Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Shalat Berjamaah


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Chessy merasa kedinginan dan menarik selimutnya, tetapi beberapa saat kemudian Chessy merasa kedinginan lagi. Sudah ke tiga kalinya Chessy menarik selimutnya tetapi Chessy kembali merasa kedinginan. Dirasa ada yang aneh, dengan terpaksalah Chessy membuka matanya. Chessy cukup terkejut melihat Erkan yang tepat berada di depannya dan hanya berjarak beberapa inci saja. Chessy pun langsung bangun.


"Mas … astaghfirullah kenapa kamu jail banget sih. Aku kaget tau. Lain kali jangan sedekat itu. Huh!" Chessy kembali berbaring dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Erkan tak mau kalah dan ikut masuk ke dalam selimut. Tangan Erkan meraba bagian lengan Chessy yang membuat Chessy seketika langsung merinding merasakan sentuhan tangan Erkan. Chessy kembali membuka selimutnya dan duduk menatap sinis suaminya itu. "Kenapa sih Mas? Inikan belum pagi?" Protes Chessy seraya mengacak-acak rambutnya.


"Sholat malam berjamaah yuk?" Jawab Erkan yang masih terbaring dengan senyum manisnya.


"Astaghfirullah, aku nggak pernah sholat jam dua dini hari begini Mas. Sholat sendiri sana, aku masih ngantuk." Chessy hendak melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, tetapi dengan cepat Erkan menggulung selimut itu dan menjatuhkan ke bawah tempat tidur. "Mas … jail banget sih, sumpah aku sebel sama kamu,"


"Bukannya kamu mau jadi hamba yang taat, atau paling enggak ngucap terima kasih karena sudah diberi kesempatan kedua oleh-Nya. Waktu seperti ini adalah waktu yang tepat untuk bicara pada-Nya." Endar bicara dengan sangat lembut seraya mengusap ujung kepala Chessy dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.


"Benar. Gue bahkan belum sempat bilang terima kasih sama Allah. Tapi kan bisa di waktu sholat lain atau sholat lima waktu. nggak dini hari begini. Sholat lima waktu aja masih bolong, dipaksa sholat jam segini. Tapi, nggak ada salahnya." Batin Chessy dan buru-buru bangun dari tempat tidur untuk segera mengambil air wudhu sebelum Erkan melakukan hal aneh lainnya.


Setelah mengambil air wudhu, Chessy merasa segar dan rasa kantuknya seketika hilang. Erkan juga sudah setia menunggunya di depan pintu, tentu saja hanya sekedar untuk mengejeknya kembali. "Cie … Chessy mau sholat tahajud untuk pertama kalinya," Chessy yang tersindir langsung melirik sinis pada Erkan.


"Apa perlu aku ambil lakban Mas?"


"Nggak takut, wekkk …." Erkan menjulurkan lidahnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Chessy memutar bola matanya kemudian menghela nafas panjang. Chessy harus bisa menahan sifat jail suaminya itu. Chessy kemudian menyiapkan peralatan sholat untuknya dan juga Erkan. Setelah beberapa menit, Erkan pun menghampiri Chessy dan memakai sarung serta peci yang tengah disiapkan Chessy tadi. "Istri Sholehahku." Erkan mengedipkan sebelah matanya kemudian segera memulai shalatnya sebelum Chessy kembali melayangkan protes.


Selesai shalat, Erkan membaca dzikir terlebih dahulu sebelum mengajak Chessy untuk mengaji. Chessy merasakan hal yang berbeda malam itu. Suasana hati yang tenang dan damai menyelimuti Chessy, bahkan Chessy belum pernah merasakan perasaan yang begitu nyaman layaknya malam yang dia lalui bersama Erkan. Hatinya tak berhenti mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhannya karena memberikan sebuah kehidupan baru yang kini sangat berharga untuk Chessy lalui.

__ADS_1


Di kehidupan sebelumnya, untuk membaca Alquran saja Chessy tidak punya waktu, jadi saat Erkan mengajak Chessy membaca Alquran, banyak sekali bacaan Chessy yang salah, tetapi Erkan terus mengajari Chessy dengan sabar dan penuh kelembutan. Chessy benar-benar wanita yang beruntung.


