Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
First Kiss


__ADS_3

Chessy menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan. Kehangatan keluarga yang sudah dia tinggalkan tujuh tahun lamanya, kini dia rasakan kembali. Belum lagi perlakuan hangat dari Erkan serta dukungan penuh atas apa pun keputusannya, membuat Chessy makin bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.


Chessy juga begitu lega saat Rakha memberi kabar jika apa yang Chessy katakan itu benar. Akhirnya Rakha putus dengan Loli dan lebih memilih fokus pada pekerjaan dan proyeknya. Bukan hanya Rakha, Rikho yang mendapatkan penjelasan tak masuk akal dari Rakha, membuatnya juga lebih memilih fokus pada pekerjaan terlebih dahulu daripada berpacaran. Kedua Kakak Chessy itu benar-benar percaya jika sang adik adalah wanita indigo. Awalnya Chessy begitu ingin tertawa terbahak-bahak, tetapi itu akan lebih bagus dan lebih bisa diterima oleh akal sehat daripada mengatakan kalau Chessy sudah pernah menjalani kehidupan buruk itu dan kini diberi kesempatan untuk mengubahnya.


Ujiannya telah selesai dan juga berjalan lancar, tentu karena Chessy sudah tahu jawabannya, walaupun itu telah berlalu tujuh tahun lalu. Chessy sempat diinterogasi oleh beberapa guru dan kepala sekolah perihal Sylia yang tidak ada kabarnya. Chessy sendiri bingung karena utusan sekolah bilang Sylia tidak pernah pulang ke rumah pamannya. Namun, setelah itu Chessy tidak mau ambil pusing dan mengabaikan Sylia. "Biarlah Allah saja yang menghukumnya atas apa yang udah dia perbuat," batin Chessy yang mulai melupakan dendamnya.


Langkah kaki Chessy cukup berbeda dari biasanya karena rasa bahagia itu. Chessy sudah pasti tahu kalau suaminya telah menunggu dia di depan gerbang sekolah. Sebelum tiba di gerbang sekolah, Chessy mengatur nafas terlebih dahulu karena tiba-tiba semakin dekat kakinya melangkah menuju gerbang, semakin cepat juga jantungnya bekerja. "Astaghfirullah … lagi-lagi perasaan ini datang. Sepertinya aku benar-benar udah cinta sama suamiku," batin Chessy yang masih mengatur nafasnya.


Benar firasat Chessy kalau Erkan sudah menunggunya dan terlihat begitu cool dengan berdiri dan sandaran pada mobil. Banyak mata yang menatap Erkan, tetapi tentu Erkan tidak peduli dengan tatapan itu. Matanya kini fokus pada wanita dengan rambut panjang yang terurai dan mengulas senyum ke arahnya. Entah kenapa melihat Erkan yang membalas senyumannya, Chessy langsung berlari mendekati Erkan dan memeluk erat tubuh suami yang wanginya begitu maskulin. "Kayaknya seneng banget nih," goda Erkan yang membalas pelukan Chessy.


"Iya dong, aku bisa kerjain semua soal ujian dengan mudah. Pasti aku bakal jadi juara satu," jawab Chessy tanpa melepaskan pelukannya.


"Kamu curang itu karena nyontek." Jawab Erkan mulai iseng.


"Enak aja. Aku bisa ngerjain karena otakku cerdas, huh!" Chessy mulai merasa kesal.


"Ujian udah selesai, boleh bongkar mesin dong." Erkan kembali menggoda Chessy dan kali ini ucapannya itu malah membuat Chessy bete dan melepaskan pelukannya.


"Mesum!" Kata Chessy sinis dan langsung membuka pintu mobil kemudian duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Erkan tertawa puas melihat perubahan wajah Chessy dan menyusulnya masuk ke dalam mobil. Pasalnya, Erkan telah menahan diri dan bersikap baik selama beberapa hari itu supaya Chessy bisa benar-benar fokus pada ujiannya.


"Em, mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang dan masuk kamar, Sayang?" Erkan tak pernah kapok untuk menggoda istrinya itu.


