
Tiba di ruang makan, Erkan menurunkan Chessy dan menarik kursi untuk Chessy duduk. Erkan juga menarik kursi untuk dirinya sendiri. Suasana seperti itu membuat Alman juga Alzeer saling bertatapan dan melirik sinis Erkan. "Kira-kira dong Bos kalau mau mesra-mesraan tuh di kamar aja, jangan di depan kita yang jomblo fisabilillah." ucap Alman yang kemudian mengambil makan malamnya duluan.
"Suka-suka gue. Lagian lu lupa kalau Alzeer udah punya tunangan, jadi cuma lu yang jomblo disini." jawab Erkan dengan santainya.
"Kalau gitu beri gue izin buat ta'aruf sama Sylia Bos." Alman tersenyum lebar dan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Apa itu ta'aruf Mas?" tanya Chessy yang sedang sibuk mengambilkan makan malam untuk suaminya.
"Ta'aruf bisa dikatakan sebuah proses perkenalan atau pengenalan antara dua keluarga yang memiliki niat dan maksud tertentu untuk menuju jenjang pernikahan." jelas Erkan.
"Hah? Jadi dia serius suka sama Sylia?" Chessy kini percaya dengan ucapan suaminya.
"Iya Nona Chessy. Hehe, boleh nggak saya kenal lebih jauh sama Sylia. Soalnya saya mau ke Indonesia juga nggak tahu orang tuanya." Alman cengengesan menjawab pertanyaan Chessy seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Udah makan dulu, bahas nanti kalau udah makan." kata Erkan dan mulai memasukan satu suapan nasi ke mulutnya.
"Tapi Bos, kok Sylia nggak diajak makan bersama sih." tanya Alman yang heran karena tak kunjung melihat Sylia duduk di ruang makan.
"Mana mau dia makan dengan laki-laki yang bukan mahramnya." jawab Erkan.
"MasyaAllah Bos, pokoknya gue mau nikahin Sylia. Bila perlu malam ini juga." ucap Alman dengan senangnya.
"Lu pikir dia mau sama lu? Pede banget." ledek Alzeer.
"Heh, gue nggak kalah ganteng sama kalian. Iya kan Nona Chessy?" Alman menoleh pada Chessy untuk meminta pendapat tentang penampilannya.
__ADS_1
"Em, gantengan suami aku lah." jawab Chessy dengan santainya dan langsung membuat Alman cemberut. Erkan sendiri tertawa kecil. "Lagian aku nggak yakin dia mau. Dia punya banyak trauma." kata Chessy dengan nada sedih. Alman mendengarkan Chessy dengan serius.
"Udah, makan dulu. Kasian tu nasi dianggurin." titah Erkan di dengar dan semuanya makan dengan tenang.
Setelah semuanya selesai makan, Erkan dan Chessy mengajak Alman juga Alzeer duduk santai di ruang keluarga. Saat itu Alman melihat Sylia keluar dari kamarnya dan masuk kembali dengan sepiring makanan juga sebuah botol minum. Sylia memang selalu makan di dalam kamar selama ini.
"Gimana Bos? Mungkin gue bukan cowok baik-baik di masa lalu, tapi gue udah tobat. Lu tahu kan Bos?" Alman mencoba membuka obrolan.
"Sayang, Mas nggak bisa putusin ya karena Mas nggak punya hak apa pun. Jadi kamu aja yang ngobrol sama cowok itu." kata Erkan meraih tangan Chessy dan menciumnya.
"Aku sendiri nggak yakin Kak Alman. Tapi niat baik nggak ada salahnya dicoba. Aku juga mau lihat Sylia bahagia. Tapi Kak, jika wajah Sylia nggak sesuai dengan angan-angan Kak Alman, gimana? Apa Kak Alman akan langsung membatalkan niat baik ini?" kata Chessy.
"Alhamdulillah. Saya sangat berterima kasih kalau begitu Non. Benar, penampilan itu biasanya jadi tolak ukur sebuah hubungan. Saya mengutarakan niat baik ini bukan semata-mata karena wajah cantik Sylia, Nona. Tapi entah kenapa sejak pertama kali bertemu dengannya hati saya langsung yakin jika kami bisa saling melengkapi. Saya juga bukan laki-laki yang sempurna, tetapi saya harap Sylia bisa menyempurnakannya." kata Alman dengan sopan-nya.
