Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Pilihan


__ADS_3

"Oh … menantu cantikku …. Akhirnya kita bisa bertemu," Sapa Bibi Lunara menyambut Chessy yang turun dari tangga. Sang Bibi juga memeluk Chessy cukup lama dan tentunya dengan penuh kasih sayang. "Sungguh perfect menantuku ini," Puji sang Bibi setelah melepaskan pelukannya.


"Assalamu'alaikum Bi, ini pertemuan pertama kita. Tapi, Chessy kenapa merasa kita udah pernah bertemu sebelumnya ya?" Chessy tersenyum sangat manis membalas sapaan sang Bibi.


"Wa'alaikumsalam. Emh, mungkin kita bertemu di kehidupan sebelumnya." Jawab sang Bibi membuat Chessy terkejut.


"Mungkinkah Bibi ini juga mengalami hal yang sama denganku?" Batin Chessy malamun.


"Hei, kok tiba-tiba diem. Jangan dipikirkan. Ayo kita duduk. Itu adalah Pamanmu, panggil aja Paman Ahmed." Bibi Lunara memperkenalkan suaminya. Chessy langsung menyambut hangat tangan sangat paman dan mencium punggung tangannya.


"Semoga kamu bisa segera beradaptasi di Turki ya?" Ucap Paman Ahmed. "Kamu bisa minta apa pun yang kamu mau disini. Kalau Er nggak bisa, bilang sama Paman atau Bibi ya? Jangan pernah sungkan." Lanjutnya.


"Terima kasih Paman. Hm … sayangnya hari pertamaku terlalu buruk Paman. Aku benar-benar merasa sangat buruk hari ini." Chessy pun memulai aktingnya dan mengubah raut wajahnya menjadi wajah seperti seorang yang terintimidasi.


"Why? What wrong Er?" Bibi Lunara terkejut dan langsung menoleh pada Erkan yang sedang duduk. Erkan tertunduk tak mampu menjawab pertanyaan sang Bibi. "Ah, i know. Kamu pasti kumat dengan pekerjaanmu itu. Kenapa baru tiba kamu udah ngecek kerjaan sih Er? Ada Alzeer juga ada Alman." Bibi Lunara pun menggeser duduknya mendekat pada Chessy. "Bibi harap dia nggak keterlaluan sama kamu Sayang, tapi belum Bibi bicara kamu malah udah tahu sikap ngeselin bin nyebelin anak itu. Sudah ya, kali ini maafin Erkan, hanya untuk kali ini aja karena kamu belum tahu bagaimana dia bisa benar-benar gila dengan pekerjaannya, tapi lain kali kalau dia sampe bersikap upnormal lagi sama kamu, bakal Bibi kirim dia ke benua Eropa." Gaya bicara sang bibi benar-benar membuat Chessy ingin tertawa, sayang harus ditahan demi menjaga image-nya.


"Paman juga ada di pihak kamu Chessy. Jadi, karena suasana hati Chessy buruk, Paman hukum kamu." Paman Ahmed menoleh pada Erkan yang sedari tadi tertunduk. Namun mendengar kata hukuman, Erkan menegakkan kepalanya.


"Ya Allah, cobaan datang lagi." Ucap Erkan mengelus dadanya.


"Kamu salah, jadi wajar dong kalau di hukum." Sahut Paman Ahmed.

__ADS_1


"Iya Paman. Erkan memang salah. Erkan belum terbiasa dengan kehadiran Chessy saat Erkan bekerja. Erkan minta maaf." Jawab Erkan membela diri.


"You are stupid boy? not a reason! Dia istrimu Er. Harusnya kamu mengutamakan istrimu terlebih dahulu dan buat dia senyaman mungkin, baru kamu pamit kerja. Pokoknya kamu dilarang bekerja sampai Chessy memaafkanmu dan suasana hatinya benar-benar nyaman disini." Titah sang Paman tidak bisa ditolak Erkan.


"Maaf Paman, Kak Er udah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya. Ada banyak proyek dan dokumen yang harus diperiksa oleh Kak Er sendiri, jadi Nayla rasa Kak Er udah nggak bisa ninggalin pekerjaannya." Tiba-tiba Nayla bersuara.


"Aku setuju sama Nayla, Paman!" Erkan ikut bersuara. Chessy makin geram, padahal hatinya tadi mulai nyaman dengan sikap Paman dan Bibi yang berada di pihaknya. Chessy melirik sinis wanita bernama Nayla itu dan kemudian menoleh pada suaminya.


