
Erkan menoleh pada Alesia yang sedari tadi memang menampakkan wajah bahagianya. Erkan hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pada Alesia, menandakan kalau permintaan maaf dan ucapan terima kasihnya telah dia terima. Mereka pun duduk dan mengobrol.
"Jadi lu mau kembali ke Italia setelah menemukan Alesia dan mengembalikan pada orang tuanya, Al?" Tanya Erkan pada Alzeer dengan wajah serius.
"Iya Bos. Kami akan kembali ke Italia dan segera menikah disana." Jawab Alzeer seraya tersenyum pada Alesia.
"Lu jangan dadakan kalau pergi. Gue bakal blokir bandaranya kalau sampai itu terjadi." Ancam Erkan.
"Haha … tentu saja nggak mungkin Bos. Ben, adikku akan menjemput kami nanti, jadi kami harus tunggu Ben terlebih dahulu. Begitu pesan dari orang tua kami karena mereka khawatir juga terjadi sesuatu saat kami kembali." Jawab Alzeer dan kembali tertawa.
"Anak brengsek itu mau kesini lagi? Hm. Baiklah. Kalau gitu kalian bersenang-senang dulu di Turki, gue harus segera nyusul Chessy sebelum ngambeknya makin menjalar." Alzeer tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti akan apa yang dibicarakan Erkan. Alzeer dan Alesia pun pergi entah kemana, sedangkan Erkan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang …." Panggil Erkan seraya membuka pintu kamarnya. Chessy tidak menjawab, Erkan pun segera menutup kembali pintu itu dan mencari keberadaan sang istri. Ternyata, Chessy sedang berdiri di balkon. "Jangan terlalu lama berdiri Sayang, nggak baik buat ibu hamil. Kita sarapan yuk biar ada isi lagi perutnya." Ucap Erkan seraya memeluk Chessy dari belakang.
"Udah ngobrolnya?" Suara Chessy terdengar ketus.
"Iya, mereka berdua udah menikmati kebersamaan yang terlewati selama dua tahun ini." Jawab Erkan dengan santainya.
"Cih, sok banget mengalihkan perhatian. Padahal kamu suka kan dipeluk cewek bule tadi? Pasti anget dipeluk cewek secantik itu." Chessy masih bernada ketus.
"Haha … Enggalah. Mana mungkin Mas menikmatinya. Kamu sendiri tahukan kalau Mas tadi ngangkat tangan supaya nggak pegang dia? Kalau Mas menikmati pelukannya, pasti Mas balas pelukannya." Kata Erkan berusaha meyakinkan.
__ADS_1
"Eleh, kalau nggak ada aku pasti kamu balas pelukan cewek bule tadi Mas. Laki-laki emang begitu, sok jual mahal." Chessy berusaha melepaskan pelukan Erkan, tetapi gagal.
"Sayang, harus berapa kali Mas bilang sama kamu, kalau kamu itu cinta pertama dan terakhir Mas. Mas nggak akan pernah mendua atau meniga atau apa pun. Suwer. Mana berani Mas." Begitulah Erkan merayu Chessy. Merasa Chessy luluh dengan kata-katanya, Erkan makin mengeratkan pelukannya. "Erkan cuma cinta Chessy." Erkan pun mencium bahu Chessy dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu Mas." Jawab Chessy tiba-tiba dan Erkan langsung membalikkan badannya.
"Sungguh? Apa istriku benar-benar sudah mencintaiku?" Senyum Erkan terlihat licik. Namun, Chessy hanya mengangguk. "Jadi sekarang udah nggak marah lagi?" Ledek Erkan dan Chessy langsung merubah wajahnya dari tadinya manis menjadi jutek. "Haha … Chessy ku …. Semoga kamu sehat selalu." Lalu Erkan mendaratkan ciumannya di kening Chessy.
"Aamiin …." Chessy pun membalas pelukan Erkan.
"Apa sekarang kita bisa sarapan?" Tanya Erkan.
"Entahlah Mas. Aku merasa di masukin makanan juga akan percuma, pasti keluar lagi." Keluh Chessy masih dalam pelukan Erkan.
