
Pagi ini Chessy merasa sedih karena harus merelakan kedua Kakak juga orang tuanya kembali ke Indonesia. Bukan hanya Chessy yang merasa sedih, tetapi Erkan pun demikian karena Kakek dan Neneknya juga akan kembali ke Italia. "Mas, aku belum benar-benar melepas rindu sama mereka. Apa nggak bisa kamu kasih alasan buat mereka tinggal lebih lama disini." Chessy memeluk suaminya dan meluapkan kesedihannya.
"Sayang, kan kamu pernah bilang kalau Kak Rakha dan Kak Rikho punya proyek baru yang begitu penting. Papah juga harus bantu mereka, jadi jangan menunjukkan wajah sedihmu itu Sayang. Kasian, nanti mereka mikir kalau suamimu ini nggak bisa jaga anak dan adiknya dengan baik. Bisa bener-bener di sunat dua kali Masmu ini." Erkan membelai lembut rambut Chessy yang terurai dan masih sedikit basah.
"Mas, bukan waktunya untuk bercanda. Aku serius dengan kesedihanku." Chessy pun mencubit perut Erkan.
"Hm. Mas juga sedih kok karena nggak bisa tinggal lama dengan Kakek. Mas nggak ketemu sama Kakek Nenek itu udah lebih dari lima tahun Sayang. Bahkan dulu rambut putih Kakek belum sebanyak sekarang."
"Benarkah? Selama itu? Tapi Mas, aku kan juga begitu. Setelah menikah dengan si Devan, aku juga hampir nggak pernah ketemu dengan keluargaku selama tujuh tahun lamanya, bahkan sekaliannya aku bisa kumpul dengan mereka, kamu langsung nikahin aku dan bawa aku pergi kesini. Jadi, wajar dong kalau aku masih rindu sama mereka. Kamu nggak peka banget sih Mas."
"Iya. Mas tahu. Maaf ya."
"Nggak mau."
"Yah, jangan gitu dong." Chessy melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempat duduknya. Chessy berjalan menuju kaca besar dan menyisir rambutnya kemudian mengikat rambut itu.
"Sayang, kamu marah? Akhir-akhir ini kok kamu sensitif banget sih."
"Menurutmu kenapa? Jelas karena kamu emang nyebelin Mas."
"Jangan dikit-dikit marah dong, nanti cepet tua dan banyak keriputnya kayak Nenek."
"Faktanya, jiwaku emang udah tua Mas. Bahkan kamu itu brondong bagiku."
"Hm. Istriku yang cantik yang baik, jangan ngambek ya?" Erkan memeluk Chessy dari belakang.
"Kamu kenapa takut aku marah Mas?"
"Jelas karena takut kehilanganmu Sayang. Aku kan cinta mati sama kamu."
"Lelaki emang bisa banget bermulut manis. Udah ayo turun, pasti mereka udah nungguin kita."
"Cium dulu dong sebagai tanda kalau istriku nggak ngambek."
"Ih, ogah."
Chessy melepaskan secara paksa pelukan Erkan dan hendak pergi keluar dari kamar setelah memakai jilbabnya. Namun, tangan Erkan lebih kuat dan membalikkan tubuh Chessy. Erkan pun menekan pinggang Chessy hingga keduanya benar-benar tidak mempunyai jarak satu inci pun. Erkan menekan tengkuk Chessy hingga keduanya beradu bibir. Chessy memang tidak pernah tidak terbuai dengan rayuan dan perlakuan lembut yang Erkan berikan. Chessy juga menikmati ciuman itu.
"Katanya ogah, kok dibales ciumannya?" Ejek Erkan setelah melepaskan ciuman itu dengan mendadak. Chessy langsung merona karena malu. "Aduh, istriku makin cantik dengan pipi yang kemerahan begitu." Erkan pun kembali mendaratkan ciumannya.
__ADS_1
_______________
Setelah kepulangan dari bandara, Chessy merasa sangat lelah dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba kepalanya sedikit pusing karena perjalanan pulang perginya dari bandara. Sedangkan Erkan tidak pulang ke rumah melainkan ke kantor untuk bekerja.
"Kenapa sih badanku kok kayak nggak nyaman banget. Beberapa hari ini sering pusing tiba-tiba. Apa mungkin … em aku hamil? Waktu hamil Rara, aku kayak gini nih." Chessy pun mengingat kembali kapan terakhir dia menstruasi.
Benar dugaan Chessy jika dirinya telah telat mens satu minggu. Chessy pun turun dari kamarnya untuk mencari Sylia dan meminta pendapatnya. Namun ternyata Sylia juga kebetulan mencari Chessy dan akhirnya keduanya bertemu di ujung tangga.
"Aku baru mau cari kamu." Kompak keduanya menyapa satu sama lain.
"Kenapa?" Lagi-lagi mereka berdua menanyakan hal yang sama.
"Aku telat mens." Chessy dan Sylia kembali kompak mengatakan hal yang ingin mereka sampaikan. Setelah tiga kali berkata yang sama, gelak tawa pun tak terhindarkan.
"Astaghfirullah, kok kita bisa begini sih." Kata Chessy.
"Apa kita hamil Ches?" Tanya Sylia yang begitu antusias dengan telatnya masa haid mereka berdua.
"Hm, bisa jadi. Apa perlu beli tespek?" Ucap Chessy.
"Ah, boleh juga tuh. Tapi minta tolong Mbak Surti aja Ches. Takutnya kenapa-kenapa nanti dijalan."
"Iya Non, ada apa?" Surti begitu senang melihat aura yang terpancar dari Chessy juga Sylia. Entah kenapa Surti merasa ada yang berbeda dari kedua wanita di hadapannya itu.
