
Waktu terus berlalu tanpa Chessy sadari jika Erkan belum menemuinya sejak pagi tadi. Chessy merasa bahagia dan dengan senang hati mempersiapkan diri. "Duh anak Mamah cantik banget deh." Bu Dewi membelai jilbab panjang Chessy yang menjuntai hingga menutup dada. Beberapa kali Bu Dewi menatap Chessy dengan senyum bahagia. Gaun pengantin putih dengan jilbab berwarna senada sudah dikenakan oleh Chessy dengan make up natural yang benar-benar membuat Chessy seperti seorang ratu.
Bu Dewi dan Sylia akan menjadi pendamping Chessy nanti. Keduanya juga akan memakai cadar saat acara berlangsung. "Tapi wajah Chessy nanti pake cadar kayak Sylia juga Mamah. Cantiknya kita nggak keliatan deh." jawab Chessy sedikit kecewa.
"Bagus dong," kata Sylia yang sudah membawa cadar untuk Chessy pakai. "Kecantikanmu hanya bisa dilihat oleh suamimu. Jadi nggak umbar kecantikan juga nggak masalah. Biar nggak terjadi fitnah." Lanjut Sylia kemudian membantu memakaikan cadar untuk Chessy.
"Padahal aku istri dari orang ternama loh. Takutnya mereka bakal mikir aku jelek dan cacat karena pake cadar begini." Ucapan Chessy membuat Sylia tiba-tiba terdiam dan terlihat sedih. "Eh, aku nggak maksud buat itu Syl, ma-maaf." Chessy merasa bersalah dengan ucapannya.
"Enggak kok. Aku tahu semua wanita bercadar itu menutupi wajah cantiknya, kecuali aku yang menutupi wajah cacatku." Sylia terlihat menyipitkan matanya menandakan bahwa dia sedang tersenyum. "Udah selesai. Kamu masih tetep terlihat cantik dan anggun walaupun pakai cadar." Sylia pun berlalu dengan terburu-buru.
"Mah, aku bener-bener nggak maksud buat Sylia tersinggung begitu." Chessy makin merasa bersalah karena ucapannya tadi.
"Iya, Mamah tahu. Mamah yakin Sylia juga nggak pa-pa." Bu Dewi menghibur Chessy.
"Kalau nggak pa-pa, kok Sylia pergi gitu aja Mah. Aku makin nggak enak Mah."
"Udah jangan terlalu dipikirkan. Sylia kan bukan orang yang seperti itu sekarang."
"Tapi Mah, kok Chessy nggak liat Mas Erkan sejak tadi pagi ya. Mamah tahu?" Chessy merasa ada yang tidak beres karena acara resepsi pernikahannya hanya tinggal beberapa menit lagi, tetapi Chessy tidak melihat Erkan sama sekali. Bahkan hanya untuk bertanya apakah sudah siap atau belum.
"Iya. Mamah juga belum lihat Erkan. Mamah turun dulu ya cari tahu." Bu Dewi pun turun untuk mencari keberadaan Erkan.
Chessy kini sendirian di kamarnya. Mua yang membantu make up dan mengantar gaun pengantinnya telah pergi sejak tadi. Sylia juga pergi karena menurut Chessy dia tersinggung dengan ucapannya. Chessy merasa tidak enak hati juga entah kenapa punya rasa yang cukup mengganjal. "Apa terjadi sesuatu dengan Mas Erkan?" Chessy berdiri di dekat jendela menatap kebawah tetapi masih tertutup oleh gorden putih. Chessy cukup lama berdiri disana.
"Ches, Chessy … ada kabar nggak enak." Sylia tiba-tiba masuk ke kamar Chessy dengan napas terengah-engah karena buru-buru menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Kabar apa Syl? Kenapa kamu buru-buru sekali?" Chessy langsung menghampiri Sylia dan menggenggam tangannya.
"Tadi aku kan kebelet, makanya buru-buru keluar. Nah di bawah aku denger Bibi sama Paman lagi teleponan kalau Tuan Erkan nggak ada kabarnya."
"Maksudnya apa Syl?"
"Jadi tadi pagi suamimu pergi sama Kak Alzeer yang katanya udah nemuin posisi Alesia."
"Siapa Alesia?"
"Aku juga nggak tahu, sebaiknya kamu ikut turun dan bertanya sama Paman dan Bibi." Chessy pun menurut dan keluar dari kamarnya untuk menemui sang paman dan bibi.
Di ruang keluarga, terlihat Mamah sedang menangis dengan memeluk Papahnya. Sedangkan Rakha dan Rikho terlihat terkejut dengan kedatangan Chessy. Begitu juga dengan Paman Ahmed dan Bibi Lunara. Aylin juga sedang menangis disana. Chessy melihat ada dua orang asing yang rambutnya telah memutih sempurna salah satunya, dan satunya lagi memakai jilbab dan terlihat tak kalah tua juga, sedang berdiri menghadap semua orang di sana. Wajahnya cukup tegang. Chessy mengira jika itu adalah Kakek dan Nenek yang Erkan ceritakan sebelumnya.
"Ka-kalian kenapa?" Chessy melangkah dengan beratnya mendekati semua orang yang terlihat sedih itu.
"Kita akan ke gedung resepsi terlebih dahulu. Masih ada waktu untuk Erkan kembali. Jangan ada yang berpikir buruk tentang cucuku. Aku yakin dia akan baik-baik saja." Ucap Kakek tua itu yang membuat Chessy makin penasaran dengan apa yang terjadi.
"Memang ada apa? Kenapa kalian terlihat sedih? Kemana Mas Erkan? Apa yang terjadi? Jelaskan!" Chessy cukup meninggikan suaranya.
