Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Hati Malaikat


__ADS_3

Chessy jatuh terpeleset karena terlalu banyak melamun dan kurang hati-hati. Semua orang yang tadinya ada di ruang keluarga sedang asyik mengobrol, kini berbondong-bondong berlari menghampiri Chessy.


"Non!"


"Chessy …."


"Ches …."


"Sayang …."


Suara itu silih berganti berseru. Erkan segera mengangkat tubuh Chessy dan membawanya duduk di sofa. "Mana yang sakit, Sayang?" Tanya Erkan seraya sibuk meraba seluruh tubuh Chessy.


"Enggak, aku nggak kenapa-kenapa Mas." Jawab Chessy.


"Kenapa kamu ceroboh sih? Bikin panik aja!" Keluh Rakha yang bernafas lega melihat sang adik baik-baik saja.


"Ya ampun Chessy, Mamah sampe jantungan kamu teriak tadi." Bu Dewi yang duduk disisi Chessy pun segera memeluk Chessy.


"Jangan bilang lagi mikirin Sylia," ucapan Erkan membuat semua orang terkejut, begitu juga dengan Chessy yang langsung membulatkan matanya dan menggeleng pelan.


"Mas!" Panggil Chessy tanpa suara yang mencegah Erkan untuk mengatakan lebih dari hal itu.


"Kenapa? Ada yang kalian sembunyikan sesuatu tentang Sylia?" Tanya Bu Dewi. Chessy terdiam menatap bergantian seluruh keluarganya. Entah, Chessy ingin sekali bercerita dan meminta bantuan pada Papahnya, tetapi Sylia sendiri tidak mau mereka tahu keadaannya.


Suara ponsel Chessy berdering dan mencairkan suasana. Chessy hanya tersenyum, lalu meraih tas selempang yang tidak jauh dari tempat duduknya. Chessy melihat ada panggilan dari nomor baru, Chessy khawatir itu dari rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Chessy segera mengusap layar hijau di ponselnya.


"Apa? Sylia dipukul seorang laki-laki dan sekarang kritis?" Chessy syok. "Baik-baik … saya akan segera kesana." Chessy segera memutuskan panggilan itu.


"Kenapa dengan Sylia, Ches? Bu Dewi langsung angkat bicara.

__ADS_1


"Mas, ayo Mas kita ke rumah sakit. Nggak ada waktu buat jelasin semuanya. Maksud perawat tadi itu pasti pamannya Sylia. Ayo cepet Mas." Chessy meraih tangan Erkan dan bergegas menuju parkir mobil.


"Kami ikut Ches!" Seru Bu Dewi lagi. Chessy tampak ragu, tetapi bukan waktunya untuk berpikir lama, Chessy pun segera mengangguk dan mereka pergi ke rumah sakit bersama-sama.


Tiba di rumah sakit, Chessy langsung ke ruang rawat Sylia, tetapi kamarnya kosong. Chessy kembali berlari menuju resepsionis dan bertanya pada perawat yang berjaga di sana. Erkan dan yang lainnya hanya mengikuti langkah Chessy.


"Sayang, kamu harus tenang. Jangan panik. Mas malah takut kamu yang kenapa-kenapa." Erkan sesaat memeluk Chessy yang benar-benar terlihat panik dan sangat khawatir dengan keadaan Sylia.


"Sebenarnya ada apa dengan Sylia, Er?" Tanya Rakha yang tentu tak mendapatkan jawaban. Setelah Chessy bertanya pada perawat, dengan segera Chessy menuju ruangan yang ditunjuk. Kebetulan disana masih ada seorang Dokter dan tiga perawatan yang menangani Sylia.


"Dok, bagaimana kondisinya sekarang?" Chessy langsung bertanya pada Dokter tersebut.


"Keadaan benar-benar mengkhawatirkan, Bu." Jawab sang dokter.


"Lantas, dimana laki-laki yang memukul Sylia, Dok?"


"Sudah dibawa ke kantor polisi dekat sini. Kami juga terkejut karena tiba-tiba laki-laki itu masuk ruangan dan menyeret tubuh Bu Sylia. Kebetulan saat itu saya sendiri sedang ada di ruangan. Bu Sylia mendapatkan tamparan beberapa kali juga tubuhnya di lembar hingga tiga kali. Security sampai kewalahan."


"Apa dia akan baik-baik saja Dok?" Tanya Rikho menyela.


"Kami memerlukan persetujuan operasi." Jawab sang Dokter.


"Katanya operasi juga kemungkinan sembuh kecil Dok?" Sahut Chessy.


"Benar, tapi tumor ini punya sel kanker Bu. Hanya saja, kita harus melakukannya demi pasien juga. Belum lagi kejadian yang baru saja menimpa Bu Sylia, kami harus sesegera mungkin melakukan tindakan operasi ini, paling tidak kita sudah berusaha Bu," ujar sang Dokter.


"Separah itukah Dok penyakitnya Sylia?" Pak Ginanjar ikut bicara.


