
Erkan tentu terkejut sekaligus takut jika ucapan istrinya tidak bisa ditahan lagi. Erkan cukup bingung bagaimana harus menjelaskan dan menyikapi emosi Chessy saat ini. "Nggak Sayang! Itu nggak mungkin." Tegas Erkan dengan nada datar.
Bibi Lunara juga ikut kecewa dengan sikap Erkan yang meninggalkan Chessy dalam keadaan pingsan demi Nayla. Walaupun alasannya demi menyelamatkan atau desakan, tetap saja bagi sang Bibi sikap itu masih salah.
"Bibi pikir kamu akan sulit menerima Chessy saat kalian udah nikah karena kami memaksamu menikahi Chessy, tapi nyatanya Chessy yang akan kesulitan menerima sikapmu baby Er." Bibi Lunara pun duduk mendekati Chessy. "Bibi akan dukung apa pun keputusanmu. Bibi nggak bisa mencegah dan Bibi nggak bisa melarang. Kamu mau kembali ke Indonesia juga terserah kamu. Maaf, Bibi belum bisa jadi keluarga yang baik buat kamu," sang Bibi pun memeluk Chessy.
Erkan memaksa untuk bisa duduk di dekat Chessy dan menggenggam erat tangannya. "Mas mohon Sayang … dengerin dulu ya? Kasih Mas kesempatan buat jelasin semuanya. Mas bener-bener nggak ada maksud apa-apa Sayang. Mas tadi emang pergi ke rumah sakit buat liat keadaan Nayla karena memang begitu mendesak Sayang, tapi kamu jangan mikir macem-macem. Mas kesana buat tegasin Nayla kalau apa pun yang terjadi, Mas nggak pernah menikahinya. Mas bersumpah Sayang. Kamu … itu kamu bisa tanya Alzeer, atau Alman. Dia juga ada disana. Mas hanya mencintaimu Sayang. Sungguh!" jelas Erkan.
"Buslitt …. Kamu gila ya? Jangan mikir macem-macem? Hah … setelah semua yang kamu lakukan, kamu bilang jangan pikir macem-macem? Kamu lupa Mas dengan apa yang udah aku alami? Ini bukan yang pertama kalinya kamu lebih membela perempuan bernama Nayla itu dari pada aku, istri sahmu." Chessy menepis tangan Erkan sekuat mungkin agar terlepas dari genggamannya. Jangankan untuk disentuh, kalau bisa Chessy tidak mau lagi bertemu dengan laki-laki bernama Erkan.
Tentu rasa sakit yang Chessy rasakan di kehidupan sebelumnya masih berbekas walaupun pada kenyataannya Sylia sudah berubah dan Devan mendapatkan hukumnya juga, entah hukuman itu benar-benar Devan jalani atau tidak, tetapi Chessy tidak peduli asalkan dia tidak bisa bertemu dengan Devan lagi. Bahkan, Chessy sudah menceritakan semuanya pada Erkan tentang kehidupannya bersama Devan juga Sylia, tetapi sayang sekali apa yang dia ceritakan tidak membuat Erkan memegang ucapannya, itu menurut Chessy.
Namun rasa trauma itu juga sulit untuk pergi begitu saja. Di dalam ruang kamar yang megah itu, hanya Erkan yang tahu jika Chessy datang dari masa depan yang diberi kesempatan kedua untuk merubah takdir hidupnya. Bagaimana Chessy bisa mengungkapkan rasa trauma dan rasa khawatir serta ketakutan pada mereka yang peduli dengannya. Bagaimana bisa Chessy menceritakan itu semua. Antara takut kehilangan laki-laki yang baru saja dia cintai dan rasa trauma yang dia alami. "Semua laki-laki itu brengseek. Aku benci kamu Mas …." lanjut Chessy.
"Paman nggak brengsseek kok Ches," sahut Paman Ahmed.
__ADS_1
"Papah juga enggak Ches, kamu harus inget Papah juga Kak Rakha dan Kak Rikho. Mereka nggak brengseek kayak suamimu." sahut Sylia.
"Ya, selain mereka." ucap Chessy tanpa expresi.