"Mbak, tolong beliin tespek ya! Dua, buat aku sama Sylia. Tespeknya harus yang bagus dan akurat." Titah Chessy seraya memberikan uang pada Surti.
"Alhamdulillah, Nona sama Mbak Sylia hamilkah? Pantes aja auranya beda banget Surti liat-liat." Surti langsung melebarkan senyumnya karena merasa bahagia akan ada tangis bayi di rumah itu.
"Apa iya Mbak begitu kelihatan?" Tanya Sylia yang penasaran
"Iya Mbak Sylia. Ih, Mbak Sylia berarti Tuan Alman jos banget itu sekali celup langsung jadi." Kata Surti dengan nada meledek.
"Hus, kamu belum nikah udah ngomongin celup-celup. Emangnya teh celup." sahut Chessy seraya menepuk bahu Surti.
"Nggak salah kan Non, Mbak Sylia sama Tuan Alman beruntung banget langsung dikasih amanah momong bayi. Banyak diluar sana yang belum dikasih bahkan sampe bertahun-tahun. Surti ikut seneng Nona dan Mbak Sylia hamil." Kata Surti yang menang terlihat jelas raut wajahnya begitu bahagia.
"Mbak Surti, kita baru telat mens. Belum pasti hamil apa nggak. Makanya sekarang Mbak Surti buruan beli tespek buat kita." Surti langsung mengangguk dan segera pergi membeli tespek.
"Ches, duduk yuk! Kamu udah telat berapa hari Ches?" Tanya Sylia penasaran.
__ADS_1
"Baru sekitar delapan hari sih, tapi beberapa hari ini badanku kayak nggak enak gitu. Ini tadi turun dari mobil kepalaku pusing banget. Siapa tahu bener-bener nyidam." Jawab Chessy yang benar-benar penuh harap.
"Bismillah ya Ches, semoga kita bener-bener hamil. Dengan begini suami kita pasti makin Sayang." Kata Sylia yang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Chessy seraya memeluk tangan Chessy.
"Iya Syl, kalau kamu hamil jangan pindah rumah dulu ya. Takutnya kamu kenapa-kenapa kalau sendirian di rumah."
"Kata Kak Alman, nanti dia bakal cari asisten rumah tangga dari Indonesia juga Ches. Dia mau cari dua orang buat nemenin aku. Dia baik banget ya Ches. Aku bener-bener beruntung punya suami kayak dia. Bahkan entah udah berapa kali dia ngajak aku ke Thailand atau ke Korea buat operasi plastik kalau aku merasa nggak nyaman dengan wajahku ini. Aku nggak mau ngabisin uang dia hanya demi wajah yang memang seharusnya begini. Ada disisinya dengan penuh kasih sayang aja aku udah sangat beruntung."
Suasana di ruangan keluarga itu tiba-tiba menjadi sendu karena curahan hati Sylia. Chessy ikut sedih, sejujurnya bukan hanya Sylia yang merasa beruntung, tetapi dirinya juga harus banyak bersyukur dengan apa yang dia lewati di kehidupannya sekarang.
"Ya nggak pa-pa Syl, terima aja tawaran suami kamu. Toh gaji suaminya juga rejeki kamu, jadi kita juga berhak menghabiskan gaji tersebut." Jawab Chessy dengan nada bergurau.
"Kamu ada benarnya juga Ches," kata Sylia yang malah mencolek sebelah pipi Chessy. "Kalau aku hamil dan anakku lihat wajah ibunya yang buruk rupa begini, pasti dia takut ya Ches. Apa harus aku operasi plastik biar wajahku sedia kala dan anak-anakku nggak ketakutan juga malu nantinya karena punya ibu yang buruk rupa,"
"Aku nggak akan meminta ataupun melarangmu melakukan operasi plastik, Syl. Tapi, kamu harus tahu jika kita punya keturunan yang sholeh dan sholehah, sebaik dan seburuk-buruk kita, anak itu tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. Kalau kamu berprasangka begitu, sebaiknya lakukan apa yang ingin kamu lakukan karena ragu-ragu juga nggak baik. Lakukan saat kamu yakin, jangan lakukan kalau kamu juga yakin."
"Nanti aku bicarakan lagi sama Kak Alman masalah ini gimana baiknya. Tapi kalau aku jadi hamil nggak mungkin dong operasi plastik saat hamil."
"Ya nggak mungkin. Kalau kita hamil, kamu mau nggak ngerjain suamimu nggak? Misal ngidam yang aneh-aneh gitu. Pasti lucu deh."
"Wah ide bagus Ches. Aku juga pernah loh baca novel yang begitu. Terus ada juga yang istrinya hamil, tapi yang teler dan ngidam itu malah suaminya."
"Hah? Masak sih ada yang begitu?"
"Iya Ches. Setelah aku cari di google juga ternyata banyak yang begitu. Namanya couvade atau kehamilan simpatik."
"Wah enak kali ya kalau suami yang begitu."
"Hm. Ada penelitian yang menunjukkan jika suami yang memiliki empati pada pasangannya yang hamil akan rentan terhadap gejala couvade ini. Pada akhirnya dia berakhir dengan ikatan kuat pada anak. Jadi kayak ikatan batin antara ayah dan anaknya."
"Aku baru tahu, padahal aku udah pernah … eh." Chessy menghentikan bicaranya.
"Udah pernah apa Ches?"
"Em, maksudnya kamu suka baca novel ada gunanya juga ya, hehe …."
"Iya. Tapi ya jangan cuma novel aja yang dibaca Ches. Ilmu agama juga wajib dibaca dan ditekuni."
"Iya ustazah Sylia Agustina." Keduanya pun mengobrol asyik sambil menunggu kedatangan Surti.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...