
Erkan senyum terus menerus layaknya orang yang sedang kasmaran. Tentu saja dia memang sedang kasmaran karena cinta masa kecil dan cinta pertamanya sedang duduk bersamanya. Erkan tidak pernah menyangka sama sekali jika perjodohan dari sang baba sangat tepat, atau memang itulah yang dinamakan sebagai takdir.
"Maksudnya gadis kecil?" Chessy benar-benar tidak mengingat hal apa pun tentang Erkan, tetapi sejak tadi Erkan seperti menikmati sebuah kenangan yang indah sendiri.
"Iya, waktu itu kamu datang dihadapanku dengan senyuman manismu, Ches. Saat itu aku sedang ketakutan karena dibuli oleh anak-anak yang ada di alun-alun kota, tapi kamu dengan berani mengusir mereka tanpa rasa takut sedikitpun. Wajahmu lucu sekali saat memarahi anak-anak nakal itu. Kamu bahkan menghiburku dan memberiku sebuah permen lolipop. Setelah itu, kamu pergi karena kedua Kakakmu memanggil. Ternyata Kakakmu itu teman sekolahku. Sayangnya sebelum aku bertanya tentangmu lebih jauh, kedua Kakakmu pindah sekolah dan aku harus pergi ke Turki untuk menetap disana. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap mengingatmu dan berharap kita bisa bertemu lagi. Sekarang Allah mengabulkan apa yang aku pinta padanya." Jelas Erkan panjang lebar.
"Gila … jadi cowok ini udah cinta mati sama gue? Ya ampun Chessy … dia emang keliatan dingin dan bermuka datar, tapi gila sih dia sweet banget," batin Chessy menatap Erkan yang begitu manis dengan senyumannya.
"Ches? Are you okey?" Erkan melambaikan tangannya di depan wajah Chessy dan membuat Chessy terkejut.
"Ah … sorry, tadi gue nggak nyangka aja lu bisa gitu," jawab Chessy dan memalingkan wajahnya kemudian menatap lurus ke depan.
"Gitu gimana?" Tanya Erkan sedikit meledek.
"Ya gitulah pokoknya." Jawab Chessy tanpa menoleh.
"Iya … aku emang udah jatuh cinta sama kamu Chessy. Aku bahkan nggak pernah melirik wanita lain, aku masih terus berharap bisa ketemu kamu suatu saat nanti, karena itulah Bibiku begitu memaksaku untuk bertemu denganmu dan mengancam akan mengambil semua fasilitas yang aku punya. Tadinya aku bakal buat kamu yang menolak perjodohan ini, tapi sekarang … hm … aku bahkan nggak mau lagi kehilangan kamu." Erkan lagi-lagi menunjukkan sebuah pesona yang membuat Chessy makin kagum dengan sosok laki-laki itu. "Maaf ya aku terlalu blak-blakan. Aku harap kamu nggak menolak perjodohan ini." Lanjutnya dengan wajah malu-malu.
Chessy masih terpaku dengan posisinya karena mencoba mencerna setiap kata dari mulut Erkan yang begitu meluluhkan hati Chessy. "Betapa bodohnya gue dulu melepaskan laki-laki ini demi si Devan. Ya Tuhan … terima kasih atas kesempatan kedua ini." Batin Chessy lalu tiba-tiba tersenyum dan menoleh pada Erkan. Matanya menelusuri setiap inci dan bentuk wajah Erkan. "Gue setuju kok. Gue serahin semuanya sama bokap nyokap nanti. Lagian siapa yang bisa menolak lu sih kalau lu sesempurna ini! Kita masuk yuk, dari pada mereka berpikir yang nggak-nggak'kan?" Chessy kemudian berdiri dan berjalan masuk terlebih dahulu.
Erkan tidak langsung menyusul Chessy masuk sampai punggung wanita pujaannya itu sudah benar-benar tidak terlihat, barulah Erkan beranjak dari tempat duduknya. Baru sampai ambang pintu, tatapan semua orang tertuju padanya. Bukan dengan tatapan marah, melainkan senyum merekah karena perjodohan itu akan berjalan sesuai permintaan orang tua Erkan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi ini Chessy berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya dan tanpa menunggu Sylia. Chessy sengaja karena Chessy tahu jika dia menunggu Sylia, maka akan banyak pertanyaan yang diajukan, sejak Sylia pamit akan menemui Devan, dia tidak kembali ke rumah Chessy. Walaupun Chessy senang rencana perjodohannya lancar tanpa Sylia, tetapi Chessy tidak mau kalau Sylia punya rencana lainnya yang akan membuat dirinya kembali terjerumus.
Di kelas, kebetulan Sintia dan Putri sudah tiba duluan. Chessy menghampiri kedua gadis yang selalu dijauhi orang itu.
__ADS_1
"Hai …!" Sapa Chessy yang kemudian duduk di tengah-tengah.
"Hai Ches, kok tumben nggak bareng Sylia?" Tanya Putri.
"Iya Ches, kamu kan nggak terpisahkan sama dia?" Sahut Sintia.
"Engga ah, bosen sama dia terus. Tadi gue tinggal berangkat duluan." Jawab Chessy santai. "Udah ya jangan bahas dia, bikin bete," lanjutnya.