"Aku mau bicara dulu sama Sylia Mas. Kalian ngobrol aja dulu. Semoga Sylia mau diajak kesini." Chessy pun pergi ke kamar Sylia.
"Ada yang mau aku bicarakan Syl." kata Chessy serius. Sylia menelan terlebih dahulu makanannya dan minum untuk memastikan tidak ada sisa makanan dimulut agar dia bebas bicara.
"Tumben serius amat. Ada masalah lagi sama Tuan Er?" Sylia pun meletakkan piring makanannya di nakas dan menatap Chessy dengan serius.
"Syl, kalau ada yang suka sama kamu dan mau nikahin kamu, gimana?"
"Hah? Pertanyaan macam apa itu Ches. Kamu tahu pasti aku bagaimana dan seperti apa. Aku bukan wanita yang pantas untuk dicintai dan dinikahi Chessy …."
"Tapi Syl, kamu juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang dari suamimu."
__ADS_1
"Aku nggak pernah bermimpi untuk mendapatkan itu Ches. Dosa yang aku lakukan di hari kemarin aja belum tentu Allah mengampuni itu. Masak minta yang nggak-nggak. Siapa juga Ches yang mau sama wanita cacat kayak aku gini. Emang kenapa sih kamu tiba-tiba tanya gitu?"
"Em, itu Syl. Em … Kak Alman temennya Mas Erkan mau nelamar kamu dan mau menikahimu secepatnya."
"Astaghfirullah. Nggak mungkin Ches. Pasti tu orang anggep aku cantik. Bilang aja apa adanya Ches. Bilang aja kalau aku wanita yang cacat. Cacat wajah juga cacat tubuhku."
"Aku nggak bisa bilang begitu Ches. Kalau kamu memang menolaknya, kamu harus bilang sendiri. Temui dulu Kak Alman. Dia juga punya masa lalu yang buruk sepertimu, tapi aku yakin kalian bisa saling melengkapi. Aku nggak maksa. Keputusan ada padamu Syl."
"Mana ada laki-laki …."
"Kita coba dulu. Kalian kenalan dulu. Dia izin sama aku buat ta'aruf sama kamu. Nggak ada salahnya Syl," Sylia menghela nafas panjang. Dia tentu ragu untuk memutuskan menerima ta'aruf dari Alman. Namun Sylia memakai cadarnya dan akan mencoba menunjukkan diri pada Alman, karena dengan begitu Alman tidak akan penasaran dengan wajah cacat di balik cadarnya.
"Baiklah. Aku akan keluar biar dia nggak penasaran sama wajah cacatku ini." Sylia bangkit dan duduk. "Bismillahirrahmanirrahim." ucap Sylia sebelum keluar dari kamarnya. Sebenarnya Chessy sudah yakin dengan Alman jika Alman tidak akan memandang fisik Sylia. Chessy sangat ingin melihat Sylia bahagia dan menjalani kehidupannya sendiri.
Alman terlihat sumringah mengetahui jika Chessy berhasil membawa Sylia keluar dari kamarnya. Chessy dan Sylia duduk bersebelahan. "Jaga sikap lu. Nggak kelihatan kalau lu laki yang gentleman. Udah kayak cacing kepanasan aja liat cewek itu." ledek Alzeer berbisik ditelinga Alman seraya mencubit paha Alman.
"Diem lu, namanya juga jatuh cinta." bisik Alman membalas Alzeer.
"Assalamu'alaikum." sapa Sylia.
"Wa'alaikumsalam," jawab ketiga laki-laki di ruangan itu. Tentu saja yang paling senang dan semangat adalah Alman.
"Saya langsung saja. Saya nggak suka basa-basi. Maaf Kak Alman, saya nggak bisa terima niat baik Kak Alman. Saya sudah bilang saya hanya pembantu disini. Saya bukan …." perkataan Sylia langsung dipotong oleh Alman.
"Pembantu juga manusia. Dia berhak bahagia. Saya sudah jatuh cinta sama kamu Dek Sylia." Mendengar itu hati Sylia serasa berbunga-bunga, tetapi matanya berkaca-kaca. Dia tidak pernah bahkan bermimpi sekalipun untuk mendengarkan nama panggilan indah itu. Bisa hidup dan memperbaiki diri saja sudah cukup bagi Sylia.
__ADS_1
"Kak Alman, saya wanita yang cacat. Bukan hanya cacat wajah saja, tapi tubuh saya juga cacat. Saya bekas, bukan gres," Sylia pun melepaskan cadarnya.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...