
Chessy bukannya tenang dan lega mendengar penuturan jika orang yang dia benci itu akan mati, tetapi hatinya semakin sesak mendengar apa yang Sylia katakan. "Nggak … kamu nggak boleh mati, kamu juga harus dapet kesempatan untuk berubah sama sepertiku, Syl," batin Chessy yang begitu ingin menjerit.
Erkan yang sedari tadi hanya melihat Chessy dari kejauhan, kini berjalan menghampirinya dan merangkul kedua bahu istrinya. Chessy menoleh, tatapannya begitu memperlihatkan sebuah kesedihan yang mendalam. "Biarkan Sylia istirahat dulu, Sayang. Dia butuh istirahat. Kita keluar ya?" Chessy mengangguk pelan seraya kembali mengusap air matanya dan kembali menatap Sylia.
"Aku keluar dulu ya Syl, kamu harus istirahat yang cukup supaya kesehatanmu segera pulih." Sejujurnya saat itu Sylia sangat ingin menjerit juga karena rasa sakit di kepalanya, tetapi dia tahan sekuat mungkin agar Chessy tidak semakin mengkhawatirkan dirinya. Sylia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Chessy.
Setelah mendapatkan persetujuan, Chessy dan Erkan pun keluar dari kamar rawat Sylia. Dirasa sudah aman, Sylia memegangi kepalanya bahkan menjambak rambutnya karena merasakan sakit yang begitu luar biasa. Sylia pun duduk dan menggigit bantal agar suaranya tidak keluar. Sylia menahan rasa sakit itu sekuat mungkin hingga akhirnya hilang dengan sendirinya. Setelah itu, seorang perawat masuk dan memberikan Sylia makan serta obat. Selesai minum obat, Sylia pun tertidur.
Erkan membawa Chessy ke kantin rumah sakit untuk mengajaknya makan siang. Wajah Chessy belum berubah sama sekali, bahkan tanpa dia mau, air matanya menetes begitu saja dan segera dia usap. "Sayang, Mas tahu kamu sedih lihat keadaan Sylia, tapi kamu harus jaga kesehatanmu dan fokus dengan masalah kita." Ucap Erkan seraya memberikan semangkuk lontong sayur dan es teh di hadapan Chessy.
"Kita nggak punya masalah Mas, apa yang harus aku fokuskan?" Chessy kembali menghapus air matanya dan menghela nafas panjang lalu menatap lontong sayur yang masih panas di depannya itu.
"Kita harus menyiapkan beberapa dokumen untuk keberangkatan kita ke Turki, Sayang. Surat kelulusan nanti biar di atur sama Papah, kamu siapkan beberapa keperluan kamu lainnya ya? Siapa tahu kamu juga mau pamitan sama temen-temen kamu Sayang, karena kita nggak tahu kapan akan kembali ke Indonesia. Mungkin kamu juga mau banyak-banyak menghabiskan waktu dengan Kak Rakha dan Kak Rikho, atau sama Mamah dan Papah." Erkan mencoba mengalihkan perhatian Chessy agar terlepas dari memikirkan Sylia.
"Itu bukan masalah Mas. Aku tahu Mas kamu bisa mengurus semuanya sendiri, dan biarkan aku fokus pada kesehatan Sylia. Aku mau merawatnya sebelum aku berangkat ke Turki. Tapi aku sangat berharap kalau Sylia bisa ikut kita ke Turki dan tinggal bersama kita."
"Mas nggak setuju!"
"Bukannya Mas kemarin bilang apa pun keputusan yang aku buat Mas bakal setuju? Kenapa sekarang jadi nggak setuju?"
"Iya Sayang, tapi nggak harus ikut kita ke Turki, Sayang. Kalau kamu merawat Sylia, bagaimana dengan, Mas? Kamu juga akan kuliah, dan pastinya sibuk."
"Aku yakin aku bisa merawat kalian secara bersamaan Mas. Walaupun nanti aku sibuk kuliah, setidaknya aku bisa melihat dan memantau keadaannya Mas. Aku udah terbiasa mengurus Rara yang sakit leukimia, dan juga aku masih bisa mengurus Devan. Aku juga masih bisa mengurus rumah. Jadi Mas nggak perlu khawatir dengan kemampuan istrimu ini."
Chessy bicara dengan sangat lancar, seolah Chessy benar-benar tidak peduli sama sekali dengan apa yang sudah Sylia perbuat padanya. Chessy juga menikmati lontong sayur dihadapannya tanpa protes apa pun.