Obrolan itu terus berlanjut hingga Sylia datang dan marah-marah pada Chessy.
"Chessy …." Teriak Sylia dan langsung menghampiri Chessy yang sedang bercanda dengan Putri dan Sintia. Seketika suasana yang tadinya damai berubah menjadi mencekam. "Lu tega banget sih Ches ninggalin gue? Hampir aja gue telat," Sylia terlihat sangat marah, tetapi belum sempat Chessy menjawab, guru mata pelajaran sudah masuk. Chessy pun tersenyum senang.
Beberapa menit sebelum jam istirahat, Chessy izin keluar kelas supaya saat jam istirahat tiba Sylia tak menarik tangannya untuk berbicara padanya karena Sylia pasti akan melanjutkan aksi marahnya.
Chessy pun duduk santai di kantin sambil makan siomay dan es marimas rasa anggur. Chessy tidak buru-buru makan karena saat jam istirahat Sylia akan segera menghampiri Chessy, disaat itu Chessy akan merayu Sylia dengan menawarkan siomay itu. Chessy ingat jika Sylia penggemar siomay. Dugaan Chessy tidak meleset, Sylia datang tak lama setelah pesanan siomay yang masih panas itu diletakkan di atas meja. Sylia pun duduk di depan Chessy dengan wajah merah padam.
"Udah jangan marah-marah, nanti cepet tua loh. Nih makan siomay dulu, abis itu kita bicara lagi." Jawab Chessy seraya menyodorkan siomay.
"Lu tu ya tau banget cara ngerayu gue. Oke kita bicara sambil makan." Sylia memasukan satu sendok siomay ke dalam mulutnya.
"Gue tadi lupa belum ngerjain PR, jadi gue berangkat duluan buat nyontek sama Putri." Kata Chessy seraya menikmati es marimasnya.
"Uhuk …." Sylia tersedak.
"Pelan-pelan, nih minum dulu." Chessy memberikan satu botol air mineral pada Sylia. Tanpa basa-basi Sylia membuka segel air mineral itu dan langsung meminumnya karena tenggorokannya terasa sakit akibat tersedak. Setelah dirasa enakan, Sylia terkejut karena botol air mineral itu adalah air yang harusnya diminum oleh Chessy.
"Ini kan air yang waktu itu gue kasih ke lu Ches," Sylia menatap botol air itu kemudian menatap Chessy.
__ADS_1
"Iya, tadinya mau gue minum tapi lu kesedak ya nggak mungkin juga lu minum es marimas ini kan lu nggak suka minuman dengan banyak pemanis. Jadi ya gue kasih lagi aja ke lu. Eh, tunggu … kok lu paham banget kalau ini botol minum yang sama?" Chessy sangat berharap jika Sylia terlihat gugup, jadi Chessy semakin yakin kalau air itu memang ada apa-apanya.
"Eh, itu Ches … em … gue cuma nebak aja sih hehe …. Eh Ches, lu nggak mau tau kabar Kak Devan kemaren?" Sylia mencoba mengalihkan pembicaraan. Chessy makin yakin jika air itu benar-benar tidak beres.
"Oiya gue lupa kalau gue punya pacar," jawab Chessy pura-pura polos.
"Gila lu ya, terus gimana masalah perjodohan lu?" Tanya Sylia.
"Lancar sih, gue bakal nikah setelah ujian nasional." Jawab Chessy santai dan meminum kembali es marimasnya.
"Astaga Ches, jadi lu terima perjodohan itu?" Sylia terkejut.
"Belum bener-bener gue terima kok. Eh tadi lu mau kasih tau gue kabar Kak Devan'kan? Kenapa dia? Gue lupa nggak bawa hape soalnya." Sebenarnya Chessy hanya penasaran saja dengan kabar Devan saat tahu jika dirinya akan dijodohkan.
"Kak Devan kecewa parah sama lu Ches. Semalem dia mabuk berat gara-gara lu nggak mau nemuin dia." Jelas Sylia.
"Em lu temenin dia minum?" Tanya Chessy lagi.
"Iya, gue khawatir juga kali sama dia Ches. Dia kan udah nolong gue, jadi gue temenin dia minum dan anterin dia pulang." Jawab Sylia, tetapi Chessy cukup curiga dengan raut wajahnya.
"Yakin kalian nggak ngapa-ngapain?" Chessy menatap tajam Sylia.
"Uhuk …." Sylia lagi-lagi tersedak dan lupa jika botol air itu bukan miliknya. "Ah, sial … kenapa gue minum air ini lagi," batin Sylia.
"Kenapa Syl? Gue tanya hal yang wajar loh sebagai pacar." Chessy masih menatap tajam Sylia.
"Ya kali Ches gue mau ngapain sama Kak Devan? Gue masih waras kali Ches." Jawaban Sylia tak membuat Chessy percaya begitu saja.
__ADS_1
Chessy tak melanjutkan obrolannya dengan Sylia dan langsung pergi meninggalkan Sylia di kantin. Sylia yang melihat siomay di piring masih cukup banyak, dia memilih untuk makan siomay terlebih dahulu.