
"Sayang … Mas minta maaf. Mas terlalu fokus tadi karena memang pekerjaannya begitu rumit dan .... Mas mohon … Mas tadi nggak sengaja, sumpah! Mas bener-bener berani sumpah kalau ... kalau Mas nggak sengaja cuekin kamu." Erkan mengikuti langkah kaki Chessy dan mencoba meraih tangannya, tetapi beberapa kali dia coba, tetep saja di tepis kasar oleh Chessy.
"Oiya? Serumit apa sampe kamu membentakku dan mengabaikanku Mas? Jangan mengucap sumpah serapah, aku nggak butuh. Aku istrimu Mas … istrimu … kamu lupa denganku saat kakimu menginjak ditanah tempat tinggalmu? Jadi begini sifat aslimu Mas? Kamu hanya pura-pura lembut kemaren." Chessy benar-benar tak mau berdekatan dengan Erkan dan berjalan ke sisi lainnya demi menjauhkan diri dari sang suami.
"Sayang … sumpah … aku … aku minta maaf. Mas itu … aku … bener-bener minta maaf. Kali ini aja aku minta maaf ya? Please!" Erkan masih mengikuti kemana Chessy melangkahkan kakinya.
"Aku bilang jangan ikuti aku …." Erkan pun mematung setelah Chessy meninggikan suaranya. "Kenapa saat tiba di daerah kekuasaanmu ini kamu langsung berubah seratus delapan puluh derajat, hah? Dan lagi kamu bela wanita bernama Nayla itu. Aku pikir aku bener-bener punya suami yang sangat sempurna sekarang. Aku kecewa Mas, aku kecewa sama kamu. Pergilah, biarkan aku sendiri. Aku capek, mau istirahat." Chessy bicara dengan nada tinggi karena terlalu kesal mengingat kejadian di mobil tadi.
"Maaf Sayang. Aku … aku memang orang yang gila kerja. Aku bener-bener minta maaf. Sumpah … aku nggak sengaja Sayang. Aku belum terbiasa dengan kehadiranmu saat aku kerja. Sungguh, kejadian di mobil tadi itu aku nggak sengaja, please! Pikiranku selalu tak terkendali saat aku sedang serius dengan pekerjaanku. Cuma Nayla yang paham dengan itu." Erkan tertunduk penuh penyesalan. Sayangnya, dari penjelasan yang panjang lebar itu, Chessy yang mencerna kalimat terakhir.
"Wah … jadi wanita bernama Nayla itu adalah wanita idamanmu Mas? Dia yang paling mengerti kamu kan? Hebat … suamiku memuji wanita lain di hadapanku, sungguh hebat. Lalu kenapa kamu nggak nikahin dia hah? Kenapa kamu berlagak cinta mati sama aku? Ini yang kamu maksud cinta mati? Aku pikir kamu berbeda dari Devan, Mas. Nyatanya kamu juga sama. Ck … Chessy yang bodoh. Ternyata takdirku nggak akan berubah di masa ini. Pergilah … aku mohon, aku ingin sendiri dulu."
__ADS_1
Chessy meninggalkan Erkan. Chessy sangat kesal terlampau kesal. Chessy pun masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan diri. Chessy kembali terkesima saat masuk kamar mandi yang begitu luas itu. "Apa dia ini Sultan sampe kamar mandi aja seluas ini. Ck … bukan saatnya aku mikirin itu. Aku mau berendam air hangat dulu. Bisa gila aku mikirin kejadian hari ini."
Chessy menyalakan keran air hangatnya di bathtub. Ada beberapa parfum juga di sisi bathtub itu. Chessy mencium satu persatu parfum itu dan semua wanginya sangat disukai Chessy. "Ya ampun … wanginya …." Chessy menuangkan parfum itu di bathtub dan menunggu kehangatan airnya sesuai dengan keinginan Chessy. Saat air hangat siap digunakan, Chessy melepaskan semua pakaiannya dan merendam dirinya dengan kehangatan air lalu menenggelamkan pikirannya dalam wanginya parfum yang dituangkan tadi.
