Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
111. Akhir Sebuah Tragedi


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mayra perlahan kembali pada kesadarannya, dia


mengerjap dan menyipit ketika retina matanya menangkap cahaya matahari masuk melewati


jendela kaca yang menjulang tinggi menyilaukan pandangannya.


Saat tersadar dengan apa yang terjadi pada dirinya


Mayra segera bangkit dari tempat tidur, seketika


tubuhnya menegang dan waspada dengan keadaan sekeliling. Sesaat dia mengamati keadaan dirinya


yang kini sudah berganti pakaian. Tubuhnya


semakin tegang, pikiran liarnya sudah kemana-


mana. Siapa yang mengganti pakaiannya.?


Mungkinkah Evelyin.? Itu sangat mustahil.!


Saat dia sedang berputar dengan isi kepalanya


dengan berbagai kemungkinan yang bisa saja


terjadi pada dirinya saat tidak sadarkan diri,


tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Di pintu muncul


seorang gadis membawakan nampan berisi nasi


dan segelas air putih. Mata Mayra dan mata gadis


itu bertemu, saling tatap lekat. Keduanya terlihat


sama-sama terpaku dalam diam.


Tatapan sendu yang terpancar dari mata gadis itu


menyiratkan sesuatu yang rumit tengah dia alami.


Wajahnya terlihat sangatlah cantik, dengan


rambut yang indah tergerai asal. Kulitnya putih berkilau sebening porselen. Dan kelihatannya


gadis itu bukanlah gadis biasa.


"Si-siapa kamu..?"


Mayra bertanya dengan suara gemetar dan masih


dalam keadaan tegang serta mulai ketakutan.


Bayangan tentang kekejaman Evelyin membuat


dia menjadi lebih sensitif dan selalu bersikap


waspada terhadap semua orang.


Gadis itu perlahan mendekat kemudian berdiri


di depan Mayra, menatap sebentar kearahnya,


setelah itu menyimpan nampan makanan di


hadapan Mayra. Dia melirik was-was ke arah


pintu.


"Makanlah..! jangan biarkan bayimu kelaparan."


Gadis itu berucap dengan suara yang sangat


lembut nyaris tak terdengar, namun ada sedikit


nada gusar dan ketakutan. Mayra menatap


diam gadis itu yang terlihat semakin gusar.


"Apa kau bisa membantuku keluar dari tempat


ini.?"


Mayra bertanya dengan sedikit harapan. Gadis


itu terlihat memandang Mayra dengan tatapan bingung dan tertekan.


Ke dalam kamar muncul Jayden dengan wajah


yang sudah sangat dingin. Dengan kasar dia


menarik tangan gadis itu, namun gadis itu


berusaha menepisnya kasar. Kini keduanya


saling bertatapan tajam.


"Siapa yang menyuruhmu kembali ke kamar ini ?


Kau sudah berani membantahku hahh..?"


Jayden membentak dengan wajah yang terlihat


sangar namun masih berusaha di tekannya.


Lengan gadis itu di cengkraman nya kuat


membuat dia meringis kesakitan.


"Lepaskan aku..! Apa kau tidak lihat wanita itu


sedang mengandung..!?"


"Itu bukan urusanmu..! urus saja dirimu sendiri.!


Kembali ke kamarmu..!"


Sentak Jayden dengan tatapan perintah yang


yang cukup mengintimidasi.


"Aku tidak mau..!"


Tanpa kata lagi, Jayden menyeret gadis itu di


bawa keluar dari kamar yang dipakai untuk


menyekap Mayra. Sekilas gadis itu kembali


melihat kearah Mayra yang hanya bisa


menatapnya kompleks.


Mayra hanya terdiam saja melihat perdebatan


yang terjadi antara Jayden dan gadis asing tadi.


Dia terkesiap saat menyadari pintu terbuka


dengan sangat lebar. Dengan sisa-sisa kekuatan


Mayra melangkah turun dari tempat tidur


kemudian berjalan kearah pintu.


Namun sebelum mencapai pintu, Laki-laki paruh


baya yang semalam memaksa ingin menjamahnya


tiba-tiba muncul. Langkah Mayra langsung


terhenti, wajahnya langsung pucat pasi, ketakutan seketika menyergap dirinya. Mayra mundur


dengan tubuh mulai gemetaran. Matanya


menatap tajam laki-laki tua bangka itu, yang kini tampak menyeringai jahat,dia berjalan merangsek maju ingin menjangkau Mayra.


"Mau apa kamu.! Pergi..!!"


Mayra berteriak karena panik saat pria tua itu


semakin maju, tubuh Mayra membentur dinding


dekat jendela kamar.


"Haahaa sekarang saatnya bagiku untuk bersenang senang denganmu nona manis..!"


"Tidak..!! pergi..! jangan ganggu aku. !!"


Jerit Mayra semakin panik. Saat laki-laki tua


itu hampir menyentuhkan tangannya ke tubuh


Mayra, dari arah jendela kamar yang tebal dan

__ADS_1


tinggi serta kokoh terdengar bunyi gemuruh


tembakan yang terus di lancarkan sampai kaca


jendela tersebut hancur berantakan.