"Kamu nggak akan paham Mas rasanya seperti apa. Walaupun dipaksa, kalau mual ya pasti muntah lagi, ibu hamil emang begitu." Chessy melayangkan protesnya.
"Iya, tapi kita harus coba ya?" Erkan pun melepaskan pelukannya dan kembali mengajaknya turun untuk sarapan di ruang makan.
Di meja makan, sudah tertata dengan rapi semua jenis makanan yang dimasak oleh Surti dan Mbok Gani. Mereka berdua juga begitu hati-hati dalam memasak karena selera makan Chessy yang tidak tentu.
Erkan menarik kursi dan membiarkan Chessy duduk. Melihat beberapa jenis makanan itu, Chessy sama sekali tidak mempunyai selera makan. Chessy pun memutar bola matanya dengan malas. "Mas, aku nggak ada yang selera dengan semua ini. Aku mau tidur lagi aja deh," Chessy hendak berdiri tetapi Erkan menggelengkan kepalanya dan Chessy tahu jika Erkan melarangnya berdiri.
__ADS_1
"Nyonya, Surti tadi buat nasi uduk khas negara kita. Surti pikir Nyonya akan suka sarapan Nasi uduk." Surti mengambilkan satu centong nasi uduk beserta orak-arik tempe sedikit, benar-benar khas orang Indonesia.
Mencium bau dari nasi uduk yang cukup menggugah selera itu, Chessy pun menarik piring pemberian Surti dan meletakkannya di atas meja. Chessy melirik Erkan dan ternyata dia sedang memperhatikannya. Masih dengan rasa malas, Chessy terpaksa menyuapkan satu sendok nasi uduk itu ke dalam mulutnya. Chessy mengunyah pelan nasi yang ada di dalam mulutnya dan kemudian menelannya. Lumayan, hingga sedok yang kelima, tiba-tiba Chessy merasa mual kembali dan lari menuju closed yang tak jauh dari meja makan.
"Huek … uhuk … huek …." Erkan masih dengan sabar memijat tengkuk Chessy. "Aku udah bilang Mas, jangan paksa aku buat makan." Chessy terlihat kesal karena kini mulutnya terasa sangat pait.
"Sayang, apa kita harus ke Dokter?" Tanya Erkan tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Udahlah, aku mau tidur aja." Chessy menepis tangan Erkan dan ingin kembali ke dalam kamarnya.
"Ches, kamu baik-baik aja?" Sapa Sylia yang sejak tadi melihat keadaan Chessy dari kejauhan. "Aku khawatir Ches, ada yang bisa aku bantu nggak?" Dari sorot matanya, Sylia memang terlihat sedih. Chessy pun menghampiri Sylia dan kemudian memeluknya.
"Kamu nggak mual muntah kayak aku kan?" Tanya Chessy masih dalam pelukan Sylia.
"Alhamdulillah, enggak. Aku baru selesai sarapan sama nasi uduk buatan Mbok Gani dan Mbak Surti. Apa kamu perlu periksa ke Dokter lagi Ches, siapa tahu Dokter punya solusinya. Aku bakal temani kamu." Sylia masih mengusap lembut punggung Chessy.
"Nggak perlu Syl, ini hal yang wajar pada bumil. Setelah masuk usia kandungan empat bulan, aku akan semakin membaik dan rasa mual itu hilang dengan sendirinya." Jelas Chessy yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Kok kamu bisa tahu banget hal seperti itu?" Tanya Sylia heran.
"Em …. " Chessy lupa, walaupun dia pernah mengalami hamil itu saat mengandung Rara, tetapi Sylia tidak tahu akan hal itu. "Dasar bodoh, banyak artikel di internet yang menjelaskan hal yang umum dialami oleh ibu yang sedang hamil muda." Chessy mencoba bersikap biasa saja dan bahkan menyentil kening Sylia.
__ADS_1
"Hehe, iya. Maaf ya Ches, aku merasa kamu itu udah pernah mengalami hal yang kamu lakukan sekarang. Seperti hamil ini, entah kenapa aku merasa kalau kamu juga udah pernah hamil, tapi nggak mungkin juga." tutur Sylia sontak membuat Chessy dan Erkan cukup terkejut.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...