
"Kenapa pulang cepet Mas?" tanya Chessy saat keduanya masuk kamar.
"Ya kangen kamu Sayang, emang apa lagi?" jawab Erkan seraya memeluk Chessy dari belakang. "Mas kangen … banget …. Udah nggak ngambek lagi kan?" lanjutnya seraya mengeratkan pelukannya.
"Nggak. Tadi Sylia kasih saran yang bagus buatku." kata Chessy tetapi dengan nada datar.
"Hm, saran apa hayo?" Erkan penasaran.
"Yang jelas menguntungkanlah." jawab Chessy melepaskan tangan Erkan dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Erkan langsung menyusul dan menindih tubuh Chessy.
"Apa itu artinya kita jadi menggelar resepsi pernikahan?" Erkan mendekati wajah Chessy hingga deru nafas Erkan bisa Chessy rasakan.
"Iya. Aku akan ikuti dan nurut sama suamiku. Toh itu juga menguntungkan bukan? Asalkan kedua orang tua serta Kakakku bisa hadir." Chessy tersenyum tipis.
"Mereka juga keluargaku Sayang, jadi suamimu ini akan mengusahakan apa pun agar istriku bahagia. Jadi, apa boleh Mas minta itu?" kata Erkan berbisik di telinga Chessy hingga Chessy langsung merinding.
"Ish, bisa aja. Nanti malem aja." jawab Chessy seraya memukul dada Erkan.
"Nggak. Mas maunya sekarang." kata Erkan tersenyum licik.
"Mas …. Emh." belum Chessy bicara, bibir manisnya mendapatkan sebuah ciuman dari suaminya. Erkan pun melakukan permainan panasnya untuk meningkatkan imunitas. Setelah bermain satu jam, Chessy akhirnya lemas dibalik selimut putih yang menutupi tubuhnya hingga dada. "Ih, dasar rakus. Aku bilang nanti malem aja, malah main dua kali." keluh Chessy mencubit lengan Erkan yang juga terkapar di sisinya.
"Sayang, kamu itu canduku. Mana mungkin cukup kalau cuma satu kali aja." Erkan pun memeluk Chessy dengan tubuh yang sama-sama polos.
"Jangan gini ah, nanti bangun lagi. Aku udah nggak sanggup ya!" Seru Chessy mendorong lembut tubuh Erkan.
"Haha … biar benih cinta suamimu ini cepet jadi Sayang." Erkan hendak memeluk kembali tubuh Chessy, tetapi dengan segera Chessy menyilangkan tangannya di dada dan mengancam Erkan lewat sorot matanya. "Oke … tapi nanti malem harus tiga kali ya?" goda Erkan seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Astaghfirullah Mas!" Chessy hampir meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Haha … kamu emang gemesin Sayang. Duh, mana betah aku jauh-jauh dari kamu Sayang kalau kamu semanis ini." lagi-lagi Erkan menggoda istrinya.
"Eh Mas, Alman itu kayak suka sama Sylia deh." Chessy pun mengalihkan pembicaraannya.
"Emang dia suka sama Sylia. Kayaknya sebelumnya mereka berdua pernah bertemu, terus Alman langsung cinta pada pandangan pertama."
"Bukannya Alman dijodohin sama Nayla?"
"Nayla kan pergi Sayang, dia mungkin nggak mau balik lagi ke negara ini. Lagian Alman juga menerima perjodohan itu karena jasa Pak Naveen. Alman nggak serius cinta sama Nayla. Tapi Mas liat saat bahas Sylia, dia senyum-senyum kayak orang gila."
"Pasti tingkah Alman sama persis kayak kamu pas pertama ketemu aku Mas." Erkan terkejut tetapi nyatanya perkataan Chessy benar. Erkan langsung mendekap tubuh Chessy penuh kehangatan.
"Ah, kamu tau aja sih. Makin gemes kan aku sama kamu. Emh, Sayang main lagi yuk?" tangan Erkan mulai nakal dan hendak memainkan gunung kembar milik Chessy.
"Aku sunat lagi mau Mas?" Ancaman Chessy berhasil membuat Erkan melepaskan pelukannya.
"Sayang, sakit loh sunat itu. Kamu nggak tahu rasanya."
"Kalau di sunat berkali-kali ya abis dong." jawab Erkan seraya menggigit selimut yang menutupi tubuhnya.
"Makanya, jangan berani-berani nyakitin hati wanita Mas. Contohnya kemarin itu." ucap Chessy langsung menarik selimutnya dan berjalan ke kamar mandi.
