayra. Sekilas gadis itu kembali
melihat kearah Mayra yang hanya bisa
menatapnya kompleks.
Mayra hanya terdiam saja melihat perdebatan
yang terjadi antara Jayden dan gadis asing tadi.
Dia terkesiap saat menyadari pintu terbuka
dengan sangat lebar. Dengan sisa-sisa kekuatan
Mayra melangkah turun dari tempat tidur
kemudian berjalan kearah pintu.
Namun sebelum mencapai pintu, Laki-laki paruh
baya yang semalam memaksa ingin menjamahnya
tiba-tiba muncul. Langkah Mayra langsung
terhenti, wajahnya langsung pucat pasi, ketakutan seketika menyergap dirinya. Mayra mundur
dengan tubuh mulai gemetaran. Matanya
menatap tajam laki-laki tua bangka itu, yang kini tampak menyeringai jahat,dia berjalan merangsek maju ingin menjangkau Mayra.
"Mau apa kamu.! Pergi..!!"
Mayra berteriak karena panik saat pria tua itu
semakin maju, tubuh Mayra membentur dinding
dekat jendela kamar.
"Haahaa sekarang saatnya bagiku untuk bersenang senang denganmu nona manis..!"
"Tidak..!! pergi..! jangan ganggu aku. !!"
Jerit Mayra semakin panik. Saat laki-laki tua
itu hampir menyentuhkan tangannya ke tubuh
Mayra, dari arah jendela kamar yang tebal dan
__ADS_1
tinggi serta kokoh terdengar bunyi gemuruh
tembakan yang terus di lancarkan sampai kaca
jendela tersebut hancur berantakan.
Suasana di luar Villa juga kini terdengar suara gemuruh tembakan dari senjata berkaliber besar.
Laki-laki paruh baya itu terlihat tegang dan berdiri
kaku di tempat saat terdengar suara gemuruh
helikopter di luar jendela, dan tidak lama dari arah jendela ada sesosok bayangan yang menerobos
masuk melompat melewati jendela yang sudah
hancur. Tanpa menunggu lagi sosok tinggi itu langsung menerjang dan menyerang laki-laki
paruh baya tadi dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi hingga membuat pria tua itu terkapar dengan darah mengucur deras dari mukanya
yang kini telah babak belur.
"Ternyata aku salah sudah mengampuni nyawamu
tua bangka..!! Akan ku habisi kau sekarang juga.!"
Desis sosok itu dengan suara beratnya menahan
luapan amarah yang sudah mencapai puncaknya.
Mayra yang tadi sempat shock dan memejamkan
matanya seketika membuka mata dan terkejut
mendengar suara yang sangat di kenalnya itu.
Dia melihat sosok itu kini kembali menghajar habis-habisan laki-laki tua yang tadi sempat
ingin menjamahnya.
"Mas..!"
Mayra memekik saat melihat jelas siapa sosok
yang sudah menolong nya itu. Sosok itu melirik sebentar dengan tatapan penuh kekhawatiran .
Namun dia kembali mengirimkan tendangan
kerasnya ke dada laki-laki tua tadi hingga
membuatnya tak bergerak lagi dengan keadaan
yang cukup mengerikan.
"Sudah Mas.."
Mayra berucap lirih dengan suara bergetar. Dia
terlihat bergidik ngeri melihat kondisi laki-laki
tua itu. Sosok tadi yang ternyata Dirga dengan
cepat membalikan tubuhnya dan segera berjalan
menghampiri Mayra dengan wajah penuh
kecemasan. Dia meraih tubuh rapuh itu ke
dalam rengkuhannya, keduanya berpelukan erat, Mayra menangis sesegukan di dada Dirga.
"Kamu tidak apa-apa sayang.? Apa orang-orang
itu melukaimu.?"
Dirga bertanya lirih sambil melepaskan
pelukannya melihat keadaan Mayra dan
meneliti seluruhnya. Mayra menggeleng lemah dengan air mata yang terus berjatuhan dan tangis yang tertahan.