"Bisa-bisanya kalian malah bercanda di tengah situasi seperti ini," ujar Aylin. "Udah Kak Chessy tenang dulu ya. Coba Mam biarin Kak Chessy ngomong berdua dulu,"
"Sayang, sumpah. Kamu tanya Alzeer ya? Al … sini Al …." teriak Erkan menggema di ruangan itu. Sayangnya Alzeer ada di dapur sedang mencari makanan karena merasa lapar, jadi dia tidak mendengar panggilan Erkan.
"Nggak usah bawa-bawa orang lain untuk menutupi kebohonganmu Mas. Pokoknya aku mau pulang ke Indonesia sekarang juga. Ayo Syl, kita pergi dari negara ini." Chessy pun beranjak dan menggandeng tangan Sylia.
"Chessy … jangan gegabah," cegah Sylia melepaskan tangan Chessy.
Beberapa saat kemudian kamar itu sunyi tanpa suara. Chessy hanya mendengar deru nafas Erkan yang masih memeluk dari belakang. "Keputusanku sudah bulat. Tolong … kembalikan saja aku ke Indonesia, kembalikan sjaa aku pada orang tuaku, Mas. Aku nggak mau tinggal disini. Aku nggak mau mengulang kisahku. Aku bener-bener nggak mau. Sebelum kita punya anak, sebaiknya kita sampai disini, Mas," ucap Chessy lagi tanpa bergerak dalam dekapan Erkan.
Erkan membalikkan tubuh Chessy dan mendekapnya lebih dalam. Chessy pun menangis. "Menangislah Sayang, menangislah sepuasmu. Aku tahu apa yang kamu khawatirkan dan kamu takutkan. Tolong … percayalah kalau aku hanya mencintaimu seorang. Aku sungguh-sungguh atas sumpahku. Aku nggak akan pernah menduakanmu layaknya Rasulullah yang setia pada Khadijah."
__ADS_1
"Aku bukan Sayidana Khadijah Mas. Aku bukan wanita sekuat beliau. Aku adalah Chessy. Chessy Manohara Putri Ginanjar. Chessy yang hatinya telah hancur, Mas."
"Nggak. Aku akan memperbaiki hatimu itu Sayang. Aku yang akan membuat hatimu kembali utuh seperti sedia kala."
"Aku akan pulang." Chessy hendak mendorong tubuh Erkan, tetapi tenaga Chessy tentu tidak sekuat suaminya dan akhirnya Chessy tidak mampu melepaskan diri dari dekapan Erkan. "Aku bilang aku mau pulang ke rumah orang tuaku, Mas. Lepasin …," ucapnya lagi seraya memukul dada Erkan.
"Sayang …. dengan cara apa aku harus meyakinkanmu. Ayo kita ke rumah sakit. Aku akan buktikan kesetiaanku."
"Lalu kenapa nggak tadi kamu ajak aku ke rumah sakit? Kenapa kamu tinggalin aku yang pingsan? Kenapa kamu nggak tunggu aku sadar? Kenapa …. Aku butuh kamu Mas, tapi kamu malah mengkhawatirkan perempuan lain. Apa itu yang kamu maksud kesetiaan?"
"Aku harus segera kesana karena situasinya darurat Sayang."
"Jadi lebih penting Nayla dari pada aku?"
"Bukan, bukan begitu. Aku mohon kamu mengerti. Nayla mau bunuh diri Sayang, kalau aku nggak segera kesana, kamu mau aku di penjara karena kasus menyebabkan kematian orang? Makanya aku cepet-cepet kesana. Kamu hanya pingsan dan bukan akan mati Sayang."
__ADS_1
"Nggak. Aku nggak peduli alasanmu. Itu alasan yang nggak masuk akal. Aku nggak peduli. Kamu jahat Mas. Kamu jahat." Chessy menangis makin keras seraya memukul Erkan kembali walaupun tanpa tenaga. Erkan segera menggendong Chessy ala bridal style dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Erkan kembali memeluknya, membawanya dalam kehangatan yang mendalam. Chessy mulai tenang dalam dekapan Erkan. "Aku hanya mencintaimu. Berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu Sayang." Erkan mengecup kening Chessy. Beberapa saat kemudian Chessy terlelap karena lelahnya batin dan pikirannya.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...