Erkan ikut beranjak walaupun tanpa sehelai benangpun. "Sayang, mandi bareng ya?" Erkan mengikuti langkah Chessy dari belakang.
"Nggak mau. Bisa-bisa kamu ngajak main lagi. Wek …." Chessy menjulurkan lidahnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintunya. Bukannya marah, Erkan makin gemas dengan tingkah sang istri. Erkan sangat senang karena Chessy sudah mulai menunjukkan sikap manisnya lagi.
____________
Setelah menjalankan sholat magrib dan hendak mengobrol dengan sang istri, Erkan dibuat kesal dengan suara ketukan pintu yang yang terdengar terus menerus. Erkan berdecak dan akan mengutuk orang tersebut. "Why … why … why …." Kata Erkan melihat sosok Alman di depan pintu.
__ADS_1
"Hehe … itu Bos. Em berkasnya kan belum dikoreksi lagi. Terus ini udah waktunya makan malam, gimana kalau makan dulu terus kerja Bos. Alzeer juga udah laper katanya." ucap Alman sambil cengengesan.
"Astaghfirullah, lu tu ya ganggu acara pacaran gue tau'." Erkan langsung menutup kembali pintu kamarnya. Erkan kembali duduk disisi tempat tidur dan memeluk Chessy yang asyik dengan ponselnya. "Sayang, kamu lagi apa sih kok senyum-senyum gitu." tanya Erkan penasaran dan mencoba melihat apa yang Chessy lakukan dengan ponselnya. Namun dengan cepat Chessy mendekap ponselnya.
"Ih kepo banget sih." ucap Chessy dan berusaha melepaskan pelukan Erkan. Sayangnya pelukan itu Erkan perkuat.
"Kamu nggak selingkuhin Mas kan?" Wajah Erkan memelas dan berubah sedih.
"Astaghfirullah, jauh banget sih mikirnya. Aku tuh lagi liat postingan Putri dan Sintia. Temen sekolahku. Huh dasar laki-laki, jelas-jelas kemaren dia yang mau duain aku, sekarang malah nuduh aku selingkuh." Sekuat tenaga Chessy melepaskan pelukan Erkan kemudian masuk ke dalam ruang ganti baju. Erkan segera menyusul.
"Sayang, maaf. Aku takut kamu masih cinta sama mantan suami kamu itu." Erkan masih menunjukkan raut wajah yang sedih.
"Nggak mungkin Mas. Aku nggak mungkin masih jatuh cinta sama laki-laki macem Devan. Namanya aja bagus, tapi kalau inget masa itu, amit-amit banget. Bahkan mikirin nasib dia aja aku nggak pernah." Chessy mengambil jilbab instannya dan memakainya untuk segera turun karena sudah waktunya jam makan malam.
"Sayang, maaf ya? Mas nggak akan bahas dia lagi. Mas bener-bener mencintaimu seorang, jika Mas kehilanganmu, Mas nggak tahu nasib Mas kedepannya." Erkan memeluk Chessy dengan penuh kasih sayang.
"Iya Mas. Aku ngerti. Kita turun ya?" Chessy mengusap lembut punggung Erkan dan melepaskan pelukannya.
"Sayang, kamu gemes banget sih. Coba dari kemarin begini." Ucap Erkan seraya mencubit kedua pipi Chessy.
"Kan kamu yang cari gara-gara, bukan aku huh." Kata Chessy dan mencubit pinggang Erkan. Seketika Erkan langsung mundur menjauhkan diri karena geli sekaligus terkejut dengan cubitan Chessy dipinggang. "Haha … kamu gelian ternyata. Ah, aku jadi punya senjata nanti." Goda Chessy dan melangkah maju mendekati Erkan dengan senyuman licik.
"Sayang, please jangan di pinggang ya?" Erkan melangkah mundur karena merasa takut jika Chessy akan menggelitikinya.
"Sini Mas, aku mau peluk kamu kok. Emang kamu nggak mau aku peluk? Ya udah aku peluk cowok lain aja deh." Goda Chessy yang terus melangkah maju.
"Nggak. No! Please ya kita damai. Ayo kita turun dan makan malam sebelum cacing di perut demo." Erkan menangkupkan kedua tangannya dan tersenyum semanis mungkin. Chessy benar-benar melihat sosok lain dari suaminya itu.
"Benar kata Sylia kalau aku harus lebih mengenal suamiku ini." batin Chessy dan melemparkan senyum manis pada Erkan. Chessy membentang kedua tangannya di hadapan Erkan. "Ayo, gendong aku sampe meja makan." kata Chessy dan Erkan langsung menuruti apa yang Chessy mau.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...