
"Papah … Mamah …." Chessy secepat mungkin menuruni anak tangga karena mendengar kabar jika keluarganya dari Indonesia telah tiba. Rasa haru, bahagia dan entah apa pun itu bercampur jadi satu. Chessy langsung memeluk Mamahnya kemudian bergantian dengan Papah dan kedua Kakaknya. "Chessy kangen banget sama kalian," kata Chessy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kakak lebih kangen sama adik Kakak ini," sahut Rakha yang mengusap kasar ujung kepala Chessy.
"Ih, Kak Galih. Rusak nanti pasmina Chessy." Chessy mundur selangkah dari Rakha dan memperbaiki pasminanya yang hampir lepas karena Rhaka.
"Kamu masih aja kayak anak kecil, udah nikah loh." ledek sang papa.
"Emang kalau Chessy nikah Chessy udah bukan anak Papah? Masihkan? Jadi sah-sah aja dong masih manja sama kalian." protes Chessy yang tidak terima dibilang anak kecil. Padahal jiwa Chessy sudah emak-emak.
"Kita duduk dulu Pah, Mah. Ayo Kak duduk disana." Ajak Erkan menunjuk sebuah ruang keluarga.
"Mas, nggak ngajak-ngajak ih jemput mereka. Katanya masih besok kesininya." Chessy berbisik seraya mencubit pinggang Erkan karena kesal tidak mengajaknya menjemput keluarganya di bandara.
"Namanya juga surprise." Erkan hanya tersenyum melihat wajah kesal Chessy.
"Mas udah bilang ke mereka masalah kemarin itu?" Erkan hanya menggeleng.
"Serius amat sih? Ngomongin apaan?" Tanya Rikho yang ternyata sejak tadi menatap Erkan dan Chessy yang berbisik-bisik.
"Dasar kepo. Makanya cepet nikah kalau mau tahu urusan rumah tangga." Ketus Chessy yang kemudian duduk di sisi Bu Dewi dan memeluk lengannya.
"Chessy kangen banget bau keringet Mamah." kata Chessy bermanja pada sang mamah.
"Emang Mamah kayak lu, burket pake bau keringet segala." protes Gala.
"Bodo amat. Orang Mamah aja nggak pa-pa." jawab Chessy tidak peduli dengan ucapan Gala.
"Eh, Sylia mana? Kok nggak keliatan?" Tanya Bu Dewi yang celingukan mencari Sylia.
"Oiya, tadi Sylia kekeh mau ikut Alman suaminya ke gedung nyiapin acara resepsi." Jawab Chessy dengan santainya.
"Hah? Sylia menikah?" Semua orang kompak terkejut. Chessy menatap Erkan seraya menahan tawanya.
"Iya Mah, alhamdulillah Chessy bertemu dengan jodohnya dan baru menikah satu bulan ini. Sylia benar-benar berubah dan mendapatkan orang yang tepat untuk menjaganya." Jelas Chessy yang kemudian mendapati sebuah kelegaan pada mereka.
"Sayang, siapin makan dulu sana. Pasti Mamah dan Papah laper juga kangen sama masakan kamu." ucap Erkan dan Chessy langsung beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Nah, iparku lebih peka dari pada adik sendiri." Ledek Rakha dan langsung mendapatkan sorotan mata yang sinis dari Chessy.
"Maksudnya Mamah dan Papah aja, nggak termasuk Kak Rakha." Erkan membela sang istri. Chessy hanya menahan tawanya dan langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan.
"Sial lu. Eh, gue nggak nyangka kalau keluarga lu sekaya ini. Ternyata lu bukan orang sembarangan." Rikho tiba-tiba bicara dengan ketus seraya menyandarkan punggungnya di sofa dan menatap setiap sudut ruangan.
"Iya Pah. Sebelumnya Papah apa udah tahu betul asal usul dia waktu setuju dengan perjodohan Chessy?" tanya Rakha yang juga tak kalah penasaran dari Gala.
"Iya. Papah tahu Ayah Erkan orang baik. Makanya Papa juga setuju untuk menjodohkan adikmu. Selain itu, walaupun keluarga ini begitu terpandang, privasi dan keamanan cukup membuat Papah rela melepaskan Chessy." Jelas Papah.
"Ah, tahu gitu kita minta modal aja sama adik ipar kita ini, ya'kan?" Ledek Rikho yang kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Rakha.
"Hm. Maaf ya Kak Rakha dan Kak Rikho. Aku bukan nggak mau cerita ataupun mau berbohong, tapi alangkah baiknya kalau kita nggak menyombongkan apa yang kita punya." ucap Erkan seraya tersenyum.
"Gila sih lu tajir melintir gitu tapi masih tetep rendah hati." Puji Rikho.
"Sebenarnya ada yang mau Erkan jelaskan Pah," Erkan kini tiba-tiba berwajah serius membuah Pak Ginanjar dan Bu Dewi juga serius untuk mendengarkan.