Suasana di luar Villa juga kini terdengar suara gemuruh tembakan dari senjata berkaliber besar.


Laki-laki paruh baya itu terlihat tegang dan berdiri


kaku di tempat saat terdengar suara gemuruh


helikopter di luar jendela, dan tidak lama dari arah jendela ada sesosok bayangan yang menerobos


masuk melompat melewati jendela yang sudah


hancur. Tanpa menunggu lagi sosok tinggi itu langsung menerjang dan menyerang laki-laki


paruh baya tadi dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi hingga membuat pria tua itu terkapar dengan darah mengucur deras dari mukanya


yang kini telah babak belur.


"Ternyata aku salah sudah mengampuni nyawamu


tua bangka..!! Akan ku habisi kau sekarang juga.!"


Desis sosok itu dengan suara beratnya menahan


luapan amarah yang sudah mencapai puncaknya.


Mayra yang tadi sempat shock dan memejamkan


matanya seketika membuka mata dan terkejut


mendengar suara yang sangat di kenalnya itu.


Dia melihat sosok itu kini kembali menghajar habis-habisan laki-laki tua yang tadi sempat


ingin menjamahnya.


"Mas..!"


Mayra memekik saat melihat jelas siapa sosok


yang sudah menolong nya itu. Sosok itu melirik sebentar dengan tatapan penuh kekhawatiran .


Namun dia kembali mengirimkan tendangan


kerasnya ke dada laki-laki tua tadi hingga


membuatnya tak bergerak lagi dengan keadaan


yang cukup mengerikan.


"Sudah Mas.."


Mayra berucap lirih dengan suara bergetar. Dia


terlihat bergidik ngeri melihat kondisi laki-laki


tua itu. Sosok tadi yang ternyata Dirga dengan


cepat membalikan tubuhnya dan segera berjalan


menghampiri Mayra dengan wajah penuh


kecemasan. Dia meraih tubuh rapuh itu ke


dalam rengkuhannya, keduanya berpelukan erat, Mayra menangis sesegukan di dada Dirga.


"Kamu tidak apa-apa sayang.? Apa orang-orang


itu melukaimu.?"


Dirga bertanya lirih sambil melepaskan


pelukannya melihat keadaan Mayra dan


meneliti seluruhnya. Mayra menggeleng lemah dengan air mata yang terus berjatuhan dan tangis yang tertahan.


"Cepat..! Kita harus keluar sekarang..!!"


Tiba-tiba ada suara dari arah pintu dan sosok


Aaron muncul di sana dengan tatapan dingin


kearah mereka. Tapi ada sorot mata penuh


kerinduan yang berusaha di sembunyikannya


Dirga dan Mayra menoleh kearah Aaron, mata


Mayra dan Aaron bertemu beberapa saat.


Tanpa kata lagi Dirga memegang erat tangan


Mayra dibawa keluar dari ruangan itu. Mereka


berjalan sedikit mengendap-endap dengan


terus waspada dan senjata yang siap di tangan.


"Dimana Jayden.?"


Dirga bertanya sambil terus berjalan, tangannya


memegang erat tangan Mayra yang semakin


pucat pasi karena ketakutan.


"Dia bersembunyi..! Aku sudah menyusuri seluruh


ruangan bawah..!"


Jawab Aaron sambil mengokang senjatanya


dengan gerakan kilat.


Ternyata di seluruh bagian pulau telah terjadi pertempuran seru antara anak buah Aaron dan


anak buah Jayden. Dan kini hampir semua


anggota black Hunter yang ada di tempat itu


sudah dibabat habis.


Saat mereka melewati lorong kecil menuju ke


tangga tiba-tiba terdengar tembakan kearah


mereka. Dan dengan cepat Aaron menghadang


tembakan itu hingga mengenai bahunya.


"Aaron..!"


Jerit Mayra histeris saat Aaron terhuyung dan


darah mulai merembes membasahi bahunya.


"Cepat pergi.! Aku tidak apa-apa.!"


Titah Aaron seraya menatap Mayra sebentar


yang terlihat menggeleng cepat dan balik


menatapnya cemas.


"Dirga..cepat bawa dia pergi..! Aku akan mencari


Jayden..!"


Aaron berkata sambil kemudian menyelinap


masuk ke sebuah lorong lain dan terus menyusuri setiap ruangan mencari keberadaan Jayden.


Luka tembak di bahunya tidak dihiraukannya


sama sekali olehnya.


Ketika mencapai sebuah kamar, terdengar


gedoran keras dari dalam dan suara seseorang meminta tolong. Aaron terdiam sesaat dengan


terus waspada. Tidak lama dia kemudian


menendang kuat pintu itu hingga hancur


dan terbuka.


Mata Aaron langsung bersirobos tatap dengan


sepasang mata indah yang dipenuhi ketakutan


dari seorang gadis yang berdiri gemetar di pinggir pintu. Keduanya terdiam beberapa saat saling pandang kuat. Namun tiba-tiba saja tubuh Aaron terhuyung ke depan saat sebuah tendangan kuat menerjang punggungnya. Dengan cepat Aaron membalikan badannya dan melihat Jayden sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Akhirnya kamu datang juga..! Aku cukup lama


menunggu saat ini..!!"


