Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Misterius


__ADS_3

"Ini Tuan tas Nyonya," ucap seorang pria dengan tubuh penuh tato.


"Jadi anak buahmu yang mencuri tas istriku?" Tanya Erkan dengan wajah marah.


"Ma-maaf, maafkan saya yang lalai Tuan. Ka-kami tidak tahu Tuan sudah menikah." Jawab pria itu gugup.


"Ya ya ya … kalian harus ingat-ingat wajah istri saya. Jika terjadi sesuatu dengan istri saya, maka kalian akan menanggung akibatnya." Ancaman Erkan mampu membuat tubuh sang pria bergetar.


"Iya-iya Tuan. Kami akan ingat wajah istri anda." Jawab pria itu.


"Lalu bagaimanakah dengan orang yang mencuri tas ini?" Tanya Erkan lagi.


"Sudah saya patahkan sebelah tangannya dan sudah saya keluarkan dari kelompok kami Tuan." Jawab pria itu dengan percaya diri karena dirasa keputusan sangat tepat.


"Hm … bagus. Saya suka tindakanmu. Kali ini saya akan diam. Tapi kalau sampe hal ini terjadi lagi, siapkan kuburan kalian masing-masing." Erkan pun pergi dari tempat itu. Tempat dimana hanya ada gedung tua dengan banyak rerumputan dan pohon-pohon yang rindang. Tempat itu seperti tanpa berpenghuni.


Mobil yang dikendarai Erkan pun melaju cepat menuju perkotaan. Supir yang mengendarai mobil itu sudah sangat handal. Pria yang umurnya hanya diatas Erkan dua tahun itu tampak serius menyetir. Dia bukan Pak Romi, melainkan Alzeer. "Apa kita langsung pulang Bos?" Tanya Alzeer tanpa menoleh pada bosnya yang sedang sibuk dengan sebuah benda pipih.


Sekilas, tidak ada suatu yang istimewa dari laki-laki bernama lengkap Alzeero Alexandrio itu. Tubuhnya tinggi setara Erkan. Kulitnya lebih hitam dari Erkan dan rambutnya acak-acakan. Wajahnya terdapat kumis dan brewok khas orang Turki. Dibagian lengan kanan, ada sebuah tato yang tersembunyi dibalik bajunya. Namun, siapa sangka bahwa Alzeer ini adalah mantan geng mafia di Italia yang diselamatkan oleh Erkan. Dia berhenti dari geng mafia karena suatu alasan. Di Turki sendiri, Alzeer cukup terkenal dengan kekejamannya. Dia tidak kenal ampun dengan siapapun yang menyakiti orang yang dilindungi olehnya. Tentu itu termasuk Erkan dan seluruh keluarga Erkan.


Nama Erkan sendiri cukup terkenal di kalangan manapun, terutama di bidang menengah ke atas karena dia adalah cucu dari seorang yang sangat disegani di Negara Turki. Dulu, sang Baba sendiri tidak mau meneruskan bisnis dan usaha ayahnya dan lebih memilih tinggal di Indonesia lalu menikah dengan Ibu Erkan karena tidak mau bergelut dalam dunia itu. Akhirnya, Paman Ahmed yang meneruskan perjalanan bisnis dan usaha keluarganya, tetapi ada banyak pertentangan karena sang paman hanya seorang menantu, jadi jika bisnis dan usaha keluarga Erkan masih ingin berjalan dengan baik, Erkan harus mau meneruskannya.


Erkan adalah orang yang ulet dan bertanggung jawab, bahkan sejak sekolah. Kehilangan kedua orang tuanya, membuat Erkan melupakan masa dimana harusnya dia lebih memilih bersenang-senang dengan teman-temannya dari pada belajar. Saat sedang bekerja, Erkan tidak akan ingat hal apa pun selain pekerjaannya tersebut. Dia terkenal sangat dingin dan arogan di kantor. Semua karyawan tidak ada yang berani membantah karena jika ada satu kata saja untuk melawan ucapannya, langsung dipecat tanpa pesangon.

__ADS_1


"Kita pulang, rasanya udah sangat rindu pada istriku. Jangan lupa hubungi Nayla juga Alman untuk membereskan urusan kantor." Jawaban Erkan tak membuat Alzeer bertanya kembali. Dia lebih memilih fokus pada pandangannya dan menuruti keinginan Erkan. "Gimana pencarian pacarmu itu, Al?" Erkan melirik Alzeer.


"Masih proses." Jawab Alzeer singkat.


"Heh! Udah satu tahun Al, dan jawaban lu tetep sama. Laki-laki macem apa sih lu? Contoh dong laki-laki ini, langsung menikah dengan cinta pertama. Hahaha …." Erkan mengejek Alzeer dengan semena-mena tanpa memikirkan perasaan Alzeer. Sayangnya, Alzeer tak menanggapi ucapan Erkan dan lebih memilih diam dan fokus dari pada mendengarkan kesombongan Erkan yang telah menikahi gadis pujaannya.