"Sayang … Chessy. Erkan memaksa pergi untuk mencari Alesia. Tapi sampai saat ini belum kembali." Bibi Lunara mendekati Chessy dan merangkulnya.
"Siapa Alesia?" Chessy kembali bertanya dengan suara beratnya.
"Dia tunangan Alzeer yang diculik oleh sekelompok mafia sejak dua tahun lalu. Alzeer tadi mendapatkan kabar kalau Alesia ketemu, tapi di daerah kekuasaan adik dari Kakek." jawab seorang laki-laki tua yang dianggap Kakek Erkan.
"Jadi, Mas Erkan sedang dalam bahaya? Begitu maksudnya?" Chessy merasa jantungnya berhenti berdetak mendengar kabar jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kita harus positif thinking. Erkan bukan laki-laki lemah. Terlebih lagi ada Alzeer dan beberapa orang yang pergi bersamanya. Kakek juga sudah mengirimkan orang-orang lagi untuk mencari keberadaan mereka. Kita akan ke acara resepsi terlebih dahulu karena sudah banyak orang yang menunggu. Luna, bawa Chessy masuk ke mobil." Kakek itu pun pergi bersama Nenek.
"Chessy, kamu harus ikuti ucapan Kakek. Kita akan pergi kesana terlebih dahulu dan menunggu Erkan disana. Kamu jangan berpikir yang macam-macam dulu ya?" Bibi Lunara pun memeluk Chessy. Entah apa yang harus dikatakan. Chessy hanya mengikuti langkah kaki sang Bibi yang memapahnya menuju mobil pengantin.
Sylia juga Bu Dewi ikut dan duduk bersebelahan dengan Chessy. Sedangkan Paman Ahmed dan Bibi Lunara juga Aylin di mobil terpisah. Pak Ginanjar dan juga kedua Kakak Chessy tinggal di rumah sesuai rencana karena datang sebagai tamu juga akan mencurigakan.
Sepanjang perjalanan itu, Chessy tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tatapan terus tertuju pada bunga yang dia pegang. "Sayang, Mamah yakin nggak akan ada apa-apa." Bu Dewi kemudian menggenggam tangan Chessy dan melemparkan senyuman manis dibalik cadarnya. Chessy ikut tersenyum tipis.
"Syl, apa suamimu nggak tahu apa-apa? Coba kamu hubungi dia Syl," pinta Chessy pada Sylia.
"Sejak satu jam lalu Kak Alman nggak bisa dihubungi Ches. Sebenarnya aku juga khawatir jika dia ikut mencari Tuan. Cuma kayaknya nggak mungkin karena tanggung jawab dia di sana. Bisa jadi dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya." jawaban Sylia tidak membuat Chessy merasa lega. Lagi-lagi pikiran Chessy dibuat kacau.
Tiba di tempat, Chessy sudah disambut oleh segerombolan orang yang Chessy yakini kalau itu adalah wartawan. Namun, banyak laki-laki dengan setelah serba hitam yang menghadang orang-orang itu. Chessy pun turun di dampingi oleh Bibi Lunara dan Aylin. Mereka memasuki gedung mewah yang tengah dihiasi banyak bunga juga aksesoris yang indah.
Chessy cukup takjub sesaat melihatnya, tetapi seketika Chessy kembali sedih karena bukan Erkan yang ada disisinya. Chessy masih terus berjalan dan melewati beberapa orang dengan tampilan yang tidak biasa bagi Chessy. Semua yang ada di ruangan itu pasti orang-orang penting dan petinggi-petinggi yang bekerja sama dengan perusahaan.
Ada banyak omongan yang Chessy dengar, hanya saja Chessy tidak tahu mereka bicara apa. Mungkin mereka mencari sosok Erkan juga. Bibik Lunara terus memapah Chessy hingga tiba di sebuah kursi pengantin di atas panggung megah yang belum pernah Chessy impikan selama ini.
Chessy pun duduk bersama dengan sang Bibi. Bu Dewi dan Sylia duduk di sisi lain bersama dengan Aylin. Kemudian Kakek tengah berdiri di atas panggung dengan memegang mikrofon. Sepertinya akan mengumumkan sesuatu. Sayangnya Chessy tidak tahu arti kata demi kata yang diucapkan sang Kakek. Jika sedang bicara bahasa Inggris, barulah Chessy paham. Tetapi, bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki asli yang lebih dominan ke bahasa Arab.
Sambutan sang Kakek pun selesai dan mendapatkan tepuk tangan yang begitu meriah disana. Chessy benar-benar seperti orang asing di panggung itu yang tidak tahu menahu apa yang harus dia lakukan. Namun, biasanya pengantin itu kan memang hanya cukup duduk saja dan menyapa tamu undangan, jadi Chessy hanya duduk diam dan menikmati suasana di ruangan itu.
Lampu tiba-tiba mati dan ruangan menjadi gelap gulita. Namun yang Chessy herankan, tidak ada suara teriakan atau keterkejutan di ruangan itu. Sepertinya akan ada sesuatu hal yang ditunjukkan lewat layar lebar. Benar saja apa yang dipikirkan Chessy. Tak jauh dari panggung, ada sebuah layar lebar yang tampak jelas menampilkan foto seorang laki-laki dengan celana hitam dan baju kemeja putih yang dimana warna putih itu menjadi warna merah. Wajah laki-laki itu juga penuh dengan darah.
"Ma-Mas. Mas … Mas Erkan." Chessy seketika langsung berdiri dan meneteskan air matanya. Bu Dewi serta Sylia langsung menghampiri Chessy.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1