
Erkan telah memarkirkan mobil di sebuah Mall besar di kota Jember. Erkan terlihat menghela nafas panjang setelah telinganya cukup panas mendengar ocehan Aylin yang begitu semangat dan antusias pergi bersama juga berbicara dengan Chessy di sepanjang perjalanan, kini Erkan merasa lega dan hanya mengikuti kedua wanita di depannya dengan jarak aman karena malas mendengarkan pembicaraan para wanita itu.
"Kak … asyik banget ya ternyata di Indonesia juga, pokoknya nanti kalau udah di Turki, aku bakal ajak Kak Chessy jalan-jalan juga. Tentu tanpa dia," kata Aylin menoleh pada Erkan.
"Yang ada gue jalan-jalan dan bulan madu tanpa lu," sahut Erkan membalas sindiran Aylin.
"Tuh Kak, liat deh … Erkan emang judes banget kalau sama aku. Tapi Kak Chessy tenang aja, kalau dia sampe bersikap jahat sama Kak Chessy, bilang aja sama Mami. Dia nggak bakal macam-macam." Aylin masih bernada sinis dan sesekali menoleh pada Erkan.
"Dasar tukang ngadu." Sahut Erkan tak kalah sinis.
"Udah … jangan pada berantem. Kita makan bakso yuk? Di Turki nggak ada pasti yang jual Bakso," ujar Chessy melerai perdebatan antara suami dan sepupunya itu.
"Hah? Makan lagi?" Erkan menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mendapatkan tatapan sinis dari Chessy dan Aylin. "Iya ya … wanita-wanita kelaparan." Erkan pun diam dan mengalah.
"Hm. Ya ada Kak, disana juga ada toko yang menjual makanan khas Indonesia. Penjualannya juga rata-rata orang Indonesia loh," jawab Aylin kini bernada manja pada Chessy.
"Oya? Tapi aku yakin baksonya nggak seenak di sini." Sahut Chessy.
"Iya sih … em Kak tahu nggak, Er nggak suka makanan pedes, nanti kita kasih sabel yang banyak di bakso dia ya? Biar dia sakit perut, karena dia nggak mungkin nggak ngabisin makanan yang ada di hadapannya. Jadi pasti tetep dia makan." Bisik Aylin.
"Ngomong apa lu bocah?" Erkan menaruh curiga pada Aylin.
"Sstt … nggak boleh gitu, kasian." Jawab Chessy. Akhirnya mereka makan bakso bersama.
Chessy benar-benar senang dan bahagia dengan saudara barunya itu. Chessy juga begitu antusias menikmati kesempatan jalan-jalannya setelah seminggu full dipusingkan dengan soal ujian nasional. Entah berapa wahana yang sudah mereka coba dan entah sudah berapa banyak makanan yang kedua wanita itu makan, Erkan hanya menuruti semua kemauan keduanya bahkan Erkan hanya menurut saja saat diminta membawa tas belanjaan, hingga menjelang waktu maghrib, mereka pun pulang.
__ADS_1
Erkan berencana menginap di rumah Neneknya malam itu, dan Chessy setuju karena memang keduanya belum pernah menginap disana setelah menikah. Chessy sendiri juga paham jika Erkan butuh waktu bersama neneknya karena sebentar lagi akan kembali ke Turki. Tentu Chessy tak lupa untuk mengabari Mamah dan Papahnya agar tidak khawatir.
Tiba di rumah Nenek, Aylin dan Chessy menghentikan canda tawanya sebelum masuk ke dalam rumah karena mendengar suara tangisan dari dalam. Keduanya saling pandang karena heran dan masih berdiri di depan pintu sambil menunggu Erkan turun dari mobil dengan barang yang mereka beli di Mall tadi.
"Kenapa nggak langsung masuk?" Tanya Erkan heran melihat Chessy dan Aylin bengong di depan pintu.
"Ada suara tangisan," jawab Chessy pelan.
"Buka aja, nanti'kan tahu siapa yang nangis, gitu aja repot." Kata Erkan dengan santainya.
"Bener juga, ngapain kita bengong disini Kak?" Sahut Aylin yang memukul jidatnya sendiri meratapi kebodohannya. Akhirnya mereka pun masuk setelah mengucapkan salam.
"Sylia …?" Suara Chessy meninggi saking terkejutnya melihat Sylia yang sedang duduk di kursi kayu berhadapan dengan Nenek dan Kakek. Sylia sendiri tak kalah terkejut melihat Chessy juga Erkan.
"Chessy?" Ucap Sylia dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
"Ches … gue mau ngomong sama lu. Tolong … sebentar aja," Sylia menangkupkan kedua tangannya menunjukkan bahwa dia sedang memohon.
"Mas … biarin Sylia bicara dulu." Kata Chessy menggenggam tangan Erkan.
"Gue ijinin lu ngomong, tapi diem disitu. Jangan pernah sentuh Chessy bahkan sehelai rambutnya." Erkan masih berada di depan Chessy untuk menjaganya.
"Ches, gue mau minta maaf sama lu Ches. Gue mau cium kaki lu Ches. Gue udah salah sama lu. Gue akui gue jahat sama lu, gue salah Ches, tolong maafin gue …." Sylia bersimpuh di depan Erkan dan Chessy, sedangkan Aylin dan Nenek serta sang Kakek hanya diam melihat suasana yang dramatis itu. "Gue berdosa udah iri sama kehidupan lu Ches. Gue jahat … gue jahat udah berbuat yang enggak-enggak dan sekarang gue nyesel. Gue udah hancur sekarang Ches … gue butuh pengampunan dari lu …. Gue mohon, maafin gue … maafin gue Ches." Kini Sylia sedang bersujud memohon pengampunan Chessy dan Erkan.