________________


"Sayang … Mas pulang!" Teriakan sang suami membuat Chessy segera turun dari kamarnya di lantai dua. Chessy menuruni anak tangga dengan sangat buru-buru karena begitu penasaran dengan tas yang dicopet tadi. Erkan yang masih di ambang pintu juga ikut mempercepat langkahnya menuju ujung tangga untuk menemui sang istri. "Buru-buru amat sih, udah kangen ya?" Sapa Erkan dengan nada mengejek.


Benar saja, pandangan Chessy sudah tertuju pada tas yang di copet tadi siang. Tas itu sedang di pegang oleh Erkan. Tas selempang kecil dengan huruf H di tengahnya membuat pandangan Chessy tak teralihkan dari tas itu. Chessy menatap Erkan dengan tatapan penuh tanda tanya. Entah apa yang akan dia katakan, apakah akan begitu mengejutkan atau akan mencari alasan yang tidak masuk akal. "Kok tas aku bisa sama kamu Mas?" Tanya Chessy langsung tanpa menyapa dan basa-basi terlebih dahulu.


"MasyaAllah, suami pulang bukannya cipika-cipiki dulu, kasih senyum dulu, Salim dulu, disambut dulu, ini langsung dikasih tatapan mengintimidasi. Ah, harusnya aku tadi pulang lagi aja ke kantor, nggak langsung pulang begini." Erkan tertunduk dan pura-pura sedih. Erkan berbalik badan dan berjalan menuju sofa di yang tak jauh dari ujung tangga itu.


Chessy akhirnya mengikuti kemana langkah suaminya. Chessy duduk disisi Erkan dan meraih tangannya untuk dicium. "Maaf Mas," setelah itu Chessy mencium sebelah pipi Erkan.


"Satunya bakal iri kalau nggak dicium juga," Erkan menoleh dan mendekatkan satu pipinya yang belum dicium Chessy. Chessy menghela nafas panjang karena ternyata Erkan malah mengambil kesempatan untuk mengejeknya. Namun, terpaksa juga Chessy mencium sisi sebelah pipi Erkan. "Alhamdulillah," Erkan pun mencium kening Chessy. "Terima kasih Sayangku udah menyambut suamimu yang telah lelah bekerja ini." Erkan mengusap lembut ujung kepala Chessy yang terhalang jilbab.


"Terus?" Chessy kembali menatap Erkan dengan penuh keseriusan.


"Terus apa Sayang? Mau terusin di kamar? Yuk? Mas juga kangen banget pengen *****." Erkan benar-benar tidak bisa serius di hadapan Chessy, padahal Chessy ingin Erkan yang menjelaskan sendiri tentang tas itu, tetapi lagi-lagi Erkan menggoda Chessy.


"Mas? Bisakah kamu serius tanpa aku bertanya, bisakah kamu menjelaskan tas yang aku kenapa bisa kamu pegang?" Chessy pun membuang muka menatap ke sembarang arah.

__ADS_1


"Oh ini?" Erkan mengangkat tas Chessy tepat di depan mata Chessy. "Jangan cemberut dong, liat sini!" Kata Erkan mencolek sebelah pipi Chessy. Terpaksa Chessy menoleh dan menatap kembali suaminya yang menyebalkan itu.


"Apa?" Chessy melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang masih bete.


"Tas ini yang nyari bukan Mas, tapi dia," Erkan menoleh pada Alzeer yang tengah berdiri tegak tak jauh dari sofa tempat mereka duduk. Chessy menoleh mengikuti ekor mata Erkan. Chessy cukup terkejut dengan kehadiran Alzeer karena saking rasa ingin tahu yang dalam tentang tas itu, Chessy sampai tidak menyadari kehadiran Alzeer. Chessy mengangkat satu alisnya, lagi-lagi otaknya harus berpikir dan memberikan sebuah pertanyaan yang butuh jawaban.


"Siapa dia?" Tanya Chessy kembali menatap Erkan.


"Alzeer. Dia temen Mas." Jawab Erkan dengan santainya.


"Polisi?" Tanya Chessy lagi dan Erkan langsung menggelengkan kepalanya. "Terus apa? Tentara? Brimob? Pasukan khusus negara Turki? FBI? PBB?" Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan Chessy.


"Bukan semua." Jawab Erkan seraya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


"Terus?" Chessy masih belum mendapatkan jawaban.


"Udah ah, dibilang jangan kepo sama orang lain kok, apalagi dia seorang pria patah hati. Udah ah kita ke kamar yuk?" Erkan meraih tangan Chessy dan mengajaknya menaiki tangga. Chessy hanya menurut walaupun hati dan pikirannya butuh sebuah jawaban. "Eh, Al! Kamu pulang aja. Aku mau bercinta dulu dengan istriku." Erkan tersenyum meledek sebelum melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Alzeer tak memberikan tanggapan apa pun dan langsung membalikkan badannya. Namun disaat yang bersamaan, Sylia yang sedang membawa minuman untuk dia bawa ke dalam kamar, menabrak tubuh Alzeer dan membuat gelas berisi es jeruk itu terjatuh dan pecah.


Prang!


Sylia terkejut karena tidak fokus. Alzeer tak kalah terkejut melihat Sylia dengan pakaian serba hitam dan bercadar. Chessy yang masih di tangga, kembali turun menghampiri Sylia.


"Sylia …."

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2