
"Sayang … kamu kenapa? Erkan sangat panik dan segera mengangkat tubuh Chessy lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Erkan mengambil ponselnya dan melihat nama Alman disana. Panggilan itu masih terhubung.
"Hallo Al, ada apa? Kamu bicara apa sampai istriku pingsan?" Erkan sangat marah.
"Ah Bos tadi bukan lu yang angkat?" Alman terkejut.
"Cepet ngomong, ada apa?" Seru Erkan.
"Nayla Bos … Nayla histeris dan bawa pecahan kaca sambil teriak nama lu Bos. Lu harus cepet kesini. Bu Belle yang minta, bahkan marah-marah," jawab Alman.
"Sialan …." Erkan langsung melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan kembali menghampiri Chessy yang terbaring. "Sayang, maafin Mas. Kamu pasti syok dan berpikir bahwa semua yang kamu khawatirkan akan terjadi kan? Enggak Sayang, enggak. Mas janji kalau di kehidupanmu yang sekarang ini, kamu akan bahagia Sayang. Mas harus pergi sebentar untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Mas akan minta Sylia untuk menjagamu Sayang. Maaf!" Erkan mengecup kening Chessy dan segera berganti pakaian kemudian buru-buru menuruni anak tangga.
"Sylia …." teriakan Erkan begitu menggelegar di ruangan itu. Sylia yang mendengar namanya dipanggil segera memakai cadarnya dan keluar dari kamar.
"Kenapa Tuan?" tanya Sylia menghampiri Erkan di ujung tangga.
"Tolong kamu jaga istriku. Aku harus pergi. Panggil Surti juga Mbok Gani untuk membantu. Aku juga akan telepon Bibi dan Aylin nanti. Jika Chessy sadar, katakan padanya jangan khawatirkan apa pun." Ucap Erkan dan segera pergi bersama Alzeer.
"Kalau sadar? Jadi Chessy pingsan? Astaghfirullah … Sylia segera menaiki tangga, sebelum sampai kamar Chessy, Sylia terlebih dahulu memanggil Surti juga Mbok Gani.
____________
"No! I need Erkan. Only Erkan, not the other." Nayla masih berada di sudut ruangan. Dia telah sadar dari komanya beberapa menit yang lalu dan menyadari jika dia masih selamat. Nayla koma karena terjun ke sungai untuk bunuh diri. Beruntung saat itu ada warga sekitar yang melihat dan langsung menolongnya. Kini Nayla sedang memegang sebuah pecahan gelas dan telah menggoreskannya beberapa kali di pergelangan tangan. Walaupun ada cucuran darah, Nayla tidak merintih kesakitan sama sekali.
__ADS_1
"Sayang … Nayla. Kita bicara baik-baik. Jangan menyakiti dirimu Sayang. Allah tidak suka hamba yang menyakiti dirinya sendiri." ucap Pak Naveen menenangkan, tetapi masih gagal. Sedangkan Bu Belle ikut histeris melihat keadaan anaknya. Ruang rawat itu begitu gaduh.
Nayla tidak peduli sama sekali dengan perkataan orang-orang disana. Nayla juga melepaskan jilbabnya dan kini mengarahkan pecahan gelas kaca itu ke lehernya. "Jika Kak Erkan mau menikahi Nayla, maka Nayla akan hidup Pi." Leher Nayla sudah terlihat ada goresan merah karena pecahan kaca itu ditekan olehnya, bahkan tangan Nayla yang memegang pun mengalir darah segar disana.
"Stopped Nayla!" Bentakan Pak Naveen hanya membuat Nayla tersenyum sinis. "Kamu harus terima kenyataan jika Erkan nggak cinta sama kamu. Papi udah bilang berkali-kali. Ada Alman yang nggak kalah baik sama Erkan." Lanjut Pak Naveen.
"Iya Nayla. Kita bisa bicara baik-baik. Ini bukan cara yang benar." sambung Alman.
"Papi … tinggal turuti saja kemauan anakmu, atau Papi lebih rela Nayla pergi?" Teriak Bu Belle.
"Assalamu'alaikum …." Erkan masuk ke ruangan itu. Seketika semua orang menjawab salamnya.
"Wa'alaikumsalam. Kak Erkan!" Nayla berbinar melihat Erkan datang dan meregangkan tangannya yang tadi dia tekan ke lehernya.
"Mom? Are you crazy?" Teriak Pak Naveen dan segera menjauhkan tubuh istrinya dari Erkan.