Chessy sudah berendam selama tiga puluh menit lamanya. Air di bathtub itu mulai dingin. Chessy bahkan sempat terlelap sesaat tadi, hingga suara ketukan pintu membuat Chessy tersadar. "Kak Chessy … ini Aylin." itu suara teriakan gadis periang yang disukai Chessy sedang sibuk mengetuk pintu kamar mandi. Chessy pun beranjak menyelesaikan mandinya, setelah itu Chessy memakai handuk kimono berwarna putih. Chessy juga membungkus rambutnya dengan handuk kecil berwarna senada.
"Pelayan disini tau banget sih seleraku." Chessy puas dengan apa yang ada di kamar mandi itu. Chessy menghela nafas dan mencoba mengabaikan hari buruknya saat tiba di Turki. "Sudahlah Chessy kamu bisa melewati semua ini. Inget Chessy jangan sampai takdirmu lebih buruk dari sebelumnya." Chessy pun segera membuka pintu dan melihat Aylin sudah ada di depan pintu dengan senyuman manisnya.
"Em, kok aku deg-degan ya mau ketemu mereka." Jawab Chessy memang tiba-tiba jantungnya tidak bekerja dengan normal. Mungkin karena itu adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga Erkan.
"Ah, jangan lebay Kak. Mamy sama Dady tuh udah tahu seluk beluk Kak Chessy dan mereka sangat suka sama Kakak. Mereka juga yang maksa Erkan buat cepet-cepet nikahin Kak Chessy, jadi jangan gugup ya. Aylin jamin Kak Chessy bakal jadi menantu kesayangan yang sayangnya melebihi Erkan si aneh itu." Aylin merangkul bahu Chessy untuk meyakinkannya.
__ADS_1
"Hah? Masak sih? Kenapa kamu punya julukan lain sama Mas Erkan?" Chessy belum percaya dengan perkataan Aylin. Namun Aylin mengangguk-angguk beberapa kali mengiyakan apa yang dikatakannya. "Ah, tapi suamiku buat aku kesal di hari pertamaku di sini. Aku sampai naik darah tadi. Apa itu artinya aku bisa mengadu pada mereka supaya dia dapet pelajaran?" Chessy pun langsung mempunyai ide brilian.
"Right! Kakak akan tahu setelah turun nanti. Kakak juga wajib mengadu pada mereka dan hal itu adalah paling benar dan tepat sekali. Cepet Kakak pakai baju. Aku turun duluan." Aylin menjentikkan jarinya.
"Oke, kalau gitu aku pake baju dulu ya!"
"Waiting for you …." Aylin pun keluar. Chessy kembali menghela nafas panjang dan berjalan menuju ruang ganti baju. Lagi dan lagi, Chessy dibuat takjub dengan satu ruangan itu. Ada banyak baju yang yang menggantung di dalamnya. Luas dan mewah. Desain ruang ganti saja entah kenapa bisa sebagus itu. Chessy celingukan mencari kopernya. Namun Chessy malah memilih baju yang sudah tertata rapi disana. Chessy memilih baju dan menyentuhnya satu persatu. Semua ukuran pas dan semua baju itu baju muslimah dan sesuai dengan selera Chessy.
"Aneh sekali rasanya rumah ini memberikanku sebuah kenyamanan. Semua yang aku lihat begitu menyenangkan dan sesuai dengan seleraku. Apa Mbak Surti yang menyiapkan semua ini. Mungkin saja seleraku dengannya sama." Gundam Chessy dan meraih satu rok panjang dengan kemeja dan hijab pashmina berwarna senada dengan rok. Chessy juga mempoles wajahnya dengan bedak dan lipstik berwarna nude. Di ruangan itu juga terdapat sebuah cermin besar, Chessy berjalan kesana dan menatap dirinya yang begitu cantik. Chessy tersenyum sinis dalam pantulan cermin itu. "Awas kamu, aku akan membuat pelajaran untukmu …." Entah siapa yang dia maksud, tetapi setelah itu Chessy segera turun untuk menemui keluarga barunya.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1