
Nayla menoleh menatap orang yang menamparnya dengan gejolak amarah yang luar biasa. "Nayla … cukup! Bibi nggak mau kamu ikut campur urusan rumah tangga Er." Selama ini Bibi Lunara begitu sabar dengan sikap Nayla, dan kali ini dia tidak bisa lagi menahannya.
"Hanya karena wanita asing itu, Bibi menamparku? Bibi melupakan apa yang udah Nayla lakukan dirumah ini?" Jawab Nayla dengan nada penuh kekecewaan.
"Dia Nyonya di rumah ini, bukan wanita asing," sahut Bibi Lunara.
"Tapi Bi, sebelum ada dia, aku yang mengurus semua keperluan Kak Er. Aku nggak pernah melewatkan hal sekecil apa pun jika itu menyangkut Kak Er," jawab Nayla lagi masih bernada kesal.
"Nayla, pulanglah. Sekarang pekerjaanmu hanya sebatas urusan kantor saja. Sekarang ada istriku yang merawatku." Ucapan Erkan semakin membuat Nayla marah.
"Nggak! Dia cuma wanita asing Kak. Kalian baru saling kenal. Aku yang udah mengurusmu selama tujuh tahun ini. Aku tahu kalian menikah hanya karena terpaksa, aku akan melupakan hari ini Kak. Aku yakin … ya aku yakin besok kamu akan kembali seperti biasanya." Nayla masih kekeh dengan pendiriannya.
"Oh, jadi disini ada wanita yang mencoba menjadi pelakor rupanya." Chessy pun angkat bicara.
"Tutup mulutmu!" Teriak Nayla.
"Nayla!" Erkan pun berteriak. "Jangan keterlaluan. Selama ini aku diam dan selalu mengalah hanya karena jasamu pada keluargaku. Tapi kali ini kamu udah keterlaluan. Dia istriku Nayla. Dia … istriku … bukan wanita asing. Asal kamu tahu, Chessy ini adalah cinta pertamaku sebelum aku ke negara ini. Aku sudah mencintai Chessy sejak masih sekolah. Jadi, dia bukan wanita asing lagi dihatiku yang baru aku kenal. Kami menikah bukan karena keterpaksaan. Sekarang kamu pergi dari sini dan jangan lagi ikut campur urusan pribadiku lagi." Erkan akhirnya tidak bisa lagi menahan amarahnya. Kali ini Erkan meraih tangan Chessy dan mengajaknya pergi ke kamar.
Nayla mengeratkan giginya. Kedua tangannya mengepal karena menahan rasa sakit di hatinya. Hentakan kakinya menandakan kalau dia tidak terima mendapatkan perlakuan seperti itu. Selama ini, Erkan tidak pernah membentaknya sekali pun. Walau itu saat dia sedang fokus bekerja. Nayla pun pergi dari rumah Erkan.
"Mam!" Aylin memeluk Mamynya. "Apa Aylin masih punya hutang nyawa sama dia Mam? Jujur … Aylin sebenarnya nggak suka sama dia. Aylin lebih suka sama Kak Chessy Mam." Aylin kembali menangis dalam pelukan Mamanya.
"I know! Kita pulang saja. Biarkan Er dan Chessy membicarakan ini dan mencari solusinya. Kita tunggu saja kabar dari mereka berdua." Aylin mengangguk dan mengikuti perkataan sang mama.
______________
"Sayang, Mas mohon … Mas minta maaf ya? Sumpah demi Allah, Mas nggak sengaja dengan kejadian hari ini. Nayla sebenarnya memang kami anggap keluarga kami hanya karena dia pernah menyelamatkan Aylin dua kali. Sayang, please! Percayalah." Chessy dan Erkan sedang duduk di tepi ranjang. Chessy melipat kedua tangannya di dada dan membuang muka karena masih sangat kesal dengan suaminya itu. Sedangkan Erkan sejak tadi menangkupkan kedua tangannya memohon pada Chessy di sisinya. "Sayang, Mas janji ini nggak akan terulang lagi. Mas akan selalu bawa kamu kemanapun, bahkan ke kantor atau kemana pun." Erkan mengangkat satu tangannya dengan jari membentuk huruf V.
__ADS_1
"Sudahlah. Aku capek. Aku mau tidur aja." Chessy pun berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang," Erkan mencoba membuka selimut itu, tetapi nihil. Chessy memegang erat selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "Mas harus dapet kata maaf dulu dari kamu Sayang. Mas harus apa? Mas harus gimana sekarang, hm? Ayo bilang Sayang, kamu mau apa? Mau Mas pijitin? Pijit plus plus deh," Erkan mencoba mencairkan suasana. Namun Chessy masih diam di balik selimutnya. Erkan pun menyerah. Helaan nafas panjang dan kasar membuat Erkan harus melangkah menjauh dari tempat tidur itu. "Mas keluar dulu ya? Nggak keluar rumah, cuma keluar kamar aja. Mas harap saat kamu bangun Mas udah dapet Maaf darimu. Assalamu'alaikum." Erkan pun menutup pintu kamar.