"Sylia …." Chessy menerobos tubuh Erkan untuk menghampiri Sylia dan meraih bahunya kemudian langsung membangunkan Sylia yang sedang bersujud. Chessy meraup kedua pipi Sylia dan menatapnya penuh rasa iba. "Aku udah maafin kamu, Syl … aku maafin kamu. Kamu nggak usah minta maaf, aku udah maafin kamu … sungguh. Jangan minta pengampunan dari aku, tapi minta pengampunan pada Allah. Kamu harus bertobat dengan sungguh-sungguh. Biasakan?" Ucap Chessy dengan lembut dan tetesan air mata yang tak kuasa melihat luka di bagian tubuh Sylia terutama wajahnya yang terkena air keras tempo hari.
__ADS_1
Erkan tak tinggal diam dan langsung meraih tangan Chessy untuk segera menjauh dari Sylia. "Jangan percaya dengan wanita ini Sayang. Sadar Chessy … sadar …. Jangan terlalu baik sama dia. Kamu harus ingat dengan apa yang dia perbuat di masa itu. Gara-gara dia juga kamu kehilangan Rara, Ches … inget, jangan langsung percaya dengan omongan seorang pendosa ini." Erkan tersulut emosi dan bahkan gaya bicaranya sangat berbeda dari sebelumnya. Erkan menarik Chessy dan benar-benar menjaga jarak dari Sylia.
"Astaghfirullah, Mas … istighfar. Apa yang kamu ucapkan itu bukan sikap seorang muslim. Sylia memang berbuat banyak kesalahan Mas, tapi kamu harus bisa jaga ucapanmu." Chessy menyadarkan Erkan yang hampir kehilangan kendali. "Kamu duduk Mas. Baca istighfar … ingat jangan sampai setan menguasai emosimu." Chessy memaksa Erkan untuk duduk di kursi dan detik itu juga Chessy mendengar Erkan mengucap istighfar dengan lirih.
"Ono opo to Cah Ayu? Ono masalah opo Iki?" Nenek pun angkat bicara melihat suasana yang makin dramatis. Sebelum melanjutkan bicaranya, Chessy menutup pintu rumah terlebih dahulu untuk memastikan suasana aman dan tidak ada warga yang tahu keberadaan Sylia karena takut jika terjadi sesuatu lagi dengannya.
"Masalahnya nggak bisa dijelaskan begitu saja Mbah Uti. Masalahnya sangat rumit. Syl, ayo bangun. Kamu juga duduk di kursi." Chessy pun menuntun Sylia untuk duduk di kursi dan Ches duduk di sisinya. "Bagaimana kamu bisa ada disini? Tadi siang aku lihat kamu sedang ditelanjangi oleh warga sama Devan . Mereka bilang kamu bakal di rajam." Perkataan Chessy membuat nenek, kakek serta Aylin begitu terkejut.
"Apa? Rajam?" Kompak ketiganya.
"Maafin Sylia Mbah. Sylia memang kabur dari amukan warga dan kebetulan bertemu dengan Mbah di kebun tadi dengan keadaan telanjang." Sylia kembali terisak. Chessy segera mengambilkan Sylia air putih agar suasana hatinya sedikit tenang dan bisa kembali bercerita.
"Gimana kamu bisa kabur?" Chessy benar-benar menjadi pendengar setia dan layaknya seorang sahabat Sylia.
"Saat mereka sedang diskusi buat pengasingan gue sama Kak Devan , gue pura-pura mau buang hajat. Kebetulan saat itu gue punya kesempatan untuk lari layaknya orang gila. Akhirnya gue lari ke arah perkebunan dan ketemu sama Mbah Uti." Jelas Sylia tak membuat Erkan simpati seperti Chessy. "Ches, tolong gue. Gue mohon tolong gue. Sembunyikan gue, gue takut, gue nggak mau balik ke rumah paman dan gue juga nggak mau disini karena pasti para warga akan tahu. Please Ches, gue bersumpah gue bakal ngabdi sama lu disisa hidup gue ini kalau lu mau nolongin gue." Sylia memohonkan dengan kedua tangan yang menangkup di dada dan linangan air mata.
"Nggak mungkin." Erkan buka suara bahkan dengan nada yang cukup tinggi. "Ches, jangan percaya sama dia Ches. Sekarang dia memelas, mengiba, mengadu nasib sama kita, dan besok dia nusuk kamu lagi Ches. Pokoknya Mas nggak setuju kamu nolongin dia. Biar dia dihukum sesuai hukuman yang berlaku." Erkan pun membuang muka setelah berbicara dengan ketus.
"Ches, gue mohon. Lu satu-satunya orang yang bisa nolong gue Ches. Gue mohon kali ini aja. Gue janji, gue bersumpah gue bakal jadi abdi lu seumur hidup gue asal gue bisa keluar dari penderita ini. Please Ches, lu lihat kan penampilan gue ini? Apalagi wajah gue ini Ches, siapa yang Sudi nolongin gue Ches? Cuma lu satu-satunya yang bisa Ches." Sylia benar-benar memohon dengan penuh dramatis.
"Mas, kita bicarakan ini dulu ya?" Chessy menoleh pada Erkan.
"No! Aku sangat membencinya. Jangan harap apa pun." Erkan pun pergi dan masuk ke dalam kamar.
"Mbah, ngapunten! Ada kamar kosong lagi buat Sylia istirahat? Udah waktunya sholat magrib, biar Sylia istirahat di kamar dan kita bicarakan ini lagi nanti." Mohon Chessy pada Nenek.
__ADS_1
"Satu kamar sama aku aja nggak pa-pa Kak, udah nggak ada kamar lagi soalnya satunya udah buat gudang." Jawab Aylin dan Chessy mengangguk lalu mengantar Sylia ke kamar diikuti Aylin.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...