"Cepat..! Kita harus keluar sekarang..!!"
Tiba-tiba ada suara dari arah pintu dan sosok
Aaron muncul di sana dengan tatapan dingin
kearah mereka. Tapi ada sorot mata penuh
kerinduan yang berusaha di sembunyikannya
Dirga dan Mayra menoleh kearah Aaron, mata
Mayra dan Aaron bertemu beberapa saat.
Tanpa kata lagi Dirga memegang erat tangan
Mayra dibawa keluar dari ruangan itu. Mereka
berjalan sedikit mengendap-endap dengan
terus waspada dan senjata yang siap di tangan.
"Dimana Jayden.?"
Dirga bertanya sambil terus berjalan, tangannya
memegang erat tangan Mayra yang semakin
pucat pasi karena ketakutan.
"Dia bersembunyi..! Aku sudah menyusuri seluruh
ruangan bawah..!"
Jawab Aaron sambil mengokang senjatanya
dengan gerakan kilat.
Ternyata di seluruh bagian pulau telah terjadi pertempuran seru antara anak buah Aaron dan
anak buah Jayden. Dan kini hampir semua
anggota black Hunter yang ada di tempat itu
sudah dibabat habis.
Saat mereka melewati lorong kecil menuju ke
tangga tiba-tiba terdengar tembakan kearah
mereka. Dan dengan cepat Aaron menghadang
tembakan itu hingga mengenai bahunya.
"Aaron..!"
Jerit Mayra histeris saat Aaron terhuyung dan
darah mulai merembes membasahi bahunya.
"Cepat pergi.! Aku tidak apa-apa.!"
Titah Aaron seraya menatap Mayra sebentar
yang terlihat menggeleng cepat dan balik
menatapnya cemas.
"Dirga..cepat bawa dia pergi..! Aku akan mencari
Jayden..!"
Aaron berkata sambil kemudian menyelinap
masuk ke sebuah lorong lain dan terus menyusuri setiap ruangan mencari keberadaan Jayden.
Luka tembak di bahunya tidak dihiraukannya
sama sekali olehnya.
Ketika mencapai sebuah kamar, terdengar
gedoran keras dari dalam dan suara seseorang meminta tolong. Aaron terdiam sesaat dengan
terus waspada. Tidak lama dia kemudian
menendang kuat pintu itu hingga hancur
dan terbuka.
Mata Aaron langsung bersirobos tatap dengan
sepasang mata indah yang dipenuhi ketakutan
dari seorang gadis yang berdiri gemetar di pinggir pintu. Keduanya terdiam beberapa saat saling pandang kuat. Namun tiba-tiba saja tubuh Aaron terhuyung ke depan saat sebuah tendangan kuat menerjang punggungnya. Dengan cepat Aaron membalikan badannya dan melihat Jayden sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga..! Aku cukup lama
menunggu saat ini..!!"
Jayden berkata seraya kembali menyerang
Aaron. Dan terjadilah perkelahian sengit di dalam ruangan sempit itu yang membuat gadis tadi
makin gemetar ketakutan, dia merapatkan
tubuhnya ke tembok.
Kedua pimpinan mafia bawah tanah itu bertarung
seru dengan kekuatan yang cukup seimbang.
Walaupun Aaron dalam keadaan terluka, tapi itu
tidak membuat keberingasannya berkurang.
Setelah cukup lama bertarung, akhirnya Jayden terdesak. Aaron berhasil memasukan tendangan dengan kekuatan penuh ke bagian dada Jayden membuat dia menyemburkan darah segar dan tubuhnya ambruk di hadapan gadis tadi yang
sontak menjerit takut.
Dengan sisa kekuatannya Jayden berdiri dan
tiba-tiba meraih tubuh gadis itu, membelit
lehernya dengan tangan kirinya dan
menodongkan pistol di pelipis kanannya.
"Kau bergerak, nyawa gadis tak berdosa ini
akan berakhir di tanganku..!"