Chessy bernafas lega setelah mendengar pintu ditutup dan tidak lupa juga Chessy menjawab salam dari Erkan dalam hatinya. "Maaf Mas. Aku cuma mau tahu seberapa besar cintamu itu." Chessy pun membuka selimutnya. Alangkah terkejutnya Chessy melihat Erkan sedang berdiri tegak di sisinya dan tersenyum menatap wajahnya. "Mas! Kamu bohongin aku lagi?" Chessy hendak menutup tubuhnya kembali dengan selimut, sayangnya gerakan tangan Erkan jauh lebih cepat dari tangan Chessy.
"Kamu pikir suamimu ini akan menyerah begitu saja?" Erkan segera memasukan tubuhnya ke dalam selimut yang sama dengan Chessy. Erkan juga langsung memeluk tubuh Chessy. "Erkan adalah orang yang gigih dalam segala Hal. Kamu harus ingat Sayang." Erkan mengeratkan pelukannya.
"Lepasin …." Chessy berusaha memberontak dan melepaskan pelukannya Erkan, tetapi semakin dia memberontak semakin kuat juga pelukan Erkan. "Mas! Aku akan makin marah sama kamu kalau kamu nggak lepasin tanganmu dari perutku ini?" Ancam Chessy.
"Enggak mungkin. Mas kangen bau tubuhmu Sayang. Biarkan Mas mencium lebih lama bau tubuh ini supaya saat apa pun Mas akan pekak dengan kedatanganmu."
"Kamu pikir aku setan yang bau menyan, sampe kamu bisa tahu kedatanganku hanya dari bau tubuhku?"
"Apa pun itu, tapi Mas nggak mau jauh dari kamu Sayang. Mas sangat menyesal. Mas minta maaf. Maaf yang sedalam-dalamnya. Mas janji nggak akan duakan kamu dengan apa pun, baik itu pekerjaan atau apa pun itu." Chessy pun luluh dengan kata-kata Erkan. Kini tubuhnya diam dalam pelukan suaminya di balik selimut yang sama. Chessy tahu Erkan pasti tulus mengatakan hal itu. "Sayang … kamu mau kan maafin Mas?" Erkan menenggelamkan kepalanya di bahu Chessy dan menempelkan pipinya pada pipi Chessy.
"Sayang, kamu jangan bekerjasama dengan Paman dan Bibi."
"Memang kenapa? Cuma mereka yang bisa aku andalkan disini."
"Ya karena, em itu karena, ah pokoknya kalian sampe sekongkol."
"Terserah aku dong. Mereka terlihat sangat sayang sama aku, jadi aku mau andelin mereka kalau kamu macem-macemin aku."
"Jangan dong! Istriku hanya boleh mengandalkan aku seorang, titik." Chessy diam. Dia cukup terharu dengan cara Erkan merayunya. Namun, dia tetap tidak boleh lengah atas gerak-gerik dari wanita yang bernama Nayla itu. "Kenapa diam? Terharu ya?" Erkan menggoda Chessy.
"Narsisnya muncul lagi. Udah ah, aku mau tidur dulu. Diam dan jangan menggangguku apalagi tanganmu ini menjalar kemana-mana." Ancam Chessy dan dengan segera memejamkan matanya. Erkan tersenyum, lalu ikut tidur.
__ADS_1
Senja merupakan momen indah saat sore hari sebelum matahari terbenam. Datangnya senja bisa dikatakan waktu favorit menjelang malam dan menjadi momen yang sering ditunggu-tunggu banyak orang. Chessy sedang berdiri di depan jendela kaca yang pemandangan langsung menunjukkan sebuah senja yang indah disana. Rasa syukur tak pernah dia lewatkan setelah menerima bertubi-tubi kebahagiaan yang sudah lama tidak dia dapatkan.
"Sayang, mau makan sekarang atau nanti?" Tanya Erkan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Emang jam makan malam di Turki jam berapa Mas?"
"Ya kalau laper tinggal makan aja. Nggak usah di jadwalkan, hm!"
"Apa kamu yang mendesain rumah ini Mas?"
"Iya."
"Sehebat dan sekaya apa sih kamu Mas?"
"Em, enggak tahu juga karena diluar sana masih ada orang yang lebih hebat dan lebih kayak lagi dari suamimu ini. Semoga kamu nggak tergoda." Erkan tersenyum dan melirik Chessy.
"Ya tergantung juga sih,"
"Lah, kok gitu sih? You make me crazy?"
"Bagus dong kalau kamu crazy Mas. Semua hartamu bakal jadi milik aku."
"Mulai nakal ya?" Erkan menggelitik pinggang Chessy.
"Aw, ampun Mas ampun."
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1