Jayden berkata seraya kembali menyerang


Aaron. Dan terjadilah perkelahian sengit di dalam ruangan sempit itu yang membuat gadis tadi


makin gemetar ketakutan, dia merapatkan


tubuhnya ke tembok.


Kedua pimpinan mafia bawah tanah itu bertarung


seru dengan kekuatan yang cukup seimbang.


Walaupun Aaron dalam keadaan terluka, tapi itu


tidak membuat keberingasannya berkurang.


Setelah cukup lama bertarung, akhirnya Jayden terdesak. Aaron berhasil memasukan tendangan dengan kekuatan penuh ke bagian dada Jayden membuat dia menyemburkan darah segar dan tubuhnya ambruk di hadapan gadis tadi yang


sontak menjerit takut.


Dengan sisa kekuatannya Jayden berdiri dan


tiba-tiba meraih tubuh gadis itu, membelit


lehernya dengan tangan kirinya dan


menodongkan pistol di pelipis kanannya.


"Kau bergerak, nyawa gadis tak berdosa ini


akan berakhir di tanganku..!"


Ancam Jayden memperkuat pitingan nya di leher


gadis itu. Mata gadis itu tampak membeliak kuat


karena napasnya kian tersengal. Aaron berdiri


kaku di tempat dengan wajah yang sudah tak


terbaca. Tangannya terkepal kuat. Matanya


menatap tajam kearah mereka mencoba


membaca gerakan Jayden.


Perlahan Jayden mundur masih menyandera


gadis itu sebagai tameng, namun dalam satu


gerakan kilat Aaron mengambil senjata dari balik punggungnya dan melepaskan tembakan, tepat mengenai jantung Jayden yang seketika mengejang kemudian tubuhnya ambruk ke lantai.


Gadis tadi memekik dan menutup mukanya


shock melihat kejadian mengerikan di depan


matanya itu. Dia mencoba mengatur napasnya,


belum sempat dia menguasai dirinya Aaron sudah menyambar tangannya di bawa berlari keluar dari ruangan itu.


Sementara itu Dirga yang membawa Mayra kini


sudah turun ke lantai bawah.


"Aaaww..perutku sakit Mas..!"


Mayra memekik saat tiba-tiba perut bagian


bawahnya terasa kram dan ada rasa sakit yang


mulai menyerang bagian pinggangnya. Dia


terduduk lemas di lantai memegangi perutnya


dengan kuat. Kulitnya terlihat semakin memucat. Wajah Dirga sontak saja dipenuhi kepanikan.


Dengan cepat dia merangkul tubuh Mayra


kedalam dekapannya.


Dalam keadaan itu tiba-tiba saja terdengar


tembakan yang datang kearah mereka


membuat Dirga reflek melindungi Mayra dengan


memeluknya erat.Tidak lama terdengar suara


tawa dari arah sebuah ruangan. Evelyin muncul kemudian berdiri mengarahkan senjata kearah mereka.


"Evelyin..!!"


Desis Dirga menggertakan giginya dan matanya


menyala penuh amarah kearah Evelyin yang


sedang menyeringai penuh kebencian.


"Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini


hidup-hidup..! Aku tidak akan membiarkannya..!!"


Jerit Evelyin sambil kemudian menekan pelatuk


dan melancarkan tembakan ke arah Mayra,


namun Dirga dengan cepat menghadang dan tembakan itu tepat mengenai dada kirinya.


"Maaass...!"


Mayra menjerit saat melihat tubuh Dirga


terhuyung memegangi dada kirinya.


Matanya tampak menatap lemah kearah


Mayra yang terbelalak shock. Eveliyn kembali mengarahkan tembakan nya dengan tatapan


semakin kesetanan, namun Aaron muncul


dari arah tangga dan langsung menembak


Evelyin dengan sasaran tepat, membuat tubuhnya mengejang seketika kemudian ambruk di lantai.


Bersamaan kemunculan Lee dan Tomy serta


beberapa orang dari aparat kepolisian.


"Tuan..!!"


Lee berlari menghampiri Tuannya yang sedang


terkulai lemas dalam pangkuan Mayra. Mata


Dirga dan Mayra bertemu dengan tatapan lemah.


"A-aku ti-tidak apa-apa sa-yaang.."


Dirga berucap lirih, tangannya bergetar


memegang wajah Mayra yang sedang terisak


pilu dan menggeleng kuat.


"Mas..kau harus kuat..toloong..jangan tinggalin


akuuu...!!"


Lirih Mayra lemah, mata Dirga tertutup.


Mayra menangis histeris, ada darah yang


keluar dari bagian bawah tubuh Mayra


membuat dia kehilangan tenaga dan terkulai


lemas dalam rengkuhan Aaron.


"Siapkan heli...!!"


Perintah Aaron dengan suara membahana..


Semua orang bergerak sesuai perintah. Aaron


berlari membopong tubuh Mayra. Sementara


Dirga segera diangkat ke dalam blangkar menuju


ke sebuah helikopter yang sudah siap di halaman.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2