Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Kakek Kedua


__ADS_3

Chessy merasa tidak punya lagi kekuatan untuknya berdiri. Bahkan rasa sesak di dada membuat Chessy kesulitan bernapas. Chessy tidak sanggup lagi melihat layar lebar yang menampilkan poto sang suami dengan lumuran darah itu. Chessy hanya bisa menahan tangisnya. Dia tidak mau terlihat lemah karena dia percaya suaminya baik-baik saja.


Chessy hampir saja ambruk ke lantai saat dia mencoba sekeras mungkin untuk berdiri tegak. Namun, Mama juga sahabatnya dengan sigap menangkap tubuh Chessy yang lemah itu dan membawanya duduk kembali di kursi pelaminan.



Suasana yang tadinya tenang, berubah gaduh seketika. Chessy tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena Chessy juga tidak mau tahu apa-apa lagi. Chessy hanya ingin suaminya itu kembali dalam pelukannya, bukan seperti dalam sebuah photo yang menunjukkan ketidakberdayaan sang suami bahkan mata yang tertutup. Tiba-tiba rasanya Chessy menjadi tuli saat itu. Dia tidak mau mendengar apa pun, kecuali kalimat yang mengatakan jika laki-laki di layar lebar itu bukanlah suaminya.


"Sayang, kamu harus kuat." Bu Dewi kini ikut duduk di sisi sang anak yang terlihat jelas dirinya sangat rapuh saat ini. Chessy bahkan benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan sang Mamah karena panca inderanya tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik.


"Chessy, aku yakin Tuan nggak pa-pa. Bisa aja itu hanya sebuah foto atau bisa juga itu cuma editan." Sylia juga duduk di sisi Chessy untuk menguatkan sang sahabat. Kali ini Chessy mendongak dan menatap sorot mata Sylia yang penuh harap. Benar, Chessy berharap apa yang Sylia katakan itu adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang memang kalau foto itu adalah sebuah editan. Chessy mulai menguatkan dirinya.

__ADS_1


Kakek dan Bibinya terlihat sedang membicarakan hal serius. Sedangkan sang Paman sedang memangku Aylin di sebuah sofa karena Aylin pingsan setelah melihat foto Erkan penuh dengan darah. Chessy masih beruntung tidak pingsan seperti Aylin.


Suara tangisan kini terdengar di telinga Chessy. Mereka yang menangis rata-rata adalah seorang perempuan. Entah mereka sudah bersuami atau belum Chessy tidak peduli sama sekali. Namun, Chessy memberanikan diri kembali menatap wajah di foto yang masih terpampang jelas walaupun lampu di ruangan itu telah dinyalakan beberapa saat lalu.


"Mas, aku yakin kamu nggak kenapa-kenapa. Aku yakin kamu nggak akan ninggalin aku begitu saja. Aku akan menunggumu Mas. Aku tahu kamu orang yang kuat walaupun terkadang kamu menyebalkan, tapi aku yakin nggak akan terjadi hal buruk padamu." Gundam Chessy yang kemudian menyeka air matanya.


Di sela kegaduhan itu, terdengar suara tawa yang begitu menggelegar. Bagaimana bisa orang itu malah tertawa sedangkan banyak diantara para tamu yang hadir itu sedang bersedih.


Itulah yang Chessy dengar saat tiba-tiba ada seorang laki-laki yang cukup gagah walaupun ada beberapa helai rambutnya yang telah memutih. Laki-laki itu tertawa seraya bertepuk tangan menandakan bahwa dirinya sedang puas. Seperti seorang yang sedang menonton sebuah pertunjukan.


"Fuckk … you Aksan." Kini Chessy menoleh pada sang Kakek yang sedang menatap laki-laki yang terus tertawa itu dengan tatapan yang penuh kemarahan. Begitu juga dengan Bibi Lunara.

__ADS_1


Aksan adalah adik kandung dari Kakek Ahsan, yang artinya itu juga adalah Kakek Erkan. Chessy ingat jika sebelum berangkat, Chessy diberitahu jika Erkan sedang berada di daerah kekuasaan adik sang Kakek, artinya adalah laki-laki yang sejak tadi sibuk tertawa adalah Kakek keduanya.


"Erkan is dead. Haha …." Chessy menatap tajam Kakek Aksan yang mengatakan jika Erkan telah meninggal. "So, give me something. Give me all the money and make me a rich man, here! Haha …." Chessy benar-benar ingin membungkam Kakek Aksan saat ini. Tangannya mengepal kuat dengan mata yang membara penuh api kebencian.


Chessy sekuat mungkin berdiri. Tangannya mengangkat gaun pengantin agar tidak terinjak-injak. Chessy melangkah mendekati Kakek Aksan dan sesaat kemudian kakinya melayang ke sebuah benjolan di antara kedua kaki Kakek Aksan. Sibuk dengan kesenangannya, Kakek Aksan bahkan tidak tahu jika Chessy sedang mendekatinya dan tiba-tiba melayangkan sebuah tendangan di senjata pusaka ya itu.


"Kembalikan suamiku. Dasar Kakek nggak punya hati dan jantung, nggak bermoral. Biadabb … aku nggak akan pernah memaafkanmu walaupun kamu sedang sakaratul maut." Teriakan Chessy membuat Bibi Lunara menyunggingkan bibirnya. Sang Bibi pun menghampiri Chessy dan memeluknya agar Chessy merasa tenang.


"Siall … wanita nggak tahu diri." Pekik Kakek Aksan.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2