
"Sabar Chessy sabar. Jangan kotori tubuhmu untuk laki-laki gila itu. Tubuhmu terlalu berharga darinya. Tenangkan dirimu dulu ya, tenang …." Bibi Lunara mengusap lembut punggung Chessy dan berhasil membuat Chessy tenang. "Bagus, sekarang kamu duduk dulu. Biar aku dan Kakek Ahsan yang bicara." Chessy pun mengangguk dan kembali duduk di kursi pelaminan bersama dengan Sylia juga mamanya.
Kakek Ahsan mendekati Kakek Aksan yang masih menahan rasa sakitnya. Kakek Ahsan tidak merasa terkejut dengan kedatangan adiknya yang sudah lama tidak ia temui. Sejak pembagian harta warisan dari orang tua mereka itu tidaklah adil bagi Aksan, dia tidak pernah lagi bertemu dengan sang adik. Hingga suatu hari, kabar kematian ayah Erkan membuat Kakek Ahsan sadar jika adiknya itu benar-benar tidak waras dan gila harta.
Orang tua kedua Kakek itu adalah orang nomor satu di negara Turki. Semua orang hampir kenal dengannya bahkan gen mafia dari kedua orang tua sang Kakek begitu melekat hingga tidak ada yang berani macam-macam dengan keluarga itu. Suatu ketika, sang Ayah begitu jelas melihat perbedaan sifat dan sikap dari kedua anaknya itu. Ahsan yang begitu hati-hati dan bertindak dengan sangat baik sesuai dengan kemauan sang Ayah.
Aksan sendiri yang usianya terpaut lima tahun lebih muda dari Ahsan, hanya hidup berfoya-foya dan sering bermain wanita. Bagi Aksan, hidup bergelimang harta adalah hal yang sangat sempurna. Harta keluarganya tidak akan pernah habis bahkan setelah tujuh turunan, delapan pengkolan dan dua belas tanjakan. Harta yang dimiliki keluarga itu sebanding dengan orang terkaya nomor satu di negara Turki. Akhirnya sang Ayah membuat sebuah keputusan besar untuk kedua anaknya, dimana harta yang dimiliki keluarganya adalah atas nama Ahsan, hingga sembilan puluh persen. Sisanya adalah atas nama Aksan.
Saat Ahsan memutuskan untuk menikah, sang ayah begitu bahagia dan langsung memberikan tanggung jawab untuk beberapa perusahaan dan bisnis milik keluarga tersebut sesuai dengan keputusannya. Kinerja yang bagus dari Ahsan, membuat sang Ayah selalu membanggakannya bahkan membandingkan dengan Aksan.
Merasa sebagai anak pungut karena perbedaan kasih sayang dan juga pembagian harta yang merugikan Aksan, dia pun murka dan membunuh sang Ayah dengan tusukan pisau yang tepat mendarat di jantungnya. Sang ayah pun meninggal. Sang Ibu yang syok melihat seorang anak membunuh ayahnya sendiri, menjadi gila dan meninggal.
__ADS_1
Ahsan menjebloskan Aksan ke dalam penjara hingga sepuluh tahun lamanya. Ahsan yang penyayang merasa tidak tega jika sang adik harus menghabiskan waktunya di dalam penjara, makanya Ahsan membebaskan sang adik dan memberikan sebuah daerah kekuasaan dengan syarat tidak akan mengganggu dan berniat macam-macam dengan kehidupan Ahsan.
Namun sayang, anak kedua dari Ahsan yaitu ayah Erkan yang memilih tinggal di Indonesia itu dikabarkan meninggal dan usut punya usut Aksan-lah yang melakukan itu, hanya Ahsan tidak membawa kasus itu ke rana hukum. Kini, Aksan malah berulah kembali dengan membuat cucunya dianiaya.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan sebuah poto picisan itu hah? Kamu pikir cucuku begitu bodoh dan lemah seperti dalam foto yang kamu pampang itu? No! I don't believe that."
"Aku yang menembaknya sendiri. Hah, cucu kesayanganmu sudah mati. Jadi berikan semua harta yang harusnya menjadi milikku. Ah ya, atau aku perlu membunuh gadis yang sedang tidur itu? Haha …." Aksan kembali tertawa seraya menunjuk Aylin.
"Heh, laki-laki nggak berguna yang hanya numpang hidup mewah pada istrimu. Kamu pikir aku takut sama ancaman murahan itu? Haha …." Aksan benar-benar tidak menghargai siapapun disana. "Lusi, bawa sini berkasnya." Teriak Aksan dan ada seorang perempuan yang menghampirinya. "Tanda tangani berkas ini Kakakku tercinta, maka nggak akan ada lagi pertumpahan darah disini." Aksan memberikan sebuah tumpukan berkas ke dada Ahsan dengan sangat kasar. Ahsan pun menerima berkas itu dan membacanya sekilas. Ada sebuah senyuman licik di bibir Ahsan.
"Sebentar lagi polisi akan datang menangkapmu." ucap Ahsan menatap tajam wajah adiknya itu.
__ADS_1
"Haha … nggak ada bukti yang menunjukkan kalau aku yang membunuh cucumu itu."
"Dia juga cucumu juga, apa kamu nggak punya simpati sama sekali?"
"Dalam dirinya mengalir darah seorang Kakak yang berkhianat. Aku nggak akan pernah menganggapnya cucu."
"Tapi darah kita sama, jadi darahmu juga ada padanya."
"Argh … cepat tanda tangan dan jangan banyak bicara lagi." Teriakan Aksan begitu menggema di gedung yang masih dipenuhi tamu undangan itu. Mereka bukannya takut, tetapi malah menonton sebuah pertengkaran keluarga itu.
"Angkat tangan Anda Tuan Aksan."
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...