"Iya, ya. Silahkan." Jawab Pak Ginanjar.
"Erkan udah bilang sama Chessy kalau Papah dan Mamah, juga Kak Rakha, Kak Rikho nggak akan muncul di pesta pernikahan Erkan nanti," Erkan belum selesai bicara, Rikho langsung memotong pembicaraannya.
"Rikho … dengerin dulu Erkan." kata Pak Ginanjar.
"Bukan maksud apa-apa. Erkan sungguh menghormati kalian. Erkan cuma nggak mau kalian jadi sorotan wartawan bahkan setelah kalian pulang ke Indonesia. Erkan takut jika setelah resepsi pernikahan ini terjadi dan tersorot publik, maka keluarga dari mempelai wanita pasti juga akan dikejar-kejar media. Jika kalau mau itu terjadi, maka nggak masalah bagi Erkan untuk mengenalkan keluarga dari istri Erkan pada publik." sahut Erkan.
"Ah, nggak Nak Erkan. Kamu benar, itu lebih bagus juga. Terima kasih banyak atas perhatianmu. Denger'kan Rikho?" Pak Ginanjar menatap wajah Rikho dengan wajah datar.
"Ya, alasannya cukup masuk akal sih. Gue kira kenapa." jawab Rikho yang kembali duduk santai.
"Pestanya akan dilakukan besok. Pesta itu juga nggak akan memakan waktu lama. Disana nanti hal utamanya adalah pengumuman tentang penerus keluarga oleh Kakek saya yang tinggal di Italia. Mungkin sekitar tiga jam saja, setelah itu pesta dibubarkan." Lagi Erkan menjelaskan dengan detail.
"Gila ya punya adik ipar yang begitu terkenal. Berasa jadi artis dong adikku di Turki ini? Kemana-mana ada wartawan yang mengintai dan ajudan yang melindungi." Rakha menimpal.
"Ya begitulah." Jawab Erkan dan diiringi gelak tawa bersama.
Keseriusan dan ketegangan yang sejak tadi menyelimuti ruang keluarga itu kini berubah menjadi sebuah perkumpulan keluarga yang begitu hangat. Setelah masakan yang Chessy buat siap, mereka pun makan malam bersama.
__ADS_1
_______________
Hari ini adalah hari bahagia yang ditunggu-tunggu oleh Erkan juga Chessy karena secara resmi pernikahan mereka akan diketahui publik dan bukan hanya sekedar sah secara agama.
Acara itu akan digelar pada pukul satu siang waktu setempat. Lima jam sebelum acara itu, Chessy sendiri sudah sibuk dengan gaunnya yang dimana Chessy melakukan persiapannya ditemani oleh Sylia juga Bu Dewi.
Erkan sendiri sedang sibuk di luar kamar dengan Paman Ahmed juga Bibi Lunara. Ketiganya terlihat sedang mengobrol sesuatu yang serius. Sayangnya keseriusan itu terpecah ketika Alzeer tiba-tiba datang dengan nafas yang terengah-engah.
"Kenapa Al?" Tanya Erkan yang kemudian berdiri mendekati Alzeer dan menepuk-nepuk bahunya.
"Bos, sorry. Gue harus pamit." ucapnya setelah merasa baikan.
"Pamit kemana?" Erkan penasaran.
"Alesia Bos, dia ketemu." Mendengar penuturan Alzeer, Paman Ahmed beserta Bibi Lunara ikut berdiri.
"Dimana? Bagaimana keadaannya?" Tanya Erkan lagi dengan sorot mata yang khawatir. Maka Alzeer pun lekas menunjukkan poto Alesia yang sedang tidak berdaya dan keadaan yang tidak memungkinkan.
"Dia di pinggiran kota Bos. Tempat kekuasaan adik Tuan." Alzeer terlihat ragu untuk bicara.
"What's?" Kompak Paman Ahmed juga Bibi Lunara.
"Info ini udah sangat akurat." Lagi-lagi Alzeer terlihat serius.
"Gue ikut." Ucap Erkan tiba-tiba.
"Nggak mungkin." jawab sang paman dan bibi dengan kompaknya.
"Harus. Aku nggak mungkin biarin dia dalam bahaya disana Bi." Kata Erkan yang kemudian duduk.
"Nggak Bos. Sebentar lagi Bos akan melakukan resepsi pernikahan. Jadi tolong fokuslah pada itu semua." Cegah Alzeer.
"Tangan dua lebih baik dari pada tangan satu." Ucap Erkan.
"Tapi itu bahaya Er. Kakekmu bisa aja bunuh kamu disana?" Kata sang Bibi dengan kekhawatirannya.
"No. Alzeer banyak berjasa dikeluarkan ini. Aku akan pulang dengan selamat nanti. Tolong katakan pada Chessy untuk tidak khawatir. Aku pastikan akan pulang sebelum resepsi berjalan." Ucap Erkan yang kemudian pergi bersama Alzeer.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...