"Mas! Jangan buat aku bete sih! Aku bukan wanita polos yang nggak tahu maksud pikiran mesummu itu ya." Pekik Chessy seraya memukul bahu Erkan.


"Ah benar, sekarang kamu memang belum polos tapi nanti saat di kamar akan Mas buat polos ya?" Erkan semakin menjadi-jadi.


"Mas! Stop it! Nggak lucu ya." Chessy kini mencubit bagian pinggang Erkan dan membuat Erkan mengaduh kesakitan sekaligus geli.


"Aw …. Jangan gitu dong Sayang, kalau ada yang bangun gimana? Mau tanggung jawab kamu buat dia tidur lagi?" masih dengan nada manja, Erkan terus menerus menggoda Chessy.

__ADS_1


"Astaghfirullah Mas, aku pulang jalan kaki ajalah." Chessy kembali menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Yakin? Ah, palingan juga cuma bohongan." Erkan pun menghidupkan mesin mobilnya dan segera melaju sebelum Chessy benar-benar keluar dari mobil itu. "Tuh kan tetep duduk manis di mobil dan bukannya jalan kaki."


"Mas, bisa nggak sih nggak ngeledek terus. Lagian aku harus lompat apa dari mobil? Aku marah aja deh." Chessy membuang muka dan menatap ke luar jendela.


"Dosa loh marah sama suami. Apalagi suaminya ganteng gini. Kalau suaminya dilirik atau ngelirik cewek lain gimana coba? Yakin rela?" Chessy langsung menoleh dan menatap Erkan dengan tatapan sinis. "Tuh lihat banyak cewek cakep di depan sana," Erkan pura-pura senang menatap lurus ke depan dan berhasil membuat Chessy juga mengikuti pandangan Erkan. "Mana ada sih cewek lain yang lebih cakep dari istriku." Erkan menahannya tawanya melihat Chessy yang terus menerus berhasil di olok-oloknya.


"Tau ah kamu jahat." Chessy kembali dengan posisi sebelumnya.


"Kalau suamimu jahat, pasti sekarang nggak akan nyupirin kamu Sayang, melainkan dipenjara. Berarti suamimu ini orang baik dan sangat baik bukan orang jahat Chessy Manohara …." Perkataan Erkan hanya membuat Chessy memutar bola matanya tanpa menoleh lagi. Chessy tahu dia hanya akan mendapatkan ucapan yang membuatnya kesal. "Sayang, kita ke alun-alun dulu yuk? Mas pengen ice cream cincau nih." Erkan mengusap lembut ujung kepala Chessy dengan sebelah tangannya.


"Hm," jawab Chessy singkat tanpa menoleh pada Erkan.


Namun, Erkan langsung menepikan mobilnya dan meraih tengkuk Chessy untuk segera dilahap bibir manis istrinya itu. Chessy yang terkejut mendapati bibirnya dipenuhi bibir Erkan hanya bisa membatu tanpa tahu harus berbuat apa. Erkan tak tinggal diam dan mulai memainkan bibirnya agar Chessy rileks dan mau membalas ciumannya. Perlakuan Erkan itu membuat Chessy mendapatkan rasa aneh dalam tubuhnya dan tiba-tiba terbuai lalu membalas ciuman Erkan. Cukup lama mereka berdua berciuman, hingga suara ketukan di jendela mobil memaksa keduanya untuk segera menghentikan permainan itu.


"Maaf Mas, kalau nggak beli jangan parkir di sini ya? Kasian yang mau beli dagangan saya nggak bisa nanti." Jawab seorang bapak-bapak penjual kaki lima yang warungnya tepat di sisi Erkan parkir.


"Ah, maaf. Tadi istri saya tiba-tiba pusing, jadi saya asal parkir. Maaf ya Pak? Saya permisi," setelah mendapatkan anggukan dari bapak-bapak tersebut, Erkan melaju kembali.


"Kita pulang buat lanjut apa ke alun-alun Sayang?" Pertanyaan Erkan membuat Chessy tersipu malu karena dia tadi menikmati ciuman itu. Entah harus menjawab apa, tetapi Chessy wanita normal yang jiwanya memang bukan gadis polos lagi. Tentu saja Chessy ingin kembali melanjutkan ciuman mereka. "Sayang …." Panggil Erkan.