"Begini … Bu Sylia mengalami tumor yang bernama meningioma. Meningioma adalah jenis tumor otak yang terjadi di meninges, yaitu lapisan jaringan yang mengelilingi bagian luar otak dan sumsum tulang belakang. Jenis tumor ini dapat bermula di bagian otak manapun, tetapi umumnya di otak besar dan otak kecil. Penyakit meningioma merupakan tumor otak primer yang paling umum terjadi pada orang dewasa, terutama berjenis kelamin perempuan. Belum lagi tumornya sudah ganas yang artinya sel kanker siap menyebar ke seluruh tubuh bahkan Bu Sylia terancam buta. Kami hanya berusaha menghambat pertumbuhan sel kanker juga walaupun kemungkinan sembuh kecil, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak Bu Sylia sembuh." Jelas sang Dokter.

__ADS_1


"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk Sylia. Lakukan operasinya dan bantu dia sembuh." Chessy benar terlihat khawatir.


"Maaf, mungkin biayanya cukup besar. Jadi silahkan ke bagian administrasi untuk menyelesaikan prosedurnya. Saya permisi dulu." Setelah kepergian Dokter itu, Chessy duduk dengan lunglai. Erkan memeluknya untuk menenangkan.


"Mah, Pah, tolong Sylia. Dia butuh biaya operasi. Chessy sangat khawatir. Tolong dia hiks …." Chessy mengeratkan pelukannya pada Erkan dan menangis terisak-isak.


"Papah akan urus biaya operasi Sylia. Kamu jangan khawatir Sayang. Kamu nggak boleh begini, kamu harus tegar. Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Sylia." Sang Papah mengusap ujung kepala Chessy agar Chessy bisa lebih tenang.


Setelah mengurus administrasi, Sylia yang tidak sadarkan diri segera dibawa ke ruang operasi. Pak Ginanjar kemudian mengajak keluarganya untuk makan malam terlebih dahulu di restoran yang tak jauh dari rumah sakit karena mereka semua belum sempat makan malam. Erkan terus menerus di desak oleh Rakha dan Rikho agar menceritakan apa yang terjadi pada Sylia karena mereka juga syok melihat wajah Sylia yang cacat.


Beberapa kali Chessy menahan Erkan untuk bicara, bukan karena Chessy ingin benar-benar merahasiakan perbuatan Sylia padanya, tetapi jika mereka tahu apa yang terjadi, Chessy yakin acara makan malam itu juga akan gagal. Akhirnya Chessy mengisyaratkan pada Erkan untuk bercerita setelah makan malam selesai.


Chessy mencoba bersikap seperti biasanya. Chessy juga makan dengan lahap karena dia akan butuh banyak tenaga untuk menjaga Sylia. Chessy beberapa kali berbisik pada suaminya agar Erkan mencairkan suasana yang sebelumnya sangat tegang, dan beruntung Erkan memang orang yang bisa Chessy andalkan.


Setelah acara makan malam selesai, canda tawa masih menghiasi keluarga Chessy, tetapi semuanya berubah saat Erkan mulai menceritakan tentang apa yang terjadi pada Sylia. Dimulai dari Sylia yang menggunakan guna-guna hingga Sylia yang mencoba menyiram Chessy dengan air keras. Semuanya Erkan ceritakan kecuali kembalinya Chessy dari masa depan ke masa lalu.


"Apa?" Semua orang disana kompak berteriak hingga banyak mata yang memandang ke arah mereka.


"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi Er? Tau gitu Papah nggak sudi keluarin uang puluhan juta untuk anak itu." Pak Ginanjar naik pitam hingga posisinya yang duduk menjadi berdiri.


"Pah tenang dulu tenang Pah … tenang …." Bu Dewi mencoba menenangkan suaminya dan mengajaknya duduk kembali.


"Kamu bodoh Chessy." Kini Rakha yang angkat bicara. " Sylia melakukan semua itu tapi kamu masih khawatir dan membohongi kamu semua?" Lanjut Rakha.


"Pah, Mah dan Kak, tolong lihat sisi baiknya. Sylia sudah berubah setelah mendapat hukumannya. Chessy tahu kalian sayang sama Chessy, tapi Chessy juga sayang sama Sylia. Chessy mau merangkul dan memberikan kesempatan Sylia untuk berubah. Bukannya Sylia juga pernah menyelamatkan Chessy, dan karena itu juga kalian menganggap Sylia sebagai keluarga kita. Anggap aja Pah, uang yang Papah keluarkan itu untuk menebus nyawa Chessy yang udah Sylia selamatkan."


"Tapi tetep aja Ches, Papah nggak …."


"Pah … tolong …. Setiap manusia itu pasti punya kekhilafan. Jangan jadikan diri kita sombong dan seolah-olah yang paling benar. Tolong, kasihani Sylia, dia udah nggak punya orang tua dan juga pamannya, kalian tadi denger sendirikan gimana cara pamannya memperlakukan Sylia?"

__ADS_1


Perkataan Chessy berhasil meluluhkan keluarganya. Erkan sendiri terus menggenggam erat tangan Chessy dan merasa bangga pada istrinya itu. "Kamu memang berhati malaikat Ches. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untukmu Chessy …." Erkan kemudian mengucup kening Chessy di hadapan keluarganya dan mereka pun tersenyum.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2