Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Rencana Sylia


__ADS_3

Hari ini Chessy dan papah mamahnya kembali pulang ke rumah. Chessy terlihat bahagia dan ingin segera melihat expresi wajah Sylia setelah dua hari ini Chessy mengabaikannya. Chessy mengira akan ada kejadian yang membuat Sylia sengsara, tetapi Chessy salah prediksi karena Sylia mendapatkan pinjaman uang dari Devan. Laki-laki itu lagi-lagi membuat Chessy marah.


"Serius? Dia sebaik itu?" Chessy terkejut dengan perkataan Sylia.


"Iya Ches. Kamu jangan sia-siakan laki-laki baik kayak gitu." Jelas Sylia.


"Kenapa dia ambil keputusan sepihak sih. Terus apa dong gunanya gue sebagai pacarnya." Chessy pura-pura marah walaupun sebenarnya memang ingin marah karena yang Chessy mau bukan itu.


"Ya ampun Ches, gue cuma pinjem duit itu nggak minta. Lagian lu nggak ada kabarnya. Padahal gue butuh banget bantuan lu Ches. Kemana aja sih lu?" Sylia mencoba meyakinkan Chessy untuk tidak marah.


"Terserah deh, gue mau masuk kelas duluan." Chessy segera mengambil langkah cepat memasuki halaman sekolah dan kebetulan bertemu dengan Sintia dan Putri. "Hai … kalian mau masuk kelas ya? Bareng yuk?" Sapa Chessy dan meraih masing-masing tangan Sintia juga Putri lalu berjalan bersama menuju kelas. Keakraban itu membuat Sylia naik darah. Kepalan tangan dan gigi yang mengerat sebagai bukti bahwa Sylia sangat marah pada Chessy.


"Bagaimana mungkin Chessy punya teman selain gue. Sebenarnya apa yang terjadi sama lu Ches sampe lu lupa kalau gue adalah teman satu-satunya yang harus lu miliki. Bukannya lu udah minum air itu, tapi kenapa gue merasa lu semakin jauh dari gue." Batin Sylia yang kemudian menyusul langkah mereka.


Tiba di kelas, semua mata tertuju pada Chessy yang ramah menyapa satu demi satu teman di kelasnya itu. Bahkan Chessy menceritakan lelucon pada Sintia juga Putri yang membuat mereka tertawa dan perhatian satu kelas hanya pada Chessy yang berubah. Suasana itu membuat Sylia sungguh makin marah.


"Ches, kita harus bicara," Sylia segera menarik tangan Chessy untuk mengajaknya keluar kelas. "Lu kenapa sih Ches mau berteman sama cewek cupu dan gendut itu? Lu lupa, lu udah mempermalukan salah satunya?" Sylia tiba-tiba meninggikan suaranya tetapi hanya membuat tawa kecil pada Chessy.


"Aduh Syl, kirain lu kenapa narik paksa tangan gue. Nggak usah dibahas ya gue udah minta maaf sama mereka dan sekarang gue berteman sama Putri dan Sintia. Eh lu nggak taukan? Mereka itu asik banget tau diajak ngobrol. Ayo balik ke kelas udah mau masuk." Chessy segera meninggalkan Nela yang terlihat makin geram dengan tiap kata yang keluar dari Chessy.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Pulang sekolah, setelah berganti pakaian Sylia buru-buru ke rumah Chessy untuk ikut makan malam. Kebiasaan dia memang selalu numpang makan di rumah Chessy, jadi dengan semangat sore itu Sylia berjalan ke rumah Chessy walaupun harinya di sekolah tadi cukup membuatnya darah tinggi, tetapi dengan cepat Sylia menyusun banyak rencana.


Di rumah Chessy terlihat banyak orang yang cukup sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang bersih-bersih dan ada juga yang sedang memasak. Bahkan Sylia mendapati beberapa orang asik yang lumayan sibuk juga di rumah maupun di halaman. Sylia celingukan mencari keberadaan Bu Dewi atau pun Chessy, tetapi yang dia temui terlebih dahulu adalah Bu Dewi.


"Tante … mau ada acara apa kok kayaknya sibuk dan rame banget ini?" Sylia mengarahkan telunjuknya ke beberapa orang yang melewatinya.

__ADS_1


"Mau kedatangannya tamu agung." Jawab Bu Dewi tentu dengan senyuman manisnya.


"Hah? Tamu agung siapa Tan?" Sylia semakin penasaran.


"Chessy mau Tante jodohkan sama anak sahabat Papahnya, dan hari ini dia akan kesini." Jelas Bu Dewi membuat mata Sylia membelalak terkejut.


"Dijodohkan? Chessy setuju Tan?" Sylia benar-benar terkejut dengan kabar itu.


"Iya Chessy setuju. Kita udah bahas masalah ini kemarin dan kebetulan cowok ini udah ada di Indonesia." Jelas Bu Dewi sambil menyusun bunga.


"Loh … memang dia orang mana Tan?" Tanya Sylia lagi.


"Turki. Tapi dulu pernah tinggal di Indonesia sebentar terus kembali ke Turki karena orang tuanya meninggal dan dia ikut Paman dan Bibinya disana. Tante menjodohkan Chessy supaya dia bisa kuliah disana dengan tenang karena Chessy pengennya kuliah di Turki." Jelas Bu Dewi tanpa curiga dengan nada Sylia yang semakin kesal.


"Siall … Chessy nggak pernah cerita masalah ini. Gue harus kasih tahu Kak Devan supaya perjodohan ini dibatalkan. Enak aja Chessy dapet cowok Turki, dan pasti cowok ini kaya raya juga tampan, kalau enggak kan nggak mungkin Tante setuju," batin Sylia. "Em Tan, Chessy dimana?"