"Eh … em … terserah kamu, Mas." Chessy langsung memiringkan tubuhnya menatap ke luar jendela karena tak kuasa untuk menatap Erkan.


"Ke alun-alun aja deh," kata Erkan seraya menahan tawanya karena tahu jika istrinya itu sedang malu.


___________


"Emh … manisnya … kayak bibir istriku yang manisnya bikin candu." Erkan menikmati ice cream cincau hijau yang dia genggam seraya melemparkan pandangannya menatap teriknya cuaca di alun-alun itu. Chessy juga terlihat menikmati ice cream itu tanpa memperdulikan kata-kata yang keluar dari mulut Erkan karena dia pasti mendapatkan respon yang akan membuatnya kembali kesal. Bisa jadi malah dia tiba-tiba menciumnya lagi. Chessy pun memilih untuk diam.

__ADS_1


Suasana alun-alun tak cukup ramai siang itu, mungkin karena cuacanya panas dan juga karena bukan hari weekend. Chessy telah menghabiskan ice cream miliknya dan menatap lurus ke depan melihat ada beberapa anak kecil sedang berlarian. Suasana itu mengingatkan Chessy kembali pada anaknya, Rara. Chessy tersenyum menatap wajah-wajah lugu nan polos dihiasi canda tawa itu.


"Kenapa Sayang kok senyum-senyum. Bikin Mas pengen cium kamu lagi kalau semanis itu senyumnya." Seketika Chessy merubah raut wajahnya menjadi wajah jutek. "Yah … ilang." Keluh Erkan penuh kecewa.


"Mas, udah stop ya, kamu godain aku terus. Nggak bosen dari tadi ngoceh nggak jelas gitu." Protes Chessy tetapi membuat Erkan tersenyum dan mengusap kembali ujung kepala Chessy.


"Mas nggak akan pernah bosen Sayang. Mas mencintaimu dan Mas akan terus berusaha membuat kamu bahagia juga mencintai Mas. Cinta mati …." Bisik Erkan dan berhasil membuat Chessy merinding karena hembusan nafasnya.


"Aku bukan bahagia tapi malah kesel kalau kamu ngegombal terus. Padahal kemaren kupingku ini begitu adem karena nggak denger olokanmu itu Mas."


"Ya itukan sengaja biar kamu bisa fokus belajar." Erkan tersenyum seraya menunjukkan deretan gigi yang putih bersih.


"Terserah kamu Mas," jawab Chessy dan membuang muka. Namun pandangannya kini begitu serius karena melihat segerombolan orang yang sepertinya sedang diliputi amarah seraya mengangkat tangan-tangan mereka. "Apa mereka sedang demo Mas?" Chessy memberikan isyarat agar Erkan melihat ke arah kerumunan orang-orang yang Chessy maksud.


"Hm … kayaknya ada yang nggak beres. Mau lihat kesana? Biasanya ada yang habis … em kita kesana aja biar nggak penasaran."


"Beleh. Aku juga penasaran." Keduanya pun berjalan bersama menuju kerumunan orang-orang yang sedang berteriak-teriak tetapi belum jelas untuk Chessy menangkap apa yang diteriaki. Makin dekat makin jelas Chessy mendengar ucapan orang-orang itu.


"Rajam … rajam … rajam …." Begitulah teriakan yang Chessy dengar. Chessy mendekati seorang ibu-ibu dan hendak bertanya apa yang sedang terjadi.


"Ngapunten Bude, enten nopo niki?"


(Mohon maaf Bu, ada apa ini?)


"Itu Lo Cah Ayu ada yang mesum dan ketahuan. Yo diarak kesini." Jawab Ibu itu membuat Chessy mengangkat satu alisnya.


"Mas, ada yang mesum katanya. Penasaran banget wajah orang-orang yang nggak tahu diri siang bolong begini mesum." Chessy menarik tangan Erkan dan mengajaknya mendekati kerumunan itu agar bisa melihat wajah sejoli yang telah berbuat zina. "Astaghfirullah, Mas … itu …."


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2