"Sayang … apa kamu bener-bener …." Belum selesai Erkan bicara, Chessy langsung menyela.
"Mas, aku sayang kamu Mas, aku tentu sangat ingin jadi istri yang baik dan menurut padamu. Tapi … tapi aku bener-bener nggak bisa mengabaikan Sylia di sisa hidupnya Mas, aku nggak bisa sejahat itu sama dia. Apa kamu nggak punya rasa iba sama sekali dengan Sylia Mas?"
"Bukan begitu, tapi Mas cuma khawatir sama kamu kalau Sylia bisa saja pura-pura baik dan memelas sama kamu aja, Sayang. Mas takut kamu kenapa-kenapa kalau kita tinggal sama dia."
"Mas, Sylia hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Dia begitu karena ingin bahagia saja Mas. Aku mau beri dia kesempatan untuk berubah. Aku juga mau buat dia bahagia di sisa hidupnya. Aku mau saat dia menutup mata, dia tersenyum dalam keadaan husnul khatimah Mas. Aku diberi kesempatan untuk kembali memperbaiki semuanya. Jadi, apa salahnya kalau Sylia juga kita beri kesempatan untuk memperbaiki diri, Mas. Ingat Mas, kamu sudah janji akan memenuhi keputusanku, jadi tolong … inilah keputusanku."
Erkan tidak bisa bicara apa-apa lagi. Seorang muslim memang harus memegang ucapan dan janjinya. Bagaimana pun Erkan juga berpikir hal yang sama pada Sylia. Namun, kekhawatirannya pada Chessy menutup hatinya untuk Sylia, sekeras apa pun dia berusaha baik, hati nurani Erkan tetaplah merasa Sylia masih harus diawasi.
__ADS_1
_______________
Waktu senja hampir tiba, Chessy berpamitan pada Sylia untuk pulang terlebih dahulu ke rumah karena sang mamah terus bertanya dimana Chessy dan Erkan berada. Sylia sendiri tidak mau kalau keluarga Chessy tahu jika dirinya sedang dirawat dirumah sakit. Tentu Sylia malu, apalagi dengan keadaan wajahnya yang buruk rupa.
"Kamu harus istirahat, jangan mikirin masalah apa pun ya? Besok aku bakal datang kesini lagi buat jenguk kamu. Nggak pa-pa ya aku tinggal? Aku juga udah bilang sama perawat kalau kamu ada apa-apa, perawat bakal segera telepon aku." Sylia mengangguk pelan. "Padahal Mamah sering tanyain kamu Syl, pasti Mamah pengen ketemu kamu." Lanjut Chessy.
"Enggak boleh. Mamah nggak boleh tahu apa pun yang terjadi sama aku Ches. Oiya, besok kalau kamu kesini lagi aku boleh minta sesuatu?" Sylia tersenyum, walaupun sebelah pipinya cacat, senyum Sylia masih terlihat manis dengan bibir pucatnya.
"Kamu boleh minta apa pun selama aku bisa."
"Tolong bawakan aku penutup wajah Ches. Aku malu … aku juga takut ada yang mengenaliku dan mengadu pada Paman. Aku mau nutupin wajahku yang cacat ini." Chessy melongo.
"Maksudnya masker?"
"Bukan, tapu penutup wajah seperti wanita itu." Sylia melirik ke arah pintu.
"O … maksudnya cadar? Kamu mau pake baju syar'i dan bercadar seperti wanita itu?" Chessy tersenyum melihat Sylia yang Chessy yakini dia benar-benar akan berubah.
"Iya Ches, aku akan belajar jadi muslimah yang taat. Tolong ajari aku hal yang belum aku tahu sebelum kamu pergi ke Turki." Tiba-tiba raut wajah Chessy menjadi sedih kembali.
"Iya. Aku bakal makan dan minum obatku Ches, kamu jangan khawatir."
"Kalau gitu aku pamit dulu ya, maaf Mas Erkan nggak mau masuk kemari, tapi kamu jangan mikir macem-macem ya. Dia begitu hanya karena nggak terbiasa ngobrol dengan lawan jenis."
"Iya aku paham. Kamu hati-hati ya. Terima kasih buat semuanya." Keduanya pun berpelukan dan Chessy segera pergi dari kamar Sylia kemudian menutup pintunya.