"Gue disini Syl." Chessy berjalan mendekati Sylia. "Kenapa? Udah kangen aja padahal kita udah ketemu loh tadi di sekolah." Chessy terkekeh.


"Gila lu, eh kita ngobrol di kamar lu aja yuk." Ajak Sylia yang tidak mau rencananya di dengar oleh Bu Dewi.


"Ya udah lu duluan ke kamar, gue mau ambil cemilan sama minum dulu di kulkas." Jawab Chessy seraya berjalan mendekati kulkas yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sylia mengikuti perkataan Chessy untuk ke kamar terlebih dahulu.


Setelah mengambil apa yang Chessy butuhkan, segera dia kembali ke kamar untuk mendengarkan Sylia bicara karena Chessy sangat ingat dengan jelas kalau Sylia mencoba mengasuh Chessy untuk kawin lari dengan Devan.


"Chessy lu gila ya? Lu udah punya Kak Devan yang jelas-jelas pacaran sama lu udah mau tiga tahun ini dan lu terima perjodohan ini?" Sylia langsung nyerocoh begitu Chessy masuk kamar, tetapi Chessy dengan santainya duduk di sisi Sylia dan memakan cemilannya.


"Ya gue harus gimana dong?" Jawab Chessy pura-pura polos.

__ADS_1


"Ya lu harus tolak perjodohan ini Ches. Lu nggak mau kan menghianati cinta Kak Devan yang tulus banget sama lu? Coba lu pikir selama tiga tahun ini Kak Devan yang selalu ada buat lu Mel?" Sylia begitu menghayati peran malaikatnya itu.


"Kok lu sewot sih?" Chessy masih menikmati cemilan keripik singkongnya.


"Bukan sewot Chessy Manohara putri Ginanjar … gue itu khawatir sama lu. Gue sahabat lu dan gue mau lu bahagia Ches. Banyak banget perjodohan di luar sana yang gagal dan banyak juga terjadi kdrt. Gue bener-bener khawatir terjadi sesuatu sama lu Ches." Lagi-lagi Sylia bicara dengan nada yang cukup meyakinkan.


"Bodohnya gue dulu begitu percaya sama lu Syl." Batin Chessy dan kemudian meneguk minumannya. "Em … gue mau ketemu dulu sama cowok ini. Gue mau minta kesepakatan sama dia supaya dia sendiri yang batalin perjodohan ini. Gimana Ches?" Chessy pura-pura menerima pendapat Sylia.


"Jangan Chessy jangan pernah bertemu dengan cowok ini karena dia bakal kenal sama lu dan siapa tau dia nanti dendam sama lu Ches. Lu harus bicarakan semua ini sama Kak Devan Ches. Gue yang akan nelpon dia." Sylia segera mengambil ponselnya dan Chessy membiarkan sahabat buruknya itu sibuk sendiri.


Setelah menunggu beberapa menit, Sylia memutuskan panggilannya dengan Devan dan mengajak Chessy untuk bertemu Devan di tempat yang udah dijanjikan. Chessy menolak ajakan Sylia karena dulu Chessy dipaksa Devan untuk kawin lari demi menghindari perjodohan itu dan bodohnya Chessy setuju.


"Sorry Ches, gue nggak mau buat bokap nyokap sedih. Gue tetep ikuti dulu apa yang mereka mau setelah itu gue mau buat kesepakatan sama cowok ini." Jawab Chessy dengan wajah seriusnya.


"Chessy … lu jangan gila mengambil keputusan secara sepihak. Inget Kak Devan Ches …." Sylia masih mencoba meyakinkan Chessy dan menarik tangannya untuk pergi.


"Lepas Syl!" Chessy melepaskan paksa tangan yang ditarik Sylia. "Gue bilang gue nggak bakal temui Devan. Kebahagiaan orang tua gue saat ini lebih penting Syl. Kalau lu mau temuin Devan, silahkan!" Chessy kembali duduk dan menikmati cemilannya lagi.


"Ches, lu kenapa sih jadi nggak dengerin kata-kata gue? Kita ini bersahabat sejak masuk SMP loh. Cuma gue yang paling ngerti lu Ches. Perjodohan ini harus lu hindari." Sylia masih bersikeras dengan rencananya. Sylia berencana jika Chessy pergi dengan Devan, dia akan menggantikan posisi Chessy dalam perjodohan itu dan dialah yang akan hidup bahagia. Saat itu kedua orang tua Chessy memang setuju jika Sylia mengganti posisi Chessy yang pergi dengan Devan untuk menutupi rasa bersalah mereka, terutama pada Nenek dan Kakek Erkan. Sayangnya, Erkan lebih memilih kembali ke Turki. "Chessy, please … kasian Kak Devan. Paling nggak lu harus diskusi dulu masalah ini." Sylia masih kekeh dengan niatnya.


"Udah lu nggak usah sekhawatir itu. Sini makan kripik ini enak banget loh." Chessy benar-benar ingin mencabik-cabik wajah Sylia yang sok khawatir dan polos yang dulu begitu dia percayai.


"Kalau gitu gue temuin Kak Devan sendiri aja. Gue kasian kalau dia nungguin lu. Walau bagaimanapun dia udah nolong gue kemaren." Sylia pun pergi untuk menemui Devan, sedangkan Chessy hanya menyunggingkan sebelah bibirnya masam menatap kepergian Sylia.


"Heh! Pergi aja kalian dan jangan pernah kembali."


#####################

__ADS_1


__ADS_2