"No! Nggak ada seorang ibu yang mau melihat anaknya mati di depan mata Pi." Bu Belle menepis kasar tangan sang suami. "Er, ibu mohon tolong turuti mau Nayla. Dia juga sangat berjasa padamu Er. Keluarga kami berjasa. Tolong balas jasa itu dengan menikahi Nayla Er, ibu mohon …." Bu Belle kembali meraih tangan Erkan.
"Kak Erkan … Kakak kesini demi Nayla kan? Kakak khawatir sama Nayla kan? Kakak sadar kalau Nayla penting untuk Kakak. Iyakan?" Nayla meneteskan air matanya. Wajahnya begitu kacau, apalagi rambutnya terlihat sangat berantakan.
"Ayo kita bicara baik-baik. Kita duduk bersama." kata Erkan lembut.
"No! Kamu harus setuju dulu untuk menikah denganku Kak. Kalau Kak Erkan nggak mau, makan lebih baik aku mati dari pada melihatmu bahagia dengan istrimu." Nayla kembali mendekatkan pecahan kacanya dan menempelkannya di leher.
__ADS_1
"Nayla. Istighfar. Kamu pasti tahu jika Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Kalau kita nggak berjodoh, itu artinya aku bukan yang terbaik untukmu Nayla. Jangan buat Allah cemburu karena cintamu pada manusia jauh lebih besar dari pada cintamu pada-Nya." Erkan bicara tanpa ekspresi. Nayla terlihat diam dengan tatapan kosong.
"Erkan, ini nggak akan berhasil. Kamu tinggal nikahi saja Nayla dan urusannya selesai. Kamu juga enak punya dua istri nanti. Nggak ada gunanya kamu ceramahi dia." Bu Belle tiba-tiba menyela. Ucapan Ibunya malah membuat Nayla merasa ada yang membela dan melindunginya.
"Benar Kak, benar kata Mami. Kak Erkan punya dua istri itu nggak ada salahnya, bahkan sunnah karena Rasulullah saja istrinya banyak. " sahut Nayla dengan senyuman sinis.
"Nayla, Rasulullah menikahi Khadijah tanpa poligami. Rasulullah menikah lagi dengan Aisyah itu atas perintah langsung dari Allah dan untuk menghibur hati Baginda Rasulullah karena kesedihannya kehilangan Khadijah. Ingat, Rasulullah hanya berpoligami dari Aisyah itu yang Rasulullah nikahi adalah janda karena untuk mengangkat derajatnya. Jangan membawa nama sunnah hanya untuk nafsumu Nayla." tegas Erkan.
"Wanita baik tidak akan merusak rumah tangga wanita lainnya. Kamu pikirkan saja Nayla, andai kamu ada diposisi Chessy dan Chessy di posisimu yang meminta untuk menjadi istri keduaku, apa kamu mau membagi cintaku?" kini Erkan tidak bisa menahan emosinya. "Aku nggak rugi kalau kamu mau bunuh diri. Silahkan!" Lanjut Erkan membuat Bu Belle kembali berteriak.
"Erkan … jangan kurang ajar kamu. Nayla udah menyelamatkan nyawa Aylin bahkan dua kali. Keluarga kami juga telah banyak membantu keluargamu. Apa seperti itu tanda terima kasihmu Er?" Bu Bella naik pitam karena meminta Nayla untuk bunuh diri.
"Mam. Cukup!" Pak Naveen menarik tangan Bu Belle dan mengajaknya keluar ruangan. "Pulang …." Bu Belle berontak.
"No! Aku mau menemani anakku. Kalau terjadi sesuatu dengan Nayla, maka aku pastikan kamu nggak akan bahagia Er." Ancam Bu Belle dengan jari telunjuknya yang mengarah tepat di depan wajah Erkan.
"Mam!" panggil Pak Naveen.
"Sadam! Papi lebih suka anak kita mati hah?" Bu Belle kembali berteriak.
"Maaf Bu. Sampai kapanpun saya tidak akan menikahi wanita lain, termasuk Nayla. Saya tidak mau menyakiti hati istri saya hanya demi menyelamatkan hati wanita lain." Bu Belle hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. "Bu Belle juga wanita, apa Bu Belle rela jika Pak Naveen menikah lagi? Saya rasa Pak Naveen juga mau kalau menikah lagi dengan seorang gadis lagi." Ejek Erkan menoleh pada Pak Naveen dan tersenyum. "Benarkan Pak?" Lanjut Erkan kemudian berbalik badan untuk segera menyudahi drama itu.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1