"Mas! Kamu tinggal pilih aku, atau pekerjaanmu?" Chessy menjawab, tanpa suara tinggi tentunya.


"Silahkan jawab Er," kata Bibi Lunara tersenyum sinis.


"Sayang, Mas mana bisa memilih. Semuanya sama-sama penting." Jawab Erkan.


"Sayang, please! Maafin Mas ya?" Erkan pun beranjak dan bersimpuh di hadapan Chessy.


"Kak Er?" Nayla tiba-tiba bernada tinggi. "Kenapa Kak Er merendahkan diri Kak Er hanya demi istri yang egois seperti dia?" Semua orang tercengang dengan ucapan Nayla.


"Kenapa kamu begitu ikut campur dengan urusan rumah tanggaku Nayla? Apa pekerjaanmu juga mengurus urusan rumah tanggaku? Apa menurutmu sikap suamiku ini sangat rendahan?" Chessy menekankan tiap kata yang dia lontarkan pada Nayla.


"Suami itu kepala rumah tangga. Dia imam keluarga. Harga diri dan martabatnya harus tetap di atas seorang istri." Perkataan Nayla kembali membuat Chessy makin geram.

__ADS_1


"Dek, sudahlah …. Dia istriku, tolong jangan ikut campur dulu jika aku nggak minta pendapatmu." Erkan masih dengan posisinya dan menoleh menatap Nayla yang berdiri tak jauh darinya.


Ada yang membuat Chessy merasa aneh. Benar, tiba-tiba Chessy menyadari jika Erkan memanggil Nayla dengan panggilan "Dek". Chessy masih menahan mulutnya untuk bicara.


"Kak! Aku juga udah kalian anggap bagian dari keluarga ini'kan? Bukannya selama ini suaraku selalu dinomor satukan? Tapi tiba-tiba wanita asing itu datang dan kalian menganggapku apa sekarang?" Nayla menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis. Chessy sendiri bingung, sebenarnya siapa Nayla sampai berani ikut campur dalam keluarganya. "Aku sekarang kalian anggap apa …." Lanjut Nayla dengan suara yang berat karena tangisnya.


"Dek, udah … kamu duduk dan tenanglah." Erkan bernada lembut. Begitu lembutnya hingga Chessy sangat cemburu Erkan bersikap demikian dengan wanita lain.


"Dek ... Dek … Dek terus, sebenarnya siapa dia Mas yang sejak tadi kamu panggil dengan kata 'Dek'. Sedangkan kamu saja panggil aku dengan sebutan nama." Chessy hampir tidak bisa menahan amarahnya. Rasa yang meluap-luap hampir sama seperti saat dimana dia mengetahui perselingkuhan antara Devan dan Sylia.


"Sayang … kamu juga tenang ya? Ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan," Erkan mencoba meraih tangan Chessy dan karena amarahnya, Chessy kembali menepis tangan Erkan. Kali ini Erkan benar-benar dibuat bingung.


"Kak Chessy, maaf. Sepertinya disini aku yang menjadi penyebab pertengkaran ini," Aylin tiba-tiba angkat bicara dan kedua bola matanya tengah berkaca-kaca karena menahan cairan bening untuk jatuh di pipi.


"Erkan … saatnya kamu harus bersikap tegas. Kamu harus buat keputusan secepatnya," Paman Ahmed pun angkat bicara karena tidak kuasa melihat Aylin yang tiba-tiba menyalahkan diri.


"Kak Erkan … aku Nayla Kak, aku yang selalu ada untukmu selama ini Kak. Aku … aku Kak … aku … apa kamu akan mengabaikanku Kak?" Nayla benar-benar menunjukkan wajah yang begitu sedih serta terpukul saat ini. Chessy makin muak melihat sikap Nayla itu.


"Mas … kamu pilih aku yang baru masuk dalam kehidupanmu ini, atau dia?" Chessy menunjuk Nayla dengan jari telunjuknya.


"Kak Chessy … jangan buat pilihan sulit untuk Kak Erkan. Kamu cuma wanita yang baru masuk dalam kehidupan Kak Erkan. Jangan sok jadi wanita paling berharga di hidupnya. Dia pasti menikahimu karena terpaksa, bukan karena cinta. Jadi …." Nayla menghentikan perkataan saat tiba-tiba sebelah pipinya terasa begitu panas.

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2