Ancam Jayden memperkuat pitingan nya di leher
gadis itu. Mata gadis itu tampak membeliak kuat
karena napasnya kian tersengal. Aaron berdiri
kaku di tempat dengan wajah yang sudah tak
terbaca. Tangannya terkepal kuat. Matanya
menatap tajam kearah mereka mencoba
membaca gerakan Jayden.
Perlahan Jayden mundur masih menyandera
gadis itu sebagai tameng, namun dalam satu
gerakan kilat Aaron mengambil senjata dari balik punggungnya dan melepaskan tembakan, tepat mengenai jantung Jayden yang seketika mengejang kemudian tubuhnya ambruk ke lantai.
Gadis tadi memekik dan menutup mukanya
shock melihat kejadian mengerikan di depan
matanya itu. Dia mencoba mengatur napasnya,
belum sempat dia menguasai dirinya Aaron sudah menyambar tangannya di bawa berlari keluar dari ruangan itu.
Sementara itu Dirga yang membawa Mayra kini
sudah turun ke lantai bawah.
"Aaaww..perutku sakit Mas..!"
Mayra memekik saat tiba-tiba perut bagian
bawahnya terasa kram dan ada rasa sakit yang
mulai menyerang bagian pinggangnya. Dia
terduduk lemas di lantai memegangi perutnya
dengan kuat. Kulitnya terlihat semakin memucat. Wajah Dirga sontak saja dipenuhi kepanikan.
Dengan cepat dia merangkul tubuh Mayra
kedalam dekapannya.
Dalam keadaan itu tiba-tiba saja terdengar
tembakan yang datang kearah mereka
membuat Dirga reflek melindungi Mayra dengan
memeluknya erat.Tidak lama terdengar suara
tawa dari arah sebuah ruangan. Evelyin muncul kemudian berdiri mengarahkan senjata kearah mereka.
"Evelyin..!!"
Desis Dirga menggertakan giginya dan matanya
menyala penuh amarah kearah Evelyin yang
sedang menyeringai penuh kebencian.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini
hidup-hidup..! Aku tidak akan membiarkannya..!!"
Jerit Evelyin sambil kemudian menekan pelatuk
dan melancarkan tembakan ke arah Mayra,
namun Dirga dengan cepat menghadang dan tembakan itu tepat mengenai dada kirinya.
"Maaass...!"
Mayra menjerit saat melihat tubuh Dirga
terhuyung memegangi dada kirinya.
Matanya tampak menatap lemah kearah
Mayra yang terbelalak shock. Eveliyn kembali mengarahkan tembakan nya dengan tatapan
semakin kesetanan, namun Aaron muncul
dari arah tangga dan langsung menembak
Evelyin dengan sasaran tepat, membuat tubuhnya mengejang seketika kemudian ambruk di lantai.
Bersamaan kemunculan Lee dan Tomy serta
beberapa orang dari aparat kepolisian.
"Tuan..!!"
Lee berlari menghampiri Tuannya yang sedang
terkulai lemas dalam pangkuan Mayra. Mata
Dirga dan Mayra bertemu dengan tatapan lemah.
"A-aku ti-tidak apa-apa sa-yaang.."
Dirga berucap lirih, tangannya bergetar
memegang wajah Mayra yang sedang terisak
pilu dan menggeleng kuat.
"Mas..kau harus kuat..toloong..jangan tinggalin
akuuu...!!"
Lirih Mayra lemah, mata Dirga tertutup.
Mayra menangis histeris, ada darah yang
keluar dari bagian bawah tubuh Mayra
membuat dia kehilangan tenaga dan terkulai
lemas dalam rengkuhan Aaron.
"Siapkan heli...!!"
Perintah Aaron dengan suara membahana..
Semua orang bergerak sesuai perintah. Aaron
berlari membopong tubuh Mayra. Sementara
Dirga segera diangkat ke dalam blangkar menuju
ke sebuah helikopter yang sudah siap di halaman.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC.....