"Shadaqallahul Adzim." Ucap keduanya dan menutup Alquran serta merapikan kembali peralatan shalat mereka berdua.


"Masih ada waktu satu jam lebih ke waktu subuh, aku mau tidur lagi Mas. Untungnya aja ini weekend, jadi nggak buru-buru mau berangkat sekolah juga. Aku mau bangun telat dikit lah." Chessy langsung berbaring di tempat tidur dan menarik selimutnya. Tak ada jawaban dari Erkan, melaiinkan hanya sebuah senyuman tipis. Erkan tak mengganggu atau pun mengejeknya, tetapi malah membuka laptop untuk melakukan sesuatu.


Tepat pukul lima pagi, Erkan membangunkan Chessy dengan cara mengusap keningnya hingga ujung kepala Chessy beberapa kali, tanpa suara. Chessy merasa sangat disayang dan diperhatikan jika Erkan melakukan hal itu, bukannya bangun, Chessy malah menenggelamkan kepalanya di ketiak Erkan untuk mencari kehangatan. "Oo jadi istriku nggak mau bangun ya?"


"Entah kenapa begitu nyaman dengan posisi ini. Aku nggak pernah merasakan perasaan senyaman ini Mas. Baru satu malam sama kamu, rasanya begitu bahagia. Apa kebahagiaan ini akan terus aku dapatkan?" Ucap Chessy tanpa mengubah posisinya dan membuka matanya.


"Aduh aku jadi terharu. Insya Allah Sayang, aku akan terus memberikan rasa nyaman dan kebahagiaan untukmu. Tapi sekarang kamu harus bangun untuk shalat dan buatin aku sarapan." Erkan mencubit pipi Chessy dan Chessy pun membuka matanya. Sosok tampan dengan baju Koko putih panjang dan masih mengenakan peci bundar berwarna senada dengan bordiran khas dan sarung salur hitam membuat Chessy tersenyum menatapnya.


"Aku suka liat kamu senyum dan aku juga suka liat kamu uring-uringan." Jawab Erkan diikuti senyuman manisnya.


"Bisa aja sih jawabnya." Chessy langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. "Loh kok kamu masih duduk manis di tempat tidur sih Mas? Udah shalat?" Tanya Chessy yang heran melihat Erkan masih duduk di tepi ranjang.


"Belum, kamu siap-siap dulu ya. Mas mau ambil wudhu lagi." Erkan pun masuk kembali ke kamar mandi.


"Bukannya tadi udah whudu?"

__ADS_1


"Ya udah, tapi karena nggak tahan pengen pegang kamu, jadi Mas harus wudhu lagi dong." Keduanya pun kembali melakukan shalat berjamaah.


_________________


"Wah, kayaknya enak nih masakan pengantin baru," Bu Dewi mencolek sebelah pipi Chessy yang masih sibuk dengan masakannya di atas kompor.


"Mah, jangan usil deh." Keluh Chessy yang tak mengalihkan pandangannya.


"Anak Mamah kenapa udah dewasa sih. Jago masak lagi, ya ampun Mamah bahagia banget rasanya."


"Mah, Chessy juga bahagia kalau Mamah bahagia."


"Apa nggak sebaiknya kedua Kakakmu di kasih tahu sekarang? Takutnya mereka berdua marah sama Mamah nanti."


"Iya Mah, suruh aja mereka kesini. Hari ini juga weekend."


"Oiya, Mamah udah lama loh nggak liat Sylia, bahkan kamu nikah aja nggak ada. Apa kalian berantem lagi? Apa kamu nggak kasih tahu dia?"


"Udah Mah, mungkin Sylia lagi sibuk sama keluarganya. Biarin aja ya. Biar Sylia hidup mandiri juga dan nggak bergantung terus sama keluarga kita. Doakan saja yang terbaik buat dia." Mendengar jawaban anaknya, Bu Dewi tak angkat bicara lagi dan membantu Chessy menyiapkan menu sarapan. Walaupun begitu, Chessy juga masih sangat ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya lamanya itu.

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2