______________
"Assalamu'alaikum Mah, Pah …." Chessy membuka pintu rumah. Kedatangan Chessy langsung disambut hangat oleh Pak Ginanjar, Bu Dewi juga kedua Kakak Chessy.
"Wa'alaikumsalam, ya ampun anak Mamah kok baru pulang sih. Mamah khawatir banget loh sama kamu Sayang." Bu Dewi memeluk Chessy dan mengusap punggungnya beberapa saat.
"Mamah jangan lebay deh, Chessy kan pergi sama suami Chessy bukan pergi sendiri." Jawab Chessy tak percaya dengan ucapan sang Mamah karena wajahnya tidak menunjukkan rasa khawatir.
"Tapi Papah sama Mamah memang khawatir sama kamu Ches, kok kamu nggak percaya gitu," sahut Pak Ginanjar membela istrinya.
__ADS_1
"Chessy tahu kalian kangen masakan Chessy, bukan khawatir sama Chessy." Kata Chessy ketus.
"Haha … kita ketahuan Mah." Kata Pak Kusuma seraya tertawa.
"Papah sih wajahnya biasa aja. Masa' khawatir sama anak senyum-senyum." Celetuk Bu Dewi mencubit perut sang suami.
"Tapi bukan cuma kita yang kangen masakan kamu Ches, kedua Kakakmu tuh yang ke desak Mamah supaya kamu cepet pulang." Bu Dewi bicara dengan nada tinggi agar kedua anak laki-laki yang pura-pura menonton tv mendengar.
"Hahaha …." Rakha dan Rikho pun tertawa kemudian menghampiri Chessy. Rakha mengelus ujung kepala Chessy yang tertutup jilbab.
"Lagian kalian kemana aja sih? Tadi Kakak sampe nyusul kalian ke rumah Mbah Uti." Tanya Rakha penasaran dengan kepergian adiknya.
"Hah? Kak Rakha ke rumah Mbah Uti? Terus Mbah Uti bilang apa?" Chessy sungguh terkejut dengan perkataan Rakha karena khawatir dia akan menanyakan Sylia.
"Kakak nggak jadi mampir karena nggak liat mobil kalian. Jadi Kakak pergi ke Mall aja." Jawab Rakha. "Kok kamu kayak ketakutan gitu sih? Kalian nyembunyiin sesuatu dari kami Er?" Rakha menatap tajam Erkan.
"Enggak kok enggak. Eh, Kakak kapan dateng? Kok nggak bilang-bilang?" Chessy segera bersikap biasa.
"Kemaren sore. Kita ada urusan disini." Jawab Rakha.
"Urusan apa? Urusan mau makan masakan Chessy?" Ledek Chessy.
"Geer banget adik Kakak ini," jawab Rikho yang kemudian menyentil kening Chessy.
"Aw … Mas kamu kok diem aja sih istrinya dianiaya," keluh Chessy menatap Erkan yang hanya mengangkat kedua bahunya.
"Duh … tempat mengadunya udah sama Mas ya bukan sama kita lagi," goda Rikho.
"Udah ah Chessy mau masak dulu. Kami nggak kenapa-kenapa dan nggak ada apa-apa. Kami cuma bulan madu aja. Jangan pada kepo lagi." Chessy segera pergi ke dapur menghindari kerumunan keluarganya. Sebelum itu, Chessy mengedipkan matanya pada Erkan sebagai isyarat untuk tidak bicara apa pun tentang Sylia. Erkan hanya cuek dan mengangkat kedua bahunya lagi. Chessy kesal, tetapi harus ditahan demi menjaga rahasia tentang Sylia.
Chessy akan menunda kekesalannya pada sang suami karena dia harus fokus memasak makan malam untuk keluarganya. Chessy meminta bantuan satu Bibik yang bekerja di rumah itu. Rasa lelah tubuh dan pikiran tidak memungkinkan untuk Chessy memasak sendiri saat ini.
Chessy masih memikirkan keadaan Sylia yang di rumah sakit sendirian. Chessy jadi ingat saat-saat terakhir Rara pergi, Chessy juga sendirian saat itu. Chessy khawatir kalau malam ini adalah malam terakhir untuk Sylia. Sepanjang apa yang dilakukan Chessy, tidak luput sama sekali dari memikirkan Sylia. Akhirnya terjadi sesuatu pada Chessy.
"Ack …." Teriakan Chessy mengundang semua orang rumah untuk segera